Updates from Januari, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • aqidahsalafshalih 9:39 am on January 30, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , ,   

    Antara NU dan Muhammadiyah Dalam Membicarakan Wahabi 

    sumber: kompasiana

     

    Menarik sekali bila membaca sikap dua ormas besar , antara Muhammadiyah dan NU, ketika menyikapi kata “Wahabi”. Seperti ada daya tarik maghnit untuk membicarakan keberadaan wahabi di Negara Ini. Bukan saja karena “wahabi” kian berkembang terus, memasuki wilayah NKRI, tetapi juga karena “Wahabi” telah menciptakan banyak opini di kalangan umat Islam di dunia. Semua mata dan pikiran menjadi terbelalak menyempal wahabi seolah sebagai aliran yang membahayakan. Ada yang takut disebut wahabi . seperti PKS karena takut kehilangan dukungan umat, sehingga menepis anggapan kalau PKS tak suka tahlilan. Terlebih ketika kata “wahabi” dihembuskan sebagai mesin pendorong terorisme, semua orang bicara kalau “wahabi” adalah mesin pembunuh. Tetapi apakah begitu ?

    Prinsip memang harus ditegakkan, tetapi menurut langgam bahasa akademisi, yang bermuara pada suatu keingininan bersama, dengan cara mengkaji secara detil sejarah wahabi tanpa dilandasi “kebencian” terlebih dahulu, sehingga memungkinkan darah tidak naik keujung kepala, menutup wacana sehat yang argumentative, benarkah wahabi itu salah ?.

    Muhammadiyah misalnya adalah ormas Islam, termasuk ormas yang berdarah normal ketika memahami kata “wahabi”, tak terseret arus kebencian dan rasa takut dari orang orang yang paranoid dengan kata “wahabi”.  Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.  pada materi Paham Agama dalam Muhammadiyah mengatakan “bahwa tidak diragukan lagi, KHA Dahlan banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab, khususnya dalam bidang akidah. Hal ini tentu saja memberi pengaruh pada gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, tidak berarti Muhammadiyah berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca: Wahabi/Salafi). Banyak hal lain yang memberikan inspirasi KHA Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah satunya.

    Bahkan Yunahar menegaskan, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi. Dalam hal dakwah khususnya, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat kebenaran”.

    Pada kesempatan lain beliau mengatakan kalau “wahabi adalah gerakan dahwah, pemurnian aqidah, bukan sumber terorisme  sebagaimana dikatakan mantan kepala BIN Hendro Priyono”. Tegas pak Yunahar menyanggah media yang mengutip perkataan mantan BIN tersebut. Ini menggambarkan kalau Muhammadiyah punya tanggung jawab moral, sehingga harus menjelaskan ke Publik tentang wahabi, apakah benar wahabi itu brutal atau justru sebaliknya “wahabi” yang berperan aktif menjaga kemurnian aqidah dari retorika para perambat bid’ah

    Nahdhatul Ulama atau NU bersikap sebaliknya, sangat antipati dan atisipasi terhadap wahabi. Di mata NU gambaran wahabi, seperti monster dan mesin pembunuh paham paham yang tidak sejalan dengan wahabi. Dengan gelap mata dan langka seribu  NU sangat reaaktif menebang dan membendung arus pemikiran “wahaby”, bahkan karena kebencian, NU yang biasanya sangat ta’dhim pada para ulama, menjadi liar dan tidak santun  menyikapi wahabi. Sepertinya kata “ulama” itu hanya milik NU saja, sehingga selain NU tak pantas disebut ulama. Hal ini bisa dilihat dalam synopsis NU dalam Situs resminya:
    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34226/Buku/Menelanjangi_Kesesatan_Salafi_Wahabi.html

    Ini sebuah model pemikiran: bahwa orang orang yang mengklaim dirinya wahabi, atau melatari ormasnya dengan “wahabi” adalah sesat, perlu direhabilitasi Imannya karena tidak sesuai dengan kelompok mereka. Bahkan sikap NU dengan terbuka menyatakan perang terhadap paham wahabi dengan semua orang yang terlibat didalamnya seperti pernyataannya di situs resmi NU,

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/32661/Warta/Memecah_Gelombang_Gerakan_Wahabi_di_Kampung_Nelayan__1_.html

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/32662/Warta/Memecah_Gelombang_Gerakan_Wahabi_di_Kampung_Nelayan__2_.html

    Disini nyata sekali kalau NU tidak sedikitpun ridho dengan langkah langkah Wahabi datang ke Indonesia. Kata Pluralisme yang sering digembar gemborkan NU, ternyata hanya sebuah slogan yang tidak rela ada kelompok lain yang melebihi NU, sebagaimana tercermin dalam tulisan di situsnya. Yang lebih bahaya, karena NU adalah Ormas yang menanamkan budaya paternalistic yang sangat domistik dengan nilai nilai budaya kampungan , yang tercermin dalam paparan tulisannya, dalam mengahalau wahabi dari bumi Indonesia.

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/21768/Warta/Kiai_Nuril__Jangan_Gentar_Hadapi_Wahabi.html

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/21360/Warta/Nahdliyin_Diingatkan_Bahaya_Wahabi.html

    http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/16371/Warta/NU_Didirikan_untuk_Melawan_Wahabisme.html

    Itulah bukti sifat kekanak-kanakan NU yang notabeni dengan habitat lamanya ketika berhadapan dengan goncangan Muhammadiyah di awal lahirnya. Ini menunjukkan kalau Muhammadiyah adalah sumber utama yang melahirkan “wahabi” di Indonesia, sehingga waktu itu saja harus melawan benturan dan sanggahan pemikiran atas nama Islam yang mengecualikan wahabi (seolah bukan Islam).

    Penyebutan “Wahabi” sebenarnya tersirat kata “beda Islam dengan Wahabi”, itu maksud mereka, bukan sekedar sebutan “wahabi” yang tak bermuatan. Melainkan sisipan dibalik kata wahabi adalah menyempal kelompok ini sebagai aliran sesat yang tidak boleh dianut oleh umat republic ini. Bentuk pemikiran NU ini sangat arogan sekali, karena menempatkan lawan bicaranya sebagai musuh bebuyutan umat secara keseluruhan. Padahal ada Muhammadiyah yang juga banyak berfatwa sebagaimana fatwa wahabi. Mestinya NU mengedepankan rasa legowo menerima perbedaan, bukan dengan cara menangkal, membuat keributan dimana mana dengan pernyataan sumbang yang kian menjauhkan umat dari rasa damai. Kedamaian apa yang diharapkan NU, apakah dengan cara menebang melaporkan kepada aparat menyebut semua orang wahabi yang menyinggung NU harus diperiksa dan ditahan sebagaimana banyak dilakukan Densus 99 , andalan NU guna menumpas pemikiran yang tidak sama dengan NU…Puritan pluralime gadungan.

