Menyongsong Khilafah Memimpin Dunia

13261079181334852397

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”  (QS At Taubah 9:122)

Allah Ta’ala dalam surat Taubah berfirman bahwa tidak semua orang harus pergi keluar bersama-sama, tetapi sebagian dari mereka harus mengabdikan diri untuk belajar agama, sehingga setelah mereka kembali, mereka yang telah belajar itu bisa mengajarkan orang lain untuk menjaga diri mereka sendiri dari kejahatan.

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, Maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS at Taubah 9:46)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS Al-Fatir 35: 28)

Mereka yang memiliki pengetahuan tidaklah sama dengan mereka yang tidak berpengetahuan, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Darda Radiallahu ‘Anhu. “Para ‘Ulama adalah pewaris para nabi.” Mengingat ayat-ayat yang mulia ini dan keotentikan hadis maka Hizbut Tahrir menyelenggarakan salah satu konferensi yang paling penting dalam sejarah setelah kehancuran telah Khilafah.

Ada empat kali kesempatan diskusi yang dilakukan oleh para ulama akan kebutuhan adanya Khilafah dan kewajiban untuk bekerja untuk mewujudkannya. Sebenarnya ini adalah satu-satunya diskusi serius yang terjadi dan tidak disponsori dengan I’tikad yang tidak baik. Dalam 80 tahun terakhir telah terjadi empat konvensi yang terfokus pada Khilafah tetapi dengan agenda yang nasionalis atau agenda pribadi.

1. KONVENSI di MEKKAH TAHUN 1924

Empat bulan setelah penghapusan Khilafah, pada bulan Juli 1924, selama waktu haji suatu konvensi diadakan di Mekkah. Oleh Syarif Husain dari Mekkah (1853-1931) konvensi ini dikatakan bertujuan untuk melegitimasi klaimnya atas kepemimpinan universal kaum Muslim. Dalam konvensi ini, para peserta dari Arab mendominasi. Isu yang dominan, selain dari Syarif Husain yang mengaku sebagai Khalifah, adalah gagasan kesatuan Arab yang tidak bisa dijalankan sebagai prakondisi untuk kesatuan muslim.

2. KONGRES KEKHALIFAHAN di KAIRO TAHUN 1926

Kongres ini digagas oleh Ulama Mesir dengan tujuan untuk membahas isu Khilafah. Diyakini bahwa ketika itu Raja Mesir Fuad (memerintah 1923-1936) ingin melegitimasi klaimnya sendiri atas kekhalifahan dengan mensponsori konvensi ini.

3. KONGRES di JERUSALEM TAHUN 1931

Kongres Umum Kaum Muslim di Yerusalem (al-Quds) diselenggarakan oleh Sayyid Amin Al-Husaini, seorang Mufti besar Palestina, pada bulan Desember 1931. Tujuan dari Kongres ini, seperti yang dinyatakan dalam surat undangan, adalah untuk membahas tiga isu utama: yang kondisi umat Islam di dunia, tempat-tempat suci Islam di Palestina dan masalah-masalah lain yang berkaitan dengan umat Islam. Sekitar 133 delegasi dari 22 negara, terutama dalam kapasitas pribadi, menghadiri Kongres ini.

4. KONGRES MUSLIM EROPA di JENEWA, TAHUN 1935

Kongres ini merupakan tindak lanjut dari Kongres Umum Kaum Muslim di Yerusalem, di mana disitu diusulkan agar konvensi regional dan lokal perlu diorganisasikan dalam rangka untuk mengembangkan solidaritas muslim dan rasa persatuan. Tujuan kongres termasuk diantaranya; memperkuat hubungan antara kaum Muslim di Eropa, meningkatkan kerjasama, nilai-nilai Islam dan kebudayaan secara umum. Perlindungan tempat-tempat suci Islam di Palestina juga ada pada agenda dan tujuan dari konggres secara naïf dikirim ke Liga Bangsa-Bangsa dan pemerintah Inggris yang berkenaan dengan masalah ini. Kongres ini dihadiri oleh 66 delegasi dari 11 negara Eropa (Yugoslavia, Polandia, Hungaria, Jerman, Austria, Belanda, Swiss, Rumania, Inggris, Italia dan Perancis) maupun para undangan dari sembilan negara Muslim.

Masing-masing motif dari konferensi-konferensi di atas sangat sedikit kaitannya dalam menyatukan umat Islam dan tanah mereka. Sebaliknya konferensi itu semua disponsori oleh orang-orang yang telah merebut kekuasaan secara tidak sah, atau orang-orang yang mendalangi penghancuran negara Khilafah.

KONFERENSI ULAMA di INDONESIA, TAHUN 2009

Berbeda dengan konferensi tentang khilafah sebelumnya , baru-baru ini diadakan muktamar ulama di Indonesia , negara dengan penduduk muslim terbesar. Sebuah negara dimana suatu survei yang dilakukan oleh University of Maryland (2008) menunjukkan sekurang-kurangnya 70% dari penduduknya menginginkan Shariah. Pada tanggal 28 Rajab dalam peringatan hari kehancuran Khilafah di tangan Mustafa Kamal, Hizbut Tahrir Indonesia mengumpulkan para Ulama dari keempat penjuru Indonesia dari Aceh sampai Sulawesi, Kalimantan, Jawa dan Papua. Ini adalah konferensi pertama yang mengumpulkan Ulama dari setiap sudut Indonesia (total berjumlah 6.000) dan juga di seluruh dunia Muslim. Diskusi berkembang seputar isu pemerintahan, tanggung jawab pemerintah, dan ekonomi, adalah diantara banyak topik-topik lainnya. Banyak ulama yang memberikan sambutan pada konferensi dari negara tuan rumah dan negara-negara Muslim lainnya dan akhirnya diakhiri dengan dikeluarkan resolusi yang diadopsi dan ditandatangani.

Suatu resolusi disahkan pada Konferensi Ulama itu, yang diadakan pada tanggal 28 Rajab 1430 Hijriah (21 Juli 2009 M)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”

dan Rasulullah SAW bersabda:

“Para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Darda’)

Para ulama dari berbagai negeri Muslim yang berpartisipasi dalam Muktamar Ulama di Indonesia, menyatakan hal-hal berikut:

Bahwa Khilafah adalah sebuah kewajiban yang agung dan berjuang untuk menegakkannya kembali adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Kewajiban ini begitu penting, sehingga para sahabat Nabi SAW telah bersepakat untuk mendahulukan upaya menegakkan Khilafah daripada memakamkan jenazah Rasulullah SAW, sekalipun mereka memahami bahwa memakamkan jenazah juga menjadi kewajiban mereka. Tindakan para sahabat Nabi SAW ini menunjukkan arti penting upaya menegakkan Khilafah sebagai sebuah kewajiban yang harus ditunaikan.

Selain itu, Rasulullah SAW juga menggambarkan bahwa kematian seseorang yang tidak memiliki bai’at kepada seorang Khalifah, apabila dia ada, atau tidak berjuang menegakkan Khilafah, jika Khilafah tidak ada, laksana kematian jahiliyah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melepaskan tangan dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah di Hari Kiamat kelak tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at, maka ia mati seperti kematian jahiliyah.” (HR Imam Muslim dari Abdullah bin Umar ra.)

Sedangkan bai’at dalam pengertian syar’i adalah bai’at kepada seorang Khalifah. Di samping itu, tugas-tugas penting dalam Islam seperti menegakkan hudud, menerapkan syariah, memobilisasi pasukan, menyebarluaskan dakwah Islam, membebaskan negeri-negeri kufur (futuhat), dan sebagainya membutuhkan keberadaan seorang Imam. Rasulullah SAW bersabda:

“Dan sesungguhnya seorang Imam adalah laksana perisai, orang-orang berperang di belakangnya, dan berlindung kepadanya.” (Muttafaqun alaihi)

Kami sangat menghargai kerja keras dan perjuangan tak kenal lelah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan menegakkan Negara Islam. Kami memberikan dukungan dan bantuan terhadap perjuangan tersebut, dan para ulama seharusnya berada di garda terdepan dalam perjuangan ini, insya Allah. Dengan ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum Islam yang dikaruniakan Allah SWT, kami akan berusaha mendekati para pemilik kekuatan di negeri-negeri Muslim untuk memberikan dukungan (nushrah) kepada para pejuang penegakan Khilafah. Semoga Allah SWT memuliakan mereka dengan barakah-Nya, sebagaimana Dia memuliakan kaum Anshar di Madinah.

Muktamar Ulama dengan ini mengingatkan dan menyampaikan kabar gembira:

Mengingatkan orang-orang kafir yang telah merampas dan menjajah negeri-negeri kami, serta para agen-agennya dari kalangan para penguasa diktator, bahwa kaum Muslim akan mengingat berbagai kejahatan yang pernah mereka lakukan terhadap Islam dan kaum Muslim. Kami juga mengingatkan mereka bahwa jika Khilafah berhasil ditegakkan dengan izin Allah, maka mereka akan mendapatkan sanksi sebagaimana yang ditentukan syariah Islam. Dan Allah adalah Maha Penolong.

Memberikan kabar gembira kepada kaum Muslim bahwa fajar kebangkitan Khilafah akan segera menyingsing. Saatnya telah tiba dan janji Allah pun akan segera terwujud.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.” (QS. An-Nuur [24]: 55)

Saat itu terwujudlah kabar gembira dari Rasulullah SAW dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad.

“Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (HR Ahmad)

“Dan pada hari (kemenangan) itu, bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki. Dan Dia-lah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Ar-Rum [30]: 4-5)

28 Rajab 1430 H/21 Juli 2009 M

—————————————————————————————————————————————–

Surat kabar Akhbar al-Yawm di Yaman mengutip dari kantor berita AFP Prancis sebuah laporan tentang bangkitnya aktivis Islam ke tampuk pemerintahan. Di dalamnya dinyatakan ucapan Muhammad Qahthan anggota Panel Tinggi Perkumpulan Yaman untuk Reformasi yang memiliki orientasi islami. Ia mengatakan: “bahwa partainya yang dibentuk pasca penyatuan Yaman pada tahun 1990 tidak mengusung slogan “Islam adalah solusi” seperti halnya Ikhwan di Mesir. Partainya juga tidak memiliki agenda politik Islami. Sebab Yaman adalah negeri muslim dan harmonis”. Sebagaimana ia juga berniat untuk terus dalam koalisinya dengan orang-orang kiri dan nasionalis. Qahthan juga mengatakan, “kubu manapun di Yaman tidak bisa mencirikan diri dengan Islam ataupun kearaban. Kami adalah masyarakat yang seluruhnya muslim dan kami meyakini bahwa kami keturunan Arab dan kubu manapun tidak bisa menarik masyarakat melalui slogan-slogan “Islam adalah solusi”. Masalah Islam di negara tidak jadi masalah di Yaman”.

Perhatian yang ditunjukkan oleh barat baik Amerika dan Eropa, seputar siapa yang akan menjadi penguasa baru di negeri Islam ini, menunjukkan dengan jelas akan kekhawatiran barat terhadap munculnya entitas politis kaum Muslim “al-Khilafah” setelah dahulu barat berhasil menghancurkannya dengan bantuan para pengkhianat dari kaum Muslim. Kekhawatiran itu muncul khususnya setelah berlalu sepuluh tahun sejak diluncurkannya perang salib terhadap kaum Muslim pada tahun 2001 dan ketidakmampuan Barat meraih kemenangan dalam perang tersebut. Problem-problem intelektual barat makin kusut di hadapan ide-ide Islam dengan makin meningkatnya keyakinan para pengikut barat atas ketidakbenaran ideologi kapitalisme. Juga masalah ekonomi dengan krisis-krisisnya yang berturut-turut dan akut, krisis “Dolar dan Euro”, disamping problem-problem lainnya yang mengancam kapitalisme akan lenyap.

Barat mulai melakukan tindakan paling keji dan mengeluarkan permainan politik paling akhirnya dengan menerima sampainya “Islam moderat” yakni sampainya aktivis Islam ke pemerintahan tanpa sampainya Islam ke pemerintahan. Itu adalah upaya untuk melanggengkan hegemoninya atas dunia Islam. Hillary Clinton menteri luar negeri AS dalam pernyataannya pada tanggal 8 November silam mengatakan ucapan untuk persiapan hal itu “mempromosikan tidak adanya penerimaan terhadap demokrasi pada diri aktivis Islam yang taat sebagai perkara yang salah”. Juga ucapan Jonathan Wilks duta besar Inggris untuk Yaman pada tanggal 7 Oktober silam mengatakan, “Inggris dari sisi doktrin tidak menentang adanya kelompok Islami dari “Ikhwan” atau kelompok lain yang menerima demokrasi, partisipasi dan menghormati pandangan pihak lain”.

Sampainya Islam ke pemerintahan itu berarti akan menyapu semua sistem hidup kapitalisme yang sedang eksis di negeri-negeri Islam baik pemerintahan, ekonomi, hubungan-hubungan internasional, politik pendidikan, tata pergaulan dan lainnya, serta diganti dengan sistem-sistem Islam yang dibangun diatas hukum-hukum syara’ yang digali dari al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Sahabat dan Qiyas.

Daulah al-Khilafah adalah sistem pemerintahan satu-satunya yang akan menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan secara revolusioner dan menyeluruh. Daulah al-Khilafah itu sangat jelas bagi orang-orang yang berjuang menegakkannya. Sebaliknya, barat sangat mengkhawatirkannya. Barat tidak lain terus menerus menghalangi kemunculannya dengan berbagai rencana dan strategi yang terbuka. Akan tetapi barat tidak akan kuasa menghalangi kemunculannya. Dan pada akhirnya barat akan berinteraksi dengan daulah al-Khilafah di pentas internasional secara terpaksa, setelah ideologi manusia baik sosialisme maupun kapitalisme menjerumuskan ke kebinasaan. Al-Khilafah akan meliputi seluruh permukaan bumi. Maka barat yang kalah jangan sampai bisa memperdaya Anda. Jangan menyerah kepada rencana-rencana barat dan mengekor di belakangnya. Percayalah bahwa Allah pasti menolong Anda jika Anda menaati perintah-perintahNya dan Anda memenuhi seruanNya dengan mengembalikan hukumnya ke atas muka bumi. Rasulullah saw bersabda: “Urusan (agama) ini pasti akan mencapai apa yang dicapai dalam semalam. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di kampung kecuali Allah memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan Zat yang Maha Mulia yang dengannya Dia muliakan Islam atau dengan kehinaan orang yang hina yang dengannya Dia hinakan kekufuran.”

Konferensi Khilafah Mahasiswa Sulawesi Tenggara
Ahad, 4 Maret 2012
Auditorium Mokodompit Universitas Haluoleo
Diselenggarakan oleh:
Hizbut Tahrir Indonesia Universitas Haluoleo

Sekretariat:

Kompleks Perumahan Kendari Permai Blok P3-5.
Telp: 081943340839 (Mahmud) 085241872774 (Asma)
E-mail: panpelkkm2012@yahoo.com
Facebook: Konferensi Khilafah Mahasiswa Sultra
Blog: kkmsultra2012.wordpress.com