Sepakbola Berada di Titik Keharaman

132435960687685405

Satu bola dikerubuti 22 orang. Bahkan yang nonton pun ikut turun ke lapangan. Belum lagi polemik dan gaya hidup glamor di luar sepakbola, inilah berhala-berhala baru yang secara tak sadar telah membelenggu umat Islam. Saat Piala Dunia berlangsung 2010 lalu, diperkirakan 2,6 milyar pasang mata menonton pertandingan demi pertandingan, baik secara langsung maupun melalui layar kaca. Ini hampir setengah dari penduduk bumi. Ratusan juta di antaranya adalah Muslim. Sepak bola sudah seperti agama. Banyak penggila bola membela mati-matian klub kesayangannya. Bahkan mereka rela kehilangan harta, mungkin juga nyawa,  untuk membela klubnya itu. Beberapa pemain bola bak nabi baru yang dipuja-puja penggemarnya.

Ada apa ini? Pengamat Zionisme Herry Nurdi menyebut ada upaya sistematis untuk merusak generasi muda Islam. Umat Islam dilalaikan dari ajaran agamanya. Generasi muda tersebut disuguhi tontonan dan hiburan serta pesta. Said Abdul Azhim dalam bukunya ‘Islamkan Olahraga Anda’ menyebut tiga hal yang diyakini sebagai alat jerat Yahudi untuk merusak moral generasi Muslim. Tiga hal itu adalah sex, sport (olahraga), dan song (nyanyian). Proses perusakan itu berlangsung secara massif melalui media massa. Seperti diketahui, mayoritas media massa dunia dikuasai oleh Yahudi. Faktanya, memang tiga hal itulah yang diminati oleh manusia pada umumnya.

Proses perusakan itu berjalan secara sistematis dan dikendalikan oleh organisasi internasional. Dalam Protokol Zionis versi Mayer Amshell Rothschild yang disusun tahun 1773 di Judenstrasse, Frankfurt, Jerman, pasal 17 tertulis: “Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang dikehendaki, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.”

Cara ini terbilang sukses. Banyak orang beragama meninggalkan agamanya. Minimal tidak lagi peduli pada agamanya. Gereja di Eropa melompong bila bersamaan dengan adanya pertandingan. Banyak orang Muslim yang tak mau meninggalkan bangkunya di stadion saat adzan shalat berkumandang. Mereka mau berteriak-teriak berjam-jam memuja klub dan pemainnya, namun enggan menyampaikan satu ayat saja. Banyak pula yang rela bangun malam menunggu pertandingan bola, tapi sulit di hari lainnya untuk bangun shalat tahajud.

Lambat laun masyarakat dunia, tak terkecuali dunia Islam, terbawa arus. Umat Islam menjadi obyek. “Kita dijebak dalam suasana budaya sekuler dan dipojokkan menerima dan mengikuti budaya mereka,” kata K.H. Agus Achyar Purakusumah, Pimpinan Ponpes Miftahul Barkah, Bandung. Permainan yang melalaikan (lahwun munadzdzamun) itu dieksploitasi sedemikian rupa oleh kapitalis global untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Kapitalisme global kian kokoh karenanya. Tidak hanya di bidang olahraga, tapi juga di bidang-bidang yang lainnya. Karena bagi Yahudi: “Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan licik, pemerasan, dan pembalikan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik”(Protokol pasal 4). Untuk itu: “Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: minuman keras, narkotika, perusakan moral, seks, suap, dan sebagainya.”(Protokol pasal 8).

Suasana pesta Piala Dunia dengan keuntungan puluhan trilyun itu sangat kontras dengan kondisi masyarakat dunia. Data tahun 2008, jumlah penduduk miskin dunia sekitar 220 juta orang. CARE International dalam laporannya merumuskan, orang yang berada pada batas kemiskinan itu sebagai orang yang tidak mampu mencari makan sendiri dan karenanya perlu mendapat bantuan ekonomi. Penyebab utama peningkatan jumlah orang miskin itu adalah naiknya harga-harga pangan. CARE menyayangkan dunia yang didominasi kapitalisme global tidak peduli akan hal ini.

