Updates from September, 2012 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • aqidahsalafshalih 7:31 pm on September 4, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , , ,   

    Cara Menanggulangi Terorisme dalam Sistem Khilafah Islamiyah 

    Oleh: Hafidz Abdurrahman

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “terorisme” diartikan sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan, terutama tujuan politik. Pelakunya disebut teroris, yaitu orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, Jakarta, cet. IV, 1995, 1048).

    Jika kita menggunakan definisi ini, maka masalah terorisme ini bisa dipetakan menjadi dua: Pertama, tindakan kekerasan yang melanggar hak orang lain, yang menyebabkan hilangnya harta, nyawa dan kehormatan. Kedua, kekacauan, instabilitas politik dan keamanan.

    Terorisme: Crime Again Humanity

    Sebagai agama dan ideologi yang lengkap dan sempurna, Islam telah memberikan solusi yang jelas dan tegas terhadap kedua poin di atas. Tindakan teror, baik secara verbal maupun fisik, sama-sama diharamkan oleh Islam. Nabi menyatakan, “Siapa saja yang meneror orang Islam demi mendapatkan ridha penguasa, maka dia akan diseret pada Hari Kiamat bersamanya.” (Lihat, as-Suyuthi, Jami’ al-Masanid wa al-Marasil, VII/44). Teror yang dimasuk di sini bisa berbentuk verbal maupun fisik. Demikian juga hadits Nabi, “Siapa yang menghunus pedang terhadap seorang Muslim, maka benar-benar telah menumpahkan darahnya.” (Lihat, as-Syaibani, Syarah as-Sair al-Kabir, I/6). Kedua hadits ini jelas mengharamkan tindakan teror. Karena itu, tindakan ini dianggap pelanggaran syar’i (mukhalafah syar’iyyah), dan merupakan bentuk krimininal (jarimah).

    Dalam Islam, setiap pelanggaran ada sanksinya, sesuai dengan bentuk dan kadarnya. Jika tindakan teror yang dilakukannya menyebabkan hilangnya nyawa orang banyak, maka menurut mazhab Hanafi, orang tersebut harus dibunuh, tidak perlu membayar diyat. Namun, menurut Imam as-Syafii, itu belum cukup. Selain harus dibunuh, dia diwajibkan membayar diyat kepada seluruh keluarga korban. Alasannya, karena nyawa yang dia renggut lebih dari satu. Jika di-qishash, maka nyawanya hanya berlaku untuk satu korban, sementara korban yang lain belum mendapat bagian. Karena itu, dia wajib membayar diyat, agar defisit qishash tersebut bisa ditutup (Lihat, as-Sarakhsi, al-Mabsuth, III/99).

    Namun, jika tindakan teror yang dilakukan tidak sampai menyebabkan hilangnya nyawa, tetapi hanya menimbulkan hilangnya anggota badan, maka Islam menetapkan diyat untuk masing-masing. Dengan ketentuan: (1) Jika anggota badan tersebut hanya mempunyai satu organ, maka jika organ tersebut terluka, wajib dibayar 100 unta; (2) Jika terdiri dari dua organ, dan yang terluka hanya salah satu, seperti telinga sebelah kiri, maka wajib dibayar 50 unta; (3) Jika terdiri dari sepuluh bagian, seperti jari, maka setiap jari wajib dibayar 10 unta. Diyat ini berlaku, jika organ tersebut hilang. Namun, jika hanya terluka, dan luka tersebut luka dalam, maka diyat yang harus dibayar adalah sepertiga (Lihat, al-Maliki, Nidzam al-‘Uqubat).

    Demikian juga terkait dengan harta yang dirusak, dan kehormatan wanita yang direnggut, semuanya ada balasannya. Semuanya ini telah dirinci dan dibahas oleh para fuqaha, dan banyak kita temukan rinciannya di dalam kitab-kitab fiqih mereka. Inilah ketentuan Islam terkait dengan teror yang mengakibatkan hilangnya nyawa, harta dan kehormatan, dilihat dari aspek tindakan kriminalnya.

    Terorisme: Ancaman Keamanan

    Dampak yang diinginkan oleh aksi teror, sebenarnya bukan hanya menghilangkan nyawa, harta dan kehormatan, tetapi untuk mengganggu keamanan dan menciptakan kengerian di tengah-tengah masyarakat. Aksi teror ini termasuk dalam kategori kegiatan yang bisa mengancam keamanan, meski bukan satu-satunya. Sebab, masih ada kegiatan lain yang bisa mengancam keamanan.

    Sebut saja, murtad dari Islam, bughat (memberontak) baik disertai aksi perusakan, pembakaran, sabotase dan pendudukan pos-pos vital di dalam negara, disertai dengan serangan terhadap kepemilikan individu, umum dan negara, atau memisahkankan diri dari negara dengan mengangkat senjata dan melakukan perang terhadap negara. Selain itu, termasuk aktivitas yang mengancam keamanan adalah perompakan, pembajakan, merampok harta dan menghilangkan nyawa pemiliknya. Juga serangan terhadap harta orang awam, baik dengan mencuri, merampok maupun korupsi; serangan terhadap jiwa mereka, baik dengan memukul, melukai maupun membunuh, serta serangan terhadap kehormatan mereka, baik dengan pembunuhan karakter, tuduhan berzina maupun menzinai. Selain aktivitas yang jelas-jelas mengancam keamanan tadi, ada aktivitas lain yang dilakukan oleh Ahl Raib, Muslim maupun non-Muslim yang bekerja sama dengan negara kafir harbi untuk menghancurkan negara Islam. Ini juga termasuk aktivitas yang bisa mengancam keamanan negara.

    Terhadap masing-masing aktivitas tersebut, Islam telah menetapkan hukum yang jelas dan tegas. Orang murtad, termasuk mereka yang mengemban dan menyebarkan paham sesat, baik dengan embel-embel Islam maupun tidak, jika sebelumnya Muslim, maka dia diminta bertaubat, dan diberi waktu tiga hari. Jika dalam waktu tersebut tidak bertaubat, maka dia harus dibunuh. Terhadap bughat (memberontak) baik disertai aksi perusakan, pembakaran, sabotase dan pendudukan pos-pos vital di dalam negara, disertai dengan serangan terhadap kepemilikan individu, umum dan negara, namun tidak mengangkat senjata, maka mereka harus dihentikan oleh polisi. Jika polisi tidak mampu, maka bisa meminta bantuan tentara. Namun, jika mereka mengangkat senjata dan melancarkan perang, maka mereka harus diperangi. Dalam hal ini, selain polisi, tentara bisa dilibatkan, hingga mereka berhasil dilumpuhkan. Namun, sebelumnya, mereka harus diminta untuk kembali, meletakkan senjata dan taat kepada negara. Jika tidak bersedia, baru diperangi.

    Terhadap perompakan, pembajakan, merampok harta dan menghilangkan nyawa pemiliknya, mereka harus diberantas oleh kepolisian untuk dihabisi, karena perang melawan mereka bukan perang untuk memberi pelajaran, tetapi untuk membasmi. Mereka bisa dibunuh, dipotong tangan dan kakinya secara menyilang, disalib dan dibuang ke luar kota. Ada yang cukup dipotong tangan dan kaki secara menyilang, tidak dibunuh. Atau, ada yang hanya dibuang, tidak dipotong tangan dan kakinya, dan tidak dibunuh. Semuanya sesuai dengan tindakan yang mereka lakukan.

    Demikian juga serangan terhadap harta orang awam, baik dengan mencuri, merampok maupun korupsi; serangan terhadap jiwa mereka, baik dengan memukul, melukai maupun membunuh, serta serangan terhadap kehormatan mereka, baik dengan pembunuhan karakter, tuduhan berzina maupun mezinai, maka negara bisa mengawasi, mengontrol dan menghukum mereka dengan menerapkan hukum-hukum peradilan yang terkait.

    Semuanya ini dilakukan berdasarkan bukti, dan tidak boleh ada sanksi apapun yang dijatuhkan kepada mereka hanya karena “diduga”. Sebab, prinsip pengadilan dalam Islam adalah, al-ashl bara’tu ad-dzimmah (asas praduga tidak bersalah). Islam membolehkan dilakukannya penangkapan, jika ada indikasi kuat yang mengarah kepada pelaku, agar bisa ditanya. Meski begitu, dengan tegas Islam mengharamkan penyiksaan, teror dan sejenisnya terhadap orang yang diduga atau dituduh sebagai pelaku. Islam mengharamkan aktivitas spionase terhadap mereka, termasuk menyadap telpon, email dan sebagainya.

    Namun, larangan spionase tersebut dikecualikan terhadap Ahl Raib. Meski boleh jadi mereka adalah Muslim, tetapi karena keterkaitan mereka dengan orang Kafir Harbi fi’lan, dan kebolehan untuk memata-matainya, maka hal yang sama juga berlaku terhadap Ahl Raib ini. Meski demikian, kebolehan tersebut dibatasi dengan dua syarat: Pertama, jika Departemen Perang dan Keamanan Dalam Negeri menyatakan, bahwa hasil pengawasannya membuktikan mereka terlibat dengan negara kafir harbi fi’lan. Kedua, hasil pengawasan tersebut kemudian diserahkan kepada Qadhi Hisbah, dan Qadhi Hisbah menyatakan bahwa aktivitas mereka bisa membahayakan Islam dan kaum Muslim. Jika dua syarat ini terpenuhi, maka negara melalui Departemen Keamanan Dalam Negeri bisa memata-matai mereka. Namun, jika dua syarat tersebut tidak terpenuhi, tidak boleh.

    Dengan cara seperti itu, negara akan bisa menyelesaikan masalah terorisme dari akar-akarnya. Solusi yang dibangun berdasarkan fakta kejahatan yang memang benar-benar telah dilakukan oleh pelakunya, bukan sekedar dugaan, apalagi rekayasa demi kepentingan politik penguasa komprador dan majikannya. Wallahu a’lam.

     

     

     

    Iklan
     
  • aqidahsalafshalih 7:32 pm on September 3, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , , , , , ,   

    Rekayasa Polisi dalam Kasus Teror di Solo 

    JAKARTA (voa-islam.com) Dinilai lakukan kejanggalan-kejanggalan dalam penyergapan di Solo, Densus didesak bekerja secara profesional dan proporsional, jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat.

    Indonesian Police Watch (IPW) menilai peristiwa penggerebekan kelompok teroris di Solo yang dilakukan Densus 88 sangat janggal. Menurut Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, ada tiga kejanggalan dalam penggerebekan yang terjadi pada Jumat (31/8/2012) malam itu.

    Kejanggalan pertama, kata Neta, pistol yang disita dari tertuduh teroris yang terbunuh adalah jenis Bareta dengan tulisan ‘Property Philipines National Police’. Padahal, sebelumnya Kapolresta Solo Kombes Asdjima’in menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran adalah jenis FN kaliber .99 milimeter (mm).

    …apakah orang yang ditembak polisi itu, benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya…

    “Pertanyaannya apakah orang yang ditembak polisi itu, benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya,” kata Neta dalam keterangan tertulisnya, Ahad (2/9/2012).

    Kedua, ia menambahkan, Bripda (sekarang Briptu) Suherman, anggota Densus 88 tewas akibat tertembak di bagian perut. “Ini menunjukkan anggota Densus 88 dalam bertugas yang bersangkutan tidak sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru,” katanya.

    Pertanyaannya apakah benar pada 31 Agustus 2012 malam itu, ada operasi Densus 88. “Jika ada kenapa anggota Densus 88 bisa teledor bertugas tidak sesuai SOP,” tanyanya.

    Ketiga, beberapa jam setelah penyergapan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri segera meninjau tempat kejadian perkara (TKP).

    “Padahal dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi, bahkan saat tiga kali penyerangan terhadap Pospam Lebaran itu, Presiden tidak bersikap seperti itu,” tuturnya.

    Pertanyaannya, lanjut dia, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin membangun citra dan menarik simpati publik dari peristiwa Solo yang terjadi sebelumnya yang sempat memojokkan Joko Widodo, Wali Kota Solo yang saat ini menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta.

    …Polri jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat. Polri harus bekerja secara profesional dan proporsional…

    Karena itu, IPW menganalisa meski Densus 88 sudah melakukan penyergapan di Solo tapi teror dan penembahkan terhadap polisi tetap menjadi ancaman.

    “Sebab rasa kesal sebagai masyarakat terhadap polisi kian memuncak,” cetusnya.

    Selama lima bulan pertama pada 2012, terdapat 11 polisi yang dikeroyok masyarakat.

    “Untuk itu, IPW mengimbau Polri agar mengubah sikap, perilaku dan kinerjanya. Jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa Polri harus bekerja secara profesional dan proporsional. [taz/trb]

    ========================================================================

    JAKARTA (voa-islam.com) Anggota Komisi III DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, mempertanyakan motif Densus 88 Polri melibatkan media massa saat “beraksi” menangani kasus terorisme.

    “Saya ingin pertanyakan, apa yang membuat Densus 88 saat surveilence mengapa melibatkan begitu banyak media elektronik?” ujar Susaningtyas dalam rapat kerja Komisi III dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo di Gedung DPR, Jakarta, Senin (3/9/2012).

    Menurutnya, pelibatan media massa saat tugas penanganan terorisme justru menimbulkan tanda tanya dan kejanggalan.

    Susaningtyas juga menyoroti lemahnya kinerja dan koordinasi Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri dalam tugas antisipasi konflik dan terorisme. “Pak Kabaintelkam, apa yang sesungguhnya yang sudah dilakukan anak buah bapak di lapangan,” sindirnya.

    Ia juga menyindir Kapolri yang “kurang cakap” menempatkan SDM di Baintelkam. “Saya khawatir di Baintelkam hanya sebagai tempat orang yang tidak happy di tempat lain,” imbuhnya.

    Susaningtyas juga merasa heran dengan “gerakan” Densus 88 yang sangat cepat menyimpulkan bahwa dua orang yang digerebek dan ditembak di Jalan Veteran I, Tipes, Solo, pada 31 Agustus 2012 lalu, adalah teroris.

    “Mengapa begitu cepatnya menyimpulkan teroris. Kan teror itu suatu pekerjaan yang membuat orang panik, membuat panggung sehingga media jadi fokus,” tegas politisi Partai Hanura yang dipindahkan dari Komisi I ke Komisi III itu. [Widad/trb]

    ========================================================================

    JAKARTA (voa-islam.com) Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Ansyad Mbai akhirnya menuding Amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), ustadz Abu Bakar Ba’asyir berada dibalik ‘teror’ Solo yang menewaskan seorang polisi.

    “Iya (pelakunya JAT) itu dari Hisbah solo. Kemudian juga masuk di kelompok Mujahidin Jakarta. Bosnya, ya, tetap dia (Ba’asyir),” kata Ansyad di Istana Negara Jakarta, seperti dikutip tribunnews.com, Senin (3/9/2012).

    Bahkan, Ansyaad ngotot memastikan bahwa kedua pemuda tersebut adalah teroris. “Jangan ragu-ragu sama teroris, itu teroris. Jangan lagi diduga teroris. Karena sudah membunuh orang kok masih diduga teroris. Emang kalian takut sama teroris,” kata Ansyad.

    Menurutnya pula, tiga pemuda yang dibunuh maupun yang ditangkap adalah alumni Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. “Mereka itu baru keluar dari Ngruki,” katanya.

    Sementara itu, menanggapi Kepala BNPT Ansyaad Mbai, ustadz Son Hadi selaku Direktur JAT Media Center (JMC), membantah dengan keras tuduhan tersebut.

    Sebaliknya, ustadz Son Hadi menilai tuduhan itu hanyalah bualan Ansyaad Mbai. Bahkan ada ia melihat hal itu adalah intrik untuk menutupi sejumlah kejanggalan dalam penyergapan Densus 88, di Jl. Veteran, Solo, pada hari Jum’at (31/9/2012).

    “Ada intrik di balik bualan Ansyaad Mbai yaitu; satu, dia ingin lari dari tanggung jawab hukum atas tindakan brutal Densus 88 yang membantai aktivis Muslim. Padahal, seharusnya ia menjelaskan secara hukum, apa keterkaitan Farhan Cs dengan 3 peristiwa penembakan sebelumnya. Kenapa Farhan harus dibunuh? Sudah menjadi rahasia umum banyak kejanggalan dalam penembakan di Tipes, Solo.

    Kedua, kenapa jasad Suherman langsung dimakamkan tanpa diotopsi terlebih dulu sehingga publik tahu peluru siapa sebenarnya yang menyebabkan  tewasnya Farhan Cs,” papar ustadz Son Hadi kepada voa-islam.com, Senin (3/9/2012).

    Selanjutnya, ustadz Son, sapaan akrabnya, menilai Ansyaad Mbai tak layak memimpin sebuah lembaga negara lantaran tak menghormati asas praduga tak bersalah. “Asas praduga tak bersalah benar-benar tak dipatuhi oleh Ansyaad. Ini menunjukkan dia tak menghormati dan menegakkan hukum dalam pemberantasan terorisme. Lantas apakah pantas orang semacam ini memimpin lembaga negara?” ungkapnya.

    Selain itu, ustadz Son Hadi menilai Ansyaad telah melakukan penyesatan dan pembodohan publik. Hal ini terlihat dari pernyataan Anysaad yang simpang siur. Ansyaad mengatakan bahwa Farhan baru keluar dari Ngruki, padahal sebelumnya BNPT dan pihak kepolisian menyatakan Farhan baru pulang dari Filipina Selatan.

    “Yang jelas pernyataan Ansyaad menyesatkan sekaligus sebuah pembodohan publik oleh seorang kepala BNPT,” tandasnya. [Ahmed Widad]

    ========================================================================

    Eramuslim.com | Media Islam Rujukan, Solo, (forum-alishlah.com) – Lambannya pengungkapan kasus teror yang terjadi di kota Solo dari akhir bulan Ramadhan 1433 H (17/8/2012) sampai jatuhnya korban meninggal dari fihak kepolisian menunjukkan ada sesuatu yang tidak “beres” dalam penanganan kasus tersebut.

    Kejadian teror pertama kali terjadi sebuah penembakan Pos Pam Lebaran 1433 H di Perempatan Geblegan Serengan Solo (17/8/2012), aksi teror ke-2 yaitu pelemparan “Granat Nanas” dikawasan Gladag Solo (18/8/2012), kemudian disusul dengan penembakan Bripka Dwi Data Subekti di Pos Polisi Plaza Singosaren Solo kamis malam 30/8/2012 dan terakhir aksi “koboi” berupa tembak menembak antara tim Densus 88 dengan para terduga aksi teror sebelumnya.

    Kasus terakhir yang mungkin bisa dikatakan sebagai “gunung es” adalah aksi baku tembak antara tim Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Anti Teror Mabes Polri dengan orang yang diduga sebagai pelaku aksi teror di Solo akhir-akhir ini.

    Menanggapi berlarut-larutnya penanganan dan pengungkapan kasus teror yang membuat resah warga Solo tersebut, Ustadz Sholeh Ibrohim, S.Th.I salah satu tokoh maysrakat di kota Bengawan ikut angkat bicara. Menurutnya, kasus teror yang terjadi di Solo hanyalah permainan politik fihak tertentu.

    “Ya kalau saya berpendapat seperti ini, bahwa kasus teror ini politik. Karena memang kasus yang meneror Solo ini tiga berturut-turut kok ini ternyata tidak segera tertuntaskan dan terkuak pada persoalan intinya, siapa pelaku-pelakunya”, jelasnya saat ditemui Kru FAI dikediamannya Jum’at siang 31/8/2012 (setelah penembakan di pos polisi Singosaren dan sebelum baku tembak di Tipes Solo).

    Saat diminta keterangannya lebih lanjut siapakah para pelaku aksi teror tersebut, beliaupun menjawab singkat yaitu aparatur negara sendiri. Sebab menurutnya, jika pelaku penembakan dan pelemparan granat itu di indikasikan oleh Densus 88 berasal dari umat islam, maka tentunya takkan butuh waktu lama bagi Densus 88 untuk menangkapnya, sebelum aksi teror tersebut dilakukan.

    “Saya sendiri dalam hal ini selaku pribadi memang itu sangat melibatkan dari unsur-unsur aparat sendiri (yang menjadi pelaku-red), indikasinya seperti itu. Karena kalau kasus dengan orang yang dianggap sebagai teroris (mujahidin-red) itu biasanya kan langsung ketangkap dalam beberapa waktu yang dekat sekali. Lha ini kan sudah berapa minggu sejak Ramadhan lalu sampai sekarang ini hingga jatuh korban, belum ada yang terkuak (siapa pelakunya-red)”, ungkap Ustadz Sholeh.

    Bahkan menurut salah satu staf pengajar Ponpes Al Mukmin Ngruki Solo ini, kasus teror Solo ada indikasi sebuah skenario didalamnya yang coba dimainkan.

    “Ya sebetulnya mereka kalau dibilang kecolongan ya,, tidak bisa juga seperti itu. Kalau dikatakan membiarkan, mereka nggak mau dikatakan demikian, karena dia sudah bekerja. Karena mereka kan punya intelejen. Ya,, kurang sigapnya saja dalam menangani semacam itu (kasus Solo-red) dan mengungkapnya, dan indikasinya ada skenario”, paparnya.

    Beliau-pun menegaskan, jangan dikira bila ada korban meninggal, kemudian hal itu dianggap sebagai sesuatu yang serius dan pembenaran bahwa kejadian tersebut bukan sebuah rekayasa, meskipun yang tewas dari fihak aparat. Bahkan, sebelum kejadian baku tembak di selatan Lotte Mart Tipes Solo yang menewaskan 2 orang terduga teroris dan 1 petugas Densus 88, Ustadz Sholeh sudah memprediksi akan ada aksi yang lebih besar dari sekedar penembakan Bripka Dwi Data Subekti.

    “Suatu saat nanti juga menurut saya akan ada yang lebih dari ini (penembakan polisi di Singosaren-red). Jadi tidak semua yang sampai jatuh korban itu bisa dikatakan sebagai sesuatu yang dibenarkan (bukan rekayasa-red), yaitu bukan dramatir dan rekayasa meskipun yang jatuh korban dari fihak mereka (kepolisisan-red)”, tegasnya.

    Ustadz Sholeh-pun kembali menegaskan keyakinannya kalau kasus teror di Solo ini hanyalah politisasi belaka. Meskipun beliau juga tidak menafikkan adanya jatuh korban meninggal dan luka-luka akibat aksi teror tersebut.

    “Ya,, politisasi, jatuhnya saya kesitu. Ya sebenarnya bisa juga pemilihan Gubernur atau bisa juga ingin mengkondisikan kota Solo yang Jokowi ada didalamnya ini mau dibuat kacau”, pungkasnya. (Abd/Kru FAI)

    ========================================================================

    VOA-ISLAM.COM Forum jihad Al Tawbah (at-tawbah.net) merilis pernyataan mujahidin yang menamakan dirinya “Sariyatu Tsa’ri wad Dawaa” atau berarti Sariyah (pasukan kecil) untuk Pembalasan dan Obat Penawar.

    Dalam rilis tersebut diungkapkan bahwa amaliah berbarokah di kota Solo beberapa waktu lalu merupakan pembalasan atas sikap pemerintah yang berusaha memberangus orang-orang yang memperjuangkan dienul Islam.

    Selain itu, dalam pernyataan tertanggal 1 September 2012 itu menyerukan kepada pemerintah agar menghentikan segala penindasan terhadap para mujahidin dengan dalih “memerangi terorisme.” Berikut ini adalah kutipan lengkap pernyataan tersebut.

     
    بسم الله الرحمن الرحيم

    الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين, وبعد .

    قال الله تعالى :
    قَاتِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُؤْمِنِيْنَ. وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوْبِهِمْ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ .

    Artinya :
    “Perangilah mereka (orang-orang Kafir beserta antek-anteknya) itu, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan tangan-tangan kalian, (niscaya Allah akan) menghinakan mereka, (niscaya Allah akan) menolong kalian atas mereka, (niscaya Allah akan) mengobati dada-dada Orang Beriman. Dan (niscaya Allah akan) menenangkan Rasa Jengkel Orang Beriman. Dan Allah menerima Taubatnya orang-orang yang Ia kehendaki, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.
    (QS. At-Tawbah : 14-15)

    Atas berkat Rahmat Allah Azza wa Jalla, Para Ikhwan Muwahhidun berhasil dengan idzin Allah Ta’ala memberikan sebuah Obat Penawar bagi Para Orang yang Beriman, sebuah Penyejuk Hati bagi Para Ikhwan yang dengan idzin Allah tertawan dan Keluarga Kaum Muslimin yang terbunuh oleh Para Antek-antek Orang Kafir Salibis dan Zionis dari kalangan Thoghut Pemerintahan Murtadin Republik Indonesia berserta Para Bala Tentaranya, dalam hal ini Pihak Kepolisian Republik Indonesia, dengan adanya beberapa Serangan Pembalasan dan Obat Penawar yang telah terjadi di Kota Solo yang terjadi beberapa waktu terakhir ini.

    Ini adalah Serangan Pembalasan atas kekejaman Thoghut Negeri ini yang telah berusaha memberangus Orang-orang yang berusaha memeluk Dienul Islam ini secara Murni dan Benar, mereka telah rela menodai Negeri Kaum Muslimin yang berbarokah ini dengan darah-darah Kaum Muslimin sendiri baik dari kalangan Para Ikhwan yang Berjihad maupun dari Kalangan Kaum Muslimin secara umum, demi untuk melayani Tuan mereka, demi mereka rela menjadi Jongos nya Syetan Amerika dan sekutunya, hanya untuk sebuah Imbalan balas Jasa dan reward yang tidak seberapa dibandingkan darah-darah Kaum Muslimin yang tertumpah.

    Ini adalah Serangan Obat Penawar untuk yang memberikan Penawar atas rasa Sakit Hati Kaum Muslimin yang selalu ditindas dan diperlakukan semena-mena oleh Sang Jongos Kepolisian Negeri ini, yang mereka membunuh sesuka mereka, yang mereka merampok sesuka mereka, yang mereka menawan sesuka mereka atas Kaum Muslimin yang baik-baik.

    Bagi Kaum Muslimin sekalian, ini adalah Hadiah Spesial untuk kalian. Untuk memberikan Semangat Baru dalam Beramal, baik secara Berjamaah maupun secara individual, bukankah Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam Ayat-Nya yang mulia :

    فَقَاتِلْ فِي سَبِيْلِ اللهِ لاَ تُكَلَّفُ إِلاَّ نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَسَى اللهُ أَنْ يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاللهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنْكِيْلاً

    Artinya :
    “Maka berperanglah kalian fie Sabilillah, dan hal ini tidak dibebankan kecuali atas pribadimu, dan berilah Motivasi / Semangat kepada Orang Beriman untuk berperang, semoga Allah akan menahan serangan-serangan Orang Kafir, dan Allah itu Maha Besar Kekuatan-Nya dan Maha Keras Siksaan-Nya”.
    (QS. An-Nisa : 84)

    Kami serukan juga kepada kalian Wahai Para Thoghut NKRI beserta para punggawanya, berhentilah kalian menjadi Jongosnya Syetan Amerika dan sekutunya, khususnya dalam hal yang mereka sebut dengan “Memerangi Terorisme”, karena sesungguhnya jika kalian ikut campur tangan dalam masalah ini dan membantu Amerika beserta sekutunya, maka sesungguhnya kalian adalah Musuh Kaum Muslimin, dan juga Musuh kami bersama, karena sebagaimana kalian ketahui bahwa Syetan Amerika beserta sekutunya telah mengadakan Pembantaian besar-besaran terhadap saudara-saudara kami Kaum Muslimin di Palestina, Afghanistan, Iraq, Somalia, Yaman, dan yang lainnya.

    Waspadalah waspadalah…!!! Tentara Kaum Muslimin akan selalu ada dan senantiasa mengintai kalian di tempat-tempat Pengintaian, serta menargetkan sasaran-sasaran yang kalian lengah darinya. Maka berhati-hatilah…!!! Karena sesungguhnya kami tidak akan pernah tidur untuk kalian, hingga kalian berhenti Memerangi Kaum Muslimin dan berhenti menjadi menjadi Jongosnya Amerika yang notabenenya adalah Musuh Kaum Muslimin sedunia.

    Jika tidak, maka bersenang-senanglah kalian dengan Serangan-serangan yang lebih besar, yang akan segera menyusul tak lama lagi dengan idzin Allah Ta’ala.

    Dan untuk kalian wahai Para Pahlawan Islam, Haniean laka yaa Abthool, berbahagialan kalian Wahai Para Pejuang, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan pernah mengingkari janji-Nya, sebagaimana yang telah ada dalam Kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an, dan Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala bagi Orang yang memperbagus amalannya.

    Allahu Akbar……
    {Dan Kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya dan Orang-orang yang Beriman, akan tetapi orang-orang Munafik tidak mengetahuinya}

    Jangan lupa untuk selalu mendoakan Para Mujahidin dalam Doa-doa Khusyu’ kalian

    Sabtu, 1 September 2012
    14 Syawal 1433 H

    Dari Ikhwan kalian di :

    Sariyatu Tsa’ri wad Dawaa’
    Sariyah Pembalasan dan Obat Penawar

    ========================================================================

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal