Takfir Adalah Ajaran Agama, Bukan Fitnah di Kalangan Umat

Pada masa sekarang, masalah takfir seolah-olah menjadi tabu untuk dibahas sebagaimana halnya masalah hakimiyyah (pemerintahan berdasarkan hukum Allah). Bila ada orang yang berani mengangkat kepalanya dalam hal ini, maka serta merta tuduhan Khawarij dan Wahabi menghujaninya. Jadi tidaklah aneh bila banyak orang yang phobia takfir. Akan tetapi muslim sejati sesungguhnya lebih mengutamakan ridla Allah atas yang lainnya, dan tidak akan peduli terhadap tuduhan-tuduhan murahan yang dialamatkan kepadanya, karena ridla Allah adalah tujuan utama. Berkaitan dengan itu, maka marilah kita membahasnya dengan merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah serta Ijma’ sahabat serta pernyataan para ‘ulama salaf. Ketahuilah bahwa pelaku syirik akbar sudah Allah kafirkan dalam banyak ayat Al Qur’an, di antaranya yaitu:

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar (kafir).” (Az Zumar: 3)

Dalam ayat ini Allah telah memvonis kafir para pelaku syirik seperti penyembah berhala;

Di ayat lain Allah pun berfirman:

“Dan barangsiapa mengibadahi Tuhan selain Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al Mu’minuun: 117).

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka Sesungguhnya kalau begitu kamu termasuk orang-orang yang zhalim”. (Yunus: 106).

Yang dimaksud orang-orang zhalim di sini adalah orang-orang musyrik, sebagaimana firmannya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, Sesungguhnya menyekutukannya adalah kezhaliman yang besar”. (Luqman: 13)

Demikian pula dalam ayat: “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” (Al Baqarah: 254)

Bila Allah telah memvonis kafir para pelaku syirik, maka wajiblah atas kita membenarkan vonis Allah itu dalam bentuk kita mengkafirkan pelaku syirik itu. Masih banyak ayat Al Qur’an yang memvonis kafir para pelaku syirik akbar. Karenanya wajib bagi kita mengatakan kekafiran mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah;

“Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah  supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka.” (Ibrahim: 30)

Allah juga memerintahkan kita untuk mengikuti jejak Ibrahim dan Rasul-Rasul serta para pengikutnya saat mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata….” (Al Mumtahanah: 4)

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”. (Al Kaafiruun: 1-2)

Para ulama salaf telah menggariskan bahwa sesungguhnya al-Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka dan memusuhi mereka” (Ad Durar As Saniyyah 9/292)

Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Hasan Ibnu Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: Allah telah mencap kafir para pelaku syirik dalam ayat yang sangat banyak, maka (kita) harus mengkafirkan mereka juga. (Syarh al-Ashl al-Diin al- Islam).

Adapun sabda Rasulullah di antaranya: “Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dan dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya di tangan Allah” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Makna “dia kafir terhadap segala sesuatu yang diibadati selain Allah” adalah sebagaimana yang dikatakan para ulama adalah: “Mengkafirkan para pelaku syirik dan kemaksiatan, serta dari apa yang mereka ibadati dalam menyekutukan Allah (Ad Durar 9/292).

Mengkafirkan para pelaku syirik adalah bagian dari makna kafir kepada thaghut, atau mendustai, mengingkari hal-hal yang menjerumuskan kita kepada kekafiran. Maka bagaimana bisa apabila para ulama salaf melakukan hal ini lantas kita sebagai umat Islam tidak mau memerangi kekafiran dan membongkar kekafiran-kekafiran yang dilakukan umat di era modern ini. Kufur kepada thaghut adalah kewajiban setiap umat bukan kewajiban ‘para ulama saja. Apakah kewajiban kufur terhadap thaghut adalah atas ‘ulama saja?

Ingatlah bahwa sekarang ini banyak sekali umat yang terperdaya oleh ulama-ulama palsu yang menyuarakan keislaman tetapi bersembunyi di balik ajaran-ajaran kafir seperti sekularisme, liberalisme, pluralisme. Ingatlah Rasulullah bersabda: “Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”. (HR. Al Bukhari dan Muslim). Adapun salah satu praktik penggantian agama adalah dengan kesyirikan. Dalam hukum hudud maka pelakunya divonis bunuh, sedangkan vonis itu tidak jatuh, kecuali setelah takfir.

Rasulullah mengutus seorang sahabat untuk membunuh seorang laki-laki yang menikahi bekas ibu tirinya. Ini adalah pengkafiran dari beliau, sedangkan menikahi ibu tiri statusnya jauh di bawah syirik akbar, meskipun keduanya adalah bentuk kekafiran.

Rasulullah pernah hendak menyerang Banu al-Mushthaliq, saat ada kabar bahwa mereka menolak membayar zakat, tapi ternyata kabar tersebut adalah bohong.

Adapun ijma sangat banyak, diantaranya:

Ijma para sahabat pada zaman Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq atas pengkafiran Musailamah Al Kadzdzab dan para pengikutnya. Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab berkata: “Dan di antara orang-orang yang murtad ada yang tetap di atas dua kalimat syahadat, namun dia mengakui kenabian Musailamah dengan dugaan darinya bahwa Rasulullah menyertai dia dalam kenabian, karena dia mengangkat saksi-saksi palsu yang menyaksikan kenabiannya, kemudian dia dibenarkan banyak orang. Meskipun demikian, para sahabat bersepakat (ijma) bahwa mereka itu adalah orang-orang murtad meskipun mereka jahil akan hal itu. Dan siapa yang meragukan kemurtadan mereka, maka dia kafir seperti mereka.” (Syarh Sittah Mawadli Min al-Sirah dalam Majmu’atu At Tauhid)

Ijma para sahabat pada zaman Abu Bakr atas pengkafiran orang-orang yang menolak membayar zakat. (Mufiid Al Mustafiid Fii Kufri Taarikit Tauhid)

Ijma para sahabat pada zaman Utsman ibnu ‘Affan atas pengkafiran jama’ah mesjid di Kufah, saat salah seorang di antara mereka melontarkan ungkapan pembenaran akan kenabian Musailamah, sedangkan yang lain diam, tidak mengingkari. (Mufiid Al Mustafiid)

Ijma para sahabat pada zaman Ali atas pengkafiran Ghulatur Rafidlah yang mengkultuskan Ali padahal mereka itu adalah orang-orang yang rajin beribadah dan merupakan murid-murid para sahabat Rasul. Hukuman bagi mereka adalah dibakar hidup-hidup oleh Ali di Bab (pintu) Kandah dalam parit. (Ad Durar As Saniyyah Juz Murtad)

Ijma para Tabi’in atas pengkafiran Al Ja’d ibnu Dirham, padahal dia adalah seorang ahli ilmu, ahli ibadah dan zuhud. (Ad Durar Juz Murtad)

Ijma para ulama atas pengkafiran Bani ‘Ubaid (para penguasa Mesir pada masa dinasti Fathimiyyah) padahal mereka itu mengaku sebagai penguasa Khilafah Islamiyyah. Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: “Akan tetapi di antara kejadian terakhir adalah kisah Banu ‘Ubaid dan jajarannya yaitu para penguasa Mesir. Sesungguhnya mereka mengaku sebagai bagian dari keturunan Ahlul Bait (Syi’ah). Mereka selalu shalat berjama’ah dan shalat Jum’at. Mereka telah mengangkat para qadli dan mufti. Para ‘ulama telah ijma bahwa mereka itu kafir, murtad lagi mesti diperangi, negeri mereka adalah negeri kafir harbiy. Wajib memerangi mereka meskipun rakyatnya membenci kepada para penguasa itu.” (Tarikh Nejd, risalah kepada Ahmad ibnu Abdil  Karim dan ada pula dalam Kasyfusy Syubuhat)

Ijma ‘ulama atas kafirnya Fakhruddien Ar Razi, karena mengarang kitab As Sirrul Maknun Fi ‘Ibadatin Nujum, meskipun bisa jadi ia taubat lagi setelahnya. Ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (Mufiid Al Mustafiid, Al Kalimat An Nafi’ah Fil Mukaffirat Al Waqi’ah)

Ijma semua ‘ulama madzhab dalam kitab-kitab mereka, di mana mereka semua menetapkan bab khusus tentang riddah dan mereka memulainya dengan syirik akbar. Ijma-ijma ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa takfir itu bukan fitnah, akan tetapi bagian dari ajaran agama. Apalagi dalam masalah syirik akbar, wajib hukumnya sebagai umat Islam untuk mengatakan mana yang syirik dan bukan.

al-Imam al-Barbahari rahimahullah berkata: “Dan seorang pun dari kalangan ahlul kiblat tidak boleh dikeluarkan dari Islam, sehingga ia menolak satu ayat dari kitab Allah atau sesuatu dari atsar-atsar (jejak tradisi) Rasulullah atau dia shalat kepada selain Allah atau dia menyembelih untuk selain Allah (tumbal). Dan siapa melakukan sesuatu dari hal-hal itu, maka wjib atas engkau mengeluarkan dia dari Islam”. (Syarhus Sunnah no.49)

Mengkafirkan pelaku syirik itu wajib atas engkau wahai umat agama yang haqq, sama sekali bukanlah sebuah fitnah. Ini adalah ‘aqidah Ahlus Sunnah bukan Khawarij. Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata saat menyebutkan hal-hal yang membatalkan keislaman: “Orang yang tidak mengkafirkan pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka atau membenarkan ajaran mereka”

Wahai kaum muslimin, siapakah yang dalam posisi bahaya, yang mengkafirkan pelaku syirik atau kalian yang tidak mengkafirkannya? Apakah pembatal keislaman yang satu ini khusus bagi ulama yang tidak mengkafirkan pelaku syirik atau bagi semua orang yang tidak mengkafirkan? Ingatlah kisah Mush’ab ibnu Az Zubair, gubernur Kufah telah diperintahkan untuk membunuh seorang wanita (puteri seorang sahabat), karena menolak mengkafirkan suaminya yang mengaku sebagai Nabi yaitu Al Mukhtar Ats Tsaqafi, dia (Mush’ab) diperintahkan oleh Khalifah ‘Abdullah ibnu Az Zubair (Ad Durar Juz Al Murtad, lihat juga Al Idlah Wat Tabyiin, Syaikh Ahmad Hamud Al Khalidiy).

Syaikh Muhammad berkata dalam tata cara mendustai Thagut dan memeranginya: “Engkau meyakini kebathilan ibadah kepada selain Allah, engkau meninggalkannya, engkau membencinya, engkau mengkafirkan para pelakunya, serta engkau memusuhi mereka”. (Risalah Fie Ma’na Thaghut).

Mengkafirkan pelaku syirik adalah termasuk makna kufur terhadap thaghut, sedangkan kufur kepada thaghut adalah separuh kandungan Laa Ilaaha Illa Allah. Apakah kufur kepada thaghut itu adalah kewajiban para ‘ulama saja? Kalau demikian, Tauhid itu berarti hanya wajib atas ‘ulama saja dan tidak atas yang lainnya?

Kemudian Syaikh Abdul Wahhab juga berkata:

“Pokok Dienul Islam dan kaidahnya ada dua: Pertama, Perintah ibadah kepada Allah saja tidak ada sekutu bagiNya. Penekanan yang sangat akan kebenaran hal tersebut, loyalitas, dan mengkafirkan orang yang meninggalkanya. Kedua: Mewaspadai kesyirikan dalam setiap praktik ibadah. Bersikap keras dalam hal itu. Melakukan permusuhan di dalamnya dan mengkafirkan orang yang melakukannya”. (Al Jami’ Al Faried)

Mengkafirkan pelaku syirik adalah pokok dasar agama Islam ini. Apakah ini wajib atas ‘ulama saja? mana dalil dari al-Qur’an atau Sunnah atau ijma yang mengatakan bahwa hanya wajib dilakukan para ulama saja? Datangkanlah dalil bila kalian memang benar!

Takfir pelaku syirik adalah bagian dari agama, demikianlah menurut ulama dakwah Tauhid Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Oleh sebab itu, belum sempurna keimanan seseorang akan tauhid apabila belum mengkafirkan kemusyrikan. Bahkan Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab menuturkan di antara 9 macam orang yang tidak bertauhid: “Dan di antara mereka ada orang yang memusuhi para pelaku syirik, namun tidak mengkafirkan mereka”. (Ashlu Dienil Islam) Para ulama menyatakan bahwa mengkafirkan para pelaku syirik itu adalah termasuk pondasi agama ini, yang pasti diketahui oleh orang yang memiliki bagian dalam Islam ini. (Fatawa Al Aimmah An Najdiyyah jilid 3)

Syaikh ‘Abdul Lathif berkata: “Dan sebagian ‘ulama memandang bahwa ini (takfir para pelaku syirik) dan jihad di atasnya adalah rukun (pilar) yang mana Islam tidak bisa tegak tanpanya”. (Mishbah Adh Dhalam: 28)

Beliau juga berkata di dalam kitab yang sama halaman 12: “Dan adapun menelantarkan jihad dan tidak mengkafirkan orang-orang murtad dan orang-orang yang menyekutukan Allah serta orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan dan sembahan sembahan bersama-Nya, maka sikap seperti ini hanyalah dilalui oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak mengagungkan perintah-Nya, tidak meniti jalan-Nya dan tidak mengagungkan Allah dan Rasul-Nya dengan pengagungan yang sebenarnya, bahkan tidak mengagungkan ‘ulama-‘ulama dan imam-imam umat ini dengan pengagungan yang sebenarnya”. Mengkafirkan para pelaku syirik adalah makna kufur kepada thaghut yang paling agung. (Ad Durar As Saniyyah)

Orang yang paham makna Syahadatain maka dia paham bahwa takfir pelaku syirik adalah bagian dari maknanya. Tatkala seorang Badui Nejd yang asalnya musyrik, -dia dan kaumnya mengaku Muslim, namun mereka juga melakukan kesyirikan, sedangkan para tokoh di sana menyebut mereka sebagai orang-orang Islam- datang dan sedikit belajar Tauhid, maka dia berkata sebagaimana yang dikisahkan oleh Syaikh Muhammad: “Dan sungguh indah sekali apa yang dikatakan oleh seorang Arab Badui tatkala dia datang kepada kami dan mendengar sedikit tentang Islam (Tauhid), dia berkata: “Saya bersaksi bahwa kami adalah orang-orang kafir dan saya bersaksi bahwa orang yang mengatakan bahwa kami adalah orang-orang Islam, dia adalah kafir”. (Syarh Sittati Mawadli Minas Sirah)

Orang awam saja mengakui kekafirannya setelah berbincang dengan ulama yang mendakwahkan ketauhidan. Artinya mereka sadar bahwsannya keyakinan mereka keliru dan bertentangan dengan tauhid yang sesungguhnya.

Para imam dakwah tauhid mengatakan dalam Ad Durar As Saniyyah juz 9: “Di antara hal yang pelakunya wajib diperangi adalah tidak mau mengkafirkan pelaku syirik atau ragu akan kekafiran mereka. Sesungguhnya hal itu tergolong penggugur dan pembatal keIslaman. Siapa yang memiliki sifat ini, maka dia telah kafir, halal darah dan hartanya serta wajib memeranginya, sedangkan dalil atas hal itu adalah sabda SAW:  “Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah dan dia kafir kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka haramlah darah dan hartanya, sedangkan perhitungannya atas Allah SWT. Beliau SAW menggantungkan keterjagaan darah dan harta terhadap dua hal, hal pertama ucapan Laa Ilaaha Illa Allah, dan kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, maka darah seorang hamba dan hartanya tidak terjaga sehingga dia mendatangkan dua hal ini. Pertama: ucapannya Laa Ilaaha Illah Allah dan yang dimaksud dengannya adalah maknanya bukan sekedar lafazhnya, sedangkan maknanya adalah memurnikan seluruh macam ibadah hanya kepada Allah saja, dan kedua ucapannya: dan dia kufur kepada segala sesuatu yang diibadati selain Allah, dan yang dimaksud dengannya adalah mengkafirkan pelaku syirik, terlepas dari mereka dan dari apa yang mereka ibadati selain dari Allah. Oleh sebab itu siapa yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik dari kalangan Daulah (negara) turki dan para ‘ubbadul qubur (penyembah kuburan) seperti penduduk makkah dan yang lainnya dari kalangan yang beribadah kepada para wali dan orang-orang shalih, maka sesungguhnya dia itu kafir seperti mereka. Meskipun dia cinta kepada Islam dan kaum muslimin dan benci kepada syirik dan kaum musyrikin, karena orang yang tidak mengkafirkan para pelaku syirik itu tidaklah membenarkan al-Qur’an, karena al-Qur’an telah mengkafirkan para pelaku syirik dan memerintahkan untuk mengkafirkan mereka, memusuhi mereka dan memeranginya”.

Coba perhatikan, orang yang tidak mau mengkafirkan pelaku syirik itu wajib diperangi, apa gerangan dengan orang yang melarang mengkafirkannya dan mentahdzir orang yang mengkafirkannya. Itulah alasannya mengapa para ulama tauhid seperti Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab memerangi orang Turki yang banyak menyembah kuburan orang-orang yang dianggap suci, dan juga memerangi orang-orang Mekkah yang mempraktikkan hal serupa. Hal ini dikarenakan mereka meskipun mengaku Islam namun juga melakukan kesyirikan.

Syaikh Sulaiman mengatakan tentang orang yang tidak mengetahui kekafiran pelaku syirik: “Bila dia tidak tahu kekafiran mereka, maka dijelaskan kepadanya dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan kekafirannya, bila dia malah ragu dan bimbang, maka dia kafir berdasarkan ijma bahwa orang yang ragu akan kekafiran orang kafir adalah kafir”. (Autsaqu ‘Ural Iman, halaman terakhir)

Allah menyatakan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan DIA mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (An Nisaa: 48)

Ayat ini tidak membedakan antara kesyirikan yang dilakukan sebagian ataupun yang jelas-jelas keseluruhan perbuatan ibadah yang dilakukan mengandung kesyirikan.

Jadi, dalam mengatakan sesuatu perbuatan yang syirik tidak dibedakan, semua bentuk kesyirikan adalah syirik dan pelakunya musyrik. Justru membeda-bedakannya adalah perbuatan bid’ah, dan itulah yang diwarisi oleh orang-orang yang mengaku paling salafiy di masa sekarang. Bagaimanakah sikap kita terhadap orang-orang semacam itu? Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab berkata: “Siapa yang membela-bela mereka (para thaghut dan para pelaku syirik) atau mengingkari kepada yang mengkafirkannya atau dia mengklaim bahwa perbuatan mereka ini meskipun bathil, maka itu tidak mengeluarkan mereka kepada kekafiran, maka status minimal orang yang membela-bela ini adalah fasiq yang mana tulisan dan kesaksiannya tidak diterima dan tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya”. (Ad Durar 10/53)

Hal serupa juga dikatakan oleh Syaikh Sulaiman ibnu Sahman serta para Imam Dakwah Tauhid lainnya dalam Ad Durar As Saniyyah bahwa tidak sah bermakmum kepada orang yang tidak mengkafirkan para penyembah kuburan. “Dan masuk dalam jajaran ‘ubbadul qubuur adalah para penguasa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, para aparat keamanannya, para aparatnya, para pengikut hukum buatan dsb.” (Kitab Ath Thabaqat, Syaikh Ali Al Khudlair: 1)

Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab berkata: “Dan kafirlah kalian terhadap thaghut-thaghut semuanya, musuhilah mereka, bencilah mereka dan bencilah orang yang mencintai mereka atau membela-bela mereka atau tidak mengkafirkan mereka atau orang yang mengatakan: Apa urusan saya dengan mereka? Atau mengatakan: Allah tidak membebani saya untuk (mengomentari) mereka. Sungguh dia telah berdusta dan mengada-ada atas nama Allah. Justeru Allah telah mengharuskan dia untuk (mengomentari) mereka dan mewajibkan atasnya untuk kafir terhadap mereka, meskipun mereka itu saudara-saudara dan anak-anaknya”. (Hadiyyah Thayyibah, dalam Majmu’ah At Tauhid)

Karena kebodohan umat di zaman modern ini terhadap ‘aqidah Ahlus Sunnah, maka banyaj umat yang memvonis orang-orang yang mengkafirkan pelaku syirik sebagai Khawarij. Ini adalah vonis dari orang bodoh (jaahil). Syaikh ‘Abdul Lathif berkata: “Siapa yang menjadikan pengkafiran dengan syirik akbar termasuk hal ini (‘aqidah Khawarij), maka sesungguhnya dia itu telah mencela para Rasul dan (‘ulama) umat ini, dia tidak bisa membedakan antara agama para Rasul dengan madzhab Khawarij, dia sungguh telah mencampakkan nash-nash Al Qur’an dan telah mengikuti selain jalan kaum mukminin”. (Mishbahudh Dhalam: 73)

Hukum mengikuti kebanyakan orang adalah haram, karena pada dasarnya kebanyakan orang berada diatas kesalahan berbanding hanya sedikit saja yang berada diatas Kebenaran. Kebanyakan orang merasa dirinya Muslim namun sesungguhnya merka telah kafir, mereka hanya menyangka diri mereka Muslim namun mereka tidak sadar kalau setan telah menanamkan persangkaan sebagai Muslim saja dalam diri mereka. Termasuk padanya setan penguasa NKRI ini yang melarang Kaum Muslimin menjalankan Syari’atnya, justru mereka menuduh Kaum Muslimin yang ingin berIslam secara kaffah sebagai teroris, padahal semata mata yang mereka lakukan itu hanyalah upaya agar umat Islam agar berhukum dengan hukum Allah bukannya UUD 1945 yang murni kafir itu. Hukum berdasarkan kebanyakan adalah metode sampah busuk demokrasi.

Ayat al-Qur’an telah menjelaskan :
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS 6:116)

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS 10:36)

“Kemudian Aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 7:17)

“Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.” (QS 43:78)

“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya KAMI mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.” (QS 7:102)

Nah kalau kebanyakan orang membenci Islam karena Islam melegitimasi kekerasan, ya memang begitulah kebanyakan orang yang sebenarnya mereka telah menjadi binatang namun mereka tidak sadar atas kebinatangan mereka. Sama seperti penguasa negeri ini dan sekaligus rakyatnya, kebanyakan mereka bodoh dan merasa dirinya masih Muslim hanya karena mereka masih shalat, zakat, dan mengerjakan rukun Islam. Padahal aqidah ketauhidan mereka banyak telah melenceng dari Islam, dan hal ini tidak mereka sadari.

Penguasa negeri ini adalah thaghut, kenapa demikian ?karena mereka dengan dewan legislatifnya dan sebagian eksekutifnya mengklaim sebagai pembuat hukum, mengklaim yang berhak membuat hukum dan perundang-undangan, bahkan mereka telah membuat dan memutuskan, maka mereka adalah thaghut itu sendiri. Mereka menjadi pembuat hukum yang hukumnya diikuti (baca: diibadati) oleh pengikutnya.

Allah berfirman: “Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu”. (An Nisa: 60)

Banyak masyarakat pembela thaghut atau siapa saja di antara mereka, ketika memiliki kasus di negeri ini, apakah mereka mengajukan kasusnya kepada hukum Allah ataukan kepada hukum selaim hukum Allah? tentu mereka mengajukannya kepada hukum selain hukum Allah, yang mana hukum itu dibuat oleh para thaghut di gedung Parlemen, baik yang ada di lembaga legislatif atau lembaga eksekutif maupun para pemutusnya di dewan yudikatif. Mereka adalah thaghut, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab dalam Risalah Fie Ma’na thaghut, bahwa pentolan thaghut selain iblis ialah penguasa dzalim yang mengubah Ketentuan Allah. Sedangkan di negeri ini, semua hukum Allah dirubah, mulai dari hukum pidana, perdata, ekonomi, dan lain-lain. Semua dicampakkan dan mereka sepakat tidak memakai hukum yang Allah turunkan, melainkan hukum kafir.

Namun tidak ada yang berani mengatakan bahwa hukum negara ini kafir dan kita justru mendiamkan seta mengikutinya. Apakah kita telah tunduk pada sistem kafir dan tidak berani menentang kekafiran tersebut. Berhati-hatilah bahwasannya diri kita dapat terjerumus kepada kekafiran.

Kita sudah banyak melihat bentuk-bentuk kekafiran yang dianut dan masih senantiasa dilakukan penguasa negeri ini, sehingga tidak layak berdalil dengan surat An Nisa: 59 untuk menggelari pemerintah ini sebagai ulil ‘amri. Mengapa? Karena pemimpin yang berhukum dengan sistem kafir bukanlah ulil ‘amri. Namun yang disebut ulil ‘amri adalah pemerintah yang berhukum kepada hukum Allah. Maka Ibn Taimiyyah berpendapat bahwa apabila pemerintah telah menerapkan hukum Allah dalam sistem negara dan kemudian pemerintah tersebut melakukan tindakan zalim, tidak patut bagi rakyat untuk memberontak selama pemerintah tidak meninggalkan hukum Allah serta tidak melakukan kemusyrikan yang dapat mendorongnya pada kekafiran.

Para ulama sepakat bahwa orang kafir tidak sah untuk menjadi pemimpin bagi kaum muslimin. Bila pemimpin tersebut asalnya muslim kemudian muncul kekafiran darinya maka wajib untuk mencopotnya dan menggantinya dengan pemimpin yang muslim. Bila tidak mampu mencopotnya karena mereka menggunakan kekuasaan untuk mempertahankannya, maka wajib diperangi. Namun dalam relaita zaman ini, kekafirannya bukanlah kekafiran yang bersifat personal, akan tetapi kekafiran yang kolektif dan tersistematisasi sehingga jika penguasa yang satu meninggal maka pemimpin setelahnya tetap menggunakan sistem kafir.

Maka dari itu tugas kita sebagai muslim yang kaffah adalah wajib menggalang kekuatan dengan langkah awalnya adalah mengerahkan segala kemampuan dalam menggencarkan dakwah tauhid yang berkesinambungan untuk mencabut akar-akar loyalitas terhadap thaghut dan sistem kafir di tengah masyarakat, sehingga thaghut tidak mempunyai tempat lagi di tengah-tengah masyarakat ini. Jihad terhadap thaghut ini haruslah menjadi opini kaum muslimin. Kaum muslimin harus merasa memiliki tanggung jawab terhadap masalah ini sehingga tidak hanya dipikul oleh kelompok-kelompok tertentu saja. Bukan berarti seluruh kaum muslimin harus terjun dengan menenteng senjata, tapi yang paling penting bagi mereka adalah mereka adalah mereka harus memahami betul bahwa penguasa negeri yang mana mereka hidup di dalamnya adalah penguasa murtad kafir yang tidak boleh diberikan loyalitas, sehingga dengan kesadaran itu lunturlah dukungan kepada para thaghut dan tumbuhlah loyalitas kepada orang-orang yang berkomitmen dengan ajaran Allah. Bila ini terwujud, maka kondisi akan berubah, dukungan kepada thaghut akan berganti dengan penentangan, sehingga mudahlah untuk menjatuhkan para thaghut itu. Hendaklah diketahui bahwa pemerintahan thaghut ini adalah pemerintahan yang tidak sah, tidak syar’iy, tidak diakui secara Islam. Mereka adalah pemerintah yang memaksakan diri, begitu pula hukum dan undang-undangnya tidak sah, oleh sebab itu kaum muslimin tidak memiliki kewajiban untuk taat pada aturan-aturan yang dibuat oleh pemerintah thaghut ini, bahkan bebas untuk melanggarnya selama memenuhi dua syarat, yaitu: selama tidak melakukan sesuatu yang dilarang syari’at dan selama tidak menzalimi orang muslim.

Demikianlah sikap kita kaum muslim terhadap para thaghut penguasa negeri ini, bukan loyalitas dan taat kepada mereka, tapi ingatkah bahwa kita adalah orang-orang yang ditindas, diperangi dengan berbagai cara; kasar dan halus, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, tapi sungguh banyak kaum muslimin tidak menyadarinya. Ini karena kebanyakan kaum muslimin belum memahami hakikat tauhid. Mereka mengira penguasa negeri ini adalah muslim, karena para thaghutnya itu shalat, shaum, zakat, bahkan haji berkali-kali, padahal penguasa negeri ini telah melanggar hal yang paling penting dan fundamental, yaitu bersistem kepada hukum yang bukan dari Allah, melainkan berhukum pada sistem kafir. Allahu A’lam