Khusus di dunia Islam, jumlah Muslim yang mencapai 1,5 milyar dunia secara kualitas masih menyedihkan. Negeri-negeri Islam secara umum adalah populasi dengan jumlah penduduk miskin yang tinggi seperti nasib umat Islam di Afrika (Ethopia, Nigeria, Somalia), Asia (Pakistan, Bangladesh, India, termasuk Indonesia). Padahal negeri-negeri Islam secara umum kekayaan alamnya melimpah ruah. Tingkat kebodohan di dunia Islam masih tinggi.

Secara politik jumlah yang besar tersebut pun tidak memuat umat Islam menjadi negara adidaya di dunia. Meskipun sudah merdeka secara formal, namun sebagian besar negeri Islam masih belum independen , masih dijajah, tertindas dan tunduk kepada kepentingan negara-negara imperialis. Sebagian besar penguasa negeri-negeri Islam adalah penguasa diktator yang represif dan mengabdi ke Barat. Kapitalisme global mencengkeramkan kukunya dengan kuat di tanah kaum Muslim. Seolah kini tak ada lagi celah yang tidak dikuasai kapitalis global. Anehnya, dalam kondisi seperti ini, kaum Muslim tak merasa jadi begundal. Mereka malah asyik berpesta Piala Dunia demi kesenangan sementara.

Syaikh Manshur Ibn Hasan Alu Salman berpendapat bahwa hukum asal pada permainan sepakbola ini adalah mubah atau boleh, bahkan tidak menutup ke­mungkinan bahwa latihan sepak bola bisa ter­masuk mustahab (disukai) jika yang berlatih adalah orang Islam agar kuat jasmaninya dan memperoleh semangat dan vitalitas hidup. Sya­ri’ah Islam sangat menyukai mengambil faktor-faktor yang bisa menguatkan badan agar dapat berjihad. Telah nyata sabda Rasul bahwa; Orang yang beriman lagi kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari orang yang beriman tetapi lemah dan pada keduanya terdapat kebaikan.

Syaikh Ibnu Utsaimin lebih memperinci lagi hukum yang berkaitan dengan latihan bola, beliau berkata:

Latihan olah raga itu boleh, selama tidak melalai­kan kewajiban. Jika sampai melalaikan kewajiban, maka olah raga tersebut haram. Apabila seseorang mempunyai kebiasaan menghabiskan sebagian be­sar waktunya dalam olah raga, maka sesungguh­nya ia telah menyia-nyiakan waktu, minimal ke­adaannya dalam hal ini adalah makruh. Adapun pemain olah raga yang hanya mengenakan celana pendek sampai terlihat paha atau sebagian besar auratnya, maka hal itu tidak boleh. Dan yang benar adalah wajib bagi para pemain adalah menutup aurat mereka dan juga tidak dibolehkan menyaksikan para pemain yang terbuka pahanya (auratnya).

Syaikh Muhammad bin Ibrahim mengeluarkan fatwa larangan permainan yang bersifat terorganisir secara berlebihan (yaitu be­liau melarang pembentukan organisasi-organi­sasi yang lengkap yang mengurusi urusan-urusan para pemain untuk bermain bola), teta­pi beliau membolehkan selain dari itu semua. Karena beliau berdalil, bahwa permainan yang memiliki organisasi-organisasi tersebut tidak lepas dari hal-hal berikut ini:

Pertama: Permainan ini secara tabi’at me­ngandung unsur-unsur pengkotak-kotakan, menim­bulkan fitnah, menumbuhkan kebencian. Nilai-nilai semacam ini jelas bertentangan dengan dakwah Islam yang mewajibkan saling toleransi, kasih sa­yang, ukhuwah dan mensucikan jiwa dari sifat dengki, benci dan permusuhan. Dan tidak diragukan lagi bahwa permusuhan, perselisihan, kebencian dan kedengkian pasti ada pada permainan ini, antara yang menang dan yang kalah. Oleh karena itu per­mainan tersebut dilarang karena menyebabkan keru­sakan-kerusakan sosial dengan tumbuhnya keben­cian pada para pemain dan penonton, menimbulkan fitnali di antara mereka, bahkan lebih dari itu ka­dang sebagian dari penonton mengintimidasi seba­gian pemain bahkan membunuhnya. Dan bukti serta realita ini telah diketahui bersama.

Kedua: Permainan ini tidak luput dari baha­ya-bahaya fisik yang menghantui para pemain, aki­bat dari tabrakan, benturan dan pukulan. Sehingga diakhir pertandingan, pada umumnya didapati se­bagian dari mereka telah jatuh di lapangan pertan­dingan dengan keadaan pingsan, patah kaki, tangan dan terluka yang semuanya ini mewajibkan adanya mobil-mobil ambulans.

Ketiga: Dalam permainan sepak bola tidaklah menjurus kepada sesuatu yang dapat ditolelir dalam syari’ah Islam (yang semestinya ada dalam olah raga dan dibenarkan oleh Islam) yatu memberikan kega­irahan jasmani, melatih fisik guna menghadapi pe­rang dan melepaskan penyakit-penyakit yang sudah menahun.

Keempat: Permainan seperti ini banyak me­nyita waktu shalat, yang dengannya para pemain dan penontonnya meninggalkan shalat berjama’ah atau mengakhirkan waktu shalat (yang tidak semes­tinya diakhirkan, pent.) atau bahkan meninggalkan shalat. Tidak diragukan lagi tentang pengharaman suatu perbuatan yang melalaikan shalat pada wak­tunya atau tertinggal dari shalat berjama’ah yang memang tidak disebabkan oleh udzur yang syar’i (halangan yang dibenarkan agama).

Kelima: Pelanggaran yang ditimbulkan oleh para pemain adalah membuka aurat (yang jelas ha­ram untuk dipertontonkan). Aurat laki-laki mulai dari pusar sampai lutut. Jelas bahwa celana mereka hanya sampai pada pertengahan paha dan sebagian-nya lagi lebih dari itu. Sudah diketahui bahwa paha merupakan aurat.

Keenam: Bahwa permainan ini melalaikan pa­ra pemain dan penontonnya dari mengingat (dzikir) kepada Allah Ta’ala.

Ketujuh: Kadang-kadang permainan ini ma­suk dalam permasalahan memakan harta dengan ca­ra yang batil, maka yang demikian termasuk judi, karena hal ini terkait salah satu dari dua perkara:

Si pemenang akan mengambil jumlah terten­tu dari uang atau sesuatu yang telah diten­tukan, jenis ini haram menurut kesepakatan para ulama. Atau mengambilnya dari para penonton yang hadir ke lapangan pertandingan dan ini pun dilarang menurut pendapat yang kuat dari dua pendapat yang ada.

Kedelapan: Permainan ini merupakan suatu jalan atau cara yang bisa menyibukkan hati dan menjadikannya sebagai pekerjaan. Terlebih lagi per­mainan ini termasuk senda gurau dan tidak berarti bagi jiwa. Dan kecenderungan hati untuk duduk berlama-lama di hadapan pertandingan sangatlah besar.

Di dalam syari’ah Islam, tidak dibatasi wasilah atau perantara yang dapat menguatkan jasmani seperti olahraga. Akan tetapi permasalahan ini mempunyai sya­rat, yaitu tidak boleh melampaui batas dari hukum-hukum syari’ah dan juga tidak terjerumus dalam hal yang madharat (bahaya). Bahkan hukumnya akan sampai pada derajat pengharaman bagi sebagian pecandu dan fanatis olah raga ini. Ketika Playboy haram beredar, bunga bank tergolong riba. Tapi anehnya, ormas-ormas  Islam atau bahkan MUI tak pernah mengeluarkan fatwa haramnya sepakbola. Sebenarnya ini sesuatu yang ganjil. Dalam sepakbola banyak madharat, banyak tindak amoral, banyak kejadian-kejadian di luar ketentuan syari’ah Islam. Lain dari itu, sepakbola bukan tradisi Islam, melainkan lebih dekat dengan budaya Barat. Lihatlah, stadion dipenuhi laki-laki perempuan berjejal tanpa batas. Hura-hura di stadion tak mengenal jenis kelamin. Bahkan pornografi dan porno aksi sudah menjadi bagian paling dekat dengan gelora penonton saat mendukung tim kesayangannya bertanding. Di stadion maupun di depan televisi, emosional penonton sering kelewat batas. Penonton mudah mengumpat, mengeluarkan kata jorok yang jelas dilarang syari’ah Islam. Di tengah lapangan, para pemain laki-laki membuka bagian auratnya. Sudah jelas, dalam syari’ah Islam, bagian tubuh laki-laki yang tergolong aurat adalah bagian paha hingga pusar. Sedangkan bagian perut hingga dada sangat dianjurkan tidak terlihat oleh publik, apalagi perempuan yang bukan muhrimnya.

Apalagi jika aturan syari’ah Islam ditunjukkan kepada perempuan. Jelas sekali sepakbola haram bagi perempuan kecuali jika para pemain itu tetap mengenakan busana muslimah ketat. Di luar stadion bandar-bandar judi menawarkan beragam model taruhan. Mulai dari judi melalui SMS (baca kuis), judi konvensional hingga judi online via internet semakin merajalela di tengah gegap gempitanya sepakbola. Pendeknya, semua yang berhubungan dengan sepakbola lebih mencerminkan gaya hidup liberalisme, bahkan kapitalisme. Kalau anda percaya bahwa Islam mengatur semua aspek kehidupan, tentu dalam hati akan berkata; “naudzu billah min dzalik!”; tak ada satupun ulama yang di Indonesia ini yang menggagas lahirnya fatwa agar kegiatan jahiliyah bin munkar itu dilarang di Indonesia. Mungkin saja muncul alasan, bahwa negara Indonesia bukan berdasar agama, sehingga tidak bisa menerapkan syari’ah Islam seutuhnya. Namun, melihat banyaknya pelarangan melalui perda syari’ah, maupun sekadar fatwa haramnya pornografi, pornoaksi, bunga bank dan lain sebagainya, maka tidak adil jika sepakbola dibiarkan merajalela.

Keharusan fatwa biasanya muncul dari “ketidakjelasan” status hukum praktek muamalah. Maka, sepakbola sebagai kegiatan yang tidak memiliki landasan hukum yang jelas sesuai ajaran Islam, kiranya membutuhkan kejelasan status hukum-nya. Di negeri Islam, Iran dan Saudi Arabia, sudah ada banyak fatwa tentang keharaman sepakbola, terutama fatwa yang melarang perempuan main bola, atau sekadar melarang perempuan masuk stadion. Alasannya jelas, sepakbola identik dengan pergaulan gaya liberal Barat, perjudian dan aneka warna tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Tentu, menjadi aneh jika organisasi seperti Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) mendiamkan soal ini. Di Iran, kisah tentang pengharaman sepakbola sudah berulangkali terjadi. Banyak mullah yang mengharamkan sepakbola, apalagi sepakbola perempuan. Bahkan, sampai sekarang, beberapa mullah masih sering melontarkan fatwa keharaman perempuan masuk stadion. Seorang wartawan, Franklin Foer (2004) menceritakan, sekalipun Ayatullah Khomeini pada masa kekuasaannya melarang perempuan masuk stadion, tapi larangan itu tetap tak mampu mengekang hasrat kaum hawa penggila bola. Beberapa pria bercukur halus dan mengenakan pakaian kedodoran. Mulanya Foer agak heran dengan kelakukan kelompok penonton yang agak aneh ini. Setelah dicermati, ternyata mereka bukan pria, melainkan perempuan berpakaian pria. Dengan resiko dihukum berat oleh polisi Iran, kaum perempuan Teheran berani menembus stadion Azadi. mereka mempres payudara, gembung rambut yang panjang, berpakaian jubah pria, dan menyelinap masuk ke stadion.

Hasil investigagasi Foer juga menyebutkan, kabarnya, para perempuan nekad dan gila bola itu termasuk putri-putri ulama ternama, satu-satunya perempuan di Iran yang punya suara dalam tata pemerintahan Iran. Di masa kepemimpinan Khomeini, pemerintah Iran memang berhasil menghabisi budaya pop, terutama lagu, film, dan kesenian impor dari Barat. Tapi mereka tak berhasil melarang sepakbola. Sebab, sekali mengusik sepakbola, berarti rezim sedang memposisikan diri berlawanan dengan gelora terbesar rakyat Iran. Sama halnya di Saudi, pemerintah hanya bisa membuat aturan “pengecualian” untuk sepakbola. Gelora politik demokrasi kaum muda mungkin saja bisa dibasmi. Tapi gelora rakyat di stadion tidak mungkin bisa dibungkam. Bahkan untuk urusan kompetisi sepakbola, pemerintahan Saudi memperbolehkan badan olahraga sepakbola Saudi tetap menggelar kompetisi pada saat bulan ramadlan, dengan catatan pertandingan dimainkan setelah salat tarawih.

Sekalipun sepakbola tak bisa dibendung melalui syari’ah Islam, namun banyak lembaga fatwa di berbagai negara Islam sudah memperjelas status hukumnya. Mereka mengharamkan, namun tidak bisa melarang kegiatan “munkar” tersebut. Mungkin, sepakbola adalah obyek hukum yang harus mendapat pengecualian. Persoalan yang diakibatkan sepakbola memang banyak terdapat madharat, sekalipun di luar itu gengsi politik nasional, uang, dan lapangan pekerjaan tetap bisa disebut sebagai unsur maslahat. Tapi kalau kita tetap konsisten dengan ajaran agama, bukankah yang tak sesuai syari’ah Islam adalah ajaran setan? Ada baiknya fatwa keharaman sepakbola segera dikeluarkan. Bagi MUI, tak baik menunda sikap, sebab dengan demikian membuka ruang kemungkaran yang lebih luas.  Tak jadi soal di negeri-negeri Islam tersebut fatwa tinggal fatwa. Toh, sekalipun bunga bank diharamkan, perbankan konvensional tetap berjalan. Justru dengan adanya fatwa pengharaman sepakbola, maka semakin nampak ketegasan dari kalangan ulama sebagai penjaga syari’ah dan pelayan umat.

Seperti misalnya Lajnah Daimah Saudi berpendapat bahwa; Pertandingan sepak bola, yang memperebutkan hadiah, hukumnya haram karena mengandung unsur taruhan. Tidak boleh ada hadiah pertandingan kecuali dalam pertandingan yang diizinkan oleh syari’ah, yaitu pacuan kuda, pacuan unta, dan lomba memanah. Berdasarkan hal tersebut maka menghadiri secara langsung atau menonton (via TV misalnya) pertandingan tersebut, hukumnya adalah haram untuk orang yang mengetahui bahwa pertandingan tersebut memperebutkan hadiah. Menghadiri secara langsung berarti menyetujui pertandingan semacam itu.

Akan tetapi, jika pertandingan olah raga tersebut tidaklah memerebutkan hadiah, tidak melalaikan dari kewajiban agama semisal shalat, dan tidak mengandung hal yang terlarang semisal buka-buka aurat, campur baur perempuan dengan laki-laki, dan adanya alat musik maka mengikuti pertandingan dan menontonnya tidaklah terlarang. Fatwa ini disampaikan oleh Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syekh, Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dan Syekh Bakr bin Abdullah Abu Zaid. (Fatawa Lajnah Daimah, 15:238)”