Updates from Desember, 2011 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • aqidahsalafshalih 11:11 am on December 22, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Mengedukasi Umat Islam Akan Bahaya Deradikalisasi 

    Kesadaran kaum Muslimin akan bahaya deradikalisasi semakin terbentuk. Sosialisasi kepada ummat Islam pun gencar dilakukan, salah satunya oleh Majelis Ilmu Ar Royyan (MIAR) dengan menggelar Kuliah Umum bertema “Memerangi Syariat Islam dengan Deradikalisasi”, Ahad (9/10/2011) di Masjid Muhammad Ramadhan, Bekasi. Hadir sebagai pembicara Ustadz Abu Muhammad Jibriel AR, selaku Amir Majelis Ilmu Ar Royyan, Munarman, SH dari An Nashr Institute, dan juga Habib Rizieq Syihad, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI). Beberapa hal penting mencuat dalam acara tersebut, di antaranya adalah persoalan deradikalisasi yang sesungguhnya hanya kedok daripada deislamisasi.

    Demikian pula dalam acara “Silaturahmi dan Sarasehan Organisasi serta Aktivis Gerakan Islam se-Indonesia.” Acara yang diselenggarakan oleh GARIS (Gerakan Reformis Islam) ini dilaksanakan di Hotel Setia, Cianjur, berlangsung selama dua hari mulai tanggal 17-19 Desember 2011 dan mengusung tema “mari kita bangun semangat ukhuwah Islamiah dalam rangka mengcounter tuduhan terorisme dan radikalisme terhadap umat Islam.” KH Encep Hermawan, Pimpinan Gerakan Reformis Islam (GARIS) yang menjadi penyelenggara acara tersebut mengundang dua ratusan tokoh-tokoh gerakan Islam yang mewakili berbagai gerakan Islam seIndonesia.

    “Yang diundang ada dua ratus orang  lebih dari utusan berbagai ormas gerakan Islam se-Indonesia dari berbagai provinsi.  Kita bermusyawarah untuk menyikapi berbagai persoalan di Indonesia agar di akhir tahun ini kita bias mengambil sikap dan langkah peduli terhadap bangsa Indonesia,” katanya kepada voa-islam.com, Sabtu (17/12/2011).

    Terkait isu terorisme, deradikalisasi dalam dua tahun terakhir menjadi istilah yang cukup populer. Secara bahasa deradikalisasi berasal dari kata radikal yang mendapat imbuhan de dan akhiran isasi. Radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Jika ada ungkapan “gerakan radikal” maka artinya gerakan yang mengakar atau mendasar, yang bisa berarti positif atau negatif. Kata radikal memiliki arti; mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan, maju dalam berpikir dan bertindak. Dalam pengertian ini, sebuah sikap “radikal” bisa tumbuh dalam entitas apapun; tidak mengenal agama, batas teritorial negara, ras, suku dan sekat lainya.

    Namun, dalam konteks isu terorisme, pemaknaan radikal sangat stereotip, over simplikasi dan subyektif. Label radikal kini di lekatkan kepada individu atau kelompok Muslim yang memiliki cara padang serta sikap keberagamaan dan politik yang kontradiksi dengan mainstream (arus utama). Dengan katagorisasi sebagai alat identifikasi, “radikal” adalah orang atau kelompok yang memiliki prinsip-prinsip seperti; menghakimi orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya, mengganti ideologi Pancasila dengan versi mereka, mengganti NKRI dengan Khilafah, gerakan mengubah negara bangsa menjadi negara agama, memperjuangkan formalisasi syari’ah dalam negara, menggangap Amerika Serikat sebagai biang kezaliman global.

    Maka dari itu, yang dimaksud deradikalisasi adalah upaya untuk mengubah sikap dan cara pandang di atas yang dianggap keras (dengan julukan lain; fundamentalis) menjadi lunak; toleran, pluralis, moderat dan liberal. Definisi radikal di atas sangat bias, persis seperti dunia Barat menjelaskan konsep radikal secara simplistik, bahwa radikalisme banyak diasosiasikan dengan mereka yang berbeda pandangan secara ekstrem dengan dunia Barat (Lihat laporan utama majalah Time ed. 13 September 2004 setebal sembilan halaman yang menjelaskan konsep radikal menurut kacamata Barat). Hal ini sama biasnya saat Barat mendefinisikan terorisme. Terorisme adalah labelisasi kepada kelompok atau individu Muslim yang secara fisik atau non fisik mengancam kepentingan global imperialisme Barat. Di Indonesia, dengan asumsi definisi terorisme no global concencus (tidak ada kesepakatan global), akhirnya pemaknaan dan implementasi kontraterorisme melahirkan banyak korban dan umat Islam menjadi obyek sasaran.

    T.P.Thornton, dalam Terror as a Weapon of Political Agitation (1964), mendefinisikan terorisme sebagai penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijakan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstra normal, khususnya dengan penggunaan kekerasan dan ancaman kekerasan. Terorisme dapat dibedakan menjadi dua kategori: (1) enforcement terror yang dijalankan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka; (2) agitational terror, yakni teror yang dilakukan untuk menggangu tatanan yang mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik tertentu.

    Jadi, sudah barang tentu terorisme selalu berkaitan erat dengan kondisi politik yang tengah berlaku. Kata terorisme yang berasal dari Bahasa Prancis le terreur, semula dipergunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil Revolusi Prancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh anti pemerintah. Berikutnya, kata terorisme dipakai untuk menyebut gerakan kekerasan anti pemerintah di Rusia. Dengan demikian, kata terorisme sejak awal dipergunakan untuk menyebut tindakan kekerasan oleh pemerintah maupun kegiatan yang anti pemerintah.

    Namun, istilah terorisme sendiri pada 1970-an dikenakan pada beragam fenomena: dari bom yang meletus di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Beberapa pemerintahan bahkan menstigma musuh-musuhnya sebagai “teroris” dan aksi-aksi mereka disebut “terorisme”. Istilah “terorisme” jelas berkonotasi peyoratif, seperti istilah “genosida” atau “tirani”. Karena itu, istilah ini juga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan. Namun, pendefinisian juga tak lepas dari keputusan politis.

    Maka dari itu, deradikalisasi dan kontra radikalisasi yang integratif—pada konteks ini merupakan derivat strategi kontraterorisme—adalah kebijakan politik sebagai upaya (baik dalam bentuk langkah strategis maupun taktis) untuk memotong seluruh variabel yang dipandang sebagai stimulan lahirnya tindakan “terorisme”, baik pra maupun pasca (terkait pembinaan terhadap narapidana dan mantan kombatan). Program ini lebih menekankan “soft approach”, baik kepada masyarakat secara luas, kelompok tertentu maupun kepada individu-individu tertentu yang masuk dalam jejaring kelompok yang dicap “radikal”, “teroris” dan semacamnya.

    Langkah ini juga dikenal sebagai strategi memenangkan hati dan pikiran public (the strategy of winning the heart and mind); dalam bahasa Ansyad Mbai (Ketua BNPT) sebagai perang untuk memenangkan hati nurani. Upaya ini membutuhkan banyak strategi dan bersifat jangka panjang. Wasilah paling pokok yang menjadi tumpuan dalam “perang” ini adalah media masa (cetak, elektronik dan digital). Pasalnya, medium ini menjadi tombol kunci dari “mindset control” terhadap persepsi publik selain para komunikan yang dianggap berkompeten untuk mempengaruhi pikiran publik dalam berbagai kesempatan. Strategi ini mirip (jiplakan) dari rekomendasi RAND Project AIR FORCE (PAF) untuk kepentingan Pemerintah AS di Dunia Islam pasca peristiwa 11/9.

    Proyek deradikalisasi tidak lepas dari politik luar negeri Amerika yang gencar disuarakan sejak tragedi 11 September 2001. Adalah war on terrorism yang merupakan bentuk dari kontra terorisme. Meskipun, terorisme sendiri tidak memiliki definisi yang disepakati. Faktanya terorisme justru diarahkan pada gerakan-gerakan Islam. Istilah ini dijadikan AS sebagai alat untuk memberangus kelompok Islam, sementara tidak digunakan untuk kelompok separatis seperti di Timor Timur atau di Papua.

    Proyek deradikalisasi di Indonesia yang digawangi oleh Badan Nasional  Penanggulangan Terorisme (BNPT) pimpinan Ansyad Mbai. Menurutnya, proyek ini merupakan salah satu bentuk dari strategi utama dalam melakukan kontra terorisme dalam bentuk soft power. Anggapan umum pemerintah, terorisme disebabkan oleh ideologi radikal, sehingga ideologi ini harus diubah. Beberapa cara dalam melakukan deradikalisasi, mulai dari pemberdayaan tokoh-tokoh moderat untuk menyebarluaskan ajaran moderat; menyebarluaskan buku, tulisan, dan film tentang Islam moderat; program rehabilitasi para teroris pada saat menjalani hukuman di LP, seperti kunjungan ke panti asuhan, penikahan napi kasus terorisme di dalam lapas, dialog dengan jaringan Islam moderat dll; hingga memasukkan muatan ajaran Islam moderat ke kampus-kampus. Untuk melaksanakan semua kegiatan ini diperlukan dana yang sangat besar. Anggaran APBN untuk BNPT 476,6 miliar setahun.

    Sementara  Kol (Purn.) herman Ibrahim mengingatkan bahwa hakekat dari deradikalisasi merupakan deIslamisasi. Dengan proyek ini, beberapa ajaran Islam yang dianggap radikal, ditafsir ulang.  Ia pun menerangkan bahwa ini merupakan salah satu strategi dari barat dengan para anteknya dengan jumlah dana yang sangat besar. “Mereka yang bergabung merupakan orang yang mencari sumber daya untuk mereka sendiri,” tandasnya. Herman pun menjelaskan bahwa yang harus dilakukan sekarang adalah perang opini. Meskipun, harus diakui, sekarang dunia informasi dikuasai Barat. “Dalam sebuah buku disebutkan bahwa Barat bisa memproduksi 5 juta kata per detik, sementara dunia Islam hanya sekitar 500 ribu kata,” ujarnya.

    Satunya cara menangkal serangan deradikalisasi adalah dengan melakuan perang pemikiran. Deradikaliasi itu bentuknya pemikiran, sehingga untuk melawannya diperlukan siraul fikr (pergolakan pemikiran) bahkan kifah as-siyasi (perjuangan politik). Deradikalisasi adalah bagian dari strategi kontraterorisme. Pasalnya, pendekatan hard measure belum dianggap bisa mereduksi dan menghabisi seluruh potensi yang mengarah ke tindakan “terorisme”. Pendekatan ini bahkan dianggap belum efektif menyentuh akar persoalan terorisme secara komprehensif. Selain itu, strategi Law Enforcement juga dirasa kurang memberikan efek jera dan belum bisa menjangkau ke akar radikalisme. Sekalipun pendekatan terakhir ini diakui cukup efektif untuk “disruption”, ia tidak efektif untuk pencegahan dan rehabilitasi sehingga masalah terorisme terus berlanjut dan berkembang. Karena itu, lalu digagaslah program deradikalisasi.

    Deradikalisasi dibangun atas asumsi, bahwa ada ideologi radikal yang mengeksploitasi faktor kompleks yang ada (kemiskinan, keterbela-kangan, marginalisasi, pemerintahan otoriter, dominasi negara super power, globalisasi, dsb). Ideologi ini melahirkan spirit perlawanan dan perubahan dengan tindakan-tindakan teror ketika jalan damai (kompromi) dianggap tidak memberikan efek apapun. Karena itu, ideologi radikal ditempatkan sebagai akar sesungguhnya dari fenomena terorisme. Dalam kerangka pandangan seperti inilah deradikalisasi dimanifestasikan.

    Pengemban strategi ini telah belajar dari pengalaman Indonesia selama lebih dari 50 tahun menangani DI/NII, yaitu bahwa hard power approach bukan jawaban tepat. Asumsinya, selama ideologi radikal mereka tidak bisa dinetralisir, selama itu pula mereka terus melakukan aksi terorisme. Mengambil kasus situasi di Afganistan dan Irak, dalam deradikalisasi ada upaya menyasar obyek yang lebih luas, yaitu pihak yang dianggap pengusung ideologi radikal-fundamentalis. Mereka diposisikan sebagai eksploitator terhadap faktor dan realitas ketimpangan sosial politik dalam konteks global maupun lokal Indonesia.

    Drama War on Terrorism dan semua derivat strateginya di Indonesia tidak terjadi secara masif kecuali pasca Peristiwa WTC (World Trade Center) 9/11/2001.Kemudian Amerika membuat tatanan bipolar (bersama Amerika atau bersama teroris). Dari beberapa dokumen, terungkap dukungan dana mengucur deras ratusan juta dolar dan lebih dari 500 juta Euro untuk proyek jangka panjang dari negara Eropa (Australia, Denmark, Belanda, dll) untuk kepolisian RI (Densus88). Langkah peningkatan capacity building terhadap aparat kepolisian dan intelijen Indonesia juga berjalan secara simultan. AS sendiri melalui Obama menyiapkan lebih dari 5 miliar dolar untuk membuat program kerjasama keamanan bersama. Tujuannya adalah untuk menempa badan intelijen internasional dan infrastruktur penyelenggaraan hukum demi melumpuhkan jaringan teroris dari pulau-pulau terpencil di Indonesia, hingga ke kota-kota yang membujur di Afrika. Bocoran Wikileaks (yang dimuat di harian Australia The Age, 17/12/2010) mengkonfirmasi bagaimana hubungan AS dan sekutunya dengan Pemerintah Indonesia dalam isu terorisme.

    Salah satu bocoran WikiLeaks yang dimuat oleh harian Sydney Morning Herald (15/12/2010) juga menyebut Australia memberikan dukungan kepada SBY di Pilpres 2009. SBY didukung karena dinilai sukses dalam kerjasama antiterorisme. Bahkan Indonesia secara intens juga segaris dengan kebijakan PBB dalam proyek kontraterorisme sejak awal. Indonesia menunjukkan komitmen melaksanakan ketentuan hukum internasional mengenai pemberantasan terorisme dan sejauh ini telah meratifikasi 7 dari 16 instrumen internasional terkait terorisme.

    Indonesia pun berkewajiban menyerahkan laporan mengenai langkah-langkah pemberantasan terorisme sesuai amanat Resolusi DK PBB 1373. Indonesia telah memberikan laporan kepada Counter Terrorism Committee (CTC): Laporan I (21 Desember 2001), Laporan II (21 Juni 2002), laporan III (30 Januari 2003), Laporan IV (12 Januari 2004), dan Laporan V (5 Mei 2006). Selain Resolusi 1373, Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk memenuhi amanat Resolusi 1267 terkait Consolidated List, yaitu meliputi pembekuan aset serta larangan menerima kedatangan dan embargo senjata terhadap individu-individu, entitas dan organisasi yang memiliki hubungan dengan kelompok Taliban, Osama bin Laden atau jaringan teroris Al-Qaida.

    Semua ini menjadi indikasi yang cukup untuk menjelaskan bahwa proyek deradikalisasi dan kontra radikalisasi adalah bagian dari strategi War On Terrorism; arahan dan paradigma Barat (AS) menjadi basis implementasinya. Sesungguhnya Amerika Serikat berkepentingan dalam proyek deradikalisasi. Proyek deradikalisasi adalah topeng yang bisa menyembunyikan kepentingan busuk dunia Barat (Amerika Serikat, cs) untuk melanggengkan imperialismenya. Deradikalisasi dianggap sebagai cara efektif jangka panjang dan soft untuk mewujudkan tatanan Dunia Islam yang ramah dan mengakomodasi ideologi Kapitalisme-sekuler yang mereka jajakan. Proyek ini klop dengan sistem sekular yang dijaga siang dan malam keberlangsungannya oleh para penguasa yang mengekor pada kepentingan Barat, dengan mendapat imbalan pujian dan kemaslahatan sesaat.

    Sejauh ini Pemerintah Indonesia dengan kacamata kudanya, memandang radikalisme secara dominan sebagai gejala yang lahir dari tafsiran teologi yang menyimpang. Pemerintah abai terhadap realitas berupa meluasnya sikap apatisme dan frustasi sosial akibat kemiskinan, ketidakadilan, ketidakpastian masa depan, dan tekanan hidup yang berat. Semua itu korelatif dengan peran imperialisme global yang dikomandani Amerika Serikat terhadap Indonesia. Karena itu, berapapun anak-anak negeri ini ditembak mati karena alasan terorisme sesungguhnya tidak akan bisa memadamkan potensi lahirnya “teroris-teroris” baru jika faktor kompleks—termasuk di dalamnya kezaliman global oleh dunia Barat terhadap Dunia Islam—yang menjadi akar masalahnya diabaikan.

    Pemerintah malah membuat langkah deradikalisasi secara massif diimplementasikan dengan konsentrasi pada perubahan orentasi dan tafsiran dalam keberagamaan seseorang agar lebih moderat (wasatiyyah), toleran dan liberal. Ini sesungguhnya bukan solusi karena akan menciptakan polarisasi dalam kehidupan masyarakat, khususnya umat Islam. Praktik devide et impera (strategi belah bambu) akan menjadi pemicu permanen lahirnya sikap radikal.

    Deradikalisasi cukup berbahaya untuk umat Islam karena berpotensi menyimpang, melahirkan tafsiran-tafsiran yang menyesatkan terhadap nash-nash syari’ah, membangun pemahaman yang konstruksi dalil dan argumentasinya lemah, menyelaraskan nash-nash syari’ah terhadap realitas sekular dan memaksakan dalil mengikuti konteks aktualnya. Contohnya adalah upaya tahrif (penyimpangan) pada makna jihad, tasamuh (toleransi), syura dan demokrasi, hijrah, thagut, muslim dan kafir, ummat[an] washat, klaim kebenaran, serta upaya mengkriminalisasi dan monsterilisasi terminologi Daulah Islam dan Khilafah.

    Selain itu, umat akan terpecah-belah dengan kategorisasi radikal-moderat, fundamentalis-liberal, Islam ekstrem-Islam rahmatan, Islam garis keras-Islam toleran dan istilah lainya yang tidak ada dasar pijakannya dalam Islam. Hal ini mirip seperti langkah Orentalis memecah-belah umat Islam dengan memunculkan istilah “Islam putihan” (berasal dari bahasa arab: muthi’an/taat) dan “Islam abangan” (aba’an/pengikut/awam). Umat Islam yang taat ditempatkan sebagai musuh karena membahayakan penjajahan.

    Bahaya deradikalisasi berikutnya adalah: menyumbat langkah kebangkitan Islam serta menjadikan umat jauh dari pemahaman dan sikap berislam yang kaffah dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Pada akhirnya umat tidak mampu menjadikan Islam sebagai akidah dan syari’ah secara utuh serta sebagai pedoman spiritual dan kehidupan politik. Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa deradikalisasi sesungguhnya adalah upaya deislamisasi terhadap mayoritas umat Islam yang menjadi penghuni negeri ini.

    Pun deradikalisasi melahirkan bahaya lain, yakni langgengnya imperialisme Barat di negeri Indonesia atas nama HAM, demokrasi, pasar bebas, dan perubahan iklim. Bahaya yang lebih besar dari deradikalisasi adalah tetap bercokolnya sistem sekular dengan demokrasinya serta semakin terjauhkannya sistem Islam. Padahal jelas, selama ini demokrasi dan sekularisme telah menjerumuskan umat Islam ke dalam jurang kehidupan yang sempit dalam seluruh aspeknya. Umat jauh dari kebahagiaan lahir-batin. Mereka jatuh ke dalam kubangan peradaban materialisme dan kerusakan moral serta akidah yang luar biasa. Semoga dengan semakin sadarnya umat atas bahaya deradikalisasi ini, maka kian waspada akan strategi-strategi yang kerap digunakan oleh musuh-musuh Allah untuk memerangi umat Islam baik fisik atau non fisik.

    Iklan
     
  • aqidahsalafshalih 11:04 am on December 22, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , sepakbola, ,   

    Sepakbola Berada di Titik Keharaman 

    132435960687685405

    Satu bola dikerubuti 22 orang. Bahkan yang nonton pun ikut turun ke lapangan. Belum lagi polemik dan gaya hidup glamor di luar sepakbola, inilah berhala-berhala baru yang secara tak sadar telah membelenggu umat Islam. Saat Piala Dunia berlangsung 2010 lalu, diperkirakan 2,6 milyar pasang mata menonton pertandingan demi pertandingan, baik secara langsung maupun melalui layar kaca. Ini hampir setengah dari penduduk bumi. Ratusan juta di antaranya adalah Muslim. Sepak bola sudah seperti agama. Banyak penggila bola membela mati-matian klub kesayangannya. Bahkan mereka rela kehilangan harta, mungkin juga nyawa,  untuk membela klubnya itu. Beberapa pemain bola bak nabi baru yang dipuja-puja penggemarnya.

    Ada apa ini? Pengamat Zionisme Herry Nurdi menyebut ada upaya sistematis untuk merusak generasi muda Islam. Umat Islam dilalaikan dari ajaran agamanya. Generasi muda tersebut disuguhi tontonan dan hiburan serta pesta. Said Abdul Azhim dalam bukunya ‘Islamkan Olahraga Anda’ menyebut tiga hal yang diyakini sebagai alat jerat Yahudi untuk merusak moral generasi Muslim. Tiga hal itu adalah sex, sport (olahraga), dan song (nyanyian). Proses perusakan itu berlangsung secara massif melalui media massa. Seperti diketahui, mayoritas media massa dunia dikuasai oleh Yahudi. Faktanya, memang tiga hal itulah yang diminati oleh manusia pada umumnya.

    Proses perusakan itu berjalan secara sistematis dan dikendalikan oleh organisasi internasional. Dalam Protokol Zionis versi Mayer Amshell Rothschild yang disusun tahun 1773 di Judenstrasse, Frankfurt, Jerman, pasal 17 tertulis: “Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang dikehendaki, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.”

    Cara ini terbilang sukses. Banyak orang beragama meninggalkan agamanya. Minimal tidak lagi peduli pada agamanya. Gereja di Eropa melompong bila bersamaan dengan adanya pertandingan. Banyak orang Muslim yang tak mau meninggalkan bangkunya di stadion saat adzan shalat berkumandang. Mereka mau berteriak-teriak berjam-jam memuja klub dan pemainnya, namun enggan menyampaikan satu ayat saja. Banyak pula yang rela bangun malam menunggu pertandingan bola, tapi sulit di hari lainnya untuk bangun shalat tahajud.

    Lambat laun masyarakat dunia, tak terkecuali dunia Islam, terbawa arus. Umat Islam menjadi obyek. “Kita dijebak dalam suasana budaya sekuler dan dipojokkan menerima dan mengikuti budaya mereka,” kata K.H. Agus Achyar Purakusumah, Pimpinan Ponpes Miftahul Barkah, Bandung. Permainan yang melalaikan (lahwun munadzdzamun) itu dieksploitasi sedemikian rupa oleh kapitalis global untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Kapitalisme global kian kokoh karenanya. Tidak hanya di bidang olahraga, tapi juga di bidang-bidang yang lainnya. Karena bagi Yahudi: “Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik”(Protokol pasal 4). Untuk itu: “Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya.”(Protokol pasal 8).

    Suasana pesta Piala Dunia dengan keuntungan puluhan trilyun itu sangat kontras dengan kondisi masyarakat dunia. Data tahun 2008, jumlah penduduk miskin dunia sekitar 220 juta orang. CARE International dalam laporannya merumuskan, orang yang berada pada batas kemiskinan itu sebagai orang yang tidak mampu mencari makan sendiri dan karenanya perlu mendapat bantuan ekonomi. Penyebab utama peningkatan jumlah orang miskin itu adalah naiknya harga-harga pangan. CARE menyayangkan dunia yang didominasi kapitalisme global tidak peduli akan hal ini.

    Khusus di dunia Islam, jumlah Muslim yang mencapai 1,5 milyar dunia secara kualitas masih menyedihkan. Negeri-negeri Islam secara umum adalah populasi dengan jumlah penduduk miskin yang tinggi seperti nasib umat Islam di Afrika (Ethopia, Nigeria, Somalia), Asia (Pakistan, Bangladesh, India, termasuk Indonesia). Padahal negeri-negeri Islam secara umum kekayaan alamnya melimpah ruah. Tingkat kebodohan di dunia Islam masih tinggi.

    Secara politik jumlah yang besar tersebut pun tidak memuat umat Islam menjadi negara adidaya di dunia. Meskipun sudah merdeka secara formal, namun sebagian besar negeri Islam masih belum independen , masih dijajah, tertindas dan tunduk kepada kepentingan negara-negara imperialis. Sebagian besar penguasa negeri-negeri Islam adalah penguasa diktator yang represif dan mengabdi ke Barat. Kapitalisme global mencengkeramkan kukunya dengan kuat di tanah kaum Muslim. Seolah kini tak ada lagi celah yang tidak dikuasai kapitalis global. Anehnya, dalam kondisi seperti ini, kaum Muslim tak merasa jadi begundal. Mereka malah asyik berpesta Piala Dunia demi kesenangan sementara.

    Syaikh Manshur Ibn Hasan Alu Salman berpendapat bahwa hukum asal pada permainan sepakbola ini adalah mubah atau boleh, bahkan tidak menutup ke­mungkinan bahwa latihan sepak bola bisa ter­masuk mustahab (disukai) jika yang berlatih adalah orang Islam agar kuat jasmaninya dan memperoleh semangat dan vitalitas hidup. Sya­ri’ah Islam sangat menyukai mengambil faktor-faktor yang bisa menguatkan badan agar dapat berjihad. Telah nyata sabda Rasul bahwa; Orang yang beriman lagi kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari orang yang beriman tetapi lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan.

    Syaikh Ibnu Utsaimin lebih memperinci lagi hukum yang berkaitan dengan latihan bola, beliau berkata:

    Latihan olah raga itu boleh, selama tidak melalai­kan kewajiban. Jika sampai melalaikan kewajiban, maka olah raga tersebut haram. Apabila seseorang mempunyai kebiasaan menghabiskan sebagian be­sar waktunya dalam olah raga, maka sesungguh­nya ia telah menyia-nyiakan waktu, minimal ke­adaannya dalam hal ini adalah makruh. Adapun pemain olah raga yang hanya mengenakan celana pendek sampai terlihat paha atau sebagian besar auratnya, maka hal itu tidak boleh. Dan yang benar adalah wajib bagi para pemain adalah menutup aurat mereka dan juga tidak dibolehkan menyaksikan para pemain yang terbuka pahanya (auratnya).

    Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengeluarkan fatwa larangan permainan yang bersifat terorganisir secara berlebihan (yaitu be­liau melarang pembentukan organisasi-organi­sasi yang lengkap yang mengurusi urusan-urusan para pemain untuk bermain bola), teta­pi beliau membolehkan selain dari itu semua. Karena beliau berdalil, bahwa permainan yang memiliki organisasi-organisasi tersebut tidak lepas dari hal-hal berikut ini:

    Pertama: Permainan ini secara tabi’at me­ngandung unsur-unsur pengkotak-kotakan, menim­bulkan fitnah, menumbuhkan kebencian. Nilai-nilai semacam ini jelas bertentangan dengan dakwah Islam yang mewajibkan saling toleransi, kasih sa­yang, ukhuwah dan mensucikan jiwa dari sifat dengki, benci dan permusuhan. Dan tidak diragukan lagi bahwa permusuhan, perselisihan, kebencian dan kedengkian pasti ada pada permainan ini, antara yang menang dan yang kalah. Oleh karena itu per­mainan tersebut dilarang karena menyebabkan keru­sakan-kerusakan sosial dengan tumbuhnya keben­cian pada para pemain dan penonton, menimbulkan fitnali di antara mereka, bahkan lebih dari itu ka­dang sebagian dari penonton mengintimidasi seba­gian pemain bahkan membunuhnya. Dan bukti serta realita ini telah diketahui bersama.

    Kedua: Permainan ini tidak luput dari baha­ya-bahaya fisik yang menghantui para pemain, aki­bat dari tabrakan, benturan dan pukulan. Sehingga diakhir pertandingan, pada umumnya didapati se­bagian dari mereka telah jatuh di lapangan pertan­dingan dengan keadaan pingsan, patah kaki, tangan dan terluka yang semuanya ini mewajibkan adanya mobil-mobil ambulans.

    Ketiga: Dalam permainan sepak bola tidaklah menjurus kepada sesuatu yang dapat ditolelir dalam syari’ah Islam (yang semestinya ada dalam olah raga dan dibenarkan oleh Islam) yatu memberikan kega­irahan jasmani, melatih fisik guna menghadapi pe­rang dan melepaskan penyakit-penyakit yang sudah menahun.

    Keempat: Permainan seperti ini banyak me­nyita waktu shalat, yang dengannya para pemain dan penontonnya meninggalkan shalat berjama’ah atau mengakhirkan waktu shalat (yang tidak semes­tinya diakhirkan, pent.) atau bahkan meninggalkan shalat. Tidak diragukan lagi tentang pengharaman suatu perbuatan yang melalaikan shalat pada wak­tunya atau tertinggal dari shalat berjama’ah yang memang tidak disebabkan oleh udzur yang syar’i (halangan yang dibenarkan agama).

    Kelima: Pelanggaran yang ditimbulkan oleh para pemain adalah membuka aurat (yang jelas ha­ram untuk dipertontonkan). Aurat laki-laki mulai dari pusar sampai lutut. Jelas bahwa celana mereka hanya sampai pada pertengahan paha dan sebagian-nya lagi lebih dari itu. Sudah diketahui bahwa paha merupakan aurat.

    Keenam: Bahwa permainan ini melalaikan pa­ra pemain dan penontonnya dari mengingat (dzikir) kepada Allah Ta’ala.

    Ketujuh: Kadang-kadang permainan ini ma­suk dalam permasalahan memakan harta dengan ca­ra yang batil, maka yang demikian termasuk judi, karena hal ini terkait salah satu dari dua perkara:

    Si pemenang akan mengambil jumlah terten­tu dari uang atau sesuatu yang telah diten­tukan, jenis ini haram menurut kesepakatan para ulama. Atau mengambilnya dari para penonton yang hadir ke lapangan pertandingan dan ini pun dilarang menurut pendapat yang kuat dari dua pendapat yang ada.

    Kedelapan: Permainan ini merupakan suatu jalan atau cara yang bisa menyibukkan hati dan menjadikannya sebagai pekerjaan. Terlebih lagi per­mainan ini termasuk senda gurau dan tidak berarti bagi jiwa. Dan kecenderungan hati untuk duduk berlama-lama di hadapan pertandingan sangatlah besar.

    Di dalam syari’ah Islam, tidak dibatasi wasilah atau perantara yang dapat menguatkan jasmani seperti olahraga. Akan tetapi permasalahan ini mempunyai sya­rat, yaitu tidak boleh melampaui batas dari hukum-hukum syari’ah dan juga tidak terjerumus dalam hal yang madharat (bahaya). Bahkan hukumnya akan sampai pada derajat pengharaman bagi sebagian pecandu dan fanatis olah raga ini. Ketika Playboy haram beredar, bunga bank tergolong riba. Tapi anehnya, ormas-ormas  Islam atau bahkan MUI tak pernah mengeluarkan fatwa haramnya sepakbola. Sebenarnya ini sesuatu yang ganjil. Dalam sepakbola banyak madharat, banyak tindak amoral, banyak kejadian-kejadian di luar ketentuan syari’ah Islam. Lain dari itu, sepakbola bukan tradisi Islam, melainkan lebih dekat dengan budaya Barat. Lihatlah, stadion dipenuhi laki-laki perempuan berjejal tanpa batas. Hura-hura di stadion tak mengenal jenis kelamin. Bahkan pornografi dan porno aksi sudah menjadi bagian paling dekat dengan gelora penonton saat mendukung tim kesayangannya bertanding. Di stadion maupun di depan televisi, emosional penonton sering kelewat batas. Penonton mudah mengumpat, mengeluarkan kata jorok yang jelas dilarang syari’ah Islam. Di tengah lapangan, para pemain laki-laki membuka bagian auratnya. Sudah jelas, dalam syari’ah Islam, bagian tubuh laki-laki yang tergolong aurat adalah bagian paha hingga pusar. Sedangkan bagian perut hingga dada sangat dianjurkan tidak terlihat oleh publik, apalagi perempuan yang bukan muhrimnya.

    Apalagi jika aturan syari’ah Islam ditunjukkan kepada perempuan. Jelas sekali sepakbola haram bagi perempuan kecuali jika para pemain itu tetap mengenakan busana muslimah ketat. Di luar stadion bandar-bandar judi menawarkan beragam model taruhan. Mulai dari judi melalui SMS (baca kuis), judi konvensional hingga judi online via internet semakin merajalela di tengah gegap gempitanya sepakbola. Pendeknya, semua yang berhubungan dengan sepakbola lebih mencerminkan gaya hidup liberalisme, bahkan kapitalisme. Kalau anda percaya bahwa Islam mengatur semua aspek kehidupan, tentu dalam hati akan berkata; “naudzu billah min dzalik!”; tak ada satupun ulama yang di Indonesia ini yang menggagas lahirnya fatwa agar kegiatan jahiliyah bin munkar itu dilarang di Indonesia. Mungkin saja muncul alasan, bahwa negara Indonesia bukan berdasar agama, sehingga tidak bisa menerapkan syari’ah Islam seutuhnya. Namun, melihat banyaknya pelarangan melalui perda syari’ah, maupun sekadar fatwa haramnya pornografi, pornoaksi, bunga bank dan lain sebagainya, maka tidak adil jika sepakbola dibiarkan merajalela.

    Keharusan fatwa biasanya muncul dari “ketidakjelasan” status hukum praktek muamalah. Maka, sepakbola sebagai kegiatan yang tidak memiliki landasan hukum yang jelas sesuai ajaran Islam, kiranya membutuhkan kejelasan status hukum-nya. Di negeri Islam, Iran dan Saudi Arabia, sudah ada banyak fatwa tentang keharaman sepakbola, terutama fatwa yang melarang perempuan main bola, atau sekadar melarang perempuan masuk stadion. Alasannya jelas, sepakbola identik dengan pergaulan gaya liberal Barat, perjudian dan aneka warna tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tentu, menjadi aneh jika organisasi seperti Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) mendiamkan soal ini. Di Iran, kisah tentang pengharaman sepakbola sudah berulangkali terjadi. Banyak mullah yang mengharamkan sepakbola, apalagi sepakbola perempuan. Bahkan, sampai sekarang, beberapa mullah masih sering melontarkan fatwa keharaman perempuan masuk stadion. Seorang wartawan, Franklin Foer (2004) menceritakan, sekalipun Ayatullah Khomeini pada masa kekuasaannya melarang perempuan masuk stadion, tapi larangan itu tetap tak mampu mengekang hasrat kaum hawa penggila bola. Beberapa pria bercukur halus dan mengenakan pakaian kedodoran. Mulanya Foer agak heran dengan kelakukan kelompok penonton yang agak aneh ini. Setelah dicermati, ternyata mereka bukan pria, melainkan perempuan berpakaian pria. Dengan resiko dihukum berat oleh polisi Iran, kaum perempuan Teheran berani menembus stadion Azadi. mereka mempres payudara, gembung rambut yang panjang, berpakaian jubah pria, dan menyelinap masuk ke stadion.

    Hasil investigagasi Foer juga menyebutkan, kabarnya, para perempuan nekad dan gila bola itu termasuk putri-putri ulama ternama, satu-satunya perempuan di Iran yang punya suara dalam tata pemerintahan Iran. Di masa kepemimpinan Khomeini, pemerintah Iran memang berhasil menghabisi budaya pop, terutama lagu, film, dan kesenian impor dari Barat. Tapi mereka tak berhasil melarang sepakbola. Sebab, sekali mengusik sepakbola, berarti rezim sedang memposisikan diri berlawanan dengan gelora terbesar rakyat Iran. Sama halnya di Saudi, pemerintah hanya bisa membuat aturan “pengecualian” untuk sepakbola. Gelora politik demokrasi kaum muda mungkin saja bisa dibasmi. Tapi gelora rakyat di stadion tidak mungkin bisa dibungkam. Bahkan untuk urusan kompetisi sepakbola, pemerintahan Saudi memperbolehkan badan olahraga sepakbola Saudi tetap menggelar kompetisi pada saat bulan ramadlan, dengan catatan pertandingan dimainkan setelah salat tarawih.