    Kalau menyimak kata kata Prof Yunahar, jelas sekali kalau pemikiran Muhammadiyah bermuatan “wahabi” , terutama dalam masalah Aqidah dan Ibadah. Karena bagi Muhammadiyah Islam itu adalah Quran dan Sunah, muhammadiyah tidak takut disebut wahaby, kalau maksudnya adalah mengikuti quran dan sunah.

    Iklan
     
  • aqidahsalafshalih 9:35 am on January 30, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Demokrasi Itu Memuakkan 

    Oleh : Faridz Wadjdi

    Akhir-akhir ini ada beberapa peristiwa yang membuat kita semakin muak terhadap demokrasi;

    Pertama, arogansi wakil rakyat. Meskipun telah diprotes oleh banyak pihak, pembangun gedung DPR senilai lebih dari 1 trilyun rupiah dengan gigih dipertahankan oleh sebagian wakil rakyat. Berdasarkan jejak pendapat Kornpas 82,2 persen responden tidak setuju dengan rencana pembangunan gedung baru, 75,2 persen juga menilai pembangunan gedung baru DPR bukan kebutuhan yang mendesak atau prioritas utama.Tidak hanya itu DPR RI juga mengusulkan kenaikan anggaran dari 3,025 trilyun menjadi 3,5 trilyun rupiah untuk tahun anggaran 2012, naik 16 persen (Rp 480 milyar). Belajar dari pengalaman sebelumnya kenaikan anggaran untuk fasilitas wakil rakyatnya ini tidak ada relevansinya dengan kepentingan rakyat. Buktinya, DPR justru banyak mengesahkan kebijakan yang menambah derita rakyat. Di sisi lain, mereka tidak peduli dengan persoalan nyata rakyat seperti kemiskinan, pengangguran, kebobrokan pelayanan transportasi, kesehatan, dan pendidikan.

    Kedua, bobroknya perilaku wakil rakyat. Kita dikagetkan ulah wakil rakyat, bisa-bisanya melihat hal yang tidak senonoh saat rapat penting. Hal ini melengkapi kadar bobrok wakil rakyat sebelumnya yang terlibat korupsi hingga perzinaan. Kita tidak perlu menyebutkan partai apa karena hampir semua partai melakukan hal itu. Sama tidak perlunya kita menyebutkan partai yang berideologi apa, karena semua partai sesungguhnya adalah partai sekuler yang pragmatis!

    Semua ini semakin menunjukkan kepada kita fakta yang nyata bahwa demokrasi yang mengklaim wakil rakyat, bekerja untuk kepentingan rakyat, hanyalah dusta belaka. Bahaya jebakan demokrasi yang sering kita ingatkan juga terbukti. Demokrasi telah menggerus idealisme seorang Muslim. Sidang wakil rakyat yang seharusnya jadi mimbar mereka bicara tegas berdasarkan syariah Islam, justru digunakan untuk perilaku yang melanggar syariah Islam.

    Pada level internasional, kebobrokan demokrasi tidak kalah memuakkan. Sikap hipokrit negara-negara yang mengklaim kampiun demokrasi sudah demikian menjijikkan. Di Prancis, Senin (11/04) larangan pemakaian niqab (cadar ) mulai berlaku. Perempuan yang tidak mengindahkan larangan ini akan dikenakan denda.

    Pelanggar aturan ini kena denda sebesar 150 euro (215 dolar AS) atau kerja sosial. Sementara bagi seseorang yang memaksa perempuan mengenakan burqa akan didenda 30 ribu euro (43 ribu dolar AS). Di satu sisi mereka mengagung-agungkan kebebasan beragama, di sisi lain mereka justru melarang Muslimah untuk menjalankan keyakinan agamanya untuk menggunakan burqa.

    Atas nama kebebasan mengungkapkan pendapat dan kebebasan berekspresi, pengikut Terry Jones melegalkan pembakaran Alquran. Sikap anti Islam Terry Jones dilindungi demokrasi, dengan percaya diri dia mengatakan: “Aku lebih suka mati daripada berhenti berkhutbah tentang Islam”.

    Hal ini melengkapi penghinaan Islam yang juga dilakukan Geert Wilders di Belanda atau penerbitan kartun nabi yang melecehkan. Semuanya atas nama demokrasi. Sebaliknya mereka mengkriminalkan siapapun yang mempersoalkan dan mengkritisi holocoust dengan tuduhan anti semis.

    Sama hipokritnya ketika negara-negara poros imperialis membombardir Libya dengan alasan melindungi rakyat Libya dari diktator Qaddafi. Padahal selama puluhan tahun Barat diam dengan kebengisan Qaddafi, berhubungan baik dengan Qaddafi, menjual senjata kepada rezim bengis ini. Kenapa pula mereka tidak membombardir negara Zionis Israel yang telah membunuh umat Islam di Palestina secara sistematis hingga kini.

    Demokrasi memang menjijikkan. Sungguh aneh kalau masih ada umat Islam yang mengagung-agungkan sistem ini. Apalagi sistem ini jelas merupakan sistem kufur karena telah menyerahkan hak membuat hukum kepada manusia atas nama rakyat. Sementara dalam Islam hak membuat hukum adalah milik Allah SWT semata.

    Karena itu, umat Islam wajib mencampakkan sistem demokrasi kufur ini ke tong sampah peradaban. Demokrasi telah menjadi jalan yang menggelincirkan umat Islam pada kekufuran. Sistem ini juga telah menjadi alat penjajahan Barat untuk menghalangi tegaknya syariah Islam dengan alasan kedaulatan di tangan rakyat bukan pada hukum syara’.

    Demokrasi juga secara efektif menumbuhsuburkan kekufuran dengan alasan kebebasan beragama, melegitimasi kemaksiatan dengan dalih kebebasan bertingkah laku. Memecah belah negeri Islam (disintegrasi) dengan alasan hak menentukan nasib sendiri. Dan memberikan jalan penjajahan ekonomi dengan dasar kebebasan pemilikan yang menjadi pilar ekonomi liberal.

    Akankah umat Islam terperosok pada lubang yang sama berulang-ulang? Lubang yang membahayakan akidah umat Islam, membahayakan secara politik maupun ekonomi? Bukankah Rasulullah SAW bersabda: “seorang mukmin tidak akan terperosok di dalam lubang yang sama dua kali” (HR Bukhari). Campakkan demokrasi sekarang, bukan nanti!

     
  • aqidahsalafshalih 9:31 am on January 30, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Cuma FPI-FUI yang Tidak Ambigu Menyikapi Kemaksiatan 

    1326400414906738312

    Di era yang katanya modern dan semakin beradab ini, justru kemaksiatan semakin merebak di mana-mana. Bahkan seringkali kemaksiatan dilegalkan oleh aparat dan pejabat pemerintah melalui sistem perundang-undangan negeri ini yang sekuler dan tidak berdasarkan syari’ah Islam, semisal desas desus adanya pencabutan Peraturan Daerah (Perda) tentang minuman keras (miras) yang dilakukan pihak Mendagri. Seperti diketahui,  reaksi masyarakat mulai muncul ketika Mendagri dikabarkan telah mencabut Perda No 7 tahun 2005 di Kota Tangerang, Perda nomor 15 tahun 2006 di Kabupaten Indramayu, dan Perda nomor 11 tahun 2010 Kota Bandung.

    Dengan melakukan pencabutan Perda Anti-Miras, sama halnya pihak Mendagri melegalkan penjuakan minuman keras yang artinya membiarkan banyaknya dampak aksi-aksi kejahatan yang ditimbulkan. Tindakan itu hanya akan menyakiti perasaan umat dan merusak upaya ulama yang selama ini telah bekerja keras berdakwah kepada umatnya untuk menjauhi miras. Oleh karenanya kedatangan Laskar Front Pembela Islam (FPI) dan massa Forum Umat Islam (FUI) ke Kementrian Dalam Negeri dalam rangka memertanyakan tentang kebenaran berita tersebut.

    Inilah sumbangsih FPI terhadap generasi penerus bangsa yang telah dirintis sejak lama, yakni agar bangsa ini terhindar dari penyakit masyarakat yang bermula dari mengerjakan kemaksiatan yang jelas-jelas, baik secara agama dilarang maupun secara moralitas umum adalah sesuatu yang merugikan masyarakat. Coba lihat saja kriminalitas yang marak terjadi, awalnya berangkat dari kegemaran melakukan kemaksiatan yang seolah sepele, seperti minum minuman keras, mengonsumsi narkoba, berzina, dan akhirnya merembet ke pemerkosaan, pembunuhan, pencurian.

    Namun sebaliknya justru banyak sekali justifikasi berupa celaan dan hinaan yang dialamatkan kepada FPI. Apakah dunia ini sudah terbalik? Padahal FPI jelas-jelas ingin menegakkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar (Menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran). Kita sering mendengar kalimat bahwa apabila seorang muslim melihat kemungkaran, maka segeralah mengubahnya dengan tangan (kekuasaan, kemampuan, kekuatan), jika tidak bisa maka dengan lisan (nasihat, peringatan, ceramah), dan jika tidak sanggup maka cukup berdoa di dalam hati agar sebagai seorang muslim kita terhindar dari kemaksiatan, dan yang terakhir adalah selemah-lemahnya iman.

    Apa yang telah diperbuat FPI semestinya didukung penuh oleh pemerintah, karena FPI tak ingin kondisi umat Islam, apalagi bangsa ini semakin terpuruk dalam kemaksiatan. Tetapi bukannya didukung malahan dianggap sebagai pengacau keamanan. Bahkan Mendagri tetap meminta pihak kepolisian untuk memproses aksi FPI saat berdemo menolak pencabutan Perda tentang miras. Jelas-jelas di depan mata bahwa orang-orang yang membela kebenaran dan perintah Allah disudutkan dan dipojokkan. Polisi menutup mata apabila dilihat dari rangkaian peristiwanya mengapa laskar FPI mendatangi Mendagri adalah karena disebabkan oleh bola panas yang sengaja digelontorkan sendiri oleh Mendagri mengenai Perda tentang miras. Sementara polisi justru malah asik terima dana bayaran dari pengusaha-pengusaha hitam dan tidak kunjung memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat dari marabahaya serta akar kerusakan moral bangsa ini, yakni berbagai macam bentuk kemaksiatan. Meskipun langkah yang diambil FPI-FUI dianggap tindakan anarkis, namun semakin jelas bagi bangsa ini mana yang sesungguhnya ambigu dan tegas memerangi kemaksiatan. Tetapi Allah selalu bersama orang-orang yang berjihad menegakkan ajaran dan membela agamaNya. Allahu A’lam.

     
  • aqidahsalafshalih 9:30 am on January 30, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    Menyongsong Khilafah Memimpin Dunia 

    13261079181334852397

    “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”  (QS At Taubah 9:122)

    Allah Ta’ala dalam surat Taubah berfirman bahwa tidak semua orang harus pergi keluar bersama-sama, tetapi sebagian dari mereka harus mengabdikan diri untuk belajar agama, sehingga setelah mereka kembali, mereka yang telah belajar itu bisa mengajarkan orang lain untuk menjaga diri mereka sendiri dari kejahatan.

    “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS at Taubah 9:46)

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Al-Fatir 35: 28)

    Mereka yang memiliki pengetahuan tidaklah sama dengan mereka yang tidak berpengetahuan, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Darda Radiallahu ‘Anhu. “Para ‘Ulama adalah pewaris para nabi.” Mengingat ayat-ayat yang mulia ini dan keotentikan hadis maka Hizbut Tahrir menyelenggarakan salah satu konferensi yang paling penting dalam sejarah setelah kehancuran telah Khilafah.

