Antara NU dan Muhammadiyah Dalam Membicarakan Wahabi

sumber: kompasiana

 

Menarik sekali bila membaca sikap dua ormas besar , antara Muhammadiyah dan NU, ketika menyikapi kata “Wahabi”. Seperti ada daya tarik maghnit untuk membicarakan keberadaan wahabi di Negara Ini. Bukan saja karena “wahabi” kian berkembang terus, memasuki wilayah NKRI, tetapi juga karena “Wahabi” telah menciptakan banyak opini di kalangan umat Islam di dunia. Semua mata dan pikiran menjadi terbelalak menyempal wahabi seolah sebagai aliran yang membahayakan. Ada yang takut disebut wahabi . seperti PKS karena takut kehilangan dukungan umat, sehingga menepis anggapan kalau PKS tak suka tahlilan. Terlebih ketika kata “wahabi” dihembuskan sebagai mesin pendorong terorisme, semua orang bicara kalau “wahabi” adalah mesin pembunuh. Tetapi apakah begitu ?

Prinsip memang harus ditegakkan, tetapi menurut langgam bahasa akademisi, yang bermuara pada suatu keingininan bersama, dengan cara mengkaji secara detil sejarah wahabi tanpa dilandasi “kebencian” terlebih dahulu, sehingga memungkinkan darah tidak naik keujung kepala, menutup wacana sehat yang argumentative, benarkah wahabi itu salah ?.

Muhammadiyah misalnya adalah ormas Islam, termasuk ormas yang berdarah normal ketika memahami kata “wahabi”, tak terseret arus kebencian dan rasa takut dari orang orang yang paranoid dengan kata “wahabi”.  Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.  pada materi Paham Agama dalam Muhammadiyah mengatakan “bahwa tidak diragukan lagi, KHA Dahlan banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab, khususnya dalam bidang akidah. Hal ini tentu saja memberi pengaruh pada gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, tidak berarti Muhammadiyah berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca: Wahabi/Salafi). Banyak hal lain yang memberikan inspirasi KHA Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah satunya.

Bahkan Yunahar menegaskan, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi. Dalam hal dakwah khususnya, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat kebenaran”.

Pada kesempatan lain beliau mengatakan kalau “wahabi adalah gerakan dahwah, pemurnian aqidah, bukan sumber terorisme  sebagaimana dikatakan mantan kepala BIN Hendro Priyono”. Tegas pak Yunahar menyanggah media yang mengutip perkataan mantan BIN tersebut. Ini menggambarkan kalau Muhammadiyah punya tanggung jawab moral, sehingga harus menjelaskan ke Publik tentang wahabi, apakah benar wahabi itu brutal atau justru sebaliknya “wahabi” yang berperan aktif menjaga kemurnian aqidah dari retorika para perambat bid’ah

Nahdhatul Ulama atau NU bersikap sebaliknya, sangat antipati dan atisipasi terhadap wahabi. Di mata NU gambaran wahabi, seperti monster dan mesin pembunuh paham paham yang tidak sejalan dengan wahabi. Dengan gelap mata dan langka seribu  NU sangat reaaktif menebang dan membendung arus pemikiran “wahaby”, bahkan karena kebencian, NU yang biasanya sangat ta’dhim pada para ulama, menjadi liar dan tidak santun  menyikapi wahabi. Sepertinya kata “ulama” itu hanya milik NU saja, sehingga selain NU tak pantas disebut ulama. Hal ini bisa dilihat dalam synopsis NU dalam Situs resminya:
http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34226/Buku/Menelanjangi_Kesesatan_Salafi_Wahabi.html

Ini sebuah model pemikiran: bahwa orang orang yang mengklaim dirinya wahabi, atau melatari ormasnya dengan “wahabi” adalah sesat, perlu direhabilitasi Imannya karena tidak sesuai dengan kelompok mereka. Bahkan sikap NU dengan terbuka menyatakan perang terhadap paham wahabi dengan semua orang yang terlibat didalamnya seperti pernyataannya di situs resmi NU,

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/32661/Warta/Memecah_Gelombang_Gerakan_Wahabi_di_Kampung_Nelayan__1_.html

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/32662/Warta/Memecah_Gelombang_Gerakan_Wahabi_di_Kampung_Nelayan__2_.html

Disini nyata sekali kalau NU tidak sedikitpun ridho dengan langkah langkah Wahabi datang ke Indonesia. Kata Pluralisme yang sering digembar gemborkan NU, ternyata hanya sebuah slogan yang tidak rela ada kelompok lain yang melebihi NU, sebagaimana tercermin dalam tulisan di situsnya. Yang lebih bahaya, karena NU adalah Ormas yang menanamkan budaya paternalistic yang sangat domistik dengan nilai nilai budaya kampungan , yang tercermin dalam paparan tulisannya, dalam mengahalau wahabi dari bumi Indonesia.

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/21768/Warta/Kiai_Nuril__Jangan_Gentar_Hadapi_Wahabi.html

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/21360/Warta/Nahdliyin_Diingatkan_Bahaya_Wahabi.html

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/16371/Warta/NU_Didirikan_untuk_Melawan_Wahabisme.html

Itulah bukti sifat kekanak-kanakan NU yang notabeni dengan habitat lamanya ketika berhadapan dengan goncangan Muhammadiyah di awal lahirnya. Ini menunjukkan kalau Muhammadiyah adalah sumber utama yang melahirkan “wahabi” di Indonesia, sehingga waktu itu saja harus melawan benturan dan sanggahan pemikiran atas nama Islam yang mengecualikan wahabi (seolah bukan Islam).

Penyebutan “Wahabi” sebenarnya tersirat kata “beda Islam dengan Wahabi”, itu maksud mereka, bukan sekedar sebutan “wahabi” yang tak bermuatan. Melainkan sisipan dibalik kata wahabi adalah menyempal kelompok ini sebagai aliran sesat yang tidak boleh dianut oleh umat republic ini. Bentuk pemikiran NU ini sangat arogan sekali, karena menempatkan lawan bicaranya sebagai musuh bebuyutan umat secara keseluruhan. Padahal ada Muhammadiyah yang juga banyak berfatwa sebagaimana fatwa wahabi. Mestinya NU mengedepankan rasa legowo menerima perbedaan, bukan dengan cara menangkal, membuat keributan dimana mana dengan pernyataan sumbang yang kian menjauhkan umat dari rasa damai. Kedamaian apa yang diharapkan NU, apakah dengan cara menebang melaporkan kepada aparat menyebut semua orang wahabi yang menyinggung NU harus diperiksa dan ditahan sebagaimana banyak dilakukan Densus 99 , andalan NU guna menumpas pemikiran yang tidak sama dengan NU…Puritan pluralime gadungan.

Kalau menyimak kata kata Prof Yunahar, jelas sekali kalau pemikiran Muhammadiyah bermuatan “wahabi” , terutama dalam masalah Aqidah dan Ibadah. Karena bagi Muhammadiyah Islam itu adalah Quran dan Sunah, muhammadiyah tidak takut disebut wahaby, kalau maksudnya adalah mengikuti quran dan sunah.