Sensasi Bakar Diri yang Nyeleneh dan Konyol

“Mas, kenapa sih mahasiswa banyak yang berdemo, apalagi sampai ada yang bunuh diri?” begitulah pertanyaan mengejutkan yang dilontarkan adik saya di usianya yang baru 9 tahun ketika melihat berita tentang mahasiswa yang membakar dirinya sendiri di depan istana. Saya hanya menjawab, “karena mereka itu kurang kerjaan.”

Ada pepatah arab mengatakan “Khaalif, tu’raf!” yang artinya “Nyelenehlah kamu, kamu akan terkenal.” Ali Ibn Abi Thalib juga pernah mengatakan, bul maa’a zam-zam alias kencingilah air zam-zam, sebagai pelampiasan dirinya ketika dijumpai banyak sekali orang-orang yang mulai nyeleneh di masanya. Terutama lagi orang-orang yang melakukan bid’ah, takhayul, dan khurafat. Karena perbuatan semacam itu selain nyeleneh juga menyelisihi ajaran agama. Ironisnya di abad modern ini malah makin banyak orang nyeleneh dan dianggap sebagai pahlawan.

Sebagai contoh bom bunuh diri, pelakunya malah diteriaki syahid, padahal para ulama salaf telah memfatwakan haram terhadap pelaku bom bunuh diri. Mengapa haram? Bunuh diri adalah usaha membunuh diri sendiri dengan meledakkan diri, maka perbuatan ini dilarang oleh Rasulullah.  Di dalam salah satu hadis dikatakan bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membunuh dirinya sendiri di dunia dengan cara apapun, maka Allah akan menghukum dia dengan hal yang sama (yang dia lakukan yang menyebabkan dia terbunuh) di hari kiamat.” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhraj-nya, dari Tsabit bin Ad Dhahak radhiyallahu ‘anhu).

Syaikh Shalih al Fauzan salah seorang ulama mufti Arab Saudi dalam penyampainnya mengeluarkan fatwa haramnya bunuh diri. Dalam ceramahnya beliau mengatakan bunuh diri dan tindakan terror yang menyebabkan kematian orang yang tidak bersalah adalah langkah-langkah syaitan, dan bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhirat agar menghindari perbuatan haram dan dosa besar tersebut.

“Pelaku terror merasa bahwa apa yang dilakukannya berada di jalan Allah padahal sebenarnya ia sedang melangkah melalui jalan-jalan syaitan.” tegasnya.

Ia pun menegaskan bahwa tindakan terorisme yang terjadi belakangan ini yang merenggut banyak korban jiwa bukanlah bentuk jihad, bahkan ulama Mufti Saudi ini mengeluarkan kecamannya bahwa tindakan tersebut merupakan dosa besar. Selain dirinya dewan ulama senior saudi juga telah mengeluarkan fatwa haramnya bom bunuh diri. Hal ini menunjukkan bahwa aksi-aksi heroik namun konyol seperti itu bertentangan dengan ajaran Islam. Lalu bagaimana dengan bakar diri?

Beberapa hari ini, Indonesia dikejutkan dengan aksi bakar diri seorang mahasiswa di depan Istana merdeka. Dikatakan dalam media cetak maupun elektronik, aksi tersebut lantaran kekecewaannya terhadap negara yang dianggap gagal menuntaskan banyak persoalan HAM. Pembunuhan Munir hanyalah salah satu contoh. Masih banyak contoh lain, seperti Tragedi Mei 1998, peristiwa Semanggi, atau kekerasan di Papua yang tak kunjung tertuntaskan.  Ia memprotes dengan membakar diri di depan istana. Tak pernah ada yang bakar diri di depan Istana sejak kemerdekaan.  Aksi Sondang mengingatkan kita pada sosok Mohamed Bouazizi, pemuda Tunisia yang membakar dirinya di depan kantor gubernur, akhir Desember 2010. Seperti Sondang, frustrasi Bouazizi terhadap negaranya yang korup dan gagal menyejahterakan rakyatnya juga memuncak.

Saya tidak tahu apakah dalam Kristen membunuh diri sendiri suatu perbuatan berdosa atau tidak. Akan tetapi jelas di dalam Islam perbuatan tersebut haram hukumnya. Oleh karena itu saya merasa prihatin apabila aksi nyeleneh dan konyol seperti bom bunuh diri dan bakar diri, atau sejumlah ide-ide sensasional nan menggelikan semacamnya, akan ditiru oleh generasi muslim. Karena Islam melarang umatnya berputus asa. Dalam al-Qur’an, surat Yusuf ayat 87, Allah SWT mengingatkan pesan Nabi Yakub kepada anak-anaknya tatkala hendak berangkat ke Mesir untuk mencari Yusuf, ”Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” inilah gambaran bahwa seberapapun besarnya ujian dan cobaan, umat Islam tidak boleh berputus asa, apalagi demi cita-cita besar dan perjuangan di jalan Allah.

“Islam melarang bunuh diri bahkan walaupun sedang menghadapi kesulitan hidup. Apalagi melakukan bunuh diri dengan membakar diri adalah kejahatan yang mengerikan,” kata Mufti besar, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah al-Sheikh, yang dikutip dari harian Pan-Arab.”Perbuatan mengorbankan diri sendiri dan bunuh diri adalah dosa besar,” katanya. “Kejahatan ini tidak boleh tersebar, dan umat Islam seharusnya jangan menempuh jalan seperti itu, itu adalah perbuatan merusak citra muslim,” kata Mufti Arab Saudi. Jelaslah bagi kita umat Islam bahwa membakar diri dengan alasan apapun dilarang oleh agama, dan pelakunya berdosa besar, sama sekali bukan suatu kebanggaan, patriotik, atau kepahlawanan.

Lalu bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap pemimpin yang zalim?

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri diantara kalian.” (QS. An Nisa’: 59)

Dari ibnu Umar r.a. Rasulullah bersabda: “Wajib atas setiap orang muslim untuk mendengar dan menta’ati, baik dalam hal yang ia suka atau yang ia benci, kecuali kalau ia diperintahkan dengan kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan menta’ati.” (Bukhari dan Muslim)

Dan pada hadis lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada diantara mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah (seperti) hati-hati syaitan yang terdapat di jasad manusia.” Aku (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?” Rasulullah bersabda, “Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu atau mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!” (Riwayat Muslim)

Lihatlah Ibnu Hajar menjadikan kepemimpinan Al-Hajjaaj sebagai contoh nyata bagi penerapan hadis Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Al Hajjaj adalah seorang tokoh yang amat bengis dan kejam, para sahabat dan tabi’in sepakat bahawa dia adalah seorang fasik sehinggakan khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz pernah berkata: “Seandainya seluruh umat berlumba-lumba dengan orang yang paling keji dari mereka, kemudian setiap umat mendatangkan orang yang paling keji dari mereka dan kita mendatangkan Al-Hajjaj, niscaya kita dapat mengalahkan mereka.” Namun daripada itu, mereka masih tetap taat kepada Al-Hajjaj.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan merekapun membenci kalian, kalian melaknati mereka dan merekapun melaknati kalian.” Dikatakan kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah tidak (sebaiknya tatkala itu) kita melawan mereka dengan pedang?” Rasulullah berkata, “Tidak, selama mereka masih menegakkan sholat di tengah-tengah kalian. Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari para pemimpin kalian, maka bencilah amalannya dan janganlah kalian mencabut tangan kalian dari ketaatan kepadanya.” (Riwayat Muslim)

Pada hadis lain Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang melihat sesuatu dari pemimpinnya yang ia benci maka hendaknya ia bersabar, karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah sejauh sejengkal, kemudian ia mati maka kematiannya bagaikan kematian jahiliyah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan merupakan ilmu dan keadilan yang diperintahkan untuk dilaksanakan adalah bersabar atas kezaliman para penguasa, sebagaimana hal ini merupakan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah.” (Majmuu’ Fataawaa 28/179).

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya dan bila ia tidak mampu, maka dengan hatinya.” (Muslim)

Dalam hadis ini Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam membahagikan manusia menjadi tiga golongan: Golongan pertama: adalah orang-orang yang mampu untuk menghilangkan kemungkaran dengan tangannya (kekuatannya), yaitu pemerintah atau pemimpin atau yang diberi kekuasaan dalam hal ini, seperti lembaga-lembaga dan gabernor serta panglima.

Golongan kedua: orang-orang yang mengingkari dengan lisannya, yaitu yang tidak memiliki kekuasaan, tapi memiliki kemampuan untuk menjelaskan.

Dan golongan ketiga: orang-orang yang mengingkari kemungkaran dengan hatinya, yaitu mereka yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk menjelaskan. Di sini ada perbedaan antara kekuasaan dan kekuatan, kekuasaan adalah khusus milik pemerintah dan bukan milik rakyat, sedangkan kekuatan adalah umum boleh jadi milik pemerintah tapi boleh jadi juga milik rakyat. Rakyat yang memiliki kekuatan tidak boleh memberontak kepada pemerintah yang memiliki kekuasaan selagi ia masih sholat dan belum menampakkan kekufuran yang jelas, seperti mengatakan dirinya kafir atau berpihak pada kaum kafir dalam artian memerangi secara nyata orang-orang muslim.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang jahat.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Hakim & Al Albani)

Memberontak serta memerangi penguasa muslim yang zalim merupakan pemikiran yang disepakati oleh seluruh firqoh-firqoh khawarij kecuali al-Ibaadhiah yang memandang tidak harus dengan memberontak dengan mengangkat senjata. Akan tetapi yang penting penguasa yang zalim itu bisa disingkirkan sesuai dengan kemampuan rakyat, baik dengan pedang (senjata) ataupun dengan cara-cara yang lainnya. Pemikiran ini berbeda dengan mayoritas umat Islam, yakni Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah.

Imam Al-Aajurri berkata, “Maka tidak semestinya orang yang melihat ijtihadnya seorang khawarij yang telah membelot kepada penguasa baik yang adil atau yang zalim lantas ia membelot dan mengumpulkan masyarakat dan menghunuskan pedangnya serta menghalalkan (untuk) memerangi kaum muslimin, maka tidaklah semestinya ia terpedaya dengan qiro’ah (bacaan Al-Qur’an) si khawarij ini, jangan juga terpedaya dengan lamanya sholatnya, tidak juga puasanya yang terus-menerus, tidak juga indahnya perkataannya dalam ilmu jika madzhabnya adalah madzhab khawari.” [Asy-Syari’ah I/345].

Ibnu Abdil Barr berkata, “Firqoh-firqoh Mu’tazilah dan seluruh Khawarij berpendapat akan kewajipan menentang penguasa yang zalim, adapun Ahlus Sunnah maka mereka berkata, ‘Yang merupakan pilihan yaitu hendaknya sang penguasa adalah utama, adil, dan baik. Namun jika tidak demikian maka kesabaran untuk taat kepada penguasa yang zalim lebih utama daripada memberontak kepadanya…’” [Syarh Al-Muwaththo’ li Az-Zarqooni III/12].

Imam An-Nawawi berkata, “Adapun sisi yang disebutkan dalam buku-buku fikih karya sebahagian sahabat kami (syafi’iyah) bahwasanya penguasa boleh dijatuhkan (jika zalim) dan juga diriwayatkan dari Mu’tazilah maka ini merupakan kesalahan orang yang berpendapat demikian dan menyelisihi ijma’ para ulama.” [Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim XII/229].

Ibnu Taimiyyah berkata, “Oleh karena itu Nabi memerintahkan untuk bersabar terhadap kezaliman para penguasa dan melarang untuk memerangi mereka selama mereka masih sholat.

Imam Ahmad bin hambal berkata, “Setia mendengar dan taat kepada para penguasa dan pemimpin kaum muslimin baik yang sholeh maupun yang jahat…” [Ushulus Sunnah hal 42 point no 15]. Kemudian beliau berkata, “Barangsiapa yang memberontak kepada seorang pemimpin kaum muslimin padahal kaum muslimin telah bersatu di bawah kepemimpinan dan kekhilafahannya dengan cara apapun (ia berhasil mencapai kehilafahan tersebut -pen), baik dengan diridhai atau dengan kudeta, maka ia telah memecah tongkat persatuan kaum muslimin dan telah menyelisihi atsar-atsar dari Rasulullah. Jika dia si khawarij (pemberontak) ini mati maka matinya mati jahiliyah. Dan tidak halal bagi seorang pun untuk memerangi penguasa dan tidak juga memberontak terhadapnya. Barangsiapa yang melakukannya maka ia adalah mubtadi’ tidak di atas sunnah dan jalan (yang lurus).” [Ushulus Sunnah hal 45-47 point no 20 dan 21].

Syaikh Sholeh Al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah khuruj (memberontak) kepada penguasa hanyalah dengan mengangkat pedang saja, ataukah termasuk juga memberontak dapat berwujud dalam pencelaan terhadap pemerintah dan memprovokasi masa untuk menentang pemerintah dan berdemonstrasi menentang pemerintah?”

Beliau menjawab, “Kami telah menjelaskan hal ini kepada kalian, kami telah mengatakan bahwasanya memberontak kepada pemerintah termasuk mengangkat pedang dan membicarakan (keburukan-keburukan) mereka di majelis-majelis dan di atas mimbar-mimbar. Perbuatan ini menyebabkan berkobarnya gejolak masyarakat dan memprovokasi mereka untuk memberontak kepada pemerintah dan berkuranglah wibawa pemerintah di mata mereka. Maka perkataan adalah (termasuk) pemberontakan”. [Dinukil dari Al-Fataawa Asy-Syar’iyyah fil Qodhooyaa Al-‘Ashriyyah hal 107].

Imam An-Nawawi berkata: “Adapun memberontak dan memerangi para penguasa maka (hukumnya) haram dengan dasar ijma’ kaum muslimin. meskipun mereka (para penguasa) adalah orang-orang yang fasik dan zalim. Dan sangat banyak hadis-hadis yang semakna dengan apa yang aku sebutkan ini. Ahlus Sunnah telah ber-ijma’ bahwasanya seorang penguasa tidaklah serta merta terlepas kekuasaannya hanya karena ia melakukan kefasikan.” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 12/229).

Imam Ahmad rahimahullah disiksa dan dipenjara oleh penguasa di zamannya karena beliau tidak mau mengucapkan kalimat kekafiran (yaitu Al-Qur’an adalah mahluk). Meskipun demikian beliau mengharamkan khuruj (pemberontakan) kepada penguasa yang telah menyiksa beliau tersebut.

Jadi jelas bagi kita penganut Ahlus Sunnah wa al-Jama’ah, bahwasannya memberontak kepada penguasa zalim itu dilarang, yang diwajibkan bagi kita hanya terus berdakwah melalui lisan seperti nasihat (tausiah), dan menjadikan syari’ah Islam sebagai konstitusi negara. Jika syari’ah Islam adalah satu-satunya konstitusi negara, maka pemerintah akan tunduk pada konstitusi tersebut ketika berbuat zalim, sebab jelas bahwa syari’ah Islam adalah hukum Allah, dan pihak pemerintah akan selalu ingat bahwa dalam menjalankan hukum Allah, maka tanggung jawabnya ada di dunia serta di akhirat. Tetapi meskipun pemerintah tetap berbuat zalim, selama masih muslim dan menunaikan ibadah, maka jelas bagi umat Islam harus tetap mendukungnya. Mengapa demikian? karena pemberontakan atau penggulingan kekuasaan itu akan berdampak lebih besar mudharatnya bagi umat manusia dan juga bagi persatuan dan kesatuan umat Islam.

Sedangkan jika kita kembalikan lagi ke persoalan bakar diri, maka secara hukum sudah jelas sebagaimana penjabaran di atas, dan kemudian patutlah bagi kita umat Islam untuk tidak terbawa ke dalam arus kesesatan dengan menganggap perbuatan tersebut sebagai aksi heroik atau patriotik, apalagi mencontoh atau meniru aksi-aksi semacam itu akibat telah terlanjur menganggap sebagai simbol perjuangan. Allahu ‘Alam