    Sekalipun sepakbola tak bisa dibendung melalui syari’ah Islam, namun banyak lembaga fatwa di berbagai negara Islam sudah memperjelas status hukumnya. Mereka mengharamkan, namun tidak bisa melarang kegiatan “munkar” tersebut. Mungkin, sepakbola adalah obyek hukum yang harus mendapat pengecualian. Persoalan yang diakibatkan sepakbola memang banyak terdapat madharat, sekalipun di luar itu gengsi politik nasional, uang, dan lapangan pekerjaan tetap bisa disebut sebagai unsur maslahat. Tapi kalau kita tetap konsisten dengan ajaran agama, bukankah yang tak sesuai syari’ah Islam adalah ajaran setan? Ada baiknya fatwa keharaman sepakbola segera dikeluarkan. Bagi MUI, tak baik menunda sikap, sebab dengan demikian membuka ruang kemungkaran yang lebih luas.  Tak jadi soal di negeri-negeri Islam tersebut fatwa tinggal fatwa. Toh, sekalipun bunga bank diharamkan, perbankan konvensional tetap berjalan. Justru dengan adanya fatwa pengharaman sepakbola, maka semakin nampak ketegasan dari kalangan ulama sebagai penjaga syari’ah dan pelayan umat.

    Seperti misalnya Lajnah Daimah Saudi berpendapat bahwa; Pertandingan sepak bola, yang memperebutkan hadiah, hukumnya haram karena mengandung unsur taruhan. Tidak boleh ada hadiah pertandingan kecuali dalam pertandingan yang diizinkan oleh syari’ah, yaitu pacuan kuda, pacuan unta, dan lomba memanah. Berdasarkan hal tersebut maka menghadiri secara langsung atau menonton (via TV misalnya) pertandingan tersebut, hukumnya adalah haram untuk orang yang mengetahui bahwa pertandingan tersebut memperebutkan hadiah. Menghadiri secara langsung berarti menyetujui pertandingan semacam itu.

    Akan tetapi, jika pertandingan olah raga tersebut tidaklah memerebutkan hadiah, tidak melalaikan dari kewajiban agama semisal shalat, dan tidak mengandung hal yang terlarang semisal buka-buka aurat, campur baur perempuan dengan laki-laki, dan adanya alat musik maka mengikuti pertandingan dan menontonnya tidaklah terlarang. Fatwa ini disampaikan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syekh, Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dan Syekh Bakr bin Abdullah Abu Zaid. (Fatawa Lajnah Daimah, 15:238)”

     
  • aqidahsalafshalih 10:59 am on December 22, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , hukum pancung,   

    Kejamkah Hukum Pancung? Kejamkah Hukum Islam? 

    Kejamkah hukuman pancung?

    Kejamkah hukuman setrum dikursi listrik?

    Kejamkah hukuman tembak mati?

    Jawabannya, “Ya, kejam.”

    Lantas kenapa dipancung? “ya, itulah Arab Saudi.”

    Kenapa disetrum hukumannya? “ya itulah Amerika.”

    Kenapa digantung? Kenapa ditembak? Kenapa disuntik mati?

    Dan masih banyak lagi cara menghukum orang yang juntrungannya adalah kematian. Tetapi kejamkah hukum Islam?

    Jawabannya tidak, malah adil. Mata dibalas mata, darah dibalas darah, membunuh maka harus dibunuh. Dalam sistem hukum Islam, itulah yang disebut qishash. Apapun media penggunaannya, apakah dipancung, digantung, disetrum, disuntik mati. Namun itulah hukum yang adil dan setimpal. Bahkan kalau di dalam Islam, yang namanya kasus pidana seperti pembunuhan bisa seketika menjadi perdata apabila pihak korban memaafkan dan hanya meminta diyat atau tebusan. Betapa Islam sangat memudahkan dan tidak menyulitkan ketimbang sistem hukum ala demokrasi atau Pancasila yang kita jalani saat ini.

    Beberapa waktu lalu telah terjadi hukum pancung atas ibu Ruyati di negara Saudi Arabia, kejadian yang cukup menggemparkan, terutama di Indonesia. Bagaimana tidak? Ibu Ruyati adalah seorang ibu berkewarganegaraan Indonesia, yang bekerja menjadi TKW di Saudi Arabia telah dihukum pancung. Seolah tiada hujan tiada angin, tiba-tiba berita duka tersebut menghujani tanah air ini dengan deras, bahkan keluarga korbanpun mengaku tidak mendapat informasi yang cukup. Sebagaimana pemerintah Indonesia juga mengaku demikian. Informasi yang tiba-tiba dan dengan segala kekurangannya mengundang banyak komentar di berbagai kesempatan. Tentu, komentar itu pun bermacam-macam sesuai keberagaman orang yang berkomentar. Dari muslim, sampai non muslim. Dari orang yang bijak sampai orang yang sembrono. Dari yang menunggu informasi yang cukup sampai yang asal bunyi dengan penuh ketergesaan dan emosi.

    Saya memandang bahwa kasus ini sebagai ujian yang cukup berat bagi kita semua, tentu sebagai seorang muslim meyakini, bahwa segala kata-kata yang keluar darinya akan dicacat oleh malaikat, yang bakal ditimbang sebagai amal baik atau buruk di akhirat kelak,

    “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Q.S. Qaf:18]

    Inilah ujian pertama bagi kita semua, ketergesaan dalam berkomentar tanpa memiliki informasi yang cukup membuat seseorang terjerumus dalam komentar yang salah dan tidak bijak, sehingga bisa menjadi bencana buatnya atau buat orang lain di kemudian hari. Memojokkan salah satu pihak dan menyalahkannya tanpa informasi yang cukup adalah sikap yang tidak bijak yang akan merugikan, ini menggambarkan ketergesaan yang tanpa pikir panjang. Sama saja apakah yang di pojokkan itu adalah pihak Ibu Ruyati atau pihak pemerintah RI sebagai penanggung jawab atas warganya, ataukah pihak keluarga majikan sebagai korban pembunuhan Ibu Ruyati, ataukah pihak pemerintah Saudi Arabia sebagai hakim antara dua orang yang bertikai dan yang memutuskan perkaranya.

    Tentu untuk menilai siapa yang salah, siapa yang keliru, kita harus mengetahui sejak awal kasus ini, apa yang dilakukan Ibu Ruyati, benarkah dia membunuh, bagaimana membunuhnya, kenapa dia melakukannya, apa yang dilakukan majikan, kenapa dia melakukannya, apa yang dilakukan pihak hakim, kenapa sampai pada vonis hukum mati, apa yang dilakukan pemerintah Saudi Arabia terhadap pihak pemerintah RI, apa upaya yang telah dilakukan pemerintah RI melalui duta besarnya. Apakah informasi itu semua telah kita miliki sehingga kita dapat menilai dengan baik dan benar baik dalam menyalahkan atau membenarkan salah satu pihak?

    Jangan sampai musibah yang menimpa membuat kita jatuh dalam musibah lain, tergelincirnya kita dalam komentar yang salah. Kembali kepada ujian di balik kasus, di antara ujian yang terberat bagi muslimin  dari kasus itu adalah ujian keimanan terhadap ajaran Islam. Tak sedikit dari kasus ini muncul komentar, atau minimalnya perasaan dan anggapan negatif terhadap hukum qishash. Dari kasus tersebut bisa jadi seorang muslim justru menyalahkan hukumnya, tanpa menengok kepada alur peristiwa dan hukum. Ini yang justru sangat dikhawatirkan, oleh karenanya saya menganggap ini ujian yang sangat berat bagi muslimin, karena ini bisa menggoyah keimanan dan keislamannya. Kembali, sebabnya adalah tiadanya informasi yang cukup tentang kejadian yang sesungguhnya dan tentang apa itu hukum qishash dalam Islam.

    Kita tutup sejenak lembaran ibu Ruyati, karena itu sifatnya kasuistik yang untuk mempelajarinya perlu studi kasus. Kita akan coba buka lembaran ensiklopedi fikih Islam, untuk mengetahui apa itu qishash. Syariat qishash dalam hal pembunuhan, nyawa dibayar nyawa, tidak sesederhana yang dibayangkan, bahkan hal itu tidak terlepas dari segala aturan yang terkait dengannya. Sebagai contohnya, diantara beberapa syarat seseorang dibalas bunuh, misalnya si pembunuh adalah mukallaf (dibebani hukum), dan si pembunuh melakukan perbuatan itu dengan sengaja atau suka rela tanpa paksaan. Maka di antara syarat meminta qishash adalah bahwa seluruh wali korban sepakat untuk membalas bunuh, bila ada salah satu saja yang memaafkan, maka gugurlah permintaan qishash. Untuk diketahui pula bahwa balas bunuh bukanlah satu-satunya pilihan bagi keluarga korban, tetapi ada dua pilihan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam memberikan dua opsi, “Barangsiapa yang salah satu keluarganya terbunuh maka dia di antara dua pilihan, diberi diyat (tebusan) atau di-qishash.” [Sahih, H.R. al-Bukhari]

    Bahkan dalam Islam sangat dianjurkan bagi para wali korban untuk memaafkan, artinya tidak membalas bunuh tapi membayar diyat. Dan lebih baik lagi jika para wali korban tersebut memaafkan tanpa bayaran sama sekali. Lihatlah firman Allah yang artinya, “Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya,“ [Q.S. al-Baqarah:178]. Lihatlah penggunaan kata saudara, apa rahasia di balik itu?

    Asy Syaikh as-Sa’dy  dalam tafsirnya mengatakan, “Terkandung pada ayat tersebut anjuran untuk berbelaskasih dan memaafkan, mengganti qishash dengan diyat, dan lebih bagus lagi memaafkan tanpa minta diyat. Bahkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam sendiri senantiasa menyarankan para wali korban untuk memberikan maaf. Shahabat Anas bin Malik menceritakan, “Tidaklah didatangkan kepada Rasulullah satu urusan qishash pun kecuali beliau menyarankan untuk dimaafkan”. [Sahih, HR Ibnu Majah. Lihat Sahih Sunan]

    Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam  pernah memberikan harta yang sangat banyak kepada orang-orang Laits agar mereka mau memaafkan, dan tidak menuntut qishash.

    Namun, hal ini tentu tanpa mengesampingkan hak keluarga korban. Kita tidak bisa hanya memandang orang yang hendak dieksekusi. Tentu hak korban juga harus diperhatikan, mereka orang yang telah dirugikan dalam hal ini, salah satu anggota keluarga mereka telah wafat dengan cara dibunuh, dan bukankah membunuh itu dosa yang sangat besar? Bayangkan kalau itu menimpa salah satu kita. Andai mereka memaafkan, itu keutamaan yang sangat tinggi nilainya, tapi kalau mereka tetap menuntuk hak, itu hak mereka, bukan sikap yang adil kalau hak mereka dihambat.

    Dalam kasus Ruyati, memang benar apa yang dikatakan duta besar RI bahwa Raja pun tidak bisa campur tangan bila hukum telah diputuskan dan keluarga korban tetap tidak mau memaafkan. Raja saja tidak bisa mengintervensi apalagi amnesty internasional. Namun apa yang bisa dilakukan Raja, Hakim, atau pihak RI, mereka hanya bisa menganjurkan keluarga korban untuk menempuh jalan damai, ishlah, saling memafkan, minimalnya berpindah kepada diyat, walaupun bernilai besar, dan lebih baik lagi gratis. Seperti yang sering dilakukan Rasulullah.

    Hakim bisa saja memutuskan bahwa pembunuhan ini bersifat qotlul ‘amd atau pembunuhan sengaja, walaupun bisa jadi si pembunuh sebenarnya tidak berniat membunuh, ia hanya ingin melukai, tapi ternyata justru kematian yang terjadi. Dalam kondisi seperti ini, hakim tetap menghukumi secara fakta lapangan. Adapun ucapan si pembunuh bahwa ia tidak bermaksud membunuh, hakim tidak tahu sejauh mana kejujurannya, maka kata-kata tersebut tidak dapat mengubah hukum daripada qishash, bahwa seseorang yang membunuh harus dibunuh. Ada kemungkinan ia jujur dalam pengakuan tersebut, tapi hanya Allah yang mengetahui. Atas dasar itu, putusan hakim hanya sebatas hukum dunia, dan hakim hanya dapat menganjurkan wali korban untuk memaafkan. Jika si pembunuh telah mengaku bahwa ia tidak punya niatan untuk membunuhnya, kalau ia jujur dan tetap dilaksanakan qishash, maka wali korban yang meng-qishash dianggap telah melakukan pembunuhan terhadapnya dan balasannya nanti di neraka.

    Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “telah terjadi pembunuhan terhadap seseorang di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, maka perkara tersebut diajukan kepada beliau. Setelah proses, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam  menyerahkan pembunuh tersebut kepada wali korban untuk dibalas bunuh. Ternyata si pembunuh mengatakan, “Wahai Rasulullah, demi Allah, saya tidak bermaksud membunuhnya.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam  pun mengatakan kepada keluarga korban, ”Kalau dia jujur, dan kamu tetap menghendaki agar qishash ini dilaksanakan, maka kamu masuk  neraka.” Akhirnya keluarga korban melepaskannya. [Sahih, HR Abu Dawud dan yang lain. Lihat Sahih Sunan]

    Hukum qishash, dalam Islam bukan hanya sebagai hukuman, ada sisi lain yang jarang dipahami oleh banyak orang, yaitu bahwa hukum tersebut juga berfungsi sebagai penutup atau pembersih dosa. Sehingga hukuman di akhirat nanti bisa terbebaskan dengan di-qishash ini. Dan tentu, hukuman di dunia jauh-jauh lebih ringan ketimbang hukum di akhirat.

    Ibnul Qoyyim  menjelaskan, “Yang benar, pembunuhan itu terkait dengan 3 hak: hak Allah, hak yang terbunuh, dan hak keluarganya. Maka jika si pembunuh menyerahkan dirinya dengan suka rela kepada wali korban, karena menyesal dan takut kepada Allah, lalu bertaubat dengan taubat yang benar, maka hak Allah gugur dengan taubatnya. Hak keluarga gugur dengan qishash, damai, atau pemberian maaf. Tinggal hak orang yang terbunuh, maka Allah akan memberikan gantinya untuk hamba-Nya yang bertaubat tersebut dan Allah akan memperbaiki hubungan antara keduanya.”

    Dengan penjelasan di atas, maka ibu Ruyati telah terbebas dari dosa pembunuhan yang dilakukannya di dunia ini serta mendapatkan rahmat dari Allah.

    Oleh karena itu jangan sampai kasus semacam ini mempengaruhi keimanan kita terhadap Islam, banyak pihak ingin memanfaatkannya untuk menyudutkan pihak tertentu, dengan berbagai gosip yang tak bertanggung jawab. Yang cukup aneh dan lucu dalam kasus ini, demi menyudutkan orang Arab, ada yang menganggap bahwa ibu Ruyati membunuh karena membela diri dari upaya pemerkosaan majikannya. Padahal yang dibunuhnya adalah seorang nenek-nenek tua, dan pada dasarnya majikannya adalah keluaga yang baik. Sebagaimana diakui teman satu majikan Ibu Ruyati yang bernama Suwarni, hanya saja si nenek malang suka marah-marah. Ibu Ruyati pun mengakui sebab pembunuhannya adalah rasa kesal akibat sering dimarahi oleh ibu majikan dan kecewa karena majikan tidak mau memulangkan. Ruyati juga menyatakan berniat untuk melarikan diri namun pintu rumah selalu terkunci sehingga tidak dapat keluar dari rumah majikan. Ruyati mengaku tidak pernah disiksa oleh majikannya.

    Seandainya pembunuhnya bukan ibu Ruyati, tapi orang Arab sendiri, tentu akan dihukumi dengan hukuman yang sama. Dan faktanya, sudah banyak warga Saudi Arabia yang mati dihukum pancung. Memang orang jahat di mana-mana ada, dan kejahatan tetap kejahatan di manapun dan oleh siapapun. Tetapi yang paling berbahaya, ketika kasus ini dipakai untuk menyudutkan Islam. Padahal bila dilihat dengan jujur dan benar, bahwa dalam hal ini syariat Islam-lah yang paling adil dan paling menjaga perasaan semua pihak, paling bijak dalam memutuskan. Kita selaku seorang muslim yang hakiki bukan muslim liberal (orang yang mengaku muslim tapi jauh dari Islam), tentu mengimani firmanNya: “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. [Q.S. al-Baqoroh:179].

    Imam Asy Syinqithi  dalam tafsirnya menjelaskan, “Di antara pentunjuk Al-Quran yang lebih tepat dan adil adalah qishash, karena bila seseorang marah kemudian bertekad membunuh orang lain, lalu ingat bahwa bila ia membunuh ia akan dibunuh dengan sebab itu, maka ia akan takut dari akibat perbuatannya sehingga ia mengurungkan niatnya. Sehingga, tetap hiduplah orang yang akan ia bunuh dan dia pun tetap hidup karena tidak membunuh sehingga tidak dibunuh karena qishash. [dikutip dari Adhwa`ul Bayan, hal:427-428, karya Syaikh Amin Asy-Syinqithi ].

    Tidak diragukan bahwa ini adalah jalan yang paling adil dan paling lurus. Oleh karenanya, telah disaksikan di penjuru dunia, baik dahulu maupun sekarang, sedikitnya jumlah pembunuhan pada negeri-negeri yang berhukum dengan hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, qishash adalah peringatan keras terhadap tindak pembunuhan seperti yang Allah sebutkan dalam ayat yang tersebut tadi. Dan apa yang disebutkan oleh orang-orang anti Islam bahwa qishash tidak bijaksana karena menyebabkan berkurangnya jumlah komunitas masyarakat, bahwa semestinya dihukum dengan dipenjara, ini semua adalah ucapan yang tidak ada nilainya, kosong dari hikmah atau kebijaksanaan. Karena penjara tidak membuatnya jera dari pembunuhan, dan bila hukuman itu tidak membuat jera maka orang-orang rendahan itu akan banyak melakukan pembunuhan sehingga akan bertambah banyak pembunuhan dan komunitas masyarakat akan berkurang berkali lipat. Allahu A’lam.

     
  • aqidahsalafshalih 10:57 am on December 22, 2011 Permalink | Balas
    Tags: bakar diri, sondang,   

    Sensasi Bakar Diri yang Nyeleneh dan Konyol 

    “Mas, kenapa sih mahasiswa banyak yang berdemo, apalagi sampai ada yang bunuh diri?” begitulah pertanyaan mengejutkan yang dilontarkan adik saya di usianya yang baru 9 tahun ketika melihat berita tentang mahasiswa yang membakar dirinya sendiri di depan istana. Saya hanya menjawab, “karena mereka itu kurang kerjaan.”

    Ada pepatah arab mengatakan “Khaalif, tu’raf!” yang artinya “Nyelenehlah kamu, kamu akan terkenal.” Ali Ibn Abi Thalib juga pernah mengatakan, bul maa’a zam-zam alias kencingilah air zam-zam, sebagai pelampiasan dirinya ketika dijumpai banyak sekali orang-orang yang mulai nyeleneh di masanya. Terutama lagi orang-orang yang melakukan bid’ah, takhayul, dan khurafat. Karena perbuatan semacam itu selain nyeleneh juga menyelisihi ajaran agama. Ironisnya di abad modern ini malah makin banyak orang nyeleneh dan dianggap sebagai pahlawan.

    Sebagai contoh bom bunuh diri, pelakunya malah diteriaki syahid, padahal para ulama salaf telah memfatwakan haram terhadap pelaku bom bunuh diri. Mengapa haram? Bunuh diri adalah usaha membunuh diri sendiri dengan meledakkan diri, maka perbuatan ini dilarang oleh Rasulullah.  Di dalam salah satu hadis dikatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membunuh dirinya sendiri di dunia dengan cara apapun, maka Allah akan menghukum dia dengan hal yang sama (yang dia lakukan yang menyebabkan dia terbunuh) di hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhraj-nya, dari Tsabit bin Ad Dhahak radhiyallahu ‘anhu).

    Syaikh Shalih al Fauzan salah seorang ulama mufti Arab Saudi dalam penyampainnya mengeluarkan fatwa haramnya bunuh diri. Dalam ceramahnya beliau mengatakan bunuh diri dan tindakan terror yang menyebabkan kematian orang yang tidak bersalah adalah langkah-langkah syaitan, dan bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhirat agar menghindari perbuatan haram dan dosa besar tersebut.

    “Pelaku terror merasa bahwa apa yang dilakukannya berada di jalan Allah padahal sebenarnya ia sedang melangkah melalui jalan-jalan syaitan.” tegasnya.

    Ia pun menegaskan bahwa tindakan terorisme yang terjadi belakangan ini yang merenggut banyak korban jiwa bukanlah bentuk jihad, bahkan ulama Mufti Saudi ini mengeluarkan kecamannya bahwa tindakan tersebut merupakan dosa besar. Selain dirinya dewan ulama senior saudi juga telah mengeluarkan fatwa haramnya bom bunuh diri. Hal ini menunjukkan bahwa aksi-aksi heroik namun konyol seperti itu bertentangan dengan ajaran Islam. Lalu bagaimana dengan bakar diri?

    Beberapa hari ini, Indonesia dikejutkan dengan aksi bakar diri seorang mahasiswa di depan Istana merdeka. Dikatakan dalam media cetak maupun elektronik, aksi tersebut lantaran kekecewaannya terhadap negara yang dianggap gagal menuntaskan banyak persoalan HAM. Pembunuhan Munir hanyalah salah satu contoh. Masih banyak contoh lain, seperti Tragedi Mei 1998, peristiwa Semanggi, atau kekerasan di Papua yang tak kunjung tertuntaskan.  Ia memprotes dengan membakar diri di depan istana. Tak pernah ada yang bakar diri di depan Istana sejak kemerdekaan.  Aksi Sondang mengingatkan kita pada sosok Mohamed Bouazizi, pemuda Tunisia yang membakar dirinya di depan kantor gubernur, akhir Desember 2010. Seperti Sondang, frustrasi Bouazizi terhadap negaranya yang korup dan gagal menyejahterakan rakyatnya juga memuncak.

    Saya tidak tahu apakah dalam Kristen membunuh diri sendiri suatu perbuatan berdosa atau tidak. Akan tetapi jelas di dalam Islam perbuatan tersebut haram hukumnya. Oleh karena itu saya merasa prihatin apabila aksi nyeleneh dan konyol seperti bom bunuh diri dan bakar diri, atau sejumlah ide-ide sensasional nan menggelikan semacamnya, akan ditiru oleh generasi muslim. Karena Islam melarang umatnya berputus asa. Dalam al-Qur’an, surat Yusuf ayat 87, Allah SWT mengingatkan pesan Nabi Yakub kepada anak-anaknya tatkala hendak berangkat ke Mesir untuk mencari Yusuf, ”Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” inilah gambaran bahwa seberapapun besarnya ujian dan cobaan, umat Islam tidak boleh berputus asa, apalagi demi cita-cita besar dan perjuangan di jalan Allah.

    “Islam melarang bunuh diri bahkan walaupun sedang menghadapi kesulitan hidup. Apalagi melakukan bunuh diri dengan membakar diri adalah kejahatan yang mengerikan,” kata Mufti besar, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah al-Sheikh, yang dikutip dari harian Pan-Arab.”Perbuatan mengorbankan diri sendiri dan bunuh diri adalah dosa besar,” katanya. “Kejahatan ini tidak boleh tersebar, dan umat Islam seharusnya jangan menempuh jalan seperti itu, itu adalah perbuatan merusak citra muslim,” kata Mufti Arab Saudi. Jelaslah bagi kita umat Islam bahwa membakar diri dengan alasan apapun dilarang oleh agama, dan pelakunya berdosa besar, sama sekali bukan suatu kebanggaan, patriotik, atau kepahlawanan.

    Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap pemimpin yang zalim?

    Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

    “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. An Nisa’: 59)

    Dari ibnu Umar r.a. Rasulullah bersabda: “Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan menta’ati, baik dalam hal yang ia suka atau yang ia benci, kecuali kalau ia diperintahkan dengan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan menta’ati.” (Bukhari dan Muslim)

    Dan pada hadis lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada diantara mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah (seperti) hati-hati syaitan yang terdapat di jasad manusia.” Aku (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah bersabda, “Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!” (Riwayat Muslim)

    Lihatlah Ibnu Hajar menjadikan kepemimpinan Al-Hajjaaj sebagai contoh nyata bagi penerapan hadis Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Al Hajjaj adalah seorang tokoh yang amat bengis dan kejam, para sahabat dan tabi’in sepakat bahawa dia adalah seorang fasik sehinggakan khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz pernah berkata: “Seandainya seluruh umat berlumba-lumba dengan orang yang paling keji dari mereka, kemudian setiap umat mendatangkan orang yang paling keji dari mereka dan kita mendatangkan Al-Hajjaj, niscaya kita dapat mengalahkan mereka.” Namun daripada itu, mereka masih tetap taat kepada Al-Hajjaj.

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan merekapun membenci kalian, kalian melaknati mereka dan merekapun melaknati kalian.” Dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah tidak (sebaiknya tatkala itu) kita melawan mereka dengan pedang?” Rasulullah berkata, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari para pemimpin kalian, maka bencilah amalannya dan janganlah kalian mencabut tangan kalian dari ketaatan kepadanya.” (Riwayat Muslim)

    Pada hadis lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang ia benci maka hendaknya ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejauh sejengkal, kemudian ia mati maka kematiannya bagaikan kematian jahiliyah.” (Muttafaqun ‘alaih)

    Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan merupakan ilmu dan keadilan yang diperintahkan untuk dilaksanakan adalah bersabar atas kezaliman para penguasa, sebagaimana hal ini merupakan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.” (Majmuu’ Fataawaa 28/179).

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya dan bila ia tidak mampu, maka dengan hatinya.” (Muslim)

    Dalam hadis ini Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam membahagikan manusia menjadi tiga golongan: Golongan pertama: adalah orang-orang yang mampu untuk menghilangkan kemungkaran dengan tangannya (kekuatannya), yaitu pemerintah atau pemimpin atau yang diberi kekuasaan dalam hal ini, seperti lembaga-lembaga dan gabernor serta panglima.

    Golongan kedua: orang-orang yang mengingkari dengan lisannya, yaitu yang tidak memiliki kekuasaan, tapi memiliki kemampuan untuk menjelaskan.

    Dan golongan ketiga: orang-orang yang mengingkari kemungkaran dengan hatinya, yaitu mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menjelaskan. Di sini ada perbedaan antara kekuasaan dan kekuatan, kekuasaan adalah khusus milik pemerintah dan bukan milik rakyat, sedangkan kekuatan adalah umum boleh jadi milik pemerintah tapi boleh jadi juga milik rakyat. Rakyat yang memiliki kekuatan tidak boleh memberontak kepada pemerintah yang memiliki kekuasaan selagi ia masih sholat dan belum menampakkan kekufuran yang jelas, seperti mengatakan dirinya kafir atau berpihak pada kaum kafir dalam artian memerangi secara nyata orang-orang muslim.

    Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang jahat.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Hakim & Al Albani)

    Memberontak serta memerangi penguasa muslim yang zalim merupakan pemikiran yang disepakati oleh seluruh firqoh-firqoh khawarij kecuali al-Ibaadhiah yang memandang tidak harus dengan memberontak dengan mengangkat senjata. Akan tetapi yang penting penguasa yang zalim itu bisa disingkirkan sesuai dengan kemampuan rakyat, baik dengan pedang (senjata) ataupun dengan cara-cara yang lainnya. Pemikiran ini berbeda dengan mayoritas umat Islam, yakni Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah.

    Imam Al-Aajurri berkata, “Maka tidak semestinya orang yang melihat ijtihadnya seorang khawarij yang telah membelot kepada penguasa baik yang adil atau yang zalim lantas ia membelot dan mengumpulkan masyarakat dan menghunuskan pedangnya serta menghalalkan (untuk) memerangi kaum muslimin, maka tidaklah semestinya ia terpedaya dengan qiro’ah (bacaan Al-Qur’an) si khawarij ini, jangan juga terpedaya dengan lamanya sholatnya, tidak juga puasanya yang terus-menerus, tidak juga indahnya perkataannya dalam ilmu jika madzhabnya adalah madzhab khawari.” [Asy-Syari’ah I/345].

    Ibnu Abdil Barr berkata, “Firqoh-firqoh Mu’tazilah dan seluruh Khawarij berpendapat akan kewajipan menentang penguasa yang zalim, adapun Ahlus Sunnah maka mereka berkata, ‘Yang merupakan pilihan yaitu hendaknya sang penguasa adalah utama, adil, dan baik. Namun jika tidak demikian maka kesabaran untuk taat kepada penguasa yang zalim lebih utama daripada memberontak kepadanya…’” [Syarh Al-Muwaththo’ li Az-Zarqooni III/12].

    Imam An-Nawawi berkata, “Adapun sisi yang disebutkan dalam buku-buku fikih karya sebahagian sahabat kami (syafi’iyah) bahwasanya penguasa boleh dijatuhkan (jika zalim) dan juga diriwayatkan dari Mu’tazilah maka ini merupakan kesalahan orang yang berpendapat demikian dan menyelisihi ijma’ para ulama.” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim XII/229].

    Ibnu Taimiyyah berkata, “Oleh karena itu Nabi memerintahkan untuk bersabar terhadap kezaliman para penguasa dan melarang untuk memerangi mereka selama mereka masih sholat.

    Imam Ahmad bin hambal berkata, “Setia mendengar dan taat kepada para penguasa dan pemimpin kaum muslimin baik yang sholeh maupun yang jahat…” [Ushulus Sunnah hal 42 point no 15]. Kemudian beliau berkata, “Barangsiapa yang memberontak kepada seorang pemimpin kaum muslimin padahal kaum muslimin telah bersatu di bawah kepemimpinan dan kekhilafahannya dengan cara apapun (ia berhasil mencapai kehilafahan tersebut -pen), baik dengan diridhai atau dengan kudeta, maka ia telah memecah tongkat persatuan kaum muslimin dan telah menyelisihi atsar-atsar dari Rasulullah. Jika dia si khawarij (pemberontak) ini mati maka matinya mati jahiliyah. Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memerangi penguasa dan tidak juga memberontak terhadapnya. Barangsiapa yang melakukannya maka ia adalah mubtadi’ tidak di atas sunnah dan jalan (yang lurus).” [Ushulus Sunnah hal 45-47 point no 20 dan 21].

    Syaikh Sholeh Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah khuruj (memberontak) kepada penguasa hanyalah dengan mengangkat pedang saja, ataukah termasuk juga memberontak dapat berwujud dalam pencelaan terhadap pemerintah dan memprovokasi masa untuk menentang pemerintah dan berdemonstrasi menentang pemerintah?”

    Beliau menjawab, “Kami telah menjelaskan hal ini kepada kalian, kami telah mengatakan bahwasanya memberontak kepada pemerintah termasuk mengangkat pedang dan membicarakan (keburukan-keburukan) mereka di majelis-majelis dan di atas mimbar-mimbar. Perbuatan ini menyebabkan berkobarnya gejolak masyarakat dan memprovokasi mereka untuk memberontak kepada pemerintah dan berkuranglah wibawa pemerintah di mata mereka. Maka perkataan adalah (termasuk) pemberontakan”. [Dinukil dari Al-Fataawa Asy-Syar’iyyah fil Qodhooyaa Al-‘Ashriyyah hal 107].

    Imam An-Nawawi berkata: “Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka (hukumnya) haram dengan dasar ijma’ kaum muslimin. meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan zalim. Dan sangat banyak hadis-hadis yang semakna dengan apa yang aku sebutkan ini. Ahlus Sunnah telah ber-ijma’ bahwasanya seorang penguasa tidaklah serta merta terlepas kekuasaannya hanya karena ia melakukan kefasikan.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/229).

    Imam Ahmad rahimahullah disiksa dan dipenjara oleh penguasa di zamannya karena beliau tidak mau mengucapkan kalimat kekafiran (yaitu Al-Qur’an adalah mahluk). Meskipun demikian beliau mengharamkan khuruj (pemberontakan) kepada penguasa yang telah menyiksa beliau tersebut.

    Jadi jelas bagi kita penganut Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah, bahwasannya memberontak kepada penguasa zalim itu dilarang, yang diwajibkan bagi kita hanya terus berdakwah melalui lisan seperti nasihat (tausiah), dan menjadikan syari’ah Islam sebagai konstitusi negara. Jika syari’ah Islam adalah satu-satunya konstitusi negara, maka pemerintah akan tunduk pada konstitusi tersebut ketika berbuat zalim, sebab jelas bahwa syari’ah Islam adalah hukum Allah, dan pihak pemerintah akan selalu ingat bahwa dalam menjalankan hukum Allah, maka tanggung jawabnya ada di dunia serta di akhirat. Tetapi meskipun pemerintah tetap berbuat zalim, selama masih muslim dan menunaikan ibadah, maka jelas bagi umat Islam harus tetap mendukungnya. Mengapa demikian? karena pemberontakan atau penggulingan kekuasaan itu akan berdampak lebih besar mudharatnya bagi umat manusia dan juga bagi persatuan dan kesatuan umat Islam.

    Sedangkan jika kita kembalikan lagi ke persoalan bakar diri, maka secara hukum sudah jelas sebagaimana penjabaran di atas, dan kemudian patutlah bagi kita umat Islam untuk tidak terbawa ke dalam arus kesesatan dengan menganggap perbuatan tersebut sebagai aksi heroik atau patriotik, apalagi mencontoh atau meniru aksi-aksi semacam itu akibat telah terlanjur menganggap sebagai simbol perjuangan. Allahu ‘Alam

     
  • aqidahsalafshalih 11:14 am on December 21, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , ,   

    Ancaman Pluralisme-Sekularisme Bagi Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama 

    Wacana tentang pluralisme pada umumnya, dan pluralisme agama khususnya, secara otomatis dan tak terhindarkan harus bersinggungan dengan masalah hak asask manusia (HAM). Sebab secara ontologis, pluralisme tak mungkin eksis tanpa adanya satuan-satuan/individu-individu atau masyarakat atau kelompok yang beragam yang bernaung di bawahnya dan masing-masing menikmati hak-hak asasinya secara penuh. Namun sudah menjadi jamak berlaku, bahwa justru sistem ini selalu rentan terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM, kelompok minoritas khususnya dan juga minoritas agama, baik oleh pemerintah yang sedang berkuasa atau pihak mayoritas. Dari sini, para pengkaji dan peneliti selalu mengaitkan wacana pluralisme dengan masalah HAM.

    Jika kita cermati kondisi hak asasi manusia di bawah tatanan pluralisme berada dalam ancaman yang sangat serius baik pada level teoritis maupun praktis. HAM di sini dimaksudkan secara khusus apa yang di kalangan para ahli dikenal dengan hak yang tak mungkin dinafikan (inalienable) dalam kondisi yang bagaimanapun. Yakni suatu hak yang dapat dinikmati oleh manusia hanya karena ia dilahirkan sebagai manusia, dan tanpa hak-hak itu eksisten kehidupannya berkurang, atau bahkan tidak manusiawi sama sekali.

    Harus diakui bahwa tidak ada kebebasan yang benar-benar mutlak, mengingat kebebasan individu atau kelompok berhenti pada suatu titik di mana individu atau kelompok yang lain memulai kebebasannya. Di mana jika dipaksakan akan berbenturan dan timbul chaos. Fakta empiris menunjukkan secara gamblang dan meyakinkan bahwa minoritas keagamaan yang hidup di bawah naungan sistem pluralisme senantiasa mengalami masalah perlakuan diskriminatif yang mengahalangi kebebabasan mereka untuk mengekspresikan jatidiri dan identitas keagamaan, melakukan kewajiban ritual, dan memerolah hak persamaan di depan undang-undang dan hukum. Misalnya mengenakan hijab bagi muslimah di sekolah negeri dan tempat kerja umum.

    Pluralisme agama telah mereduksi pengalaman beragama kelompok minoritas, sehingga pilihannya adalah melepas jati diri atau menghadapi alienasi sosial. Keharusan memilih dari dilema inilah yang merupakan harga sebuah kebebasan beragama yang harus dibayar oleh kelompok minoritas agama. Jargon kebebasan beragama yang diusung pluralisme-liberalisme hanyalah sebatas kebebasan berkeyakinan dan beribadah dalam arti yang sempit, tanpa kebebasan mempraktikkan agama dalam ruang publik.

    Lantas apa nilainya sebuah keyakinan atau keimanan tanpa bisa mempraktikkannya? Tentu saja iman yang terlemah, tetapi memang kualitas iman yang beginilah yang selaras dan sejalan dengan ide-ide pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama. Dijajakan dan dipaksakan oleh Barat dengan berbagai macam cara dan sarana, tidak saja kepada komunitas-komunitas lokal, tetapi juga kepada seluruh bangsa sehingga menambah panjang pelanggaran HAM.

    Semua itu akhirnya mengingatkan kita pada sebuah fakta keberpihakan, bahwa sejatinya HAM sebagai satu nilai moral tidaklah independen, akan tetapi mempunyai dasar pijakan yang dalam hal ini berdasarkan pada nilai moral ala Barat. Di sisi lain Islam pun mempunyai konsep tentang hak asasi manusia yang oleh karena pluralisme liberalisme ini menjadi termarjinalkan. Dalam masalah HAM terdapat satu problem teoretis epistemologis yang sangat krusial, sehingga untuk mencapai suatu konsep yang disepakati bersama merupakan sesuatu yang mustahil. Namun meski demikian, satu hal yang sangat jelas adalah, konsep Barat tentang HAM bersumber dari pemikiran sekularisme dan sisa-sisa etika Kristiani di era Renaissance Eropa. Pertanyaannya adalah tentu pengalaman itu sangat tidak cocok apabila diglobalisasikan kepada bangsa atau agama lain. Dan lagi jika inti daripada HAM yakni menekankan kebebasan individu, mengapa manusia tidak dibiarkan bebas menggunakan haknya untuk tidak menerima pluralisme agama?

    Dalam Islam terdapat konsep bagaimana hak-hak asasi manusia bagi kelompok minoritas sama sekali tidak diabaikan. Terlebih jika kelompok-kelompok minoritas ini hidup dalam masyarakat Islami, yakni kelompok yang disebut ahlul dzimmah. Dalam pemikiran politik syari’ah Islam, ahlul dzimmah dianggap sebagai bagian dari penduduk Negara Islam. Dengan demikian mereka ini mendapatkan apa yang di zaman kita sekarang disebut sebagai status kewarganegaraan secara politis. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh agama apapun.

    Hak-hak ahlul dzimmah atau non muslim yang hidup di negara Islam adalah mendapatkan status dan perlakuan spesial sejauh tidak melanggar perjanjian yang disepakati dengan kaum muslim, yakni membayar jizyah dan menaati aturan-aturan Islam yang bersifat umum yang tidak berkenaan dengan urusan keagamaan. Secara umum dikatakan bahwa hak Ahlul dzimmah sama dengan apa yang diperoleh penduduk Muslim. Hanya dalam masalah tertentu yang menyangkut keamanan negara Islam saja, maka ahlul dzimmah sedikit terbatasi.

    Mereka ahlul dzimmah harus dilindungi dari segala bentuk ancaman dan kezaliman yang menyangkut jiwa, raga, harta, kehormatan, dan keyakinan agama mereka. Karena dzimmah berarti tanggungan. Bahkan jika ada negara yang pemerintahnya non-muslim membantai penduduknya yang muslim, maka pemerintah dalam negara Islam tidak dibenarkan melakukan balas dendam dengan membantai penduduknya yang dzimmah.

    Ahlul dzimmah juga menikmati kebebasan berkeyakinan dan beragama serta mengekspresikan jatidiri keagamaan atau menjalankan agamanya secara riil pada ranah privat dan publik. Kemudian mereka juga bebas merayakan hari raya keagamaan seperti membunyikan lonceng gereja dalam upacara atau ritual keagamaan, sebagaimana dicontohkan Khalid Ibn Walid terhadap penduduk al-Hirah, Anat, dan Qarqisa.

    Ahlul dzimmah diperbolehkan membangun tempat-tempat ibadah bagi mereka selama tidak berada di dalam kawasan atau wilayah yang dihuni muslim. Bahkan Yusuf al-Qardhawi justru membolehkan pembangunan tempat-tempat ibadah umat non-muslim di wilayah muslim jika mendapatkan izin dari pemerintah. Selain itu mereka juga mendapatkan hak untuk menjaga kelangsungan agama mereka, maka dari itu pemerintah harus menyediakan lembaga pendidikan yang mengajarkan pendidikan sesuai dengan tuntunan agama-agama mereka. Sedangkan di mata hukum, ahlul dzimmah mendapatkan hak untuk mendirikan sistem peradilan khusus atau otonomi untuk menyelesaikan kasus-kasus khusus mereka. Hal tersebut dicontohkan oleh Nabi ketika beliau memberikan klan-klan Yahudi untuk menyelesaikan urusan mereka sendiri dalam bidang hukum dan penyelesaian sengketa tanpa harus mengikuti sistem peradilan Islam yang diterapkan di dalam negara Madinah.

    Meski demikian mereka tetap mempunyai hak untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka di mahkamah syari’ah jika mereka menghendaki. Inilah kondisi pluralitas hukum yang benar-benar dipraktikkan dalam pemerintah Islam terhadap para ahlul dzimmah.

    Sementara anggapan bahwa ahlul dzimmah adalah warga negara kelas dua merupakan tuduhan yang sangat tidak fair. Lantas mengapa tuduhan ini dilancarkan? Hal ini dikarenakan bahwa ketiadaan kesempatan bagi para ahlul dzimmah untuk menempati pos-pos penting pemerintahan yang merupakan tempat pengambilan keputusan umum negara. Dalam hal ini terdapat beberapa penjelasan:

    Pertama, negara wajib memelihara ideologinya. Oleh karena ideologi negara Islam adalah Islam, maka sangat tidak masuk akal apabila kewajiban ini dipercayakan kepada orang yang tidak beragama Islam dan tidak mengimani agama ini. Kedua, pemimpin negara Islam mencakup kepemimpinan agama dan dunia yang menggantikan kepemimpinan Nabi (khalifaturrasul). Maka dalam hal ini tidak boleh ditempati oleh seseorang selain muslim.

    Lalu di mana pos-pos jabatan publik yang diperbolehkan ahlul dzimmah untuk menjabatnya?

    al-Mawardi mengatakan dalam Ahkam al-Sulthaaniyyah, bahwa ahlul dzimmah diperbolehkan memegang jabatan menteri, pegawai negeri, hakim otonomi khusus, dll. Demikianlah bagaimana Islam sangat adil dan benar-benar membebaskan umat manusia.

     
  • aqidahsalafshalih 11:05 am on December 21, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Inkonsistensi Said Agil Siradj Antara Pernyataan dan Tulisannya 

    Cukup tersentak hati saya tatkala membaca pernyataan-pernyataan berani yang diungkapkan oleh Prof DR Kiyai Haji Said Aqiel Siradj, MA, sebagaimana yang diberitakan dalam http://www.voa-islam.com. Pernyataan-pernyataan tersebut adalah:Pertama : Pernyataan beliau bahwa syi’ah di Indonesia tidak berbahaya, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/06/16929/aneh-said-agil-siraj-bilang-syiah-di-indonesia-tidak-berbahaya/)

    Dan ternyata memang beliau pernah bertemu dan menyambut tokoh syi’ah Hasan Nasrullah, silahkan lihat (http://www.dp-news.com/pages/detail.aspx?articleid=57160). Demikian pula beliau pernah menjadi pembicara tingkat internasional di Teheran (pusatnya Syi’ah Roafidhoh) selama dua kali, pada tahun 1999 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Al-Islam al-din al-tasamuh (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Islam adalah agama toleransi), dan pada tahun 2000 dengan materi : Al-Taqriib baina al-Madzaahib, Huquq al-Insan fi al-Islam (Pendekatan antara madzhab-madzhab, Hak-hak manusia dalam Islam). Silahkan lihat (http://nubinong.blogspot.com/2010/03/riwayat-hidup-prof-dr-kh-said-aqiel.html). Selain itu beliau juga memberi kata pengantar dan menganjurkan masyarakat muslim Indonesia untuk membaca sebuah buku yang berisi banyak kedustaan karya Idahram, yang dalam buku tersebut sang penulis (Idahram) berkata :  “Dalam Islam sedikitnya ada tujuh madzhab yang pernah dikenal, yaitu madzhab Imam Ja’far As-Shiddiq (madzhab Ahlul Bait), madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man, madzhab Imam Malik ibnu Anas, madzhab Imam As-Syafii, madzhab Imam Ahmad Ibnu Hanbal, madzhab Syi’ah Imamiah, dan madzhab Dawud Azh-Zhahiri. Sedangkan madzhab salaf tidak pernah ada”

    Kedua : Penyamaan beliau antara trinitas ortodoks Kristen dengan tauhid Islam, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/10/06/16278/koreksi-aqidah-kh-said-aqil-sirajd-jangan-samakan-tauhid-islam-dengan-trinitas-kristen/), lihat juga (http://www.voa-islam.com/news/citizens-jurnalism/2011/11/24/16804/santri-menggugat-kenuan-ketua-umum-pbnu-kh-said-aqiel-siradj)

    Ketiga : Pernyataan beliau bahwasanya salafy wahabi penebar terorisme, sebagaimana bisa dilihat di (http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/07/16943/ketum-pbnu-said-aqil-siradj-melempar-fitnah-ustadz-membalas-tausiyah/), lihat juga (http://nahimunkar.com/9926/kayak-bocah-bercerita-gendruwo-saja-said-agil-siradj-menuding-yayasan-yayasan-islam/)

    Beliau DR Said Aqiel Siroj telah menghabiskan banyak usia beliau untuk mendalami bidang aqidah di karajaan Arab Saudi. Dari S1 hingga S3 beliau menuntut ilmu di Arab Saudi dan di bidang ushuul ad-diin (aqidah).

    –         S1, beliau tempuh Universitas King Abdul Aziz, Jurusan Ushuluddin dan Dakwah, tamat 1982.

    –         S2 beliau tempuh Universitas Ummu al-Qura, jurusan Perbandingan Agama, tamat 1987, dengan tesis yang berjudul رَسَائِلُ الرُّسُلِ وَأَثَرُهَا فِي انْحِرَافِ الْمَسِيْحِيَّةِ (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap penyimpangan Agama Kristen).

    –         S3 Universitas Ummu al-Qura, jurusan Aqidah/Filsafat Islam, tamat 1414 H (1994 M), dengan judul disertasi : صِلَةُ اللهِ بِالْكَوْنِ فِي التَّصَوُّفِ الْفَلْسَفِي (Hubungan antara Allah dan alam menurut perspektif tasawwuf falsafi), yang disertasi beliau ini dibimbing oleh dosen beliau yang bernama As-Syaikh DR. Mahmuud Ahmad Khofaaji

    Dari sini kita tahu bahwasanya beliau ini adalah seorang yang pakar dalam bidang aqidah, baik dalam memahami kesesatan kaum Kristen maupun kesesatan kaum sufi.

    Berikut ini saya terjemahkan muqoddimah dari disertasi doktoral yang ditulis oleh Prof DR Said Aqiel Siraj (Desertasi tersebut bisa di download di http://resalty.waqfeya.com/index.php/category-96/thesis-51).

    Muqoddimah ini sangat layak untuk dibaca kembali oleh penulisnya sendiri, yang merupakan nasehat yang sangat indah bagi sang penulis sendiri dan juga kaum muslimin di tanah air, terutama kaum yang dipimpin oleh beliau sekarang. Hal ini mengingat dalam muqoddimah disertasi tersebut beliau (Prof DR Said Aqiel Siradj) telah mentaqrir dan menetapkan landasan-landasan aqidah salaf, karena memang desertasi tersebut beliau tulis untuk membantah kaum sufi. Terlebih lagi dalam desertasi tersebut beliau sering menukil perkataan-perkataan Ibnu Taimiyyah untuk membantah pemikiran sufiah. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin Indonesia.

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    Islam menolak segala bentuk kesyirikan, dan menolak perantara-perantara antara Allah dan manusia kecuali perantara kenabian dan kerasulan, dengan demikian Islam menetapkan keterpisahan yang sempurna antara Allah dan yang lainNya, antara Pencipta dan Makhluk, bahkan malaikat tidak terhubungkan dengan Allah melalui hubungan apapun selain hubungan yang tegak antara Allah dengan makhluk yang lain baik yang materi maupun ruh, yaitu hubungan antara makhluk dan Penciptanya, yaitu hubungan keterpisahan dan bukan hubungan ketersambungan”

    Komentar :

    Pernyataan Kiyai Haji Prof DR di atas persis sama dengan penjelasan Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin Abdil Wahhaab rahimahumallah, bahwasanya Allah tidak butuh kepada washitoh (perantara) dalam penyembahan dan dalam meminta manfaat dan menolak mudhorot. Menjadikan washitoh (perantara) kepada Allah merupakan kesyirikan. Yang ada hanyalah perantaraan dalam hal risalah dan kenabian, yaitu para nabi dan para rasul merupakan perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan risalah/wahyu Allah ta’alaa.

    Ibnu Taimiyyah berkata : “Dan hal ini merupakan perkara yang disepakati oleh seluruh pemeluk agama dari kalangan kaum muslimin, yahudi, dan nashrani, mereka menetapkan adanya perantara antara Allah dengan hamba-hambaNya. Perantara-perantara tersebut adalah para Rasul yang mereka menyampaikan dari Allah perintah Allah dan khabar dari Allah….”

    Beliau juga berkata, “Adapun jika yang dimaksudkan dengan perantara adalah bahwasanya harus ada perantara dalam mendatangkan manfaat-manfaat dan menolak kemudorotan, seperti perantara dalam mendatangkan rizki para hamba, dan pertolongan kepada mereka dan hidayah untuk mereka, yang mereka meminta hal-hal tersebut kepada perantara ini dan mengharap kepada perantara ini maka ini merupakan kesyirikan yang paling besar yang karena kesyirikan inilah Allah mengkafirkan kaum musyrikin (Arab), dimana mereka menjadikan selain Allah sebagai penolong-penolong mereka dan para pemberi syafaat kepada mereka” (Majmuu’ al-Fataawaa 1/122-123). Adapun perkataan Muhammad bin Abdil Wahhaab yang semakna dengan ini maka bisa dibaca di risalah beliau “Kasyf Asy-Syubhaat”

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Dan jika kita mengamati Al-Qur’aan Al-Kariim maka kita akan mendapati Al-Quran menekankan keterpisahan yang sempurna ini, maka tidak ada sesuatupun yang berfungsi sebagai suatu perantara antara Allah dan makhlukNya. Sebagaimana Al-Qur’an berkali-kali dan berulang-ulang menafikan sifat uluhiyah dari selain Allah ta’aala dengan penafian secara mutlak, dan menekankan bahwasanya para nabi dan para rasul mereka dari golongan manusia dan dari tabi’at manusia. Inilah yang ditetapkan oleh rukun Islam yang pertama yaitu Syahadah (Persaksian) bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya. Dan ini adalah syahadah penafian dan penetapan (itsbaat), menafikan secara mutlak uluhiah (ketuhanan) dari selain Allah dan tidak ditetapkan kecuali hanya untuk Allah semata, dan menetapkan bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan rasulNya, dan Muhammad adalah manusia sebagaimana seluruh manusia (*yang lain). Dan seluruh perbedaan antara Muhammad dan mereka adalah beliau diberi wahyu aqidah tauhid

    Komentar :

    Dalam paragraf ini DR Said menekankan perkara yang sangat penting yaitu tentang aqidah yang benar terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau adalah manusia biasa sebagaimana seluruh manusia yang lain yang memiliki tabi’at manusia. Yang membedakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan manusia yang lain hanyalah Nabi telah diberi wahyu berupa aqidah tauhid. Hal ini tentunya bertentangan dengan keyakinan sebagian kaum sufi yang terlalu berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan lihat http://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/116-berlebih-lebihan-kepada-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam-hingga-mengangkat-beliau-pada-derajat-ketuhanan)

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Dan aqidah tauhid yang dibawa oleh Islam menolak seluruh kesyirikan, sama saja apakah kesyirikan yang tegak di atas pendapat berbilangnya Tuhan atau kesyirikan yang dibangun di atas keimanan kepada adanya perantara-perantara antara Allah dan manusia. Dari situ maka hubungan antara Allah dengan alam –termasuk di dalamnya adalah manusia- adalah hubungan keterpisahan. Allah maha Esa tidak ada syarikat baginya, terpisah dari alam dengan keterpisahan yang sempurna dengan ke-Esa-anNya dalam Dzatnya, sifat-sifatNya, dan perbuatan-perbuatanNya, dan Allah tersucikan dari seluruh bentuk penyamaan dengan makhluk-makhlukNya.

    Aqidah ini dialah aqidah yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin, baik salaf mereka (*golongan terdahulu) maupun kholaf mereka (*golongan belakangan), kecuali sufiah filsafat, sebagaimana akan kita lihat di tengah lembaran-lembaran pembahasan ini”

    Komentar :

    Dalam paragraph ini kembali DR Said Aqiel menekankan bahwasanya Islam menolak segala bentuk kesyirikan. Dan bentuk-bentuk kesyirikan ada dua:

    Pertama : Dengan menjadikan Tuhan berbilang, sebagaimana trinitasnya kaum Nasrani, dan juga dewa-dewa Kaum Hindu.

    Kedua : Menjadikan perantara antara Allah dan manusia. Hal ini sebagaimana keysirikan kaum musyrikin Arab (silahkan lihat kembali : http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Kemudian Islam adalah berpegang teguh dengan perintah-perintah Allah dan perintah-perintah RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan meneladani kehidupan Rasulullah dan mengikuti jalan-jalan dan sunnah-sunnah yang telah ditempuh oleh para sahabatnya –semoga Allah meridhoi mereka

    Allah berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat” (QS Al-Ahzaab : 21)

    Dan Allah ta’aala juga berfirman : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah” (QS Al-Hasyr : 7)

    Allah juga berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (QS Al-Anfaal : 20)”

    Komentar :

    Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menekankan untuk mengikuti jalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau mendoaakan para sahabat agar diridhoi oleh Allah. Dan ini tentunya bertentangan dengan aqidah Syi’ah yang justru berdoa agar Allah melaknat para sahabat dan juga mengkafirkan para sahabat.


    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


    Dan perintah-perintah Allah dan RasulNya –demikian pula larangan-larangan Allah dan RasulNya- terjaga dalam Al-Qur’an Al-Kariim dan Sunnah-sunnah Nabi yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    “Aku meninggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan kedua perkara tersebut, yaitu kitabullah dan sunnah NabiNya”

    Komentar :

    Dalam paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan akan pentingnya berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah-Sunnah Nabi, yang keduanya merupakan sumber hukum kaum muslimin. Hal ini tentunya berbeda dengan:

    –         Keyakinan sebagian kaum sufi yang terkadang berdalil dengan kisah-kisah…yang tidak tahu juntrung keabsahannya. Tidak jarang berupa cerita-cerita karomah yang masih dipertanyakan akan kevalidannya lantas cerita-cerita tersebut dijadikan dalil utama sehingga ditolaklah pendalilan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah

    –         Sikap sebagian sufi yang taklid buta kepada gurunya, meskipun pemikiran-pemikiran gurunya bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga seakan-akan perkataan gurunya merupakan salah satu sumber hukum

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mentarbiah (membina) para sahabatnya dibawah naungan dan petunjuk kitabullah dan sunnahnya, yaitu dengan tarbiah percontohan agar mereka menjadi teladan bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga hari kiamat. Maka mereka adalah praktek nyata (hidup) dari ajaran-ajaran Allah dan arahan-arahan RasulNya. Mereka berittiba’ dan meneladani serta tidak melakukan bid’ah dan mengada-ngadakan. Mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak kawatir dan tidak bersedih. Mereka adalah teladan dan tolak ukur untuk mengenal al-haq (kebenaran) dari kebatilan, dan untuk membedakan petunjuk dari kesesatan“.

    Komentar :

    Dalam paragraf ini beliau menekankan kembali akan mulianya para sahabat dari beberapa sisi:

    Pertama : Para sahabat telah ditarbiyah/dibina dan dididik langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya guru sangat berpengaruh kepada murid-muridnya

    Kedua : Tarbiyah tersebut berdasarkan naungan dan cahaya al-Qur’an dan as-Sunnah

    Ketiga : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mentarbiyah para sahabat dengan tarbiyah khusus yaitu tarbiyah percontohan, dengan maksud agar para sahabat menjadi contoh bagi generasi-generasi setelah mereka

    Keempat : Amalan para sahabat adalah praktek hidup/nyata terhadap ajaran Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hal ini tentu sangatlah jelas ditinjau dari beberapa sisi

    –         Para sahabatlah yang paham tentang maksud Allah dan RasulNya.

    –         Ayat-ayat al-Qur’an yang pertama kali mempraktekannya adalah para sahabat.

    –         Tatkala para sahabat menerapkan ayat-ayat Allah mereka dibimbing langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga jika mereka salah praktek, atau salah paham tentang Al-Qur’an maka akan ditegur langsung oleh Allah atau melalui Rasulullah yang merupakan guru dan pengawas mereka

    Kelima : Para sahabat tidak melakukan bid’ah dan tidak mengadakan perkara-perkara baru dalam agama, akan tetapi mereka meneladani guru mereka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Keenam : Para sahabat adalah wali-wali Allah…maka yang memusuhi dan membenci mereka…apalagi mengkafirkan mereka tentunya wali-wali syaitan

    Ketujuh : (Dan ini merupakan poin yang terpenting) yaitu DR Said Aqiel menjelaskan bahwa para sahabat adalah tolak ukur kebenaran, sehingga terbedakan hak dari kebatilan, dan terbedakan petunjuk dari kesesatan.

    Sungguh ini adalah manhaj yang selalu dan senantiasa diserukan dan dipropagandakan oleh kaum wahabi (salafy) yaitu agar kembali kepada pemahaman dan manhaj para sahabat yang jauh dari bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama.

    Dan inilah juga yang selalu diserukan oleh kaum yang disebut-disebut oleh orang yang memusuhinya “Salafy wahabi” agar senantiasa mencintai para sahabat dan memusuhi orang-orang yang membenci (bahkan mengkafirkan) para sahabat seperti kaum syi’ah. Jika para sahabat yang sedemikian mulianya (sebagaimana penjabaran DR Said Aqiel diatas) itu saja dikafirkan maka bagaimana lagi dengan para pengikut mereka yang jauh dari kemuliaan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum.

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Dan dibawah cahaya al-kitab dan as-sunnah dan siroh Rasulullah serta amalan para sahabatnya ditimbang amalan-amalan kaum muslimin dan perkataan mereka. Maka apa yang ada sandarannya dan dalil maka dihukumi dengan amalan/perkataan yang sah dan benar. “Dan apa yang menyelisihi al-kitab dan as-sunnah dan tidak ada atsarnya dalam kehidupan para sahabat maka dihukumi dengan fasad (rusak) dan batil. Dan semua yang keluar dari manhaj ini maka sungguh telah sesat dan menyesatkan“.

    Komentar :

    Dalam paragraf ini kembali DR Said Aqiel menekankan akan pentingnya manhaj salaf yaitu manhaj yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Beliau juga kembali menegaskan bahwa seluruh perkataan/pendapat dan amal perbuatan manusia harus ditimbang di atas manhaj salaf ini. Jika ada suatu pemikiran atau amal perbuatan yang tidak diriwayatkan ada di masa kehidupan para sahabat maka pemikiran dan amal perbuatan tersebut batil. Ini merupakan seruan yang tegas dari beliau kepada kaum muslimin –terutama di Indonesia- untuk kembali menimbang amalan-amalan yang sering mereka lakukan. Apakah amalan-amalan tersebut pernah dilakukan dan diamalkan oleh para sahabat??, jika tidak pernah maka hal itu adalah batil dan sesat, bahkan pelakunya sesat dan menyesatkan.


    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


    “Dan tatkala saya adalah salah seorang mahasiswa di jurusan Aqidah saya melihat bahwasanya merupakan kewajiban atas saya untuk mencari-cari/mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat dan jauh dari al-kitab dan as-sunnah. Dan telah beberapa lama saya menyelidiki manhaj-manhaj tersebut untuk saya jelaskan penyimpangan dan kesesatannya dan jauhnya manhaj tersebut dari Islam. Termasuk merupakan perkara yang menyusahkan dan menggelisahkan aku adalah apa yang aku dapati dari manhaj-manhaj para sufi ahli filsafat yang mereka telah jauh dari Islam, yaitu tentang pemahaman mereka tentang hubungan alam dengan penciptanya, dengan pemikiran-pemikiran mereka yang sesat berupa hulul dan ittihad dan wihdatul wujud (yiatu hulul/menempatinya Allah ke alam, dan ittihad/menyatunya alam dengan Allah, dan wihdah/kesatuan alam bersama Allah), yang hal itu melalui metode filsafat al-fanaa’ dan fanaa al-fanaa, dan seluruhnya merupakan pemikiran-pemikiran yang aneh dan muhdatsah (diada-adakan) serta menyusup di tengah-tengah masyarakat islami”

    Komentar :

    Dalam paragraf ini DR Said Aqiel memaparkan bagaimana semangat beliau untuk bernahi mungkar. Beliau terpanggil bahkan beliau merasa wajib untuk mengikuti dan menyelidiki manhaj-manhaj yang sesat. Bahkan sangat menggelisahkan beliau kesesatan yang terdapat dalam manhaj kaum sufi philosofi, yang kesesatan ini merupakan perkara muhdats (bid’ah) yang telah menyusup dalam masyarakat islam.

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Dan permulaan munculnya pemikiran filsafat sesat tersebut di akhir-akhir abad kedua hijriah. Lalu berkembang dengan pesat di tengah abad ketiga hijriah. Dimulai dari Jabir bin Hayyan dan Abu Hasyim dan Abduk hingga Ibnu ‘Arobi sang fhilosofi besar, Al-Ghunushy Al-Khothiir, dan melewati Dzu An-Nuun Al-Mishriy, Abi Yaziid Al-Busthoomy, Al-Hallaaj, Al-Junaid, An-Nafary, Al-Gozhaaly, lalu As-Sahrowardi yang terbunuh”.

    Komentar :

    Dalam paragaf ini beliau menjelaskan tentang tokoh-tokoh sufi filsafat yang memiliki pemahaman sesat wihdatul wujud. Yang diantara tokoh-tokoh tersebut ada yang digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia. Diantaranya adalah Ibnu ‘Arobi dan Al-Ghozali.

    Adapun Ibnu ‘Arobi maka DR Said Aqiel telah menjelaskan kesesatannya dalam disertasinya tersebut pada hal 446 hingga hal 450. Beliau menjelaskan tentang pemikiran Ibnu Arobi dalam dua kitabnya yang berisikan tentang pemikiran wihdatul wujud (bersatunya Allah dengan alam). Kitab yang pertama adalah kitab Al-Futuhaat Al-Makkiyah, yang dimana Ibnu Arobi mengaku bahwa apa yang dituliskannya dalam kitab tersebut adalah wahyu dan didikte oleh Allah. Adapun kitab yang kedua adalah Fushus Al-Hikam maka Ibnu Arobi mengaku bahwa kitab tersebut datangnya dari Rasulullah. Dalam kitab Fushus Al-Hikam inilah Ibnu Arobi mengatakan bahwa Fir’aun adalah orang beriman dan masuk surga !!, hal ini karena tatkala Fir’aun mengatakan :”Aku adalah Tuham kalian yang maha tinggi” menunjukan bahwa Fir’aun paham bahwasanya Allah telah bersatu dengan alam, telah bersatu dengan dirinya. Jadi perkataan Fir’aun tersebut adalah perkataan yang hak dan benar

    Adapun Abu Hamid Al-Ghozaali, maka kesesatannya tentang pemahaman wahdatul Wujud telah dijelaskan oleh DR Said Aqiel Siraj dalam disertasinya pada hal 168 hingga hal 172. Pemikiran wihdatul wujud Al-Ghozaali sangat nampak dalam kitabnya Ihyaa Uluumiddiin (yang kitab ini sangat digandrungi oleh kaum sufi di Indonesia) dan kitabnya Misykaat al-Anwaar. Adapun bantahan terhadap pemikiran Al-Ghozali ini maka telah ditulis dengan panjang lebar oleh DR Said Aqiel dalam disertasinya dari hal 199 hingga hal 221.


    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :


    “Dan merupakan perkara yang diketahui bahwasanya kaum muslimin di Indonesia menghadapi problematika-problematika besar baik problematika politik, ekonomi, sosial dan problematika aqidah. Di hadapan mereka musuh-musuh mereka yang menanti-nanti (*keburukan bagi) kaum muslimin berupa gerakan kristenisasi, sekuler, bathiniyah, dan sekte-sekte sesat –Syi’ah, Ahmadiyah, dan Bahaaiyah, lalu Sufiyah

    Komentar :

    Pada paragraf ini DR Said Aqiel menegaskan bahwasanya diantara musuh-musuh kaum muslimin Indonesia adalah gerakan kristenisasi dan sekuler. Selain itu juga sekte-sekte yang sesat seperti Syi’ah dan Ahmadiyah qodyaniah. Dan musuh kaum muslimin Indonesia yang terakhir beliau sebutkan adalah kaum sufi.

    Ini merupakan nasehat yang sangat penting dari beliau akan bahayanya kaum Syi’ah dan kaum Sufi, karena mereka adalah musuh-musuh yang senantiasa menanti-nanti keburukan kaum muslimin Indonesia.

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    Dan sufiyah di Indonesia sungguh telah sukses besar dalam menyebarkan ajaran-ajaran mereka yang sesat -meskipun kebanyakan mereka tidak beriman dengan aqidah hulul dan ittihad serta wihdatul wujud-. Dan ajaran sufiah ini senantiasa masih termasuk ajaran yang paling berbahaya yang tersebar di negeri Indonesia, hal ini disebabkan kejahilan kaum muslimin di Indonesia terhadap aqidah yang benar

    Komentar :

    Pada paraghraf ini, beliau menyatakan bahwa kaum sufi telah sukses besar dalam menyebarkan pemahaman dan ajaran-ajaran mereka di Indonesia. Namun timbul pertanyaan di benak saya, “Siapakah kaum sufi dimaksud oleh beliau??, yang telah berhasil menyebarkan ajaran mereka ke penjuru Indoesia??”, Apakah maksud beliau gerakan Muhammadiah?, ataukah Persis?, ataukah NU (Nahdatul Ulama) yang sedang beliau pimpin sekarang ini?, ataukah yang lainnya?. Semoga beliau bisa menjelaskan hal ini, dan semoga para pembaca juga mungkin bisa membantu menjelaskan maksud beliau. Terlebih lagi ada tariqah mu’tabar yang berada di bawah naungan NU, lihat (http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34341/Warta/Habib_Luthfy__Pengurus_Thoriqoh_jangan_Seperti_Krupuk___.html) dan (http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/17/thariqah-al-mutabarah-dari-waktu-ke-waktu/, dan http://alfiananda.wordpress.com/2010/07/23/lambang-jam%E2%80%99iyyah-ahlith-thoriqoh-al-mu%E2%80%99tabarah-an-nahdliyyah/, serta lihat komentar DR Said Aqiel tentang tasawwuf di http://nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34786/Buku/Urgensi_Tasawuf_di_Era_Globalisasi.html)

    Dan saya sangat setuju dengan pendapat beliau bahwa ajaran-ajaran sesat seperti ini tersebar disebabkan karena kejahilan kaum muslim di Indonesia terhadap akidah yang benar sehingga mudah mereka terjangkiti ajaran-ajaran sufiah.

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Dikarenakan hal ini seluruhnya dan setelah aku menulis tesisku untuk meraih gelar Master di bidang aqidah tentang bantahan kepada Kristen maka aku memilih pembahasan desertasiku untuk meraih gelar Doktor tentang bantahan kepada sufiah, terukhususkan sufiah filsafat, dengan judul :

    “Hubungan Allah dengan alam menurut sufi filsafat, penelitian dan kritikan”

    DR Said Aqiel Siradj, MA berkata :

    “Dan telah ditulis banyak pembahasan dan telah tersebar banyak risalah-risalah ilmiah seputar perkara ini, akan tetapi saya melihat perkaranya masih butuh untuk ditinjau kembali, dengan tinjauan islami dengan timbangan/tolak ukurnya yang benar dan analogi yang benar, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah, dan ditambah dengan manhaj para ulama salafus sholeh

    Komentar :

    Pada paragraf ini beliau menegaskan kembali bahwasanya tolak ukur yang benar untuk digunakan dalam mengukur kebenaran yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah dengan manhaj Salaf.

    Setelah itu DR Sa’id Aqiel Siraj menyebutkan khuttoh bahas disertasinya lalu beliau berkata :

    “Adapun sisi kritikan maka saya memperhatikan manhaj/metode pengkritikan yang ilmiyah yang benar, maka saya mengkritik pendapat-pendapat mereka (kaum sufi) dan saya menjelaskan kebatilan pemikiran-pemikiran mereka dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dan dengan dalil akal yang shahih, dan dengan perkataan para ulama yang sholihin. Dan dalam hal ini saya berusaha untuk menjauh dari fanatisme/ta’asshub dan sikap tidak inshoof (tidak adil)

    Komentar:

    Pada paragraf ini DR Said Aqiel Siroj menjelaskan bahwa beliau menjauhi sikap fanatik dan sikap tidak inshoof (adil) dalam menulis disertasinya. Karenanya saya sangat berharap para pembaca membaca disertasi yang ditulis beliau ini yang sarat dengan faedah dan jauh dari sikap fanatik buta tanpa dalil. Bahkan dalam paragraf ini beliau (DR Said Aqiel) menegaskan bahwa beliau menjelaskan kebatilan pemikiran sufi falsafi dengan berdasarkan perkataan ulama yang sholihin. Siapakah yang dimaksud oleh beliau dengan Ulama yang sholihin ini??. Jika para pembaca menelaah disertasi karya DR Said Aqiel Siroj ini maka para pembaca akan menemukan bahwasanya perkataan alim ulama yang paling dijadikan landasan oleh DR Said Aqiel dalam membatilkan pemikiran sufi falsafi adalah perkataan Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang dituduh sebagai dedengkotnya salafy. Jadi sangat jelas bahwasanya DR Said Aqiel menganggap Ibnu Taimiyyah adalah sosok alim ulama yang sholih, karenanya DR Said Aqiel menjadikan perkataan-perkataannya untuk membantah tokoh-tokoh sufi seperti Ibnu Arobi dan Al-Ghozali.

    DR Said Aqiel Siradj berkata :

    “Dan tujuanku dalam disertasiku ini adalah menampilkan dirosah/penelitian yang sungguh-sungguh dan teliti/detail dengan harapan untuk menampakan dan menjelaskan hakikat/kebenaran, yang selanjutnya adalah untuk membela kebenaran dan untuk meninggikan kalimat Allah yang tinggi. Maka aku meminta kepada Allah Azza wa Jalla untuk merealisasikan harapan tujuan desertasi ini dan agar memberi faedah kepada para pembacanya dan menjadikannya ikhlash karena mengharapkan wajahNya, dan aku beristighfar kepada Allah atas seluruh kesalahanku yang ada dalam disertasiku ini, dan aku bersyukur kepadaNya atas kebenaran yang Allah hidayahkan kepadaku, dan segala puji bagi Allah di permulaan dan di akhir, dan Dialah cukup bagiku, dan sebaik-baik tempat bertawakal, dan semoga shalawat dan shalam tercurahkan bagi sayyidinaa Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya”

    Komentar :

    Semoga artikel yang saya paparkan ini membantu mewujudkan terkabulnya harapan DR Said Aqiel Siroj, sehingga risalah disertasi yang bagus ini bisa dipetik faedahnya oleh para pembaca sekalian, khususnya kaum muslimin di Indonesia.

    Demikianlah muqoddimah yang ditulis oleh DR Said Aqiel Siraj di muqoddimah disertasi beliau dan sedikit komentar dari saya. Sungguh muqoddimah  yang sarat dengan penjelasan pokok-pokok usul aqidah Ahlus Sunnah yang dibangun di atas manhaj salaf.

     

     
  • aqidahsalafshalih 10:35 am on December 21, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Memurnikan Aqidah Aswaja dari Fitnah Syi’ah 

    Syiah adalah salah satu aliran aqidah di tengah umat Islam. Syiah mengikuti Islam sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya. Proporsi terbesar perbedaan Syiah adalah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah umat Islam pertama. Dan umat Islam menolak imam dari Imam Syiah.

    Sejarah

    Kalau kita teliti sejarah, mula munculnya aliran syiah adalah masalah salah paham dan selera. Ada beberapa orang yang punya pandangan politik yang berbeda pada awalnya. Dan perbedaan ini sesungguhnya masalah yang manusiawi sekali dan mustahil dihindarkan.

    Mereka menginginkan Ali bin Abi Thalib radiyallahu `anhu  menjadi khalifah pengganti Rasulullah SAW. Sementara semua shahabat Nabi SAW telah sepakat membai`at Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu `anhu sebagai khalifah. Karena itu, mereka amat benci pada Abu Bakar, bahkan juga 2 orang khalifah berikutnya, Umar bin Al-Khattab dan Utsman bin Al-Affan radhiyallahu anhuma. Padahal Ali bin Abi Thalib sendiri pun setuju dan mengakui pemerintahan tiga orang khalifah itu.

    Keinginan beberapa orang itu pada gilirannya sudah terpenuhi juga, sebab sepeninggal 3 khalifah itu, akhirnya Ali memang diangkat menjadi khalifah. Seharusnya, sampai disini masalah sudah selesai.

    Dan sebenarnya memang masalah sudah selesai. Sebab keinginan untuk mendudukkan Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah sudah tercapai, meski sempat terhambat.

    Lain Orang Lain Generasi

    Selewat generasi para shahabat, muncul berbagai aliran sesat yang tujuannya ingin merontokkan agama Islam dari dalam. Dan salah satu cara yang paling mudah adalah dengan cara memecah-belah persatuan umat Islam, menghidupkan kebanggaan jahiliyah, semangat kesukuan, fanatisme kelompok, sikap saling menggugat dan menjelekkan serta mengungkit-ungkit masa lalu yang sebenarnya tidak terlalu dipahami.

    Lahirlah kemudian generasi baru yang tidak tahu apa-apa, tetapi habis didoktrin untuk melakukan semua sifat buruk itu. Salah satunya adalah mengungkit-ungkit perbedaan di masa lalu yang sesungguhnya sudah selesai. Namun ibarat mengali mayat yang sudah dikubur, akibatnya menjadi sangat fatal.

    Fitnah dan sikap saling menyelahkan kembali membara. Bedanya, sekarang dilakukan oleh generasi yang tidak secara langsung merasakan nikmatnya persaudaraan. Mereka lahir dari rahim kebencian dan terus menerus didoktrin untuk selalu membenci sesama muslim.

    Sehingga masalah politik yang sudah dikubur, digali lagi dan berkembang menjadi serius ketika perbedaan itu berkembang ke wilayah aqidah dan syariah. Lalu masing-masing pihak saling mengkafirkan dan menuduh saudaranya sesat bahkan murtad. Inilah yang sebenarnya dikhawatirkan sejak dahulu.

    Memang benar bahwa ada sebagian dari akidah syiah yang sudah tidak bisa ditolelir lagi, bukan hanya oleh kalangan ahli sunnah, tetapi oleh sesama penganut syiah pun dianggap sudah sesat. Dan kita harus tegas dalam hal ini, kalau memang sesat kita katakan sesat.

    Contoh Sesatnya Aqidah Syiah

    Pertama : Menolak Mushaf Utsmani

    Misalnya mereka yang tidak percaya kepada Al-Quran mushaf Utsmani, dan menggunakan mushaf yang konon susunan yang 100% berbeda. Kalau memang ada yang begitu, tentu kelompok ini sudah keluar dari agama Islam secara muttafaqun `alihi.

    Logikanya, karena mereka amat benci pada sosok Utsman bin Al-Affan radhiyallahu `anhu. Sementara mushaf Al-Quran yang kita pakai sekarang ini tidak lain hasil kerja keras Utsman dan pemerintahannya. Bahkan tidak sedikit di antara kalangan Syiah yang mengkafirkan Utsman. Setidaknya, menambahkan julukan laknatullahi alaihi di belakang nama Utsman.

    Maka adanya iasekte-sekte Syiah yang tidak mau pakai mushaf Utsmani bukan hal yang mengada-ada. Sayangnya, oleh sebagian kalangan syiah, fenomena itu sengaja ditutup-tutupi. Sebab kalau sampai masalah ini diketahui oleh mayoritas umat Islam yang lain, pasti mereka akan celaka.

    Kedua : Mengkafirkan Para Shahabat

    Aqidah sesat yang tidak bisa dipungkiri kalangan syiah dan ketahuan jelas adalah sikap mereka yang tegas-tegas mengkafirkan para shahabat Nabi ridhwanullahi `alaihim. Termasuk mengkafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, Umar bin Al-Khattab, Utsman bin Al-Affan dan lainnya.

    Dan satu hal yang menarik untuk dikaji, bahwa semangat menyatukan syiah dengan sunni bukannya tidak pernah dilakukan. Dr. Yusuf Al-Qaradawi adalah salah satu icon yang bisa disebut sebagai ulama sunni yang berhusnudzdzan untuk tidak dengan mudah menuduhkan masalah pengkafiran ini.

    Maka kepada para pimpinan Mula di Iran, diadakanlah sebuah upaya pendekatan antara Syiah dan Sunni. Sudah beberapa kali disepakati agenda pertemuan. Namun ada satu hal yang nampaknya kecil saja, tetapi ternyata kalangan Syiah tidak mau mundur setitik pun. Masalah itu adalah penambahan kata (julukan) laknatulalhi alaihi (semoga Allah melaknatnya) setiap menyebut nama para shahabat Nabi SAW.

    Ternyata kalangan Syiah yang konon mau duduk bersama tetap memanggap pelaknatan ini sebagai hal yang prinsip, dimaan mereka tidak mau berubah setitik pun. Dalam setiap pertemuan dan pembicaraan, urusan melaknat para shahabat ini menjadi hal yang tidak pernah ditinggal.

    Karuan saja Dr. Yusuf Al-Qaradawi meradang. Beliau protes besar, katanya mau duduk bersama, katanya mau cari titik-titik persamaan, katanya mau cari jalan tengah, tetapi mengapa masih saja memaki-maki para shahabat Nabi SAW, bahkan sampai keluar ucapan laknat segala. Dan kalau urusan sekecil ini saja kalangan Syiah tidak mau bertoleransi, bagaimana dengan urusan yang lebih besar.

    Maka upaya pendekatan syiah sunni itu pun lagi-lagi kandas di tengah kekerasan sikap kalangan syiah.

    Padahal dalam aqidah mayoritas umat Islam, para shahabat nabi itu mulia dan adil. Bahkan dari mereka ada 10 orang yang dijamin masuk surga lewtat hadits yang shahih.

    Ketiga : Menuduh Jibril Salah Menurunkan Wahyu

    Maka jelaslah sikap ini tidak pernah bisa dibenarkan. Sungguh keterlaluan menuduh bahwa malaikat Jibril salah menurunkan wahyu. Maunya mereka, seharusnya Jibril menurunkan wahyu kepada Ali bin Abi Thalib dan bukan kepada Muhammad SAW.

    Paham dan kepercayaan yang satu ini sangat fatal. Sebab hakikatnya bukan menuduh adanya kesalahan malaikat, tetapi sudah mengingkati kenabian Muhammad SAW. Dan ingkar pada kenabian Muhammad adalah kekafiran.

    Astaghfirullahal-`adzhim, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Tentu sempalan yang sudah sampai keluar batas ini sudah tidak bisa ditolelir lagi secara aqidah.

    Keempat : Kemakshuman Imam 12

    Paham syiah yang paling populer adalah bahwa kepemimpinan umat Islam harus dibawah 12 orang imam. Semuanya dianggap makshum dalam arti tidak mungkin salah atau berbuat dosa. Dan penetapannya dianggap ketetapan langsung dari Allah berupa wahyu yang turun dari langit.

    Semua pempimpin umat Islam dianggap telah merampas kepemimpinan itu, dan pada akhirnya harus dikembalikan kepada imam dari 12 imam itu.

    Kalangan syiah juga percaya bahwa imam yang terakhir itu masih hidup walau pun sudah ada sejak tahun 800 hijriyah. Namun imam itu sedang menghilang dan akan muncul lagi di akhir zaman.

    Tidak Digeneralisir

    Tetapi kita tetap tidak bisa menggenalisir bahwa semua lapisan umat Islam yang ada aroma syiahnya pasti sesat, kafir atau murtad. Rasanya sikap itu kurang bijaksana.

    Mengapa?

    Pertama : Syiah Ternyata Banyak Dan Saling Bertentangan Secara Mendasar

    Syiah yang konon dikabarkan berjumlah 10-an % dari total umat Islam, ternyata terdiri dari banyak sekte dan aliran yang saling bertentangan secara ideologis dan aqidah di dalamnya. Yang besar-besar saja kalau kita kumpulkan mencapai 22 kelompok besar. Tentu di bawahnya ada turunan-turunannya lagi.

    Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa antara satu aliran dengan aliran lain di dalam Syiah juga saling menafikan, bahkan saling mengkafirkan dan menganggap sesat.

    Jadi kita tidak bisa memandang syiah hanya sebagai satu ajaran, tetapi sejumlah besar aliran aqidah yang sama-sama mengunsung satu nama yaitu Syiah, tetapi sesungguhnya saling berbeda. Ada syiah yang kafir dan dikafirkan oleh kebanyakan sesama pengikut syiah. Tapi ada juga yang tidak sampai kafir.

    Di kalangan syiah juga ada aliran yang disebut Zaidiyah. Dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum Ali tidak sah.

    Kedua : Pemeluk Syiah Tradisional

    Kalau disebutkan syiah ada 10-an % dari jumlah muslimin di dunia, hanya sebagian kecil dari jumlah itu yang bersifat ideologis mendasar. Sebagian besarnya adalah syiah yang bersifat keturunan yang tidak tahu menahu urusan aliran dan aqidah.

    Katakanlah seperti di Iraq sana, ada banyak komunitas yang secara tradisional menjadi penganut syiah secara keturunan. Kakek moyang yang melahirkan keturunan itu bukan orang jahat yang beniat busuk kepada agama Islam. Mereka menjadi syiah karena keturunan dan tidak tahu menahu tentang urusan koflik syiah dan sunnah.

    Lalu apakah kita akan memvonis mereka sebagai non muslim, hanya karena mereka tanpa sengaja lahir dari keluarga syiah? Rasanya tidak begitu sikap kita.

    Yang barangkali perlu diwaspadai adalah orang-orang jahat betulan yang berusaha menghancurkan agama Islam dari dalam dan menjadi pemeluk syiah sesat. Mereka inilah yang menggulirkan ajaran sesat di dalam syiah sehingga akhirnya muncul ajaran yang aneh-aneh seperti di atas.

    Oleh karena itu kita harus tegas tapi tidak boleh asal tebas. Ada kalangan syiah yang memang sesat dan tidak berhak lagi menyandang status muslim. Tetapi kita juga harus dewasa, bahwa ada kalangan yang dianggap berbau syiah atau kesyiah-syiahan, tetapi sesungguhnya masih bisa ditolelir kekeliruannya.

    Mengapa kita perlu bijak dalam masalah ini?

    Karena kita tahu bahwa musuh-musuh Islam bergembira ria melihat umat Islam di Irak berbunuh-bunuhan, hanya karena urusan syiah dan sunnah. Jangan sampai isu negatif perbedaan syiah sunnah terbawa-bawa ke negeri kita juga. Sudah terlalu banyak pe-er umat Islam, maka sebaiknya kita jangan memancing di air keruh. Jangan sampai kita memancing yang tidak dapat ikannya tapi airnya jadi keruh. Sudah tidak dapat ikan, kotor pula.

    Karena itu dialog antara sesama tokoh dari kalangan syiah dan sunnah ada baiknya untuk dirintis. Tentu untuk sama-sama menuju kepada kerukunan, bukan untuk cari gara-gara. Rasanya masih banyak ruang persamaan di antara keduanya, ketimbang kisi-kisi perbedaannya.

    Ternyata dari tahun 1983 (berarti sudah 27 tahun yang lalu!), sudah ada edaran dari Departemen Agama Republik Indonesia ini, mengenai kesesatan Syi’ah. Mau tahu isinya?

    Di dalam postingan ini, akan saya kutipkan Surat Edaran Departemen Agama: No D/BA.01/4865/1983 (dari nahimunkar.com), yang isinya membahas hal ikhwal mengenai Syi’ah.

    Termasuk didalamnya dibahas mengenai kesesatan Syi’ah Imamiahgolongan Syi’ah yang berkuasa di negara Iran saat ini(termasuk didalamnya adalah Presiden mereka, yang sementara ini, banyak mendapat simpati karena keberaniannya dan kesahajaannya, dari sebagian kaum muslimin yang tidak mengerti hakekat dari Syi’ah).

    Silahkan disimak isinya!

    Surat Edaran Departemen Agama

    No: D/BA.01/4865/1983

    Tanggal: 5 Desember 1983

    Tentang:

    HAL IKHWAL MENGENAI GOLONGAN SYI’AH

    1. PENDAHULUAN

    Timbulnya golongan-golongan di kalangan Islam dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad, khususnya disebabkan perbedaan pendirian tentang siapa yang berhak menggantikan beliau sebagai pemimpin masyarakat atau Khalifah. Golongan-golongan tersebut ialah:

    1). Golongan mayoritas atau jumhur yaitu yang mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman serta Ali;

    2). Golongan Syi’ah, yaitu yang hanya mengakui Khalifah Ali saja. Mereka tidak mengakui Khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman, bahkan menyatakan bahwa ketiga beliau itu telah menyerobot jabatan Khalifah secara tidak sah. Mereka beranggapan bahwa yang berhak menjadi Khalifah sesudah Nabi adalah Ali.

    3). Golongan Khawarij. Pada akhir masa pemerintahan Khalifah Ali timbullah golongan Khawarij. Mereka ini semula adalah pengikut-pengikut Ali tetapi kemudian memberontak karena tidak setuju dengan cara-cara yang dilakukan oleh Ali dalam usaha menyelesaikan pertikaian dengan Mu’awiyah.

    Perbedaan antara tiga golongan, yaitu Jumhur, Syi’ah dan Khawarij juga mempunyai kaitan erat dengan soal aqidah dan hukum. Dalam uraian selanjutnya hanya akan dibahas mengenai golongan Syi’ah.

    2. SEKTE-SEKTE DALAM SYI’AH

    Syi’ah terpecah dalam berpuluh-puluh Sekte. Adapun sebab-sebab perpecahan itu ialah: (1) karena perbedaan dalam prinsip dan ajaran, disini terdapat Sekte yang moderat dan sekte yang extrim (al-Ghulaat), dan (2) karena perbedaan dalam hal penggantian Imam sesudah al-Husein, Imam ketiga, sesudah ali Zainal Abidin, Imam keempat dan sesudah Ja’far Sadiq, Imam yang keenam. Dari sekte-sekte itu yang terkenal adalah Zaidiyah, Ismailiyah dan Isna Asyariyah. Dua yang terakhir ini termasuk Syi’ah Imamiyah.

    Perpecahan sesudah Husein disebabkan karena segolongan pengikut beranggapan bahwa yang lebih berhak menggantikan Husein adalah putra Ali yang bukan anak Fatimah, yaitu yang bernama Muhammad ibn Hanafiah. Sekte ini dikenal dengan nama Kaisaniyah. Sedang golongan lain berpendapat bahwa yang berhak menggantikan Husein adalah Ali Zainal Abidin (wafat tahun 94 H).

    Sekte Zaidiyah terbentuk karena segolongan pengikut berpendapat bahwa yang harus menggantikan Ali Zainal Abidin Imam keempat adalah Zaid, sementara Sekte Imamiyah terbentuk oleh golongan yang mengakui Abu Ja’far Muhammad al-Baqir sebagai ganti dari Ali Zainal Abidin.

    Sesudah wafatnya Ja’far Sadiq Imam keenam pada tahun 148 H, Imamiah terbagi menjadi dua (2) sekte, yaitu Ismailiyah atau Imamiah Sab’iah dan Imamiah Isna Asyariyah. Sekte yang pertama mengakui Imamahnya Ismail bin Ja’far sebagai Imam yang ketujuh, sedangkan sekte kedua mengakui Musa al-Kadzim sebagai pengganti Ja’far Sadiq. Imam mereka ada 12 semuanya, dan yang terakhir bernama Muhammad yang pada suatu saat hilang (260 H) dan kemudian dikenal dengan sebutan Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar.

    Adapun sekte Syi’ah yang extrim, antara lain as-Sabaiah yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Pemimpinnya Abdullah bin Saba dihukum dan dibuang ke Madain. Ada pula anggapan bahwa ketika malaikat menyampaikan wahyu harus disampaikan kepada Ali, tetapi disampaikan kepada Muhammad. Sekte-sekte extrim dipandang telah keluar dari Islam.

    Dari sekte-sekte tersebut di atas yang terkenal dan mempunyai banyak pengikut ialah: (1) Syi’ah Zaidiyah, (2) Syi’ah Ismailiyah dan (3) Syi’ah Imamiyah.

    3. SYI’AH ZAIDIYAH

    Sekte ini timbul pada tahun 94 H ketika Ali Zainal Abidin Imam keempat wafat. Sekelompok pengikutnya menetapkan pengganti Ali Zainal Abidin adalah Abu Ja’far Mohammad Al Bakir. Kelompok ini disebut Imamiah seperti akan dijelaskan nanti. Adapun kelompok lain berpendapat bahwa pengganti Ali Zainal adalah Zaid, sebagai Imam kelima. Jadi nama Zaidiah diambil dari nama Imamnya yaitu Zaid, seorang Ulama terkemuka dan guru dari Imam Abu Hanifah: Syi’ah Zaidiah adalah golongan yang paling moderat dibandingkan dengan sekte-sekte lain, dan yang paling dekat dengan aliran Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

    Pengikut Zaidiah banyak terdapat di Yaman, dan pernah berkuasa di sana hingga tahun lima puluhan pada abad ini. Diantara pendapat-pendapatnya yang perlu dikemukakan disini adalah sebagai berikut:

    a. Mereka berpendapat bahwa Imam itu harus dari keturunan Ali-Fathimah, namun tidak menolak dari golongan lain apabila memang memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Oleh karena itu mereka mengakui Abu Bakar dan Umar menjadi khalifah, walaupun menurut urutan prioritas seharusnya Ali yang harus menjadi Khalifah.

    b. Imam tidak ma’shum. Sebagai manusia dapat saja ia berbuat salah dan dosa, seperti manusia lain.

    c. Tidak ada Imam dalam kegelapan yang diliputi oleh berbagai misteri.

    d. Mereka tidak mengajarkan “taqiyah” yaitu sikap pura-pura setuju tetapi batinnya memusuhinya.

    e. Mereka mengharamkan nikah mut’ah.

    Konon penulis Kitab Nailul Authar Moh. As Syaukani adalah termasuk pengikut Syi’ah Zaidiah.

    4. SYI’AH ISMAILIYAH

    Sekte ini termasuk Syi’ah Imamiah, karena mengakui bahwa pengganti Ali Zainal Abidin Imam keempat adalah Abu Ja’far Mohammad Al Bakir. Syi’ah Ismailiyah mengakui bahwa pengganti Ja’far sodiq, Imam keenam, adalah Ismail sebagai Imam ketujuh. Ismail sendiri telah ditunjuk oleh Ja’far Sodiq, namun Ismail wafat mendahului ayahnya. Akan tetapi satu kelompok pengikut tetap menganggap Ismail adalah Imam ketujuh. Sekte ini juga dinamai Syi’ah Imamiah Sab’iah, karena Imamnya berjumlah tujuh. Sekte ini terbagi lagi dalam berbagai kelompok kecil-kecil, diantaranya ada yang beranggapan bahwa Imam itu memiliki sifat-sifat Ketuhanan. Pendapat ini dipandang telah keluar dari Islam, karena memang tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam yang benar. Pengikut Ismailiah terdapat di India dan Pakistan.

    5. SYI’AH IMAMIAH

    Sebutan lengkapnya adalah syi’ah Imamiah Isna Asyariah, tetapi biasa disingkat menjadi Syi’ah Imamiah. Sekte ini mengakui pengganti Ja’far Sodiq adalah Musa Al-Kadzam sebagai Imam ketujuh, yaitu anak dari Ja’far dan saudara dan saudara dari Ismail almarhum. Imam mereka semuanya ada 12 dan Imam yang kedua belas dan yang terakhir adalah Muhammad. Pada suatu saat pada tahun 260H Muhammad ini hilang misterius. Menurut kepercayaan mereka ia akan kembali lagi ke alam dunia ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Muhammad tersebut mendapat sebutan sebagai Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar.

    Yang berkuasa di Iran sekarang ini adalah golongan Syi’ah Imamiah. Diantara ajaran-ajaran Syi’ah Imamiah adalah sebagai berikut:

    a. Mereka menganggap Abu Bakar dan Umar telah merampas jabatan Khalifah dari pemiliknya, yaitu Ali. Oleh karena itu mereka memaki dan mengutuk kedua beliau tersebut. Seakan-akan laknat (mengutuk) disini merupakan sebagian dari ajaran agama.

    b. Mereka memberikan kedudukan kepada Ali setingkat lebih tinggi dari manusia biasa. Ia merupakan perantara antara manusia dengan Tuhan.

    c. Malahan ada yang berpendapat bahwa Ali dan Imam-imam yang lain memiliki sifat-sifat Ketuhanan.

    d. Mereka percaya bahwa Imam itu ma’shum terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. Apa yang diperbuat adalah benar, sedang apa yang ditinggalkan adalah berarti salah.

    e. Mereka tidak mengakui adanya Ijma’ kesepakatan ulama Islam sebagai salah satu dasar hukum Islam, berbeda halnya dengan aliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Mereka baru mau menerima Ijma’ apabila Ijma’ ini direstui oleh Imam. Oleh karena itu dikalangan mereka juga tidak ada ijtihad atau penggunaan ratio/intelek dalam pengetrapan hukum Islam. Semuanya harus bersumber dari Imam. Imam adalah penjaga dan pelaksana Hukum.

    f. Mereka menghalalkan nikah Mut’ah, yaitu nikah untuk sementara waktu, misalnya satu hari, satu minggu atau satu bulan. Nikah mut’ah ini mempunyai ciri-ciri yang berbeda dengan nikah yang biasa kita kenal, antara lain sebagai berikut:

    (1) Dalam akad nikah ini harus disebutkan waktu yang dikehendaki oleh kedua belah pihak, apakah untuk satu hari atau dua hari misalnya.

    (2) Dalam akad nikah ini tidak diperlukan saksi, juga tidak perlu diumumkan kepada khalayak ramai.

    (3) Antara suani-istri tidak ada saling mewarisi.

    (4) Untuk memutuskan nikah ini tidak perlu pakai talak. Apabila waktu yang ditentukan sudah habis, otomatis nikah mut’ah tersebut menjadi putus.

    (5) Iddah istri yang menjadi janda ialah 2X haid atau 45 hari bagi yang sudah tidak haid lagi. Adapun iddah karena kematian adalah sama dengan nikah biasa.

    g. Mereka mempunyai keyakinan bahwa imam-imam yang sudah meninggal itu akan kembali ke alam dunia pada akhir zaman untuk memberantas segala perbuatan kejahatan dan menghukum lawan-lawan golongan Syi’ah. Baru sesudah Imam Mahdi datang, alam dunia ini akan kiamat.

    Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dalam ajaran Syi’ah Imamiah pikiran tak dapat berkembang, ijtihad tidak boleh. Semuanya harus menunggu dan tergantung pada imam. Antara manusia biasa dan Imam ada gap atau jarak yang menganga lebar, yang merupakan tempat subur untuk segala macam khurafat dan tahayul yang menyimpang dari ajaran Islam.

    6. SEKTE SYI’AH YANG EXTRIM

    Ajaran-ajaran dari sekte yang extrim ini dipandang telah keluar dan menyimpang dari akidah-akidah Islam, antara lain, yang menganggap Ali sebagai Tuhan. Ada pula yang mengatakan bahwa sesungguhnya yang harus diangkat jadi Nabi itu adalah ali, tetapi karena kekeliruan malaikat Jibril, maka wahyu itu diserahkan kepada Muhammad. Golongan lain ada yang berpendapat bahwa Ja’far Sadiq itu adalah Tuhan. Sekte ini oleh Jumhur Ulama dipandang telah keluar dari ajaran Islam. Mereka ini biasa disebut “al Ghulaat” artinya kelompok yang telah melampaui batas dari ajaran Islam yang benar.

    7. UMAT ISLAM INDONESIA

    Adapun Umat Islam Indonesia adalah termasuk golongan ahlus Sunnah wal jama’ah yang mempunyai pandangan yang berbeda dengan golongan Syi’ah, antara lain sebagai berikut:

    – Memandang sahnya ke Khalifahan Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali. Mereka inilah yang disebut Khulafa ur-Rasyidin.

    – Khalifah (yang dalam golongan Syi’ah dinamai Imam) adalah manusia biasa yang dapat salah dan lupa. Jadi tidak ma’shum sebagaimana pandangan Syi’ah.

    – Mengharamkan nikah mut’ah.

    – Mengakui adanya Ijma’, Qiyas dan Ijtihad dalam bentuk-bentuk lain.

    – Dan lain-lain pandangan yang berbeda dengan golongan Syi’ah.

    8. BAGAN PERBANDINGAN

    Untuk memperoleh gambaran yang jelas, di bawah ini diberikan daftar perbedaan antar faham Syi’ah dan faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

    HAL

    AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

    SYI’AH

    PENJELASAN

    Kedudukan Ali Sebagai Khalifah ke IV dan termasuk salah satu dari Khulafa Rasyidin. 1. Sebagai Imam yang maksum, yaitu terjaga dari salah dan dosa.2. Memiliki sifat-sifat Ketuhanan, dan mempunyai kedudukan di atas manusia. Tidak terdapat dalam ajaran Islam.
    Kedudukan Abu Bakar, Umar dan Usman Sebagai Khalifah ke I, II dan III dan termasuk Khulafa Rasyidin 1. Kekhalifahannya tidak sah, karena menyerobot dari pemiliknya yang sah yaitu Ali.2. Mengingkari dan mengutuk kedua beliau itu. Pengingkaran dan pengutukan disini menurut golongan Syi’ah termasuk soal prinsip yang harus dilakukan. Ahlus Sunnah berpendapat orang tak boleh mengutuk saudara seagamanya.
    Kedudukan Kekhalifahan (Khilafah) 1. Pemimpin umat yang harus memenuhi syarat-syarat kepemimpinannya.2. Siapapun dapat menduduki jabatan ini asal memenuhi syarat dan dengan cara yang sah.3. termasuk masalah keduniaan dan kemashlahatan. 1. Khalifah atau lebih tepat Imam harus keturunan Ali dan bersifat maksum.2. Mempunyai sifat-sifat Ketuhanan.3. Kedudukannya lebih tinggi dari manusia biasa, sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.

    4. Termasuk masalah keagamaan dan menyangkut keimanan (Rukun Iman).

    5. Sebagai penjaga dan pelaksana syari’at.

    6. Apapun yang dikatakan atau diperbuat dianggap benar, dan yang dilarang dianggap salah.

    Ijma’ Sebagai sumber hukum ketiga. 1. Tidak ada Ijma. Ijma dalam pengertian biasa berarti memasukkan unsur pemikiran manusia dalam agama, dan itu tidak boleh.2. Ijma hanya dapat diterima apabila direstui oleh Imam, karena Imam adalah penjaga dan pelaksana Syari’at.
    Hadits 1. Sebagai sumber hukum kedua2. Dapat diterima bila diriwayatkan oleh orang yang terjamin integritasnya, apapun golongannya. Penerimaan hadits dilakukan secara diskriminatif. Hanya hadits yang diriwayatkan oleh Ulama Syi’ah saja yang diterima. Golongan Syi’ah bersikap diskriminatif. Golongan Ahlus Sunnah bersikap terbuka.
    Ijtihad 1. Mengakui adanya Ijtihad sebagai dianjurkan oleh Qur’an dan Hadits.2. Ijtihad adalah sarana pengembangan hukum dalam bidang-bidang keduniaan. Ijtihad tidak diperkenankan karena segala sesuatu harus bersumber dan tergantung Imam. Kekuasaan Imam menurut Syi’ah bersifat religius otoriter.
    Nikah Mut’ah 1. Tidak boleh.2. Dipandang sebagai menyerupai perzinahan.3. Dipandang merendahkan derajat wanita.

    4. Mentelantarkan anak/keturunan.

    Dihalalkan dan dilaksanakan serta merupakan identitas dari golongan Syi’ah Imamiah. Ahlus Sunnah memandang nikah Mut’ah mengandung segi-segi negatif pada masyarakat.Golongan Syi’ah berorientasi kepada kepentingan dan kesenangan pribadi.

    Bahan Bacaan

    1. Ashlus Syi’ah wa Ushuluha Kasyiful Githa.

    2. Dhuhal Islam Dr. Ahmad Amin

    3. Al Islam ‘ala Dhau-it Tasyayyu’ Syeikh Husein al Khurasani

    4. Al Kafi al-Kulini

    5. Encyclopaedia of Islam Cetakan & Luzac 1927

    6. Fathul Qadir al-Syaukani

    (Lampiran dari buku Apa Itu Syi’ah? Oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi, Diterbitkan oleh Penerbit Media Da’wah, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, Cetakan Pertama 1404 / 1984). (nahimunkar.com)

    Sekian kutipan. 

    Dari sini jelas sudah bahwa kesesatan Syi’ah, bukanlah isapan jempol semata!

    Mudah-mudahan, ini menjelaskan akan bahayanya Syi’ah yang secara akidah sangat bertentangan dengan apa yang diyakini oleh ahlusunnah, sehingga kita bisa memelihara diri kita dan keluarga kita, dari keyakinan sesat ini.

    Wallahu a’lam

     
  • aqidahsalafshalih 10:31 am on December 21, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , , , ,   

    Sistem Demokrasi Tidak Sesuai Bagi Indonesia 

    13234233271875025775

    Indonesia dibangun melalui konsensus para raja yang ada di Nusantara, dan memang kerajaan-lah arketip dasar, sekaligus pembentuk nalar pikir bangsa Indonesia. Bisa dikatakan, sebelum proklamasi kemerdekaan NKRI, orang Indonesia telah lebih dahulu hidup dengan ke-Indonesiaan, meskipun belum terdeklarasi sebuah negara bernama Indonesia. Budaya dan tradisi tidak hanya muncul di ruang hampa, tetapi lahir dari kepingan masa lalu, dari kenangan masyarakat, dari konteks yang mengelilingi kehidupan manusia. Beratus-ratus tahun manusia-manusia nusantara dididik dengan sistem feodalisme, namun bukan menghancurkan, tetapi meninggikan masyarakatnya. Kemudian datanglah penjajah dari Barat yang merusak semua tatanan itu dengan standar dan politik kolonialismenya. Akar bangsa ini tercerabut oleh sistem baru yang tidak pernah bisa diterapkan mudah di negeri ini, bahkan hingga sekarang.

    Salah satu peninggalan penjajah Barat setelah era kolonialisme adalah modernisme yang kemudian lagi-lagi menancapkan hegemoninya dengan sebuah bentuk negara bernama negara-bangsa (nation-state). Kemudian kita mengimpor sistem pemerintahan yang disebut demokrasi untuk mengatur puing-puing peninggalan itu. Ironisnya bangsa ini justru menolak akar dan fondasi bangsa ini, dan justru mengelukan sistem tersebut. Demokrasi adalah penjajahan model baru di era yang disebut modern. Implikasinya sangat kelihatan ketika saat ini kita mengira demokrasi telah sedemikian pesat dan maju, tetapi tidak memberikan manfaat serta kemaslahatan apapun selain kehancuran dan kehancuran yang bergerak perlahan tapi pasti.

    Kita sering mengira dan bangga bahwa ketika pemilu langsung diterapkan, maka bangsa ini telah berdemokrasi, bahkan digadang-gadang melampaui moyangnya demokrasi, yakni Amerika. Tetapi kita menutup mata bahwasannya kemajuan itu sesungguhnya adalah kehancuran. Boleh saja kita berteriak gegap gempita dan mengira bahwa kebebasan telah kita dapatkan. Tetapi demokrasi ternyata bukannya membebaskan, demokrasi yang kita rasakan saat ini justru membelenggu bangsa ini dengan nilai-nilai asing yang tak sesuai, namun dipaksa agar rakyat Indonesia bisa menyesuaikannya. Sebuah strategi konformitas yang licik dan picik. Padahal lihat saja dampak dari pemilihan langsung di tiap daerah, ratusan pemilu langsung diselenggarakan, bukannya menghasilkan pemimpin yang kredibel, melainkan pemimpin-pemimpin korup yang hanya mementingkan kelompok dan golongannya sendiri.

    Lihat praktik politik uang di setiap pemilu, dari tingkat desa hingga propinsi dan juga nasional. Belum lagi setelah pemilu usai masih menyisakan sampah-sampah, ribuan kasus sengketa pemilu yang berakhir di meja sidang atau tawuran. Sementara kucuran dana terus mengalir dan menggelembungkan biaya pemilu meskipun itu terjadi di tingkat bawah. Betapa naifnya sistem ini. Apalagi kalau diadakan pemilu ulang, menambah beban anggaran serta semakin meyakinkan bahwa pemilu ini cuma permainan dan kontestasi kotor. Rakyat tidak boleh diombang-ambingkan oleh hawa nafsu segelintir elit partai, dan akhirnya rakyat terjebak oleh ego kesukuan dan kedaerahan semata. Lalu di mana letak persatuan dan kesatuan bangsa ini.

    Berbeda jika negeri ini dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat dan dibimbing oleh hukum Allah. Maka akan terjadi sinergi sebagaimana dikatakan dalam al-Qur’an bahwa keadilan dan kemakmuran dapat tercapai apabila antara ‘ulil amri dan umara telah seiring dan sejalan di bawah satu konstitusi dan undang-undang yang bukan buatan manusia, namun diberikan oleh sang Maha Pencipta. Niscaya Indonesia takkan sengsara dan  negeri ini menjadi negeri yang diridhai oleh Allah.

    Lantas siapakah ‘ulil amri, tidak lain ialah pemerintah. Sedangkan ‘umara adalah para ulama. Di sini perlu adanya pencerahan bahwa ulama bukanlah berarti agamawan. Itulah yang selama ini salah kaprah. Ulama secara literal berarti orang-orang yang berilmu, alias para ilmuan atau intelektual. Allah telah berkata dalam al-Qur’an bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Karena itu memang status orang berilmu itu lebih tinggi dari pada yang tidak berilmu. Ilmuan lebih tinggi statusnya daripada orang biasa, dan itulah keutamaan orang Islam. Sedangkan sistem demokrasi justru menyama-ratakan semuanya. Inilah ketidakadilan yang diperlihatkan oleh sitem demokrasi, sehingga suara seorang pelacur dan ulama akan dianggap setara dalam sistem demokrasi. Inilah kesesatan yang selama ini dipraktikkan, makanya kenapa pemimpin negara ini tidak pernah mampu memimpin dan membawa rakyat kepada kesejahteraan dan kemakmuran.

    Lagipula kalau dilihat dari akar budaya bangsa Indonesia yang dulunya menjadi bagian dari Nusantara, di mana manusia-manusia Nusantara sangat akrab dengan yang namanya Musyawarah dan Mufakat, bukannya pengambilan suara ala demokrasi. Seharusnya kita kembali pada sistem bermusyawarah dan bermufakat itu. Di dalam Islam, bermusyawarah dan bermufakat merupakan sebuah mekanisme konsensus yang prosesnya diselenggarakan oleh lembaga bernama Majlis Syura. Anggota majlis adalah para ulama; ilmuan dan intelektual yang kapabel di bidangnya. Selain itu juga para tokoh adat dan suku sebagaimana pernah dipraktikkan setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Di sini terkadang sejarawan Barat suka mendramatisir seolah pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah, diwarnai ketegangan dan perselisihan antara suku-suku bangsa Arab. Bahkan dikatakan sampai Umar Ibn Khattab sampai menarik jenggot salah seorang pemuka kaum Anshar dan hendak memukulnya (kaum Anshar terdiri dari dua suku mayoritas, yakni ‘Auz dan Khazraj). Padahal yang sebenarnya, terlepas dari penyelewangan sejarah oleh Barat, karena yang terjadi pada waktu itu adalah musyawarah untuk mencari mufakat, sampai akhirnya seluruh orang yang terkumpul dalam majlis syura itu membai’at Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasul. Pastinya hasil pilihan daripada para ulama lebih berbobot dan kredibel ketimbang pilihan orang biasa.

    Hal yang sama yang seharusnya berlaku di Indonesia. Bukan pemilihan-pemilihan langsung ala sistem demokrasi seperti sekarang yang tidak membawa kemaslahatan apapun. Namun yang dipertontonkan saat ini adalah bahwa kita telah dengan sadar atau tidak, menjauhkan diri dari akar budaya bangsa (musyawarah dan mufakat), nilai-nilai kekeluargaan dan ketimuran, dan yang terpenting lagi adalah kita telah membuang pedoman yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Ingatlah bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling dekat kepada Nabi, orang-orang yang lebih baik ketakwaan dan kesempurnaan imannya. Kalau misalnya ada sesuatu yang baik menurut mereka, pasti telah dikerjakan oleh mereka terlebih dahulu. Dan yang mereka praktikkan bukanlah sistem demokrasi, tetapi sistem kekhalifahan, maka dari itu kita mengenal pada masa sahabat ada empat orang khalifah panutan, atau sering kita sebut Khulafa al-Rasyidun.

    Semestinya kita rindu dan berlomba-lomba untuk menegakkannya.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal