Updates from Februari, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • aqidahsalafshalih 1:01 pm on February 25, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , survei,   

    75 % Orang Indonesia Mendukung Berdirinya Khilafah Islamiyah 

    JAKARTA — Sebuah survei yang dilakukan Lembaga Penelitian (lemlit) Universitas Muhammadiyah Dr Hamka (Uhamka) Jakarta, menyimpulkan bahwa sebagian besar warga ternyata mengharapkan pelaksanaan hukum syariah. Jumlahnya mencapai 77 persen dari responden.

    “Penelitian ini dilakukan di Jakarta pada tanggal 18-29 Juli 2011 dengan partisipan penelitian sebanyak 202 warga Muslim Jakarta,” kata juru bicara Tim Survei tentang “Ancaman bagi Ideologi Negara melalui Radikalisme Agama” dari Lemlit Uhamka, Subhan El Hafiz di Jakarta, Selasa.

    Dosen Fakultas Psikologi Uhamka itu mengatakan, survei bahkan menyimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat mengharapkan adanya negara Islam, sekitar 76 persen. Menurut dia, hal ini tentu menjadi tantangan besar terhadap ideologi bangsa yang harus dihadapi, namun demikian, penanganan terhadap isu ini tidak dapat dilakukan dengan kekerasan dan tindakan represif serta kekhawatiran yang berlebihan terhadap konflik antaragama.

    Hal ini dikarenakan, penelitian lebih jauh terhadap fakta di atas menunjukkan bahwa 55 persen partisipan mengatakan bahwa pemerintah saat ini sudah cukup baik atau adil terhadap agama-agama yang ada di Indonesia, ujarnya.

    Selain itu hanya 12 persen yang mengkaitkan pelaksanaan syariah dalam konteks hukum, sedangkan sebagian besar (51 persen) mengkaitkan syariah dalam konteks pedoman moral, membela keadilan, dan meningkatkan kesejahteraan.

    Dengan demikian, lanjut dia, perlu diwaspadai pengkristalan terhadap isu syariah yang kemudian bisa muncul dalam gerakan radikalisme agama. “Kewaspadaan terhadap mulai munculnya radikalisme agama yang terlihat dalam penelitian ini diwakili oleh 12 persen masyarakat yang menginginkan pelaksanaan hukum Islam dalam konteks formalisasi hukum Islam ke dalam hukum positif,” ujarnya.

    Jika ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah terus berlanjut maka bukan tidak mungkin angka ini akan terus meningkat hingga mencapai jumlah yang cukup signifikan untuk terjadinya revolusi dalam rangka mengganti ideologi negara, tambahnya.

    Jika dikaitkan dengan ideologi, tingginya harapan masyarakat terhadap pelaksanaan syariah dan negara Islam harus dilihat sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah saat ini.

    Agama dijadikan dasar untuk mengubah negara karena keyakinan yang besar umat beragama bahwa agama akan mampu menyelesaikan masalah kenegaraan. Hal yang sama dapat dilihat pada daerah tapal batas Indonesia yang mengekspresikan kekecewaan pada pemerintah melalui perlawanan bersenjata, isu negara merdeka, atau bergabung dengan negara tetangga.

    Namun pada daerah yang berada di ‘area tengah’ kekecewaan terhadap pemerintah diekspresikan melalui harapan terhadap perubahan bentuk dan ideologi negara yang sesuai dengan agama, ujarnya.

    Tiap partisipan penelitian yang diwawancarai melalui wawancara tatap muka ini dipilih dari kelurahan yang berbeda di Jakarta dimana jumlah partisipan tiap kecamatan disesuaikan dengan jumlah kelurahan pada masing-masing kecamatan tersebut, ujarnya.

    sumber: Republika

    Iklan
     
  • aqidahsalafshalih 12:59 pm on February 25, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Demokrasi Sesungguhnya Penuh Kebusukan 

    Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil, harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam harus mengalah dan wajib kalah.

    Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.

    Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam.
    Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam.
    Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam.

    Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau Amerika Serikat juwana dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Baghdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

    “Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

    Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massaBarat atas kesunyatan Islam.

    Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlege dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

    Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

    Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradapan yang fasiq dan penuh prasangka kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam.

    Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan dinyatakan sendiri oleh kaum yang merasa dirinya Muslim & Muslimah. Ya, cahaya Islam kini justru ditutup dan digelapkan oleh orang Islam sendiri. Tapi percayalah, Endapan-endapan dalam kalbu ummat Islam seantero dunia itu suatu saat akan menemukan titik puncaknya dan insya Allah akan bergerak dalam revolusi peradaban.

    hadirilah,
    IIC (Islamic Intelectual Challanges) GemaPembebasan Edisi 4
    Tema: “Pergerakan Mahasiswa Menggugat Rezim Neoliberal”
    SABTU,25-02-2012
    Jam 8.00-12.00
    @Auditorium Miracle,UNIKOM Bandung
    pembicara:
    1.Iman Soleh(Dosen FISIP UNPAD)
    2.Eri Taufiq Abdul Karim(DPD II HTI Jabar)
    3.Achar Ar-Rasyid(Penggagas Diskusi ‘Perlukah percepatan Penurunan Rezim Sby-Boed’)
    4.Imaduddin Al-Faruq(Gema Pembebasan Kota Bandung, Mahasiswa STKS Bandung 07).

    Cp:081322716047(Dhani)

     
  • aqidahsalafshalih 12:57 pm on February 25, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , ,   

    Khilafah; Kewajiban yang Terlupakan 

    sumber: abufurqan.com

    Definisi Khilafah

    Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah dalam kitab asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz 2 bab al-Khilafah, Khilafah adalah:

    رئاسة عامة للمسلمين جميعا في الدنيا لإقامة أحكام الشرع الإسلامي، وحمل الدعوة الإسلامية إلى العالم

    Artinya: “Kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syara’ Islami, dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh alam.”

    Menurut beliau, istilah Khilafah bersinonim dengan istilah Imamah. Hal ini diamini oleh Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah.

    Dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Syaikh Dr. Wahbah az-Zuhaili hafizhahullah pada bab Sulthah at-Tanfiidz al-‘Ulyaa – al-Imaamah, dikemukakan beberapa definisi Khilafah menurut para ‘ulama, yaitu sebagai berikut:

    Menurut ad-Dahlawi, Khilafah adalah:

    الرياسة العامة في التصدي لإقامة الدين بإحياء العلوم الدينية، وإقامة أركان الإسلام، والقيام بالجهاد، وما يتعلق به من ترتيب الجيوش والفروض للمقاتلة، وإعطائهم من الفيء، والقيام بالقضاء، وإقامة الحدود، ورفع المظالم، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر نيابة عن النبي صلّى الله عليه وسلم

    Artinya: “Kepemimpinan umum untuk menegakkan agama dengan menghidupkan ilmu-ilmu agama, menegakkan rukun-rukun Islam, menegakkan jihad dan hal-hal yang berhubungan dengannya seperti pengaturan tentara dan kewajiban-kewajiban untuk orang yang berperang serta pemberian harta fa’i kepada mereka, menegakkan peradilan dan hudud, menghilangkan kezhaliman, serta melakukan amar ma’ruf nahi munkar, sebagai pengganti dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [sumber asli: Ikliil al-Karaamah fii Tibyan Maqaashid al-Imamah karya Shiddiq Hasan Khan, hal. 23]

    Menurut at-Taftazani, Khilafah adalah:

    رئاسة عامة في أمر الدين والدنيا، خلافة عن النبي صلّى الله عليه وسلم

    Artinya: “Kepemimpinan umum dalam urusan agama dan dunia, sebagai pengganti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” [sumber asli: Syarh al-‘Aqa-id an-Nasafiyah, al-Khilafah karya Rasyid Ridha, hal. 10]

    Menurut al-Mawardi, Imamah adalah:

    موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا

    Artinya: “Ia menggantikan kenabian dalam menjaga agama dan mengurusi dunia.” [sumber asli: al-Ahkam as-Sulthaniyyah, hal. 3, terbitan صبيح]

    Menurut Ibn Khaldun, Khilafah hakikatnya adalah:

    خلافة عن صاحب الشرع في حراسة الدين وسياسة الدنيا به

    Artinya: “Pengganti dari Shaahibus Syar’i dalam menjaga agama dan mengurusi dunia.” [sumber asli: al-Muqaddimah, hal. 191, terbitan التجارية]

    Dalam kitabnya, Fiqih Islam, H. Sulaiman Rasjid, ulama asli Indonesia, mendefinisikan Khilafah sebagai berikut:

    “Suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad Saw. semasa beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Talib). Kepala negaranya dinamakan khalifah.”

    Bisa disimpulkan, walaupun dengan berbagai redaksi yang berbeda, semua ‘ulama sepakat bahwa Khilafah adalah kepemimpinan umum atau pemerintahan bagi seluruh kaum muslimin yang menggantikan fungsi-fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengurusi dunia.

    Hukum Menegakkan Khilafah Menurut Para ‘Ulama

    Dalam kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu disebutkan bahwa ‘ulama dari kalangan Ahlus Sunnah, Murjiah, Syi’ah, Mu’tazilah (kecuali satu kelompok dari mereka), dan Khawarij (selain kelompok Najdat) menyepakati bahwa Imamah merupakan perkara yang wajib dan fardhu yang telah ditentukan [catatan kaki di kitab tersebut: Syarh al-‘Aqa-id an-Nasafiyah karya at-Taftazani, hal. 142 dan seterusnya; Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin karya al-Asy’ari, Juz 2 hal. 133; Hujjatullah al-Balighah karya ad-Dahlawi, Juz 2 hal. 110; Ushuluddin karya al-Baghdadi, hal. 271 dan seterusnya, terbitan استانبول; al-Ahkam as-Sulthaniyyah karya al-Mawardi, hal. 3]

    Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah Juz 6 hal. 217 dinyatakan:

    أجمعت الأمة على وجوب عقد الإمامة، وعلى أن الأمة يجب عليها الانقياد لإمام عادل، يقيم فيهم أحكام الله، ويسوسهم بأحكام الشريعة التي أتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم ولم يخرج عن هذا الإجماع من يعتد بخلافه

    Artinya: “Umat bersepakat akan wajibnya mewujudkan Imamah. Dan wajib atas umat mengangkat seorang Imam yang ‘adil, yang akan menegakkan hukum-hukum Allah atas mereka dan mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum syari’ah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini yang perlu diperhatikan.”

    Dalam kitab al-Fishal fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal Juz 4 hal. 72 (terbitan مكتبة الخانجي), Imam Ibn Hazm al-Andalusi azh-Zhahiri menyatakan:

    اتفق جميع أهل السنة وجميع المرجئة وجميع الشيعة وجميع الخوارج على وجوب الإمامة وأن الأمة واجب عليها الانقياد لإمام عادل يقيم فيهم أحكام الله ويسوسهم بأحكام الشريعة التي أتى بها رسول الله صلى الله عليه وسلم حاشا النجدات من الخوارج

    Artinya: “Seluruh Ahlus Sunnah, Murjiah, Syi’ah dan Khawarij bersepakat akan wajibnya Imamah. Dan (mereka juga bersepakat) wajib bagi umat untuk mengangkat seorang Imam yang ‘adil yang akan menegakkan hukum-hukum Allah di tengah-tengah mereka, serta mengatur urusan mereka dengan hukum-hukum Syari’ah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali kelompok Najdat dari Khawarij.”

    Dalam kitab Raudhah ath-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin Juz 10 hal. 42 (terbitan المكتب الإسلامي), Imam Abu Zakariya Yahya ibn Syaraf an-Nawawi asy-Syafi’i menyatakan:

    لا بد للأمة من إمام يقيم الدين، وينصر السنة، وينتصف للمظلومين، ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت: تولي الإمامة فرض كفاية، فإن لم يكن من يصلح إلا واحدا، تعين عليه ولزمه طلبها إن لم يبتدئوه. والله أعلم

    Artinya: “Sebuah keharusan bagi umat, adanya Imam yang akan menegakkan agama, menolong Sunnah, memberikan keadilan bagi orang yang terzhalimi, serta menunaikan berbagai hak dan menempatkannya sesuai tempatnya. Menurutku, mewujudkan Imamah tersebut merupakan fardhu kifayah. Dan jika tidak ada yang mampu melakukannya kecuali satu orang, maka wajib ‘ain atasnya dan merupakan keharusan baginya untuk mendapatkannya, jika belum ada yang mendahului. Wallahu a’lam.”

    Dalam kitab Bada-i’ ash-Shana-i’ fi Tartib asy-Syara-i’ Juz 7 hal. 2 (terbitan دار الكتب العلمية), Imam ‘Alaa-uddin al-Kassani al-Hanafi menyatakan:

    ولأن نصب الإمام الأعظم فرض، بلا خلاف بين أهل الحق، ولا عبرة – بخلاف بعض القدرية -؛ لإجماع الصحابة – رضي الله عنهم – على ذلك، ولمساس الحاجة إليه؛ لتقيد الأحكام، وإنصاف المظلوم من الظالم، وقطع المنازعات التي هي مادة الفساد، وغير ذلك من المصالح التي لا تقوم إلا بإمام

    Artinya: “Dan karena sesungguhnya mengangkat seorang al-Imam al-A’zham (khalifah) itu merupakan fardhu. Tidak ada perbedaan pendapat di antara ahlul haq. Dan tidak diperhatikan perbedaan pendapat dengan sebagian kelompok Qadariyah, karena adanya ijma’ shahabat radhiyallahu ‘anhum akan hal ini (wajibnya mengangkat seorang khalifah). Juga karena adanya keperluan mendasar kepadanya (khalifah), untuk menerapkan hukum, memberikan keadilan terhadap orang yang dizhalimi atas orang yang menzhaliminya, menghentikan berbagai pertikaian yang mengarah pada fasad, dan karena berbagai kemaslahatan lain yang tidak bisa terwujud tanpa adanya Imam.”

    Dalam kitab Mathalib Uli an-Nuha fi Syarh Ghayah al-Muntaha Juz 6 hal. 263 (terbitan المكتب الإسلامي), Syaikh Mushthafa ibn Sa’d as-Suyuthi ar-Rahibani al-Hanbali menyatakan:

    ونصب الإمام فرض كفاية ؛ لأن بالناس حاجة لذلك لحماية البيضة، والذب عن الحوزة، وإقامة الحدود، وابتغاء الحقوق، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

    Artinya: “Dan mengangkat seorang Imam merupakan fardhu kifayah. Hal ini karena manusia membutuhkannya untuk menjaga kemurnian (agama), mempertahankannya dari pencemaran, menegakkan hudud, menunaikan hak-hak, serta untuk amar ma’ruf dan nahi munkar.”

    Dalam kitab adz-Dzakhirah Juz 13 hal. 234 (terbitan دار الغرب الإسلامي), Imam Syihabuddin al-Qarafi al-Maliki menyatakan:

    وأن نصب الإمام للأمة واجب مع القدرة

    Artinya: “Dan mengangkat seorang Imam merupakan kewajiban bagi umat, sesuai kemampuan.”

    Dalam kitab al-Ahkam as-Sulthaniyah Juz 1 hal. 15 (terbitan دار الحديث), Imam Abu al-Hasan al-Mawardi asy-Syafi’i menyatakan:

    وعقدها لمن يقوم بها في الأمة واجب بالإجماع

    Artinya: “Dan mewujudkannya (Imamah), bagi orang yang mampu melakukannya di tengah-tengah umat, merupakan kewajiban berdasarkan ijma’.”

    Dalam kitab al-Khilafah hal. 18 (terbitan الزهراء للاعلام العربي), Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menyatakan:

    أجمع سلف الأمة، وأهل السنة، وجمهور الطوائف الأخرى على أن نصب الإمام – أي توليته على الأمة – واجب على المسلمين شرعا لا عقلا فقط كما قال بعض المعتزلة

    Artinya: “Salaful Ummah, yaitu Ahlus Sunnah dan mayoritas kelompok lainnya bersepakat bahwa mengangkat seorang Imam –yang akan mengurus urusan umat– wajib atas kaum muslimin menurut syara’, bukan hanya menurut akal seperti yang dikatakan sebagian kalangan mu’tazilah.”

    Dalam buku Fiqih Islam hal. 495 (terbitan Sinar Baru Algesindo, cetakan ke-40), H. Sulaiman Rasjid menyatakan:

    Kaum muslim (ijma’ yang mu’tabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan khilafah itu adalah fardu kifayah atas semua kaum muslim.

    Dari pernyataan para ‘ulama di atas, dapat disimpulkan dengan sangat jelas bahwa para ‘ulama sepakat mendirikan Khilafah dan mengangkat seorang khalifah hukumnya wajib, sebagaimana kewajiban-kewajiban syari’ah lainnya. Dan siapa saja yang meninggalkan kewajiban ini akan mendapatkan dosa, bahkan azab yang sangat pedih karena meninggalkan kewajiban ini merupakan kemaksiatan yang sangat besar. Hal ini dinyatakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz 2 hal. 13 (terbitan دار الأمة). Berikut pernyataan beliau:

    وإقامة خليفة فرض على المسلمين كافة في جميع أقطار العالم. والقيام به – كالقيام بأي فرض من الفروض التي فرضها الله على المسلمين – هو أمر محتم لا تخيير فيه ولا هوادة في شأنه, والتقصير في القيام به معصية من أكبر المعاصي يعذب الله عليها أشد العذاب

     Artinya: “Dan mengangkat seorang khalifah merupakan fardhu bagi seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Mendirikannya –sebagaimana mendirikan kewajiban dari berbagai kewajiban yang lain yang difardhukan oleh Allah bagi kaum muslimin– merupakan perkara yang telah ditentukan, dan tidak ada pilihan maupun keringanan dalam urusan ini. Kelalaian dari aktivitas mendirikannya merupakan salah satu kemaksiatan terbesar, yang akan mendapatkan azab dari Allah dengan azab yang sangat pedih.”

    Dalil-Dalil Wajibnya Menegakkan Khilafah

    Dasar wajibnya menegakkan Khilafah –sebagaimana dikemukakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di kitab asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz 2– terdapat dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan Ijma’ Shahabat serta Kaidah Syar’iyyah.

    Dalam al-Qur’an, Allah ta’ala telah memerintahkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memutuskan perkara di antara kaum muslimin dengan apa yang diturunkan Allah ta’ala. Dan perintah tersebut berbentuk jazim (pasti). Allah ta’ala berfirman kepada Rasul ‘alaihis salam:

    فاحكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم عما جاءك من الحق

    Artinya: “Maka putuskanlah perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” [al-Maa-idah ayat 48]

    وأن احكم بينهم بما أنزل الله ولا تتبع أهواءهم واحذرهم أن يفتنوك عن بعض ما أنزل الله إليك

    Artinya: “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” [al-Maa-idah ayat 49]

    Seruan kepada Rasul merupakan seruan bagi umatnya, selama tidak ada dalil yang mengkhususkan seruan tersebut hanya bagi Rasul. Dan dalam hal ini, tidak ada dalil pengkhususan tersebut, sehingga seruan untuk menegakkan al-hukm (pengaturan urusan/pemerintahan) merupakan seruan kepada kaum muslimin. Dan yang dimaksud dengan mengangkat khalifah adalah menegakkan pemerintahan (الحكم) dan kekuasaan (السلطان).

    Selain itu, Allah ta’ala juga mewajibkan kaum muslimin untuk menaati ulil amri, yaitu penguasa. Ini menunjukkan wajibnya mewujudkan waliyul amri (ulil amri) atas kaum muslimin. Allah ta’ala berfirman:

    يا أيها الذين آمنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

    Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah, ta’atilah Rasul dan ulil amri di antara kalian.” [an-Nisaa’ ayat 59]

    Mafhum dari ayat di atas, Allah ta’ala tak akan memerintahkan menaati sesuatu yang tidak ada. Maka ayat di atas menunjukkan perintah mewujudkan waliyul amri. Perintah mewujudkan ini bukan perintah mandub atau mubah, namun perintah wajib, karena berhukum dengan apa yang diturunkan Allah wajib hukumnya. Mewujudkan waliyul amri berakibat tegaknya hukum syara’, sedangkan meninggalkannya berakibat diabaikannya hukum syara’. Dari sini bisa dipahami bahwa mewujudkan atau mengangkat seorang waliyul amri merupakan sebuah kewajiban, dan meninggalkan hal ini merupakan keharaman, karena hal itu berakibat diabaikannya hukum syara’.

    Dalam as-Sunnah, di antaranya adalah hadits riwayat Imam Muslim dari jalan Nafi’, ia berkata: Ibn ‘Umar berkata kepadaku: aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    من خلع يدا من طاعة لقي الله يوم القيامة لا حجة له، ومن مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية

    Artinya: “Barangsiapa melepaskan tangannya dari ketaatan, ia akan menjumpai Allah pada hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan barangsiapa yang mati, sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at, maka matinya seperti kematian jahiliyah.”

    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan setiap muslim untuk mewujudkan bai’at di pundaknya, dan mensifati orang-orang yang mati tanpa ada bai’at di pundaknya seperti orang yang mati dalam kematian jahiliyah. Dan bai’at hanya diberikan kepada khalifah, tidak kepada selainnya.

    Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan adanya bai’at kepada seorang khalifah di pundak setiap muslim, dan tidak mewajibkan setiap muslim membai’at seorang khalifah. Maksudnya, yang wajib adalah mewujudkan bai’at di pundak setiap muslim, yaitu dengan mengangkat seorang khalifah yang dengannya terwujud bai’at di pundak setiap muslim, baik muslim tersebut secara langsung membai’at sang khalifah ataupun tidak.

    Hadits yang lain lagi adalah hadits riwayat Imam Muslim dari al-A’raj dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    إنما الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به

    Artinya: “Sesungguhnya imam (khalifah) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.”

    Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abi Hazim, ia berkata: Aku mengikuti majelisnya Abu Hurairah selama lima tahun, dan aku pernah mendengarnya menyampaikan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    كانت بنو إسرائيل تسوسهم الأنبياء, كلما هلك نبي خلفه نبي, وإنه لا نبي بعدي, وستكون خلفاء فتكثر، قالوا: فما تأمرنا؟ قال: فوا ببيعة الأول فالأول, وأعطوهم حقهم فإن الله سائلهم عما استرعاهم

    Artinya: “Dulu bani Israil diurus oleh para Nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, Nabi yang lain menggantikannya. Sesungguhnya tidak ada Nabi lagi setelahku, dan akan ada para khalifah yang berjumlah banyak. Para shahabat bertanya: Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi menjawab: Penuhilah bai’at yang pertama, yang pertama saja, dan berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa saja yang mereka urus.”

    Imam Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibn ‘Abbas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

    من كره من أميره شيئا فليصبر عليه، فإنه ليس أحد من الناس خرج من السلطان شبرا فمات عليه إلا مات ميتة جاهلية

    Artinya: “Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu pada pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sungguh tidak seorangpun yang keluar (untuk memberontak) dari penguasa sejengkal saja, kecuali ia akan mati seperti kematian jahiliyah.”

    Hadits-hadits di atas merupakan informasi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa kaum muslimin akan menyerahkan urusannya kepada para waliyul amri, dan di salah satu hadits di atas khalifah disifatkan seperti perisai atau pelindung. Pensifatan khalifah seperti perisai oleh Rasulullah merupakan informasi yang berisi tuntutan. Informasi dari Allah atau Rasul tentang sesuatu, jika mengandung celaan, maka itu merupakan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu tersebut. Sebaliknya, jika informasi tentang sesuatu tersebut mengandung pujian, maka itu merupakan tuntutan untuk melakukan atau mewujudkan sesuatu tersebut. Dan jika pelaksanaan aktivitas yang dituntut tersebut berimplikasi tegaknya hukum syara’, dan meninggalkannya berimplikasi diabaikannya hukum syara’, maka tuntutan tersebut sifatnya pasti.

    Dari hadits-hadits di atas juga dipahami bahwa yang mengurus urusan kaum muslimin adalah para khalifah. Ini berarti tuntutan untuk menegakkannya. Di hadits-hadits di atas juga disebutkan keharaman seorang muslim keluar untuk memberontak terhadap penguasa. Ini berarti mengangkat seorang penguasa merupakan perkara yang wajib. Demikian pula, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menaati para khalifah, dan memerangi orang-orang yang menentang mereka. Ini merupakan perintah untuk mengangkat seorang khalifah, sekaligus perintah menjaga kekhilafahannya, dengan memerangi siapapun yang menentang sang khalifah.

    Terdapat hadits riwayat Imam Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    ومن بايع إماما فأعطاه صفقة يده وثمرة قلبه فليطعه إن استطاع، فإن جاء آخر ينازعه فاضربوا عنق الآخر

    Artinya: “Barangsiapa yang telah membai’at seorang imam (khalifah), serta memberikan genggaman tangannya dan buah hatinya, hendaklah ia menaatinya sesuai kemampuan. Dan jika datang orang lain yang menentang (memberontak) terhadap sang khalifah, maka penggallah leher orang tersebut.”

    Dari hadits di atas dapat dipahami, perintah untuk taat kepada kepada imam, merupakan perintah untuk mewujudkan keberadaan imam tersebut. Dan perintah untuk memerangi siapapun yang menentangnya, merupakan indikasi tegas yang menunjukkan wajibnya hanya ada satu orang khalifah di satu masa.

    Adapun dalil berdasarkan ijma’ shahabat, sesungguhnya para shahabat ridhwanullahi ‘alaihim bersepakat atas wajibnya mengangkat seorang khalifah pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau wafat. Mereka bersepakat menyerahkan kekhilafahan kepada Abu Bakar, kemudian kepada ‘Umar sepeninggal Abu Bakar, setelah itu kepada ‘Utsman.

    Ijma’ shahabat terhadap kewajiban mengangkat seorang khalifah ini tampak jelas dari sikap mereka yang menunda penguburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyibukkan diri untuk mengangkat seorang khalifah. Ini mereka lakukan, padahal menguburkan jenazah setelah kematiannya adalah wajib, dan haram atas orang yang diwajibkan menyibukkan diri dalam penyelenggaraan dan penguburan jenazah untuk menyibukkan diri pada urusan lain, hingga sempurna penguburannya. Namun, para shahabat yang wajib atas mereka menyibukkan diri dalam penyelenggaraan dan penguburan jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian mereka malah lebih menyibukkan diri dalam pengangkatan khalifah, sedangkan sebagian yang lain mendiamkan. Mereka –para shahabat– bahkan sepakat menunda penguburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama dua malam, padahal mereka mampu untuk mengingkarinya, dan mereka juga mampu untuk menguburkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum itu.

    Dari peristiwa di atas, bisa dipahami bahwa terdapat ijma’ shahabat tentang keharusan lebih menyibukkan diri untuk mengangkat seorang khalifah dibandingkan menguburkan jenazah. Dan hal ini tidak mungkin terjadi, kecuali dipahami bahwa mengangkat seorang khalifah lebih wajib dibandingkan menguburkan jenazah.

    Para shahabat seluruhnya juga bersepakat sepanjang kehidupan mereka atas wajibnya mengangkat seorang khalifah. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang siapa yang akan dipilih sebagai khalifah, namun mereka tak pernah berselisih tentang wajibnya mengangkat seorang khalifah. Baik setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun setelah wafatnya salah seorang dari al-Khulafa ar-Rasyidin. Dari sini bisa dipahami bahwa ijma’ shahabat merupakan dalil yang sangat kuat dan jelas yang menunjukkan wajibnya mengangkat seorang khalifah.

    Selain itu, menegakkan agama dan menerapkan hukum-hukum syara’ pada seluruh aspek kehidupan, duniawi dan ukhrawi, merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslimin berdasarkan dalil yang qath’i sumber dan penunjukannya. Tidak mungkin mewujudkan ini semua kecuali adanya penguasa yang menerapkannya. Dari sini berlaku kaidah syar’iyyah ‘Maa laa yatimmu al-waajib illaa bihi fahuwa waajib’ (ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب). Tidak mungkin sempurna kewajiban penegakan agama dan penerapan hukum-hukum syara’ pada seluruh aspek kehidupan tanpa adanya khalifah yang menerapkannya, maka mengangkat seorang khalifah wajib juga hukumnya.

    ***

    Dari pemaparan yang cukup panjang dalam tulisan ini, seharusnya tak ada lagi keraguan pada diri setiap muslim akan wajibnya mendirikan Khilafah dan mengangkat seorang khalifah bagi seluruh kaum muslimin. Sebuah keanehan, jika ada seorang muslim yang menolak tegaknya kembali Khilafah, bahkan menjadi orang yang terdepan memusuhi para pejuangnya. Bisa jadi ia adalah orang yang bodoh terhadap agama, jika tidak, bisa jadi ia –wal ‘iyaadzu billah– adalah seorang munafik.

    Khilafah bukan untuk didiskusikan, namun untuk ditegakkan. Wallaahul musta’an.

     
  • aqidahsalafshalih 11:39 am on February 6, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Pancasila Itu Munafik 

    1328321107454002081

     

    Dalam setiap zaman, umat Islam selalu menjadi momok dan sasaran empuk penguasa fasik. Beraneka ragam tuduhan dan fitnah kerap ditujukan kepada umat ini dengan sebutan kontra revolusi, tidak Pancasilais, Anti-kebangsaan, fundamentalis hingga Teroris. Lalu siapa sebenarnya yang tak pancasilais dan teroris?

    Suatu ketika Buya Hamka mendengar bisikan berbau tuduhan, bahkan fitnah yang isinya: sebagian besar dari para ulama dan pemimpin Islam adalah anti-Pancasila. Dikatakan pula, bahwa golongan terbesar umat Islam itu menerima Pancasila dengan setengah hati, dan hendak menukar Pancasila dengan yang lain. Bagaimana menjelaskan tuduhan ini?

    Menurut Buya Hamka, dasar agama umat Islam adalah tauhid, artinya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak bersekutu dengan yang lain, yang percaya bahwa Tuhan Allah itu ada. Dan dia menjadi kafir, keluar dari Islam dan masuk neraka, kalau tidak percaya kepada Allah. Inilah substansi kenapa umat Islam tidak menolak dasar negara tersebut. Adalah tuduhan jahat dan pendusta, jika umat Islam anti Ketuhanan Yang Maha Esa yang dilandasi oleh ketauhidan ini.

    Selain itu, kaum muslimin pun dituduh anti kebangsaan, yang merupakan sila kedua Pancasila. Padahal, kata Buya Hamka, kaum Muslimin lah yang telah mengorbankan jiwa, harta-bendanya untuk mencapai kemerdekaan itu. Kaum Muslimin pula yang banyak menjadi korban ketika Peristiwa Madiun. Dimana-mana berdiri angkatan Perang Sabil (Jogyakarta), barisan Hizbullah, Sabilillah (Jawa dan Sumatera).

    Juga lihatlah, bagaimana Pangeran Diponogoro mengangkat senjata melawan bangsa penjajah, begitu juga dengan Tuanku Imam Bonjol, Teuku Cik Di Tiro, Cut Nya Dien dan sebagainya. Termasuk HOS Cokroaminoto, pendiri pertama dari gerakan nasional yang mempersatukan bangsa Indonesia.

    “Kalau benar umat Islam anti kebangsaan, mengapa tidak diusulkan saja mencabut gelar pahlawan nasional dari KH. Ahmad Dahlan, H. Samanhudi, HOS Cokroaminoto, H. Agus Salim, Panglima Besar Sudirman dan masih banyak lagi?” tanya Buya Hamka.

    Patut diketahui, umat Islam lah yang mulai merasakan nikmat kebangsaan. Bukan orang-orang yang mendapatkan pendidikan Belanda. Sudah beratus tahun lamanya sebelum gerakan kebangsaan, orang Islam sudah menunaikan ibadah haji ke Makkah, yang ketika berada di ke-imigrasian, akan ditanya, siapa nama anda, dan apa bangsa anda? Atau ketika bangsa lain memanggil orang Indonesia dengan sebutan “Indonesi”.

    Juga perhatikan, nama ulama terdahulu yang disebutkan berdasarkan dari asal-usulnya. Sebut saja seperti Syekh Akhmad Khatib Al-Minangkabawi Al-Jawi dan Syeikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi serta Syeikh Al-Falibaniy Al-Jawi. Jika kita berkaca pada sejarah, maka terlalu berlebihan jika umat Islam dituduh anti-kebangsaan.

    Bukankah dalam Al Qur’an, Allah Swt berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. Al-Hujuraat:13)

    Yang pasti, umat Islam juga tidak anti Keadilan Sosial. Kita adalah penegak keadilan sosial dalam praktek hidup sehari-hari. “Kita tidak anti Pancasila (seperti yang dituduhkan), bahkan kitalah pembela dan pengamal Pancasila. Sejatinya, Pancasila bukan dengan pidato, dan bukan dengan gembar-gembor, tapi dengan amal dan perbuatan kita sehari-hari,” tegas Buya Hamka.

    Meski tidak menafikan Pancasila, Buya Hamka skeptis dan mempersoalkan orang yang selama ini membela Pancasila, namun kenyataannya tak lebih permainan bibir (lips service), namun dimuntahkan dari hati. Faktanya, Pancasila di masa Orde Baru, bahkan di era Reformasi, hanyalah slogan kosong yang diungkapkan dalam pidato-pidato kenegaraan, tapi secara bersamaan dilanggar dalam kehidupan sehari-hari.

    “Merekalah yang sebenarnya menghancur-leburkan Pancasila dalam tingkah laku, tindak tanduk, sepak terjang hidup sepanjang hari, dengan memakai kekuasaan yang ada dalam tangan mereka,” kata Buya Hamka.

    Lebih lanjut Hamka menegaskan, inilah contoh orang-orang yang memegang kekuasaan negara di masa Orde Lama. Mengaku percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa di bibir, tetapi tidak pernah mendekatkan diri kepada Tuhan menurut agama yang mereka peluk. Sehingga terbaliklah keadaan, orang yang tekun percaya kepaya Tuhan, mengerjakan perintah dan menghentikan larangan Tuhan, dipandang anti-Pancasila. Dan orang yang taat mengerjakan agama dicap reaksioner atau kontra revolusioner.

    Alangkah banyaknya paradoks di dalam negeri yang berdasarkan Pancasila di zaman itu, bahkan kini. Buktinya, mobil mewah pejabat yang meluncur diatas jembatan, sedang dibawahnya tidur orang-orang yang kehabisan tenaga untuk hidup dan hilang harapan.

    Mereka yang selama ini mengkultuskan Pancasila, dan mengatakan Pancasila tidak boleh dirongrong, namun ironisnya yang melakukan itu justru mereka yang berkuasa itu sendiri. Pada masa Orba, menjilat menjadi penting. Siapa yang kurang pandai menjilat akan binasa dan celaka hidupnya.

    Pada akhirnya, kata Buya Hamka, ”Jadilah kita semua umat Islam ini taat beragama, dengan ketaatan beragama, dengan sendirinya Pansila terjamin keselamatannya. Dan orang-orang yang mengaku dirinya Pancasila sejati, padahal tidak jelas apa agama yang dipeluknya, sungguh tidaklah akan dapat mengamalkan dan mengamankan Pancasila.”

    Tak berbeda, ketika umat Islam berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah, lantas dituduh sebagai fundamentalis, radikalis, bahkan teroris. Begitu juga dengan Ulama yang selama ini giat memperjuangkan syariah dalam kehidupan berkebangsaan.

    Ketika ideologi Islam hendak diperjuangkan, dapat kita saksikan, kepanikan dan kebrutalan penguasa fasik dengan melakukan tekanan politik terhadap para pejuang syariah disertai berbagai tuduhan dan fitnah tanpa bukti, dengan membuat stigmatisasi: seolah Islam adalah ancaman dan ideologi paling berbahaya di dunia.Ketakutan itulah yang diciptakan oleh penguasa dan musuh-musuh Islam, agar kaum muslimin tidak peduli dengan urusan agamanya.

     

     
  • aqidahsalafshalih 11:26 am on February 6, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , ,   

    Takfir Adalah Ajaran Agama, Bukan Fitnah di Kalangan Umat 

    Pada masa sekarang, masalah takfir seolah-olah menjadi tabu untuk dibahas sebagaimana halnya masalah hakimiyyah (pemerintahan berdasarkan hukum Allah). Bila ada orang yang berani mengangkat kepalanya dalam hal ini, maka serta merta tuduhan Khawarij dan Wahabi menghujaninya. Jadi tidaklah aneh bila banyak orang yang phobia takfir. Akan tetapi muslim sejati sesungguhnya lebih mengutamakan ridla Allah atas yang lainnya, dan tidak akan peduli terhadap tuduhan-tuduhan murahan yang dialamatkan kepadanya, karena ridla Allah adalah tujuan utama. Berkaitan dengan itu, maka marilah kita membahasnya dengan merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah serta Ijma’ sahabat serta pernyataan para ‘ulama salaf. Ketahuilah bahwa pelaku syirik akbar sudah Allah kafirkan dalam banyak ayat Al Qur’an, di antaranya yaitu:

    “Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (kafir).” (Az Zumar: 3)

    Dalam ayat ini Allah telah memvonis kafir para pelaku syirik seperti penyembah berhala;

    Di ayat lain Allah pun berfirman:

    “Dan barangsiapa mengibadahi Tuhan selain Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al Mu’minuun: 117).

    “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka Sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk orang-orang yang zhalim”. (Yunus: 106).

    Yang dimaksud orang-orang zhalim di sini adalah orang-orang musyrik, sebagaimana firmannya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, Sesungguhnya menyekutukannya adalah kezhaliman yang besar”. (Luqman: 13)

    Demikian pula dalam ayat: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (Al Baqarah: 254)

    Bila Allah telah memvonis kafir para pelaku syirik, maka wajiblah atas kita membenarkan vonis Allah itu dalam bentuk kita mengkafirkan pelaku syirik itu. Masih banyak ayat Al Qur’an yang memvonis kafir para pelaku syirik akbar. Karenanya wajib bagi kita mengatakan kekafiran mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah;

    “Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah  supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.” (Ibrahim: 30)

    Allah juga memerintahkan kita untuk mengikuti jejak Ibrahim dan Rasul-Rasul serta para pengikutnya saat mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata….” (Al Mumtahanah: 4)

    “Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. (Al Kaafiruun: 1-2)

    Para ulama salaf telah menggariskan bahwa sesungguhnya al-Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka dan memusuhi mereka” (Ad Durar As Saniyyah 9/292)

    Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: Allah telah mencap kafir para pelaku syirik dalam ayat yang sangat banyak, maka (kita) harus mengkafirkan mereka juga. (Syarh al-Ashl al-Diin al- Islam).

    Adapun sabda Rasulullah di antaranya: “Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya di tangan Allah” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

    Makna “dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah” adalah sebagaimana yang dikatakan para ulama adalah: “Mengkafirkan para pelaku syirik dan kemaksiatan, serta dari apa yang mereka ibadati dalam menyekutukan Allah (Ad Durar 9/292).

    Mengkafirkan para pelaku syirik adalah bagian dari makna kafir kepada thaghut, atau mendustai, mengingkari hal-hal yang menjerumuskan kita kepada kekafiran. Maka bagaimana bisa apabila para ulama salaf melakukan hal ini lantas kita sebagai umat Islam tidak mau memerangi kekafiran dan membongkar kekafiran-kekafiran yang dilakukan umat di era modern ini. Kufur kepada thaghut adalah kewajiban setiap umat bukan kewajiban ‘para ulama saja. Apakah kewajiban kufur terhadap thaghut adalah atas ‘ulama saja?

    Ingatlah bahwa sekarang ini banyak sekali umat yang terperdaya oleh ulama-ulama palsu yang menyuarakan keislaman tetapi bersembunyi di balik ajaran-ajaran kafir seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme. Ingatlah Rasulullah bersabda: “Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Adapun salah satu praktik penggantian agama adalah dengan kesyirikan. Dalam hukum hudud maka pelakunya divonis bunuh, sedangkan vonis itu tidak jatuh, kecuali setelah takfir.

    Rasulullah mengutus seorang sahabat untuk membunuh seorang laki-laki yang menikahi bekas ibu tirinya. Ini adalah pengkafiran dari beliau, sedangkan menikahi ibu tiri statusnya jauh di bawah syirik akbar, meskipun keduanya adalah bentuk kekafiran.

    Rasulullah pernah hendak menyerang Banu al-Mushthaliq, saat ada kabar bahwa mereka menolak membayar zakat, tapi ternyata kabar tersebut adalah bohong.

    Adapun ijma sangat banyak, diantaranya:

    Ijma para sahabat pada zaman Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq atas pengkafiran Musailamah Al Kadzdzab dan para pengikutnya. Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab berkata: “Dan di antara orang-orang yang murtad ada yang tetap di atas dua kalimat syahadat, namun dia mengakui kenabian Musailamah dengan dugaan darinya bahwa Rasulullah menyertai dia dalam kenabian, karena dia mengangkat saksi-saksi palsu yang menyaksikan kenabiannya, kemudian dia dibenarkan banyak orang. Meskipun demikian, para sahabat bersepakat (ijma) bahwa mereka itu adalah orang-orang murtad meskipun mereka jahil akan hal itu. Dan siapa yang meragukan kemurtadan mereka, maka dia kafir seperti mereka.” (Syarh Sittah Mawadli Min al-Sirah dalam Majmu’atu At Tauhid)

    Ijma para sahabat pada zaman Abu Bakr atas pengkafiran orang-orang yang menolak membayar zakat. (Mufiid Al Mustafiid Fii Kufri Taarikit Tauhid)

    Ijma para sahabat pada zaman Utsman ibnu ‘Affan atas pengkafiran jama’ah mesjid di Kufah, saat salah seorang di antara mereka melontarkan ungkapan pembenaran akan kenabian Musailamah, sedangkan yang lain diam, tidak mengingkari. (Mufiid Al Mustafiid)

    Ijma para sahabat pada zaman Ali atas pengkafiran Ghulatur Rafidlah yang mengkultuskan Ali padahal mereka itu adalah orang-orang yang rajin beribadah dan merupakan murid-murid para sahabat Rasul. Hukuman bagi mereka adalah dibakar hidup-hidup oleh Ali di Bab (pintu) Kandah dalam parit. (Ad Durar As Saniyyah Juz Murtad)

    Ijma para Tabi’in atas pengkafiran Al Ja’d ibnu Dirham, padahal dia adalah seorang ahli ilmu, ahli ibadah dan zuhud. (Ad Durar Juz Murtad)

    Ijma para ulama atas pengkafiran Bani ‘Ubaid (para penguasa Mesir pada masa dinasti Fathimiyyah) padahal mereka itu mengaku sebagai penguasa Khilafah Islamiyyah. Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: “Akan tetapi di antara kejadian terakhir adalah kisah Banu ‘Ubaid dan jajarannya yaitu para penguasa Mesir. Sesungguhnya mereka mengaku sebagai bagian dari keturunan Ahlul Bait (Syi’ah). Mereka selalu shalat berjama’ah dan shalat Jum’at. Mereka telah mengangkat para qadli dan mufti. Para ‘ulama telah ijma bahwa mereka itu kafir, murtad lagi mesti diperangi, negeri mereka adalah negeri kafir harbiy. Wajib memerangi mereka meskipun rakyatnya membenci kepada para penguasa itu.” (Tarikh Nejd, risalah kepada Ahmad ibnu Abdil  Karim dan ada pula dalam Kasyfusy Syubuhat)

    Ijma ‘ulama atas kafirnya Fakhruddien Ar Razi, karena mengarang kitab As Sirrul Maknun Fi ‘Ibadatin Nujum, meskipun bisa jadi ia taubat lagi setelahnya. Ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Mufiid Al Mustafiid, Al Kalimat An Nafi’ah Fil Mukaffirat Al Waqi’ah)

    Ijma semua ‘ulama madzhab dalam kitab-kitab mereka, di mana mereka semua menetapkan bab khusus tentang riddah dan mereka memulainya dengan syirik akbar. Ijma-ijma ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa takfir itu bukan fitnah, akan tetapi bagian dari ajaran agama. Apalagi dalam masalah syirik akbar, wajib hukumnya sebagai umat Islam untuk mengatakan mana yang syirik dan bukan.

    al-Imam al-Barbahari rahimahullah berkata: “Dan seorang pun dari kalangan ahlul kiblat tidak boleh dikeluarkan dari Islam, sehingga ia menolak satu ayat dari kitab Allah atau sesuatu dari atsar-atsar (jejak tradisi) Rasulullah atau dia shalat kepada selain Allah atau dia menyembelih untuk selain Allah (tumbal). Dan siapa melakukan sesuatu dari hal-hal itu, maka wjib atas engkau mengeluarkan dia dari Islam”. (Syarhus Sunnah no.49)

    Mengkafirkan pelaku syirik itu wajib atas engkau wahai umat agama yang haqq, sama sekali bukanlah sebuah fitnah. Ini adalah ‘aqidah Ahlus Sunnah bukan Khawarij. Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata saat menyebutkan hal-hal yang membatalkan keislaman: “Orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan ajaran mereka”

    Wahai kaum muslimin, siapakah yang dalam posisi bahaya, yang mengkafirkan pelaku syirik atau kalian yang tidak mengkafirkannya? Apakah pembatal keislaman yang satu ini khusus bagi ulama yang tidak mengkafirkan pelaku syirik atau bagi semua orang yang tidak mengkafirkan? Ingatlah kisah Mush’ab ibnu Az Zubair, gubernur Kufah telah diperintahkan untuk membunuh seorang wanita (puteri seorang sahabat), karena menolak mengkafirkan suaminya yang mengaku sebagai Nabi yaitu Al Mukhtar Ats Tsaqafi, dia (Mush’ab) diperintahkan oleh Khalifah ‘Abdullah ibnu Az Zubair (Ad Durar Juz Al Murtad, lihat juga Al Idlah Wat Tabyiin, Syaikh Ahmad Hamud Al Khalidiy).

    Syaikh Muhammad berkata dalam tata cara mendustai Thagut dan memeranginya: “Engkau meyakini kebathilan ibadah kepada selain Allah, engkau meninggalkannya, engkau membencinya, engkau mengkafirkan para pelakunya, serta engkau memusuhi mereka”. (Risalah Fie Ma’na Thaghut).

    Mengkafirkan pelaku syirik adalah termasuk makna kufur terhadap thaghut, sedangkan kufur kepada thaghut adalah separuh kandungan Laa Ilaaha Illa Allah. Apakah kufur kepada thaghut itu adalah kewajiban para ‘ulama saja? Kalau demikian, Tauhid itu berarti hanya wajib atas ‘ulama saja dan tidak atas yang lainnya?

    Kemudian Syaikh Abdul Wahhab juga berkata:

    “Pokok Dienul Islam dan kaidahnya ada dua: Pertama, Perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagiNya. Penekanan yang sangat akan kebenaran hal tersebut, loyalitas, dan mengkafirkan orang yang meninggalkanya. Kedua: Mewaspadai kesyirikan dalam setiap praktik ibadah. Bersikap keras dalam hal itu. Melakukan permusuhan di dalamnya dan mengkafirkan orang yang melakukannya”. (Al Jami’ Al Faried)

    Mengkafirkan pelaku syirik adalah pokok dasar agama Islam ini. Apakah ini wajib atas ‘ulama saja? mana dalil dari al-Qur’an atau Sunnah atau ijma yang mengatakan bahwa hanya wajib dilakukan para ulama saja? Datangkanlah dalil bila kalian memang benar!

    Takfir pelaku syirik adalah bagian dari agama, demikianlah menurut ulama dakwah Tauhid Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh sebab itu, belum sempurna keimanan seseorang akan tauhid apabila belum mengkafirkan kemusyrikan. Bahkan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab menuturkan di antara 9 macam orang yang tidak bertauhid: “Dan di antara mereka ada orang yang memusuhi para pelaku syirik, namun tidak mengkafirkan mereka”. (Ashlu Dienil Islam) Para ulama menyatakan bahwa mengkafirkan para pelaku syirik itu adalah termasuk pondasi agama ini, yang pasti diketahui oleh orang yang memiliki bagian dalam Islam ini. (Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah jilid 3)

    Syaikh ‘Abdul Lathif berkata: “Dan sebagian ‘ulama memandang bahwa ini (takfir para pelaku syirik) dan jihad di atasnya adalah rukun (pilar) yang mana Islam tidak bisa tegak tanpanya”. (Mishbah Adh Dhalam: 28)

    Beliau juga berkata di dalam kitab yang sama halaman 12: “Dan adapun menelantarkan jihad dan tidak mengkafirkan orang-orang murtad dan orang-orang yang menyekutukan Allah serta orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan dan sembahan sembahan bersama-Nya, maka sikap seperti ini hanyalah dilalui oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak mengagungkan perintah-Nya, tidak meniti jalan-Nya dan tidak mengagungkan Allah dan Rasul-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya, bahkan tidak mengagungkan ‘ulama-‘ulama dan imam-imam umat ini dengan pengagungan yang sebenarnya”. Mengkafirkan para pelaku syirik adalah makna kufur kepada thaghut yang paling agung. (Ad Durar As Saniyyah)

    Orang yang paham makna Syahadatain maka dia paham bahwa takfir pelaku syirik adalah bagian dari maknanya. Tatkala seorang Badui Nejd yang asalnya musyrik, -dia dan kaumnya mengaku Muslim, namun mereka juga melakukan kesyirikan, sedangkan para tokoh di sana menyebut mereka sebagai orang-orang Islam- datang dan sedikit belajar Tauhid, maka dia berkata sebagaimana yang dikisahkan oleh Syaikh Muhammad: “Dan sungguh indah sekali apa yang dikatakan oleh seorang Arab Badui tatkala dia datang kepada kami dan mendengar sedikit tentang Islam (Tauhid), dia berkata: “Saya bersaksi bahwa kami adalah orang-orang kafir dan saya bersaksi bahwa orang yang mengatakan bahwa kami adalah orang-orang Islam, dia adalah kafir”. (Syarh Sittati Mawadli Minas Sirah)

    Orang awam saja mengakui kekafirannya setelah berbincang dengan ulama yang mendakwahkan ketauhidan. Artinya mereka sadar bahwsannya keyakinan mereka keliru dan bertentangan dengan tauhid yang sesungguhnya.

    Para imam dakwah tauhid mengatakan dalam Ad Durar As Saniyyah juz 9: “Di antara hal yang pelakunya wajib diperangi adalah tidak mau mengkafirkan pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka. Sesungguhnya hal itu tergolong penggugur dan pembatal keIslaman. Siapa yang memiliki sifat ini, maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib memeranginya, sedangkan dalil atas hal itu adalah sabda SAW:  “Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah dan dia kafir kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah SWT. Beliau SAW menggantungkan keterjagaan darah dan harta terhadap dua hal, hal pertama ucapan Laa Ilaaha Illa Allah, dan kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka darah seorang hamba dan hartanya tidak terjaga sehingga dia mendatangkan dua hal ini. Pertama: ucapannya Laa Ilaaha Illah Allah dan yang dimaksud dengannya adalah maknanya bukan sekedar lafazhnya, sedangkan maknanya adalah memurnikan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah saja, dan kedua ucapannya: dan dia kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, dan yang dimaksud dengannya adalah mengkafirkan pelaku syirik, terlepas dari mereka dan dari apa yang mereka ibadati selain dari Allah. Oleh sebab itu siapa yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik dari kalangan Daulah (negara) turki dan para ‘ubbadul qubur (penyembah kuburan) seperti penduduk makkah dan yang lainnya dari kalangan yang beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih, maka sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka. Meskipun dia cinta kepada Islam dan kaum muslimin dan benci kepada syirik dan kaum musyrikin, karena orang yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik itu tidaklah membenarkan al-Qur’an, karena al-Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi mereka dan memeranginya”.

    Coba perhatikan, orang yang tidak mau mengkafirkan pelaku syirik itu wajib diperangi, apa gerangan dengan orang yang melarang mengkafirkannya dan mentahdzir orang yang mengkafirkannya. Itulah alasannya mengapa para ulama tauhid seperti Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab memerangi orang Turki yang banyak menyembah kuburan orang-orang yang dianggap suci, dan juga memerangi orang-orang Mekkah yang mempraktikkan hal serupa. Hal ini dikarenakan mereka meskipun mengaku Islam namun juga melakukan kesyirikan.

    Syaikh Sulaiman mengatakan tentang orang yang tidak mengetahui kekafiran pelaku syirik: “Bila dia tidak tahu kekafiran mereka, maka dijelaskan kepadanya dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan kekafirannya, bila dia malah ragu dan bimbang, maka dia kafir berdasarkan ijma bahwa orang yang ragu akan kekafiran orang kafir adalah kafir”. (Autsaqu ‘Ural Iman, halaman terakhir)

    Allah menyatakan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan DIA mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (An Nisaa: 48)

    Ayat ini tidak membedakan antara kesyirikan yang dilakukan sebagian ataupun yang jelas-jelas keseluruhan perbuatan ibadah yang dilakukan mengandung kesyirikan.

    Jadi, dalam mengatakan sesuatu perbuatan yang syirik tidak dibedakan, semua bentuk kesyirikan adalah syirik dan pelakunya musyrik. Justru membeda-bedakannya adalah perbuatan bid’ah, dan itulah yang diwarisi oleh orang-orang yang mengaku paling salafiy di masa sekarang. Bagaimanakah sikap kita terhadap orang-orang semacam itu? Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: “Siapa yang membela-bela mereka (para thaghut dan para pelaku syirik) atau mengingkari kepada yang mengkafirkannya atau dia mengklaim bahwa perbuatan mereka ini meskipun bathil, maka itu tidak mengeluarkan mereka kepada kekafiran, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq yang mana tulisan dan kesaksiannya tidak diterima dan tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya”. (Ad Durar 10/53)

    Hal serupa juga dikatakan oleh Syaikh Sulaiman ibnu Sahman serta para Imam Dakwah Tauhid lainnya dalam Ad Durar As Saniyyah bahwa tidak sah bermakmum kepada orang yang tidak mengkafirkan para penyembah kuburan. “Dan masuk dalam jajaran ‘ubbadul qubuur adalah para penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, para aparat keamanannya, para aparatnya, para pengikut hukum buatan dsb.” (Kitab Ath Thabaqat, Syaikh Ali Al Khudlair: 1)

    Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab berkata: “Dan kafirlah kalian terhadap thaghut-thaghut semuanya, musuhilah mereka, bencilah mereka dan bencilah orang yang mencintai mereka atau membela-bela mereka atau tidak mengkafirkan mereka atau orang yang mengatakan: Apa urusan saya dengan mereka? Atau mengatakan: Allah tidak membebani saya untuk (mengomentari) mereka. Sungguh dia telah berdusta dan mengada-ada atas nama Allah. Justeru Allah telah mengharuskan dia untuk (mengomentari) mereka dan mewajibkan atasnya untuk kafir terhadap mereka, meskipun mereka itu saudara-saudara dan anak-anaknya”. (Hadiyyah Thayyibah, dalam Majmu’ah At Tauhid)

    Karena kebodohan umat di zaman modern ini terhadap ‘aqidah Ahlus Sunnah, maka banyaj umat yang memvonis orang-orang yang mengkafirkan pelaku syirik sebagai Khawarij. Ini adalah vonis dari orang bodoh (jaahil). Syaikh ‘Abdul Lathif berkata: “Siapa yang menjadikan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk hal ini (‘aqidah Khawarij), maka sesungguhnya dia itu telah mencela para Rasul dan (‘ulama) umat ini, dia tidak bisa membedakan antara agama para Rasul dengan madzhab Khawarij, dia sungguh telah mencampakkan nash-nash Al Qur’an dan telah mengikuti selain jalan kaum mukminin”. (Mishbahudh Dhalam: 73)

    Hukum mengikuti kebanyakan orang adalah haram, karena pada dasarnya kebanyakan orang berada diatas kesalahan berbanding hanya sedikit saja yang berada diatas Kebenaran. Kebanyakan orang merasa dirinya Muslim namun sesungguhnya merka telah kafir, mereka hanya menyangka diri mereka Muslim namun mereka tidak sadar kalau setan telah menanamkan persangkaan sebagai Muslim saja dalam diri mereka. Termasuk padanya setan penguasa NKRI ini yang melarang Kaum Muslimin menjalankan Syari’atnya, justru mereka menuduh Kaum Muslimin yang ingin berIslam secara kaffah sebagai teroris, padahal semata mata yang mereka lakukan itu hanyalah upaya agar umat Islam agar berhukum dengan hukum Allah bukannya UUD 1945 yang murni kafir itu. Hukum berdasarkan kebanyakan adalah metode sampah busuk demokrasi.

    Ayat al-Qur’an telah menjelaskan :
    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS 6:116)

    “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS 10:36)

    “Kemudian Aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 7:17)

    “Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.” (QS 43:78)

    “Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya KAMI mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS 7:102)

    Nah kalau kebanyakan orang membenci Islam karena Islam melegitimasi kekerasan, ya memang begitulah kebanyakan orang yang sebenarnya mereka telah menjadi binatang namun mereka tidak sadar atas kebinatangan mereka. Sama seperti penguasa negeri ini dan sekaligus rakyatnya, kebanyakan mereka bodoh dan merasa dirinya masih Muslim hanya karena mereka masih shalat, zakat, dan mengerjakan rukun Islam. Padahal aqidah ketauhidan mereka banyak telah melenceng dari Islam, dan hal ini tidak mereka sadari.

    Penguasa negeri ini adalah thaghut, kenapa demikian ?karena mereka dengan dewan legislatifnya dan sebagian eksekutifnya mengklaim sebagai pembuat hukum, mengklaim yang berhak membuat hukum dan perundang-undangan, bahkan mereka telah membuat dan memutuskan, maka mereka adalah thaghut itu sendiri. Mereka menjadi pembuat hukum yang hukumnya diikuti (baca: diibadati) oleh pengikutnya.

    Allah berfirman: “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu”. (An Nisa: 60)

    Banyak masyarakat pembela thaghut atau siapa saja di antara mereka, ketika memiliki kasus di negeri ini, apakah mereka mengajukan kasusnya kepada hukum Allah ataukan kepada hukum selaim hukum Allah? tentu mereka mengajukannya kepada hukum selain hukum Allah, yang mana hukum itu dibuat oleh para thaghut di gedung Parlemen, baik yang ada di lembaga legislatif atau lembaga eksekutif maupun para pemutusnya di dewan yudikatif. Mereka adalah thaghut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab dalam Risalah Fie Ma’na thaghut, bahwa pentolan thaghut selain iblis ialah penguasa dzalim yang mengubah Ketentuan Allah. Sedangkan di negeri ini, semua hukum Allah dirubah, mulai dari hukum pidana, perdata, ekonomi, dan lain-lain. Semua dicampakkan dan mereka sepakat tidak memakai hukum yang Allah turunkan, melainkan hukum kafir.

    Namun tidak ada yang berani mengatakan bahwa hukum negara ini kafir dan kita justru mendiamkan seta mengikutinya. Apakah kita telah tunduk pada sistem kafir dan tidak berani menentang kekafiran tersebut. Berhati-hatilah bahwasannya diri kita dapat terjerumus kepada kekafiran.

    Kita sudah banyak melihat bentuk-bentuk kekafiran yang dianut dan masih senantiasa dilakukan penguasa negeri ini, sehingga tidak layak berdalil dengan surat An Nisa: 59 untuk menggelari pemerintah ini sebagai ulil ‘amri. Mengapa? Karena pemimpin yang berhukum dengan sistem kafir bukanlah ulil ‘amri. Namun yang disebut ulil ‘amri adalah pemerintah yang berhukum kepada hukum Allah. Maka Ibn Taimiyyah berpendapat bahwa apabila pemerintah telah menerapkan hukum Allah dalam sistem negara dan kemudian pemerintah tersebut melakukan tindakan zalim, tidak patut bagi rakyat untuk memberontak selama pemerintah tidak meninggalkan hukum Allah serta tidak melakukan kemusyrikan yang dapat mendorongnya pada kekafiran.

    Para ulama sepakat bahwa orang kafir tidak sah untuk menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Bila pemimpin tersebut asalnya muslim kemudian muncul kekafiran darinya maka wajib untuk mencopotnya dan menggantinya dengan pemimpin yang muslim. Bila tidak mampu mencopotnya karena mereka menggunakan kekuasaan untuk mempertahankannya, maka wajib diperangi. Namun dalam relaita zaman ini, kekafirannya bukanlah kekafiran yang bersifat personal, akan tetapi kekafiran yang kolektif dan tersistematisasi sehingga jika penguasa yang satu meninggal maka pemimpin setelahnya tetap menggunakan sistem kafir.

    Maka dari itu tugas kita sebagai muslim yang kaffah adalah wajib menggalang kekuatan dengan langkah awalnya adalah mengerahkan segala kemampuan dalam menggencarkan dakwah tauhid yang berkesinambungan untuk mencabut akar-akar loyalitas terhadap thaghut dan sistem kafir di tengah masyarakat, sehingga thaghut tidak mempunyai tempat lagi di tengah-tengah masyarakat ini. Jihad terhadap thaghut ini haruslah menjadi opini kaum muslimin. Kaum muslimin harus merasa memiliki tanggung jawab terhadap masalah ini sehingga tidak hanya dipikul oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Bukan berarti seluruh kaum muslimin harus terjun dengan menenteng senjata, tapi yang paling penting bagi mereka adalah mereka adalah mereka harus memahami betul bahwa penguasa negeri yang mana mereka hidup di dalamnya adalah penguasa murtad kafir yang tidak boleh diberikan loyalitas, sehingga dengan kesadaran itu lunturlah dukungan kepada para thaghut dan tumbuhlah loyalitas kepada orang-orang yang berkomitmen dengan ajaran Allah. Bila ini terwujud, maka kondisi akan berubah, dukungan kepada thaghut akan berganti dengan penentangan, sehingga mudahlah untuk menjatuhkan para thaghut itu. Hendaklah diketahui bahwa pemerintahan thaghut ini adalah pemerintahan yang tidak sah, tidak syar’iy, tidak diakui secara Islam. Mereka adalah pemerintah yang memaksakan diri, begitu pula hukum dan undang-undangnya tidak sah, oleh sebab itu kaum muslimin tidak memiliki kewajiban untuk taat pada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah thaghut ini, bahkan bebas untuk melanggarnya selama memenuhi dua syarat, yaitu: selama tidak melakukan sesuatu yang dilarang syari’at dan selama tidak menzalimi orang muslim.

    Demikianlah sikap kita kaum muslim terhadap para thaghut penguasa negeri ini, bukan loyalitas dan taat kepada mereka, tapi ingatkah bahwa kita adalah orang-orang yang ditindas, diperangi dengan berbagai cara; kasar dan halus, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, tapi sungguh banyak kaum muslimin tidak menyadarinya. Ini karena kebanyakan kaum muslimin belum memahami hakikat tauhid. Mereka mengira penguasa negeri ini adalah muslim, karena para thaghutnya itu shalat, shaum, zakat, bahkan haji berkali-kali, padahal penguasa negeri ini telah melanggar hal yang paling penting dan fundamental, yaitu bersistem kepada hukum yang bukan dari Allah, melainkan berhukum pada sistem kafir. Allahu A’lam

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal