Cuma FPI-FUI yang Tidak Ambigu Menyikapi Kemaksiatan

1326400414906738312

Di era yang katanya modern dan semakin beradab ini, justru kemaksiatan semakin merebak di mana-mana. Bahkan seringkali kemaksiatan dilegalkan oleh aparat dan pejabat pemerintah melalui sistem perundang-undangan negeri ini yang sekuler dan tidak berdasarkan syari’ah Islam, semisal desas desus adanya pencabutan Peraturan Daerah (Perda) tentang minuman keras (miras) yang dilakukan pihak Mendagri. Seperti diketahui,  reaksi masyarakat mulai muncul ketika Mendagri dikabarkan telah mencabut Perda No 7 tahun 2005 di Kota Tangerang, Perda nomor 15 tahun 2006 di Kabupaten Indramayu, dan Perda nomor 11 tahun 2010 Kota Bandung.

Dengan melakukan pencabutan Perda Anti-Miras, sama halnya pihak Mendagri melegalkan penjuakan minuman keras yang artinya membiarkan banyaknya dampak aksi-aksi kejahatan yang ditimbulkan. Tindakan itu hanya akan menyakiti perasaan umat dan merusak upaya ulama yang selama ini telah bekerja keras berdakwah kepada umatnya untuk menjauhi miras. Oleh karenanya kedatangan Laskar Front Pembela Islam (FPI) dan massa Forum Umat Islam (FUI) ke Kementrian Dalam Negeri dalam rangka memertanyakan tentang kebenaran berita tersebut.

Inilah sumbangsih FPI terhadap generasi penerus bangsa yang telah dirintis sejak lama, yakni agar bangsa ini terhindar dari penyakit masyarakat yang bermula dari mengerjakan kemaksiatan yang jelas-jelas, baik secara agama dilarang maupun secara moralitas umum adalah sesuatu yang merugikan masyarakat. Coba lihat saja kriminalitas yang marak terjadi, awalnya berangkat dari kegemaran melakukan kemaksiatan yang seolah sepele, seperti minum minuman keras, mengonsumsi narkoba, berzina, dan akhirnya merembet ke pemerkosaan, pembunuhan, pencurian.

Namun sebaliknya justru banyak sekali justifikasi berupa celaan dan hinaan yang dialamatkan kepada FPI. Apakah dunia ini sudah terbalik? Padahal FPI jelas-jelas ingin menegakkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, yakni Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar (Menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran). Kita sering mendengar kalimat bahwa apabila seorang muslim melihat kemungkaran, maka segeralah mengubahnya dengan tangan (kekuasaan, kemampuan, kekuatan), jika tidak bisa maka dengan lisan (nasihat, peringatan, ceramah), dan jika tidak sanggup maka cukup berdoa di dalam hati agar sebagai seorang muslim kita terhindar dari kemaksiatan, dan yang terakhir adalah selemah-lemahnya iman.

Apa yang telah diperbuat FPI semestinya didukung penuh oleh pemerintah, karena FPI tak ingin kondisi umat Islam, apalagi bangsa ini semakin terpuruk dalam kemaksiatan. Tetapi bukannya didukung malahan dianggap sebagai pengacau keamanan. Bahkan Mendagri tetap meminta pihak kepolisian untuk memproses aksi FPI saat berdemo menolak pencabutan Perda tentang miras. Jelas-jelas di depan mata bahwa orang-orang yang membela kebenaran dan perintah Allah disudutkan dan dipojokkan. Polisi menutup mata apabila dilihat dari rangkaian peristiwanya mengapa laskar FPI mendatangi Mendagri adalah karena disebabkan oleh bola panas yang sengaja digelontorkan sendiri oleh Mendagri mengenai Perda tentang miras. Sementara polisi justru malah asik terima dana bayaran dari pengusaha-pengusaha hitam dan tidak kunjung memberikan jaminan perlindungan kepada masyarakat dari marabahaya serta akar kerusakan moral bangsa ini, yakni berbagai macam bentuk kemaksiatan. Meskipun langkah yang diambil FPI-FUI dianggap tindakan anarkis, namun semakin jelas bagi bangsa ini mana yang sesungguhnya ambigu dan tegas memerangi kemaksiatan. Tetapi Allah selalu bersama orang-orang yang berjihad menegakkan ajaran dan membela agamaNya. Allahu A’lam.