    Ada empat kali kesempatan diskusi yang dilakukan oleh para ulama akan kebutuhan adanya Khilafah dan kewajiban untuk bekerja untuk mewujudkannya. Sebenarnya ini adalah satu-satunya diskusi serius yang terjadi dan tidak disponsori dengan I’tikad yang tidak baik. Dalam 80 tahun terakhir telah terjadi empat konvensi yang terfokus pada Khilafah tetapi dengan agenda yang nasionalis atau agenda pribadi.

    1. KONVENSI di MEKKAH TAHUN 1924

    Empat bulan setelah penghapusan Khilafah, pada bulan Juli 1924, selama waktu haji suatu konvensi diadakan di Mekkah. Oleh Syarif Husain dari Mekkah (1853-1931) konvensi ini dikatakan bertujuan untuk melegitimasi klaimnya atas kepemimpinan universal kaum Muslim. Dalam konvensi ini, para peserta dari Arab mendominasi. Isu yang dominan, selain dari Syarif Husain yang mengaku sebagai Khalifah, adalah gagasan kesatuan Arab yang tidak bisa dijalankan sebagai prakondisi untuk kesatuan muslim.

    2. KONGRES KEKHALIFAHAN di KAIRO TAHUN 1926

    Kongres ini digagas oleh Ulama Mesir dengan tujuan untuk membahas isu Khilafah. Diyakini bahwa ketika itu Raja Mesir Fuad (memerintah 1923-1936) ingin melegitimasi klaimnya sendiri atas kekhalifahan dengan mensponsori konvensi ini.

    3. KONGRES di JERUSALEM TAHUN 1931

    Kongres Umum Kaum Muslim di Yerusalem (al-Quds) diselenggarakan oleh Sayyid Amin Al-Husaini, seorang Mufti besar Palestina, pada bulan Desember 1931. Tujuan dari Kongres ini, seperti yang dinyatakan dalam surat undangan, adalah untuk membahas tiga isu utama: yang kondisi umat Islam di dunia, tempat-tempat suci Islam di Palestina dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan umat Islam. Sekitar 133 delegasi dari 22 negara, terutama dalam kapasitas pribadi, menghadiri Kongres ini.

    4. KONGRES MUSLIM EROPA di JENEWA, TAHUN 1935

    Kongres ini merupakan tindak lanjut dari Kongres Umum Kaum Muslim di Yerusalem, di mana disitu diusulkan agar konvensi regional dan lokal perlu diorganisasikan dalam rangka untuk mengembangkan solidaritas muslim dan rasa persatuan. Tujuan kongres termasuk diantaranya; memperkuat hubungan antara kaum Muslim di Eropa, meningkatkan kerjasama, nilai-nilai Islam dan kebudayaan secara umum. Perlindungan tempat-tempat suci Islam di Palestina juga ada pada agenda dan tujuan dari konggres secara naïf dikirim ke Liga Bangsa-Bangsa dan pemerintah Inggris yang berkenaan dengan masalah ini. Kongres ini dihadiri oleh 66 delegasi dari 11 negara Eropa (Yugoslavia, Polandia, Hungaria, Jerman, Austria, Belanda, Swiss, Rumania, Inggris, Italia dan Perancis) maupun para undangan dari sembilan negara Muslim.

    Masing-masing motif dari konferensi-konferensi di atas sangat sedikit kaitannya dalam menyatukan umat Islam dan tanah mereka. Sebaliknya konferensi itu semua disponsori oleh orang-orang yang telah merebut kekuasaan secara tidak sah, atau orang-orang yang mendalangi penghancuran negara Khilafah.

    KONFERENSI ULAMA di INDONESIA, TAHUN 2009

    Berbeda dengan konferensi tentang khilafah sebelumnya , baru-baru ini diadakan muktamar ulama di Indonesia , negara dengan penduduk muslim terbesar. Sebuah negara dimana suatu survei yang dilakukan oleh University of Maryland (2008) menunjukkan sekurang-kurangnya 70% dari penduduknya menginginkan Shariah. Pada tanggal 28 Rajab dalam peringatan hari kehancuran Khilafah di tangan Mustafa Kamal, Hizbut Tahrir Indonesia mengumpulkan para Ulama dari keempat penjuru Indonesia dari Aceh sampai Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Papua. Ini adalah konferensi pertama yang mengumpulkan Ulama dari setiap sudut Indonesia (total berjumlah 6.000) dan juga di seluruh dunia Muslim. Diskusi berkembang seputar isu pemerintahan, tanggung jawab pemerintah, dan ekonomi, adalah diantara banyak topik-topik lainnya. Banyak ulama yang memberikan sambutan pada konferensi dari negara tuan rumah dan negara-negara Muslim lainnya dan akhirnya diakhiri dengan dikeluarkan resolusi yang diadopsi dan ditandatangani.

    Suatu resolusi disahkan pada Konferensi Ulama itu, yang diadakan pada tanggal 28 Rajab 1430 Hijriah (21 Juli 2009 M)

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”

    dan Rasulullah SAW bersabda:

    “Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Darda’)

    Para ulama dari berbagai negeri Muslim yang berpartisipasi dalam Muktamar Ulama di Indonesia, menyatakan hal-hal berikut:

    Bahwa Khilafah adalah sebuah kewajiban yang agung dan berjuang untuk menegakkannya kembali adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Kewajiban ini begitu penting, sehingga para sahabat Nabi SAW telah bersepakat untuk mendahulukan upaya menegakkan Khilafah daripada memakamkan jenazah Rasulullah SAW, sekalipun mereka memahami bahwa memakamkan jenazah juga menjadi kewajiban mereka. Tindakan para sahabat Nabi SAW ini menunjukkan arti penting upaya menegakkan Khilafah sebagai sebuah kewajiban yang harus ditunaikan.

    Selain itu, Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa kematian seseorang yang tidak memiliki bai’at kepada seorang Khalifah, apabila dia ada, atau tidak berjuang menegakkan Khilafah, jika Khilafah tidak ada, laksana kematian jahiliyah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah di Hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR Imam Muslim dari Abdullah bin Umar ra.)

