Konspirasi Anti Wahabi Untuk Memecah Belah Umat

Munculnya kuda hitam anti “wahabi” secara resmi dideklarasikan oleh muslim tradisi pada tahun 1926, juga menjadi antisipasi kelompok tradisional yang menghimpun diri dalam “Nahdhatul Ulama” , berlambang bumi terikat tali dengan  sembilan bintang diatasnya mencerminkan kalau kelompok ini dihuni oleh para ulama ulama tradisional , disamping tokoh idola “walisongo”. Tidak terdapat hiasan lain yang bisa diartikan bahwa keberadaannya merupakan perwujudan dari Islam murni, melainkan sejak dini sudah menunjukkan wajahnya sebagai gerakan yang bernuansa “sekte mazhabiyah dalam Islam“. Bukanlah kitab dan Sunah yang menjadi pelambang dari ormas ini, tetapi adalah sebuah ormas Islam dengan standar ulama belaka, dan  kompilasi fikiyah. Terbukti dalam ad/ art-nya menyandarkan pada mazhab mazhab yang ada, terutama lebih mengidentikkan dirinya dengan syafi’iyyah. Ini juga mewarnai sistim pendidikan di NU yang berwajah pesantren dengan umbul umbul “Salafiyah Safiiyyah”, tidak sama dengan anggaran dasarnya yang mematok harga empat mazhab.

Karena sebelum berdirinya kelompok tradisional ini, pulau jawa menjadi geger dengan kehadiran KH. Ahmad Dahlan, bahkan telah dikobarkan semangat anti KH. Ahmad Dahlan di berbagai daerah dalam rangka membendung arus dakwahnya dan , terutama jawa timur, kelompok Islam adad  menjadi gocang dan marah dengan sikap Dakwah KH. Ahmad Dahlan. Seperti dipicu kemarahan yang amat sangat , terjadi ledakan dan gelombang anti KH. Ahmad Dahlan dengan menyebut gerakan Dakwah Muhammadiyah adalah “wahabi” yang akan menghancurkan  Islam di Indonesia. Dampaknya tersebar di seluruh tanah jawa , hingga menyebar ke bumi “Andalas” waktu itu.

Jadi tahun 1926 adalah moment penting titik sejarah kebangkitan anti “wahabi” di Indonesia, bukan sekedar mendirikan lembaga Islam yang bernama “Nahdhatul Ulama”  . Tahun itu adalah tahun  ”kemarahan Serumpun bangsa ini” yang menjadi motivasi berdirinya sebuah lembaga yang mewadahi “anti wahabi”. Gagasan petinggi NU waktu itu menetapkan kaidah kaidah ASWAJA (ahlu sunah Waljamaah ) versi NU, dengan menggunakan dasar dasar hadist yang berkaitan dengan ahlu sunnah, kendati dalam kiprahnya tidaklah beraqidah ahlu sunah, melainkan sekedar retorika NU dalam melindungi kelompok adat yang gemar melakukan kesyrikan dan yang masih lenget dengan ajaran kejawen, sebagai akibat metode penyampaian Islam di jaman “Walisongo”.

Tahun 1926 itu adalah tahun penggenapan amanat adat “anti wahabi” . Dalam paparannya seorang penulis PP Alfatimiyah Bahrul Ulum Tambaberas Jombang menulis sebuah judul “Lahirnya NU, Latar Tradisi, Sosial dan Internasional menyatakan dalam pointnya “LAHIRNYA NAHDLATUL ULAMA: SEBUAH REAKSI ANTI-PEMBAHARU, di jelaskan oleh penulisnya :” Sudah seringkali dinyatakan bahwa NU didirikan oleh kiai tradisionalis yang menyaksikan posisi mereka terancam dengan munculnya Islam reformis. Pengaruh Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang semakin meluas, demikian menurut argumen ini, telah memarginalisasikan kiai, yang sebelumnya merupakan satu-satunya pemimpin dan juru bicara komunitas Muslim, dan ajaran kaum pembaru sangat melemahkan legitimasi mereka. Dikatakan, NU didirikan untuk mewakili kepentingan-kepentingan kiai, vis a vis pemerintah dan juga kaum pembaru dan untuk menghambat perkembangan organisasi-organisasi yang hadir lebih dahulu“. Pernyataan tersebut menggambarkan realita yang sebenarnya terjadi pada masyarakat Islam tradisi sebelum “kemerdekaan”, sudah dihadapkan pada masalah internal umat yang berusaha menjatuhkan kelompok lain.Ini adalah penjelasan tentang lahirnya NU yang diberikan beberapa penulis seperti Benda, Wertheim dan Geertz. Ada juga jenis penjelasan ynag lebih cenderung menyatakan adanya konspirasi, yang pernah sangat populer di lingkungan para pembaru. Menurut tesis ini, penguasa Belandalah, karena melihat Muhammadiyah dan Sarekat Islam mengancam pemerintahan Belanda atas Hindia, yang -melalui usaha-usaha Ch.O. van der Plass yang legendaris mendorong berdirinya NU yang apolitik dan kooperatif untuk melemahkan organisasi-organisasi Muslim yang lebih radikal.

Sebagai bukti, adalah seruan seruan Prof. Said Aqil siradj, menebar aroma tidak sedap, berupa kebencian dengan slogan “anti wahabi” merupakan fakta nyata yang tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa NU  hanya sebuah wadah untuk melindungi paham paham umat tradisi atau islam adat, mereka yang tekun beribadah dengan menempuh ritual ritual ala nenek moyang mereka. Karena reaksi seperti Said aqil siroj itu sama dengan reaksi reaksi yang berkembang diawal beridrinya Muhammadiyah tahun 1912. reaksi yang sama diberikan Islam adat  itu kepada Faqih Hasjim adalah murid pembaharu Minangkabau terkenal Haji Rasul (Haji Abdul Karim Amrullah, ayah Hamka), tahun 1910. Dalam masa itu juga hujatan dan acaman terjadi dimana mana, tidak sekedar membakar massa, juga hingga terjadi gontok gontokan antara pendukung adat dan reformis dalam ini adalah Muhammadiyah (wahabi masa itu).

Warga Nahdliyin Sesungguhnya Rindu Khilafah