    Sedangkan bai’at dalam pengertian syar’i adalah bai’at kepada seorang Khalifah. Di samping itu, tugas-tugas penting dalam Islam seperti menegakkan hudud, menerapkan syariah, memobilisasi pasukan, menyebarluaskan dakwah Islam, membebaskan negeri-negeri kufur (futuhat), dan sebagainya membutuhkan keberadaan seorang Imam. Rasulullah SAW bersabda:

    “Dan sesungguhnya seorang Imam adalah laksana perisai, orang-orang berperang di belakangnya, dan berlindung kepadanya.” (Muttafaqun alaihi)

    Kami sangat menghargai kerja keras dan perjuangan tak kenal lelah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakkan Negara Islam. Kami memberikan dukungan dan bantuan terhadap perjuangan tersebut, dan para ulama seharusnya berada di garda terdepan dalam perjuangan ini, insya Allah. Dengan ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum Islam yang dikaruniakan Allah SWT, kami akan berusaha mendekati para pemilik kekuatan di negeri-negeri Muslim untuk memberikan dukungan (nushrah) kepada para pejuang penegakan Khilafah. Semoga Allah SWT memuliakan mereka dengan barakah-Nya, sebagaimana Dia memuliakan kaum Anshar di Madinah.

    Muktamar Ulama dengan ini mengingatkan dan menyampaikan kabar gembira:

    Mengingatkan orang-orang kafir yang telah merampas dan menjajah negeri-negeri kami, serta para agen-agennya dari kalangan para penguasa diktator, bahwa kaum Muslim akan mengingat berbagai kejahatan yang pernah mereka lakukan terhadap Islam dan kaum Muslim. Kami juga mengingatkan mereka bahwa jika Khilafah berhasil ditegakkan dengan izin Allah, maka mereka akan mendapatkan sanksi sebagaimana yang ditentukan syariah Islam. Dan Allah adalah Maha Penolong.

    Memberikan kabar gembira kepada kaum Muslim bahwa fajar kebangkitan Khilafah akan segera menyingsing. Saatnya telah tiba dan janji Allah pun akan segera terwujud.

    “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nuur [24]: 55)

    Saat itu terwujudlah kabar gembira dari Rasulullah SAW dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad.

    “Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (HR Ahmad)

    “Dan pada hari (kemenangan) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki. Dan Dia-lah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

    28 Rajab 1430 H/21 Juli 2009 M

    —————————————————————————————————————————————–

    Surat kabar Akhbar al-Yawm di Yaman mengutip dari kantor berita AFP Prancis sebuah laporan tentang bangkitnya aktivis Islam ke tampuk pemerintahan. Di dalamnya dinyatakan ucapan Muhammad Qahthan anggota Panel Tinggi Perkumpulan Yaman untuk Reformasi yang memiliki orientasi islami. Ia mengatakan: “bahwa partainya yang dibentuk pasca penyatuan Yaman pada tahun 1990 tidak mengusung slogan “Islam adalah solusi” seperti halnya Ikhwan di Mesir. Partainya juga tidak memiliki agenda politik Islami. Sebab Yaman adalah negeri muslim dan harmonis”. Sebagaimana ia juga berniat untuk terus dalam koalisinya dengan orang-orang kiri dan nasionalis. Qahthan juga mengatakan, “kubu manapun di Yaman tidak bisa mencirikan diri dengan Islam ataupun kearaban. Kami adalah masyarakat yang seluruhnya muslim dan kami meyakini bahwa kami keturunan Arab dan kubu manapun tidak bisa menarik masyarakat melalui slogan-slogan “Islam adalah solusi”. Masalah Islam di negara tidak jadi masalah di Yaman”.

    Perhatian yang ditunjukkan oleh barat baik Amerika dan Eropa, seputar siapa yang akan menjadi penguasa baru di negeri Islam ini, menunjukkan dengan jelas akan kekhawatiran barat terhadap munculnya entitas politis kaum Muslim “al-Khilafah” setelah dahulu barat berhasil menghancurkannya dengan bantuan para pengkhianat dari kaum Muslim. Kekhawatiran itu muncul khususnya setelah berlalu sepuluh tahun sejak diluncurkannya perang salib terhadap kaum Muslim pada tahun 2001 dan ketidakmampuan Barat meraih kemenangan dalam perang tersebut. Problem-problem intelektual barat makin kusut di hadapan ide-ide Islam dengan makin meningkatnya keyakinan para pengikut barat atas ketidakbenaran ideologi kapitalisme. Juga masalah ekonomi dengan krisis-krisisnya yang berturut-turut dan akut, krisis “Dolar dan Euro”, disamping problem-problem lainnya yang mengancam kapitalisme akan lenyap.

    Barat mulai melakukan tindakan paling keji dan mengeluarkan permainan politik paling akhirnya dengan menerima sampainya “Islam moderat” yakni sampainya aktivis Islam ke pemerintahan tanpa sampainya Islam ke pemerintahan. Itu adalah upaya untuk melanggengkan hegemoninya atas dunia Islam. Hillary Clinton menteri luar negeri AS dalam pernyataannya pada tanggal 8 November silam mengatakan ucapan untuk persiapan hal itu “mempromosikan tidak adanya penerimaan terhadap demokrasi pada diri aktivis Islam yang taat sebagai perkara yang salah”. Juga ucapan Jonathan Wilks duta besar Inggris untuk Yaman pada tanggal 7 Oktober silam mengatakan, “Inggris dari sisi doktrin tidak menentang adanya kelompok Islami dari “Ikhwan” atau kelompok lain yang menerima demokrasi, partisipasi dan menghormati pandangan pihak lain”.

    Sampainya Islam ke pemerintahan itu berarti akan menyapu semua sistem hidup kapitalisme yang sedang eksis di negeri-negeri Islam baik pemerintahan, ekonomi, hubungan-hubungan internasional, politik pendidikan, tata pergaulan dan lainnya, serta diganti dengan sistem-sistem Islam yang dibangun diatas hukum-hukum syara’ yang digali dari al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas.

    Daulah al-Khilafah adalah sistem pemerintahan satu-satunya yang akan menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara revolusioner dan menyeluruh. Daulah al-Khilafah itu sangat jelas bagi orang-orang yang berjuang menegakkannya. Sebaliknya, barat sangat mengkhawatirkannya. Barat tidak lain terus menerus menghalangi kemunculannya dengan berbagai rencana dan strategi yang terbuka. Akan tetapi barat tidak akan kuasa menghalangi kemunculannya. Dan pada akhirnya barat akan berinteraksi dengan daulah al-Khilafah di pentas internasional secara terpaksa, setelah ideologi manusia baik sosialisme maupun kapitalisme menjerumuskan ke kebinasaan. Al-Khilafah akan meliputi seluruh permukaan bumi. Maka barat yang kalah jangan sampai bisa memperdaya Anda. Jangan menyerah kepada rencana-rencana barat dan mengekor di belakangnya. Percayalah bahwa Allah pasti menolong Anda jika Anda menaati perintah-perintahNya dan Anda memenuhi seruanNya dengan mengembalikan hukumnya ke atas muka bumi. Rasulullah saw bersabda: “Urusan (agama) ini pasti akan mencapai apa yang dicapai dalam semalam. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di kampung kecuali Allah memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan Zat yang Maha Mulia yang dengannya Dia muliakan Islam atau dengan kehinaan orang yang hina yang dengannya Dia hinakan kekufuran.”

    Konferensi Khilafah Mahasiswa Sulawesi Tenggara
    Ahad, 4 Maret 2012
    Auditorium Mokodompit Universitas Haluoleo
    Diselenggarakan oleh:
    Hizbut Tahrir Indonesia Universitas Haluoleo

    Sekretariat:

    Kompleks Perumahan Kendari Permai Blok P3-5.
    Telp: 081943340839 (Mahmud) 085241872774 (Asma)
    E-mail: panpelkkm2012@yahoo.com
    Facebook: Konferensi Khilafah Mahasiswa Sultra
    Blog: kkmsultra2012.wordpress.com

     
  • aqidahsalafshalih 9:25 am on January 30, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Konspirasi Anti Wahabi Untuk Memecah Belah Umat 

    Munculnya kuda hitam anti “wahabi” secara resmi dideklarasikan oleh muslim tradisi pada tahun 1926, juga menjadi antisipasi kelompok tradisional yang menghimpun diri dalam “Nahdhatul Ulama” , berlambang bumi terikat tali dengan  sembilan bintang diatasnya mencerminkan kalau kelompok ini dihuni oleh para ulama ulama tradisional , disamping tokoh idola “walisongo”. Tidak terdapat hiasan lain yang bisa diartikan bahwa keberadaannya merupakan perwujudan dari Islam murni, melainkan sejak dini sudah menunjukkan wajahnya sebagai gerakan yang bernuansa “sekte mazhabiyah dalam Islam“. Bukanlah kitab dan Sunah yang menjadi pelambang dari ormas ini, tetapi adalah sebuah ormas Islam dengan standar ulama belaka, dan  kompilasi fikiyah. Terbukti dalam ad/ art-nya menyandarkan pada mazhab mazhab yang ada, terutama lebih mengidentikkan dirinya dengan syafi’iyyah. Ini juga mewarnai sistim pendidikan di NU yang berwajah pesantren dengan umbul umbul “Salafiyah Safiiyyah”, tidak sama dengan anggaran dasarnya yang mematok harga empat mazhab.

    Karena sebelum berdirinya kelompok tradisional ini, pulau jawa menjadi geger dengan kehadiran KH. Ahmad Dahlan, bahkan telah dikobarkan semangat anti KH. Ahmad Dahlan di berbagai daerah dalam rangka membendung arus dakwahnya dan , terutama jawa timur, kelompok Islam adad  menjadi gocang dan marah dengan sikap Dakwah KH. Ahmad Dahlan. Seperti dipicu kemarahan yang amat sangat , terjadi ledakan dan gelombang anti KH. Ahmad Dahlan dengan menyebut gerakan Dakwah Muhammadiyah adalah “wahabi” yang akan menghancurkan  Islam di Indonesia. Dampaknya tersebar di seluruh tanah jawa , hingga menyebar ke bumi “Andalas” waktu itu.

    Jadi tahun 1926 adalah moment penting titik sejarah kebangkitan anti “wahabi” di Indonesia, bukan sekedar mendirikan lembaga Islam yang bernama “Nahdhatul Ulama”  . Tahun itu adalah tahun  ”kemarahan Serumpun bangsa ini” yang menjadi motivasi berdirinya sebuah lembaga yang mewadahi “anti wahabi”. Gagasan petinggi NU waktu itu menetapkan kaidah kaidah ASWAJA (ahlu sunah Waljamaah ) versi NU, dengan menggunakan dasar dasar hadist yang berkaitan dengan ahlu sunnah, kendati dalam kiprahnya tidaklah beraqidah ahlu sunah, melainkan sekedar retorika NU dalam melindungi kelompok adat yang gemar melakukan kesyrikan dan yang masih lenget dengan ajaran kejawen, sebagai akibat metode penyampaian Islam di jaman “Walisongo”.

    Tahun 1926 itu adalah tahun penggenapan amanat adat “anti wahabi” . Dalam paparannya seorang penulis PP Alfatimiyah Bahrul Ulum Tambaberas Jombang menulis sebuah judul “Lahirnya NU, Latar Tradisi, Sosial dan Internasional menyatakan dalam pointnya “LAHIRNYA NAHDLATUL ULAMA: SEBUAH REAKSI ANTI-PEMBAHARU, di jelaskan oleh penulisnya :” Sudah seringkali dinyatakan bahwa NU didirikan oleh kiai tradisionalis yang menyaksikan posisi mereka terancam dengan munculnya Islam reformis. Pengaruh Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang semakin meluas, demikian menurut argumen ini, telah memarginalisasikan kiai, yang sebelumnya merupakan satu-satunya pemimpin dan juru bicara komunitas Muslim, dan ajaran kaum pembaru sangat melemahkan legitimasi mereka. Dikatakan, NU didirikan untuk mewakili kepentingan-kepentingan kiai, vis a vis pemerintah dan juga kaum pembaru dan untuk menghambat perkembangan organisasi-organisasi yang hadir lebih dahulu“. Pernyataan tersebut menggambarkan realita yang sebenarnya terjadi pada masyarakat Islam tradisi sebelum “kemerdekaan”, sudah dihadapkan pada masalah internal umat yang berusaha menjatuhkan kelompok lain.Ini adalah penjelasan tentang lahirnya NU yang diberikan beberapa penulis seperti Benda, Wertheim dan Geertz. Ada juga jenis penjelasan ynag lebih cenderung menyatakan adanya konspirasi, yang pernah sangat populer di lingkungan para pembaru. Menurut tesis ini, penguasa Belandalah, karena melihat Muhammadiyah dan Sarekat Islam mengancam pemerintahan Belanda atas Hindia, yang -melalui usaha-usaha Ch.O. van der Plass yang legendaris mendorong berdirinya NU yang apolitik dan kooperatif untuk melemahkan organisasi-organisasi Muslim yang lebih radikal.

    Sebagai bukti, adalah seruan seruan Prof. Said Aqil siradj, menebar aroma tidak sedap, berupa kebencian dengan slogan “anti wahabi” merupakan fakta nyata yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa NU  hanya sebuah wadah untuk melindungi paham paham umat tradisi atau islam adat, mereka yang tekun beribadah dengan menempuh ritual ritual ala nenek moyang mereka. Karena reaksi seperti Said aqil siroj itu sama dengan reaksi reaksi yang berkembang diawal beridrinya Muhammadiyah tahun 1912. reaksi yang sama diberikan Islam adat  itu kepada Faqih Hasjim adalah murid pembaharu Minangkabau terkenal Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah, ayah Hamka), tahun 1910. Dalam masa itu juga hujatan dan acaman terjadi dimana mana, tidak sekedar membakar massa, juga hingga terjadi gontok gontokan antara pendukung adat dan reformis dalam ini adalah Muhammadiyah (wahabi masa itu).

    Warga Nahdliyin Sesungguhnya Rindu Khilafah

     
  • aqidahsalafshalih 9:24 am on January 30, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , ,   

    Hukum Merayakan Natal dan Hari Lainnya yang Tidak Berdasarkan Syari’ah 

    Muslim Indonesia sangat gemar merayakan sesuatu yang tidak ada tuntunan syari’ah Islam-nya. Contohnya seperti Maulid Nabi, yakni merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad. Rasulullah saja tidak pernah merayakan hari lahirnya sendiri. Tetapi di Indonesia ada banyak ormas Islam yang seringkali mengatakan kepada publik bahwa perayaan hari ulang tahun adalah haram, namun ternyata mereka merayakan apa yang disebut hari milad atau hari lahir daripada individu atau komunitas mereka sendiri. Padahal jelas bagi umat Islam dikatakan dalam hadis dari Anas Radliallahu ‘anhu ia berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah sedang penduduknya memiliki dua hari raya dimana mereka bersenang-senang di dalamnya di masa jahiliyah. Maka beliau bersabda: “Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu : hari Raya Kurban dan hari Idul Fithri.” Hadis Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad (3/103,178,235), Abu Daud (1134), An-Nasa’i (3/179) dan Al-Baghawi (1098).

    Di samping Idul Fithri dan Idul Adha, ada hari-hari di mana dalam beberapa hadis dikatakan memiliki keutamaan-keutamaan dari hari lainnya seperti misalnya hari Jum’at. Dari Abu hirairah r.a. dia berkata: rasulullah SAW bersabda: ”barang siapa mandi kemudian mendatangi shalat Jum’at, kemudian melakukan shalat semampunya, kemudian diam mendengarkan khotbah sampai imam menyelesaikan  khotbahnya, kemudian melakukan shalat bersama imam, maka diampuni dosa-dosanya yang terjadi antara dia dengan Jum’at yang lain beserta tiga hari berikutnya.” (HR Muslim)

    Namun umat Islam di Indonesia terjebak pada perayaan dan pengistimewaan hari-hari tertentu yang bukan datang dari Islam dan tidak pernah dipraktikkan oleh Rasulullah serta generasi salaf. Contohnya adalah hari ibu dan juga hari raya umat agama lain. Islam melarang umatnya menyerupai dan meniru-niru penganut agama lain dan berbangga karenanya. Barang siapa melakukan hal itu, maka dia bisa dikatakan telah termasuk dalam kaum yang diserupainya. Nabi bersabda: “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya]

    Hukum Merayakan Natal dan Hari Ibu, atau Hari Lainnya yang Tidak Berdasarkan Syari’ah

    Jelas bahwa menghadiri Natal dan ikut merayakannya adalah sesuatu yang diharamkan bagi umat Islam. Sebagaimana hari Valentine dan semacamnya. Ketentuan tersebut didasarkan pada firman Allah Q. S. al-Furqan [25]: 72. Ayat ini menjelaskan tentang salah satu dari sifat ‘ibâd al-Rahmân ialah al-ladzîna lâ yasyhadûna al-zûr, atau secara harfiah adalah orang-orang yang tidak bersaksi palsu. Menurut sebagian besar mufassir, makna kata al-zûr (kepalsuan) pada ayat tersebut adalah syirik. Demikian papar al-Syaukani dalam kitab tafsirnya, Fath al-Qadîr. Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsîr al-Qur’an al-‘Azhîm menyitir pendapat beberapa mufassir seperti Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad Ibn Sirrin, al-Dhahhak, al-Rabi’ Ibn Anas, dan lainnya, memaknai al-zûr di sini adalah hari raya kaum Musyrik. Lebih luas, Amru Ibn Qays menafsirkannya sebagai majelis-majelis yang buruk dan kotor.

    Sedangkan kata lâ yasyhadûna, menurut jumhur ulama’ bermakna lâ yahdhurûna al-zûr, alias tidak menghadiri majelis-majelis yang buruk atau perayaan-perayaan kaum non-muslim. Demikian penjelasan al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr. Memang ada yang memahami ayat ini berkenaan dengan pemberian kesaksian palsu yang di dalam Hadis Shahih dikategorikan sebagai dosa besar. Akan tetapi, dari konteks kalimatnya, lebih tepat jika dimaknai lâ yahdhurûnahu, tidak menghadirinya. Sebab, dalam lanjutan frasa ayat tersebut disebutkan: “Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (Q. S. al-Furqan [25]: 72).

    Dengan demikian, keseluruhan ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri al-zûr. Dan jika mereka melewatinya, maka mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun olehnya (lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3).

    Berdasarkan ayat ini pula, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri menghadiri perayaan hari raya penganut agama lain. Ibnu Taimiyyah menyitir penjelasan beberapa ulama terkemuka mengenai persoalan ini. Ahmad Ibn Hanbal berkata: “Kaum Muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.“ (lihat Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm). Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum Muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.”

    Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ahkâm Ahl al-Dzimmah menyitir penjelasan yang dikemukakan Abu al-Qasim al-Thabari. Beliau berkata, “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemunkaran dan kedustaan (zawr). Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli munkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridlai dan terpengaruh dengan kemunkaran itu. Maka kita takut akan turunnya murka Allah atas jama’ah mereka, yang meliputi secara umum. Kita berlindung kepada Allah dari murka-Nya.

    Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar Ibn al-Khaththab, beliau juga telah melarang kaum Muslim merayakan hari raya orang-orang non-muslim. Imam Baihaqiy telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ Ibn Dinar, bahwa Umar ra pernah berkata, “Janganlah kalian menmempelajari bahasa-bahasa orang-orang Ajam. Janganlah kalian memasuki kaum Musyrik di gereja-gereja pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah SWT akan turun kepada mereka pada hari itu.” (HR. Baihaqi). Beliau juga mengatakan: “Jauhilah musuh-musuh Allah pada di hari raya mereka.”Jelaslah, Islam telah melarang umatnya melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang non-muslim apapun bentuknya. Melibatkan diri di sini mencakup perbuatan; mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang non-muslim, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Adapun perayaan hari raya orang non-muslim di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang non-muslim.

    Di antara ayat sering digunakan untuk melegitimasi bolehnya mengucapkan selamat natal adalah firman Allah Swt: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Q. S. Maryam [19]: 33).

    Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan kebolehan mengucapkan selamat natal kepada kaum Nasrani. Di dalam ayat ini memang disebutkan tentang keselamatan pada hari kelahiran Isa. Akan tetapi, itu memberitakan keselamatan Nabi Isa ketika beliau dilahirkan, diwafatkan dan dibangkitkan. Tidak ada kaitannya dengan ucapan selamat Natal. Sebab, Natal adalah perayaan dalam rangka memperingati kelahiran Yesus di Bethlehem. Telah maklum, bahwa keyakinan Nasrani terhadap Nabi Isa adalah sebagai Tuhan. Dan keyakinan ini ditolak oleh ajaran Islam, seperti firman QS al-Maidah [5]: 72, QS al-Maidah [5]: 73-74).

    Berangkat dari fakta tersebut, perayaan Natal yang merayakan ‘kelahiran Tuhan’ merupakan sebuah kemungkaran besar bagi umat Islam. Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Q. S. Hud [11]: 113).

    Lakum diinukum wa liya al-diin, Bagimu agamamu, bagiku agamaku. (Surat Al Kafirun, ayat ke-6)

    Lalu bagaimana dengan perayaan hari Ibu, atau mengutamakan hari khusus yang didedikasikan kepada para ibu?

    Jelas sekali jika kita berpatokan pada dalil al-Qur’an dan Sunnah, bahwa selain hari-hari yang memang disunnahkan untuk dirayakan, maka hukumnya adalah haram. Barang siapa yang melakukannya berarti telah terjerumus dalam bid’ah. Sedangkan Islam sangat menghargai sosok Ibu. Ada sejumlah hadis yang berisi tentang keutamaan seorang Ibu. Namun Keutamaan para ibu ini bukan berarti legalitas untuk membikin ajaran-ajaran baru yang datangnya bukan dari Islam.

    Bagi yang merasa ada manfaat penting diselenggarakannya hari ibu, barangkali mempunyai argumen: mungkin Nabi lupa akan pentingnya hari ibu ini, sehingga luput dari ajaran beliau untuk menjadikan satu hari yang didedikasikan sebagai hari ibu. Tetapi tentunya mana mungkin Rasul utusan Allah terlupa untuk mengajarkan sesuatu yang penting, apalagi beliau sering kali mengeluarkan hadis tentang kemuliaan seorang ibu.

    Atau jikalau bukan lupa, barangkali karena kemungkinan Nabi tidak mengetahui adanya kebaikan atau manfaat diselenggarakannya hari ibu bagi umat Islam?Ini pun, jelas tidak mungkin juga. Bagaimana Nabi yang membawa risalah kenabian tidak mengetahui pada kebaikan yang besar ini? Padahal beliau sangat mementingkan yang namanya berbakti kepada orang tua, terutama kepada ibu. Jika untuk masalah yang kecil seperti tata cara bersuci dari najis saja diajarkan oleh beliau, bagaimana mungkin Nabi tidak mengetahui kebaikan yang besar dengan mengkhususkan satu hari untuk diperingati sebagai hari ibu?

    Jadi, kalau bukan karena Nabi lupa akan pentingnya diselenggarakan hari ibu, atau beliau juga bukan karena ketidaktahuannya bahwa betapa bermanfaatnya hari ibu bagi umatnya. Lantas mengapa beliau tak ajarkan kepada umatnya untuk memperingati hari ibu?

    Jawabannya adalah karena memang Allah dan Rasul-Nya tidak mensyariatkan akan hari ibu. Jikalau ada kebaikan dan kemanfaatan yang dikandung oleh satu perayaan atau pengkhususan yang dinamakan dengan hari ibu, tentu ini akan diajarkan oleh Islam. Seperti yang kita yakini, bahwa Islam telah sempurna. Ke-syumuliah-an Islam tak membutuhkan lagi penambahan atau pengurangan ajaran (syari’ah). Postingan ini sekedar mengajak kita untuk berpikir kritis akan apa yang selama ini barangkali masih kita lakukan. Ukuran kebaikan bukanlah prasangka menurut kita bahwa sesuatu hal yang kita katakan baik adalah baik dan bermanfaat. Akan tetapi ukuran sebuah perbuatan mempunyai nilai kebaikan dan manfaat adalah jika perbuatan itu telah dilakukan oleh Rasul dan para sahabat serta generasi salaf yang mengikutinya. Jika sesuatu hal baik dan bermanfaat maka Rasulullah dan para Sahabatnya yang mendahului kita dalam melakukannya. Betapa pun mulianya kedudukan seorang ibu, namun tak pernah kita dengar Nabi kita dan para Sahabatnya, atau generasi salaf mengkhususkan hari tertentu untuk didedikasikan kepada para ibu. Sama sekali tidak ada catatan hadis dan sejarah yang menukilnya. Ataukah kita merasa lebih baik dari mereka sehingga kita yakin akan adanya kebaikan dalam mengkhususkan hari untuk berbakti kepada ibu dengan menamakannya sebagai hari ibu?

    Allahu ‘Alam

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal