Tagged: liberalisme Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • aqidahsalafshalih 2:10 pm on August 16, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , , Kristenisasi, liberalisme, , , , ,   

    Membongkar Strategi Kristenisasi yang Terselubung 

    sumber: Kampanye #SAVEMARYAM : Selamatkan Muslim Indonesia dari Kristenisasi

    Prihatin dengan maraknya pemurtadan terhadap umat Islam di Indonesia, sebuah proyek kampanye yang dilakukan oleh Mercy Mission untuk Indonesia membuat kampanye internet bertajuk #SAVEMARYAM.

    Menurut data dari Mercy Mission hingga 2 juta umat Islam murtad di Indonesia setiap tahunnya. Kekecewaan dan bujuk rayu telah membuat anak muda Indonesia merasa bahwa Islam tidak berhubungan dengan kehidupan kontemporer Indonesia. Di sisi lain kalangan kristen dengan jargon-jargon kasih sayang, cinta dan perdamaian banyak membuai anak muda Indonesia. Anak muda Indonesia saat ini banyak yang belum menemukan keindahan atas esensi Islam yang sejati yang bisa menguatkan umat Islam di seluruh dunia.

    Jika ini berlanjut, diperkirakan pada tahun 2035, jumlah umat Kristen Indonesia sama dengan jumlah umat Muslim. Pada tahun itu, Indonesia tidak akan lagi disebut sebagai negara dengan penduduk mayoritas Islam. Dan jika pemurtadan dari Islam ini masih berlanjut, Indonesia akan mencapai titik di mana umat Kristen menjadi penduduk mayoritas. Naudzubillah tsumma naudzubillah.

    Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita bisa melihat dari kondisi ekososial di negara dengan penduduk sekitar 240 juta jiwa yang sangat memprihatinkan. Banyak yang meramalkan Indonesia akan mencapai status negara maju tidak lama lagi. Sebagai salah satu negara the Group of Twenty (G20), pertumbuhan ekonomi di Indonesia termasuk stabil dan menuju ke arah baik. Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2011, misalnya, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tumbuh sebesar 6.5 persen. Ironisnya, angka kemiskinan masih menghantui pertumbuhan ekonomi ini dengan jumlah penduduk Indonesia yang masih di bawah garis kemiskinan sampai pada tahun 2011 mencapai 30 juta jiwa atau sekitar 12 persen dari seluruh populasi.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat megah di pusat negara, di Pulau Jawa, di kota-kota besar saja. Indikatornya masih melihat pada pendapatan perkapita yang disumbangkan oleh golongan kelas menengah. Konsekuensinya, golongan miskin seolah-olah terselubungi. Masih berjuta-juta rakyat Indonesia yang tidak mendapat akses pendidikan, pelayanan kesehatan, listrik, air bersih, dan fasilitas umum negara lainnya. Mereka hidup di jalanan ibu kota, di bawah jembatan, di tepi sungai yang penuh dengan sampah. Ada pula yang hidup di pedalaman yang tidak terjamah oleh kebijakan pemerintah. Dan mereka inilah golongan miskin beragama Islam yang merana dan putus asa. Akibatnya, dengan iman yang minim, keyakinan pun mudah tergugah. Hanya dengan iming-iming kekayaan secuil, mereka akhirnya pindah agama. Astaghfirullah.

    Terlepas dari iman yang lemah, pemurtadan di Indonesia juga digerakkan oleh kristenisasi oleh para misioner Kristen. Gereja-gereja di Indonesia gencar mencanangkan dan menyebarkan misi mengkristenkan umat Islam. Berbagai cara mereka lakukan. Untuk lebih jelasnya, berikut merupakan agenda kristenisasi yang dilakukan oleh umat Kristen Indonesia:

    • Larangan Keluarga Berencana/KB (Family Planning) di kalangan umat Kristiani
      Keluarga Kristen dilarang melalukan pembatasan kehamilan. Umat Kristen diharuskan mempunyai anak sebanyak-banyaknya. Pembatasan kehamilan dianggap pembunuhan sesama umat Kristen karena dapat membatasi pertumbuhan jumlah umat Kristen.
    • Dorongan Keluarga Berencana bagi keluarga Islam
      Sementara keluarga Kristen giat beranak-pinak untuk menggandakan populasi mereka, anggota gereja semangat menyebarkan idealisme KB di kalangan masyarakat Muslim. Keluarga Muslim digalakkan untuk mempunyai anak sedikit mungkin. Program KB dipaksakan bagi keluarga Islam saja dan tidak untuk keluarga Kristen.
    • Fasilitas ekonomikal bagi keluarga Kristen
      Pentingnya memiliki anak yang banyak dalam keluarga Kristen harus diimbangi dengan pentingnya penyediaan economy support untuk menampung pembiayaan membesarkan anak-anak mereka. Untuk itu akses orang Kristen ke sumber-sumber ekonomi perlu diperbanyak dengan membatasi akses orang Islam ke sumber-sumber tersebut. Salah satu caranya ialah dengan memprioritaskan orang Kristen dalam penyediaan lapangan pekerjaan pekerjaan. Bisa jadi, larangan berjilbab dalam bekerja merupakan salah satu misi yang dilakukan.
    • Fasilitas kesehatan diutamakan untuk umat Kristen
      Golongan Kristen mempengaruhi pemerintah untuk membangun fasilitas kesehatan dari sumbangan yang mereka berikan. Umat Kristen didorong untuk membangun rumah sakit sebanyak-banyaknya. Ini demikian agar umat Kristen diutamakan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang baik. Jika orang Kristen sudah mapan, banyak uang, fasilitas kesehatan pun bisa dibeli. Bagi umat Islam yang mau berobat, biaya yang dikenakan sangat mahal agar mereka makin menderita.
    • Umat Kristen diwajibkan membantu sesama
      Umat Kristen yang kaya diwajibkan membantu umat Kristen yang miskin agar mereka tidak didekati oleh pemberi bantuan dari agama lain, teutama Islam. Untuk itu, orang Kristen harus giat mencari sumber kehidupan dan menguasai ekonomi negara.
    • Perbaikan standar pendidikan bagi orang Kristen
      Umat Kristen harus menguasai fasilitas pendidikan di Indonesia. Institusi pendidikan yang dimiliki pemerintah perlu mengutamakan orang kaya (yang kebanyakannya orang Kristen) sehingga orang miskin (yang kebanyakannya orang Islam) tidak dapat sekolah atau kuliah. Gereja-gereja Kristen perlu menggalakkan jamaahnya untuk mengenyang pendidikan serta mendirikan sekolah-sekolah atau kampus Kristen.
    • Kristenisasi politik
      Orang kristen harus memilih wakil pemerintahan yang mempunyai kebijakan pro-Barat. Kristen di Indonesia mendapat bantuan dari Barat. Golkar merupakan partai yang dikenal pro-Barat. Untuk itu orang Kristen harus menguasai Golkar dan mendorong pemenangan Golkar agar pemerintahan Indonesia dapat dikontrol oleh orang Kristen.
    • Propaganda media
      Orang Kristen perlu menguasai industri media dan mengutamakan membuat berita burukyang melibatkan umat Islam agar umat Islam bertengkar sesama sendiri. (Lihat saja kasus korupsi yang dilakukan oleh umat Islam lebih digembar-gemborkan daripada kasus korupsi yang dilakukan oleh orang Kristen).

    Masih banyak lagi misi yang dilakukan untuk menjalankan agenda kristenisasi di Indonesia. Poin 1-8 diatas merupakan parafrase dari poin-poin yang ada dalam naskah Jangka Panjang Kristenisasi di Indonesia yang dikeluarkan oleh Dewan Gereja Indonesia di Jakarta. Naskah rahasia itu pernah diterbitkan oleh majalah Crescent International, Kanada, pada November 1988. Misi-misi di atas masih sebagian kecil dari usaha kristenisasi di Indonesia.

    Tahun-tahun belakangan ini, misionaris Kriten makin terang-terangan menyerap umat muslim untuk memeluk agama Kristen. Mereka mendatangi rumah sakit dan menghibur pasien beragama Islam dan perlahan tapi pasti membujuk pasien ini pindah agama. Mereka juga berselindung disebalik misi perdamaian dan bantuan kemanusiaan. Menurut The Observer, kelompok misionaris Light of Love for Aceh terang-terangan mengenalkan nilai-nilai Kristen melalui kegiatan amal yang diberikan kepada korban tsunami Aceh. Bahkan mereka berharap dapat membawa anak-anak Aceh ke Jakarta untuk ditempatkan di panti asuhan Kristen.

    Begitu gencarnya para kaum misionaris mengkristenkan Indonesia. Orang-orang Kristen memang tidak suka orang Islam berjaya. Sebagaimana yang tertulis dalam QS Al-baqarah ayat 120:

    “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mau mengikuti kemauan mereka setelah pegetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.

    Maha benar firman Allah SWT. Tidak heran jika kristenisasi terus dilakukan untuk merayu dan mendapatkan umat Islam murtad dari agamanya.

    Sebagai umat Muslim yang peduli sesama serta peduli terhadap agama kita, mari kita dukung gerakan ini sepenuhnya.Untuk membantu Save Maryam, cukup dengan 3 langkah mudah: Watch, Share, Donate. Lihat atau tonton iklan mengenai Save Maryam. Kemudian, daripada menghabiskan waktu di Internet untuk hal-halyang tidak bermanfaat, ada baiknya kita menyebarkan informasi tentang kampanye ini. Dan jika kita ada rezeki lebih, tidak ada salahnya untuk menyumbang sejumlah uang kepada oraganisasi ini.

    Bagaimana uang donasi kita akan digunakan? Uang donasi dari saudara-saudara Muslim di seluruh dunia akan digunakan untuk:

    1. Melauncing Islamic Youth TV (berbasis di Yogyakarta)
    Saat ini media di Indonesia terutama TV telah memberi pengaruh buruk kepada pemuda Muslim di Indonesia. Hedonisme, kapitalisme dan westernisasi serta kulturalisasi Islam yang dipaparkan di TV berpotensi merusak esensi Islam sehingga dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat. Dengan adanya Islamic Youth TV, diharapkan pemuda Islam Indonesia terpapar dengan acara yang bermutu dan mendidik mereka ke kehidupan yang lebih baik.

    2. Melauncing Indonesian Youth Helpline
    Indonesian Youth Helpline merupakan call centre yang dihadirkan untuk melayani panggilan Muslim yang mempunyai masalah untuk dibantu. Ini penting agar mereka tidak lari kepada penolong dari agama lain.

    Selain memberi donasi langsung kepada Mercy Mission, kita juga bisa memberikan donasi melalui kegiatan seperti yang dianjurkan oleh oraganisasi ini. Kegiatan tersebut diberi nama Iftar For Maryam, yaitu inisiatif bagi kawan-kawan Muslim untuk mengundang kawan serta kerabat dalam acara buka puasa bersama. Melalui buka puasa ini, kawan-kawan dapat menggalang dana yang nantinya dapat disumbangkan untuk projek Save Maryam.

    Kesimpulannya, mari kita sama-sama membuka mata akan kenyataan bahwa Islam di Indonesia terancam punah akibat kristenisasi. Oleh itu, sebagai Muslim yang baik, tidak ada salahnya, malah mendapat pahala, kita realisasikan projek ini. Bismillah dengan izin Allah, semoga projek ini berjalan lancar dan mencapai tujuannya sehingga masa depan kehidupan umat Muslim di Indonesia terselamatkan. Amin.

    Untuk itulah Mercy Mission berusaha menghentikan banyak Maryam-Maryam Indonesia menjadi “Maria”, dengan menjangkau mereka, membantu mereka menemukan kedamaian dengan agama Islam dan dengan ketetapan Allah. Dan kampanye #SAVEMARYAM ini bertujuan untuk menyelamatkan generasi muda Islam agar tidak murtad meninggalkan Islam.(fq/ceritaly)

     

     

     

    Iklan
     
  • aqidahsalafshalih 2:18 am on August 15, 2012 Permalink | Balas
    Tags: , , liberalisme, , , ,   

    Tayangan Televisi Mendidik ABG Mengumbar Aurat 

    Menjelang Ramadhan mendadak suguhan stasiun televisi berubah drastis dipenuhi bumbu-bumbu agama. Demikian pula dengan tampilan pengisi acara-acaranya yang serta merta berganti. Terlebih khusus adalah kaum perempuan, tiba-tiba semua perempuan itu menutup tubuh mereka. Akan tetapi, bukan fenomena menjelang dan selama bulan Ramadhan itu yang akan kita bahas, melainkan fenomena sebelas bulan lainnya. Di Indonesia ini bulan Ramadhan tak ubahnya ibarat mesin cuci. Dan hal seperti itu yang terus digaungkan oleh media-media, termasuk stasiun televisi. Kalimat klise yang biasa dijadikan jargon adalah, “Semoga puasa di bulan Ramadhan tahun ini bisa kita lewati…bla bla bla…, sehingga kita bisa meraih kemenangan serta menjadi orang-orang yang kembali fitrah, suci seperti selembar kertas.”

    11 bulan bermaksiat dan kemudian digilas dalam satu bulan? Oke, mungkin kita sama-sama termakan kalimat tentang janji Allah bahwa Dia Maha Pengampun dan tidak ada hal yang mustahil bagiNya terlebih perihal mengampunkan dosa seseorang atau semua manusia, namun segitu rendahkah anggapan manusia kepada Allah sebagai tukang bilas dosa yang bisa dilupakan lagi selama 11 bulan ke depan?

    Contoh kemaksiatan itu jelas terpampang sehari-hari di hadapan kita tatkala televisi memajang perempuan-perempuan muda yang mau dibayar untuk berlenggak-lenggok memamerkan paha serta dada. Lihat saja pakaian mereka yang bolong-bolong di tiap sisi. Ditambah lagi pemakainya ternyata rata-rata masih gadis belia yang menampilkan kesan fresh, imut, lucu, dan sebagainya seolah mereka-lah representasi perempuan muda modern masa kini. Padahal apa? Mereka hanya boneka-boneka saja yang sesungguhnya tengah membodohi penonton dan diri mereka sendiri. Dikatakan atau tidak dikatakan, diakui atau tidak akui, memang sasaran stasiun-stasiun televisi yang menayangkan hal-hal seperti itu ditujukan kepada generasi muda yang masih labil serta kurang teguh memegang prinsip agama.

    Apakah yang begini ini yang akan dicuci bersih di bulan Ramadhan?

    Sajian media-media kita memamerkan aurat sampai-sampai dianggap mode. Seks bebas diangkat sebagai gaya hidup, pun film-film yang dipertontonkan sangat mendukung gaya hidup seperti tersebut. Hidup serumah tanpa ikatan nikah dianggap normal. Pasangan lesbi dan gay, manakala keluarga, lingkungan dan teman-temannya tahu keadaan mereka sebenarnya, bukannya diselamatkan, malah disupport. Dianggap normal saja, no problem!

    Film-film remaja tak kalah dahsyatnya. Semuanya mengarahkan remaja kita untuk hidup bebas, mewah, tanpa arah. Itu karena anggapan bahwa nilai-nilai yang baik tak laku, tak menghasilkan duit. Media sudah terjebak pada jalan pintas. Sejumlah stasiun televisi mempertontonkan tayangan vulgar, mengeksploitasi tubuh perempuan, dan memperdengarkan hinaan, serapah, yang diplot sebagai hiburan. Padahal yang seperti itu bukanlah hiburan, melainkan merusak alias tidak mendidik. Tatkala film nasional yang katanya sedang bangkit malah menjual cerita, tema, dan adegan-adegan murahan (ngeseks, hidup bebas/hedonis, perselingkuhan), nampak sesungguhnya justru kian melengkapi “sakit”nya sebagian besar masyarakat kita. Belum lagi jenis film yang sengaja diproduksi untuk membentuk opini agar orang ragu terhadap Islam. Ingin membuat imej buruk tentang Islam.

    Bagaimana masa depan negeri ini 5, 10, 20 tahun mendatang?

    Inilah akibatnya apabila media-media di tanah air dikuasai oleh kalangan sekuler, akhirnya ajaran agama digunakan untuk semata jualan. Contohnya, ustaz-ustaz yang berseliweran di televisi juga bukan orang-orang yang memang mengerti benar tentang al-Qur’an dan sunnah, yang mengetahui bagaimana manhaj Salaf al-shalih, dan paham kitab-kitab mu’tabar para ulama klasik. Sebaliknya, yang dipakai adalah orang-orang yang dipajang sebagai ustaz-ustaz kompromis yang isinya nihil besar, bertarif alias cuma kejar tayang, dan tidak bernilai dakwah. Mengapa tidak bernilai dakwah? Karena tidak menyampaikan apapun yang sesuai dengan al-Qur’an, Sunnah, dan Manhaj atau cara beribadah orang-orang terdahulu yakni generasi emas Islam, generasi Salaf al-Shalih.

    Implikasinya adalah lihat ruang publik di negara ini, diisi oleh pemuda-pemudi yang berani mengumbar aurat, mempertontonkan kemaksiatan, dan berperilaku jauh daripada akhlak. Kemerosotan-kemerosotan ini disebabkan, makin merajalelanya tayangan-tayangan televisi yang sangat tidak mendidik serta tidak membawa nilai-nilai dakwah yang mengedepankan penanaman akhlak yang jelas serta sesuai ajaran agama. Oleh karena itu, sudah saatnya pula bagi para orang tua untuk belajar mematikan televisi dan mengatur tayangan yang sesuai bagi anak, khususnya bagi para remaja di mana pada usia remaja justru merupakan usia yang paling rentan. Kembalikan sistem pendidikan dan pengajaran anak kepada agama terus menerus dan tidak berhenti agar generasi umat Islam Indonesia terbentengi dari hal-hal yang dapat menghancurkan akidah, akhlak, dan pengamalan syariat secara keseluruhan, baik di ruang privat maupun di ruang publik.

     

     

     

     
  • aqidahsalafshalih 11:14 am on December 21, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , liberalisme, , ,   

    Ancaman Pluralisme-Sekularisme Bagi Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama 

    Wacana tentang pluralisme pada umumnya, dan pluralisme agama khususnya, secara otomatis dan tak terhindarkan harus bersinggungan dengan masalah hak asask manusia (HAM). Sebab secara ontologis, pluralisme tak mungkin eksis tanpa adanya satuan-satuan/individu-individu atau masyarakat atau kelompok yang beragam yang bernaung di bawahnya dan masing-masing menikmati hak-hak asasinya secara penuh. Namun sudah menjadi jamak berlaku, bahwa justru sistem ini selalu rentan terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM, kelompok minoritas khususnya dan juga minoritas agama, baik oleh pemerintah yang sedang berkuasa atau pihak mayoritas. Dari sini, para pengkaji dan peneliti selalu mengaitkan wacana pluralisme dengan masalah HAM.

    Jika kita cermati kondisi hak asasi manusia di bawah tatanan pluralisme berada dalam ancaman yang sangat serius baik pada level teoritis maupun praktis. HAM di sini dimaksudkan secara khusus apa yang di kalangan para ahli dikenal dengan hak yang tak mungkin dinafikan (inalienable) dalam kondisi yang bagaimanapun. Yakni suatu hak yang dapat dinikmati oleh manusia hanya karena ia dilahirkan sebagai manusia, dan tanpa hak-hak itu eksisten kehidupannya berkurang, atau bahkan tidak manusiawi sama sekali.

    Harus diakui bahwa tidak ada kebebasan yang benar-benar mutlak, mengingat kebebasan individu atau kelompok berhenti pada suatu titik di mana individu atau kelompok yang lain memulai kebebasannya. Di mana jika dipaksakan akan berbenturan dan timbul chaos. Fakta empiris menunjukkan secara gamblang dan meyakinkan bahwa minoritas keagamaan yang hidup di bawah naungan sistem pluralisme senantiasa mengalami masalah perlakuan diskriminatif yang mengahalangi kebebabasan mereka untuk mengekspresikan jatidiri dan identitas keagamaan, melakukan kewajiban ritual, dan memerolah hak persamaan di depan undang-undang dan hukum. Misalnya mengenakan hijab bagi muslimah di sekolah negeri dan tempat kerja umum.

    Pluralisme agama telah mereduksi pengalaman beragama kelompok minoritas, sehingga pilihannya adalah melepas jati diri atau menghadapi alienasi sosial. Keharusan memilih dari dilema inilah yang merupakan harga sebuah kebebasan beragama yang harus dibayar oleh kelompok minoritas agama. Jargon kebebasan beragama yang diusung pluralisme-liberalisme hanyalah sebatas kebebasan berkeyakinan dan beribadah dalam arti yang sempit, tanpa kebebasan mempraktikkan agama dalam ruang publik.

    Lantas apa nilainya sebuah keyakinan atau keimanan tanpa bisa mempraktikkannya? Tentu saja iman yang terlemah, tetapi memang kualitas iman yang beginilah yang selaras dan sejalan dengan ide-ide pluralisme, liberalisme, dan sekularisme agama. Dijajakan dan dipaksakan oleh Barat dengan berbagai macam cara dan sarana, tidak saja kepada komunitas-komunitas lokal, tetapi juga kepada seluruh bangsa sehingga menambah panjang pelanggaran HAM.

    Semua itu akhirnya mengingatkan kita pada sebuah fakta keberpihakan, bahwa sejatinya HAM sebagai satu nilai moral tidaklah independen, akan tetapi mempunyai dasar pijakan yang dalam hal ini berdasarkan pada nilai moral ala Barat. Di sisi lain Islam pun mempunyai konsep tentang hak asasi manusia yang oleh karena pluralisme liberalisme ini menjadi termarjinalkan. Dalam masalah HAM terdapat satu problem teoretis epistemologis yang sangat krusial, sehingga untuk mencapai suatu konsep yang disepakati bersama merupakan sesuatu yang mustahil. Namun meski demikian, satu hal yang sangat jelas adalah, konsep Barat tentang HAM bersumber dari pemikiran sekularisme dan sisa-sisa etika Kristiani di era Renaissance Eropa. Pertanyaannya adalah tentu pengalaman itu sangat tidak cocok apabila diglobalisasikan kepada bangsa atau agama lain. Dan lagi jika inti daripada HAM yakni menekankan kebebasan individu, mengapa manusia tidak dibiarkan bebas menggunakan haknya untuk tidak menerima pluralisme agama?

    Dalam Islam terdapat konsep bagaimana hak-hak asasi manusia bagi kelompok minoritas sama sekali tidak diabaikan. Terlebih jika kelompok-kelompok minoritas ini hidup dalam masyarakat Islami, yakni kelompok yang disebut ahlul dzimmah. Dalam pemikiran politik syari’ah Islam, ahlul dzimmah dianggap sebagai bagian dari penduduk Negara Islam. Dengan demikian mereka ini mendapatkan apa yang di zaman kita sekarang disebut sebagai status kewarganegaraan secara politis. Ketentuan ini berlaku bagi seluruh agama apapun.

    Hak-hak ahlul dzimmah atau non muslim yang hidup di negara Islam adalah mendapatkan status dan perlakuan spesial sejauh tidak melanggar perjanjian yang disepakati dengan kaum muslim, yakni membayar jizyah dan menaati aturan-aturan Islam yang bersifat umum yang tidak berkenaan dengan urusan keagamaan. Secara umum dikatakan bahwa hak Ahlul dzimmah sama dengan apa yang diperoleh penduduk Muslim. Hanya dalam masalah tertentu yang menyangkut keamanan negara Islam saja, maka ahlul dzimmah sedikit terbatasi.

    Mereka ahlul dzimmah harus dilindungi dari segala bentuk ancaman dan kezaliman yang menyangkut jiwa, raga, harta, kehormatan, dan keyakinan agama mereka. Karena dzimmah berarti tanggungan. Bahkan jika ada negara yang pemerintahnya non-muslim membantai penduduknya yang muslim, maka pemerintah dalam negara Islam tidak dibenarkan melakukan balas dendam dengan membantai penduduknya yang dzimmah.

    Ahlul dzimmah juga menikmati kebebasan berkeyakinan dan beragama serta mengekspresikan jatidiri keagamaan atau menjalankan agamanya secara riil pada ranah privat dan publik. Kemudian mereka juga bebas merayakan hari raya keagamaan seperti membunyikan lonceng gereja dalam upacara atau ritual keagamaan, sebagaimana dicontohkan Khalid Ibn Walid terhadap penduduk al-Hirah, Anat, dan Qarqisa.

    Ahlul dzimmah diperbolehkan membangun tempat-tempat ibadah bagi mereka selama tidak berada di dalam kawasan atau wilayah yang dihuni muslim. Bahkan Yusuf al-Qardhawi justru membolehkan pembangunan tempat-tempat ibadah umat non-muslim di wilayah muslim jika mendapatkan izin dari pemerintah. Selain itu mereka juga mendapatkan hak untuk menjaga kelangsungan agama mereka, maka dari itu pemerintah harus menyediakan lembaga pendidikan yang mengajarkan pendidikan sesuai dengan tuntunan agama-agama mereka. Sedangkan di mata hukum, ahlul dzimmah mendapatkan hak untuk mendirikan sistem peradilan khusus atau otonomi untuk menyelesaikan kasus-kasus khusus mereka. Hal tersebut dicontohkan oleh Nabi ketika beliau memberikan klan-klan Yahudi untuk menyelesaikan urusan mereka sendiri dalam bidang hukum dan penyelesaian sengketa tanpa harus mengikuti sistem peradilan Islam yang diterapkan di dalam negara Madinah.

    Meski demikian mereka tetap mempunyai hak untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka di mahkamah syari’ah jika mereka menghendaki. Inilah kondisi pluralitas hukum yang benar-benar dipraktikkan dalam pemerintah Islam terhadap para ahlul dzimmah.

    Sementara anggapan bahwa ahlul dzimmah adalah warga negara kelas dua merupakan tuduhan yang sangat tidak fair. Lantas mengapa tuduhan ini dilancarkan? Hal ini dikarenakan bahwa ketiadaan kesempatan bagi para ahlul dzimmah untuk menempati pos-pos penting pemerintahan yang merupakan tempat pengambilan keputusan umum negara. Dalam hal ini terdapat beberapa penjelasan:

    Pertama, negara wajib memelihara ideologinya. Oleh karena ideologi negara Islam adalah Islam, maka sangat tidak masuk akal apabila kewajiban ini dipercayakan kepada orang yang tidak beragama Islam dan tidak mengimani agama ini. Kedua, pemimpin negara Islam mencakup kepemimpinan agama dan dunia yang menggantikan kepemimpinan Nabi (khalifaturrasul). Maka dalam hal ini tidak boleh ditempati oleh seseorang selain muslim.

    Lalu di mana pos-pos jabatan publik yang diperbolehkan ahlul dzimmah untuk menjabatnya?

    al-Mawardi mengatakan dalam Ahkam al-Sulthaaniyyah, bahwa ahlul dzimmah diperbolehkan memegang jabatan menteri, pegawai negeri, hakim otonomi khusus, dll. Demikianlah bagaimana Islam sangat adil dan benar-benar membebaskan umat manusia.

     
  • aqidahsalafshalih 10:31 am on December 21, 2011 Permalink | Balas
    Tags: , liberalisme, , ,   

    Sistem Demokrasi Tidak Sesuai Bagi Indonesia 

    13234233271875025775

    Indonesia dibangun melalui konsensus para raja yang ada di Nusantara, dan memang kerajaan-lah arketip dasar, sekaligus pembentuk nalar pikir bangsa Indonesia. Bisa dikatakan, sebelum proklamasi kemerdekaan NKRI, orang Indonesia telah lebih dahulu hidup dengan ke-Indonesiaan, meskipun belum terdeklarasi sebuah negara bernama Indonesia. Budaya dan tradisi tidak hanya muncul di ruang hampa, tetapi lahir dari kepingan masa lalu, dari kenangan masyarakat, dari konteks yang mengelilingi kehidupan manusia. Beratus-ratus tahun manusia-manusia nusantara dididik dengan sistem feodalisme, namun bukan menghancurkan, tetapi meninggikan masyarakatnya. Kemudian datanglah penjajah dari Barat yang merusak semua tatanan itu dengan standar dan politik kolonialismenya. Akar bangsa ini tercerabut oleh sistem baru yang tidak pernah bisa diterapkan mudah di negeri ini, bahkan hingga sekarang.

    Salah satu peninggalan penjajah Barat setelah era kolonialisme adalah modernisme yang kemudian lagi-lagi menancapkan hegemoninya dengan sebuah bentuk negara bernama negara-bangsa (nation-state). Kemudian kita mengimpor sistem pemerintahan yang disebut demokrasi untuk mengatur puing-puing peninggalan itu. Ironisnya bangsa ini justru menolak akar dan fondasi bangsa ini, dan justru mengelukan sistem tersebut. Demokrasi adalah penjajahan model baru di era yang disebut modern. Implikasinya sangat kelihatan ketika saat ini kita mengira demokrasi telah sedemikian pesat dan maju, tetapi tidak memberikan manfaat serta kemaslahatan apapun selain kehancuran dan kehancuran yang bergerak perlahan tapi pasti.

    Kita sering mengira dan bangga bahwa ketika pemilu langsung diterapkan, maka bangsa ini telah berdemokrasi, bahkan digadang-gadang melampaui moyangnya demokrasi, yakni Amerika. Tetapi kita menutup mata bahwasannya kemajuan itu sesungguhnya adalah kehancuran. Boleh saja kita berteriak gegap gempita dan mengira bahwa kebebasan telah kita dapatkan. Tetapi demokrasi ternyata bukannya membebaskan, demokrasi yang kita rasakan saat ini justru membelenggu bangsa ini dengan nilai-nilai asing yang tak sesuai, namun dipaksa agar rakyat Indonesia bisa menyesuaikannya. Sebuah strategi konformitas yang licik dan picik. Padahal lihat saja dampak dari pemilihan langsung di tiap daerah, ratusan pemilu langsung diselenggarakan, bukannya menghasilkan pemimpin yang kredibel, melainkan pemimpin-pemimpin korup yang hanya mementingkan kelompok dan golongannya sendiri.

    Lihat praktik politik uang di setiap pemilu, dari tingkat desa hingga propinsi dan juga nasional. Belum lagi setelah pemilu usai masih menyisakan sampah-sampah, ribuan kasus sengketa pemilu yang berakhir di meja sidang atau tawuran. Sementara kucuran dana terus mengalir dan menggelembungkan biaya pemilu meskipun itu terjadi di tingkat bawah. Betapa naifnya sistem ini. Apalagi kalau diadakan pemilu ulang, menambah beban anggaran serta semakin meyakinkan bahwa pemilu ini cuma permainan dan kontestasi kotor. Rakyat tidak boleh diombang-ambingkan oleh hawa nafsu segelintir elit partai, dan akhirnya rakyat terjebak oleh ego kesukuan dan kedaerahan semata. Lalu di mana letak persatuan dan kesatuan bangsa ini.

    Berbeda jika negeri ini dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat dan dibimbing oleh hukum Allah. Maka akan terjadi sinergi sebagaimana dikatakan dalam al-Qur’an bahwa keadilan dan kemakmuran dapat tercapai apabila antara ‘ulil amri dan umara telah seiring dan sejalan di bawah satu konstitusi dan undang-undang yang bukan buatan manusia, namun diberikan oleh sang Maha Pencipta. Niscaya Indonesia takkan sengsara dan  negeri ini menjadi negeri yang diridhai oleh Allah.

    Lantas siapakah ‘ulil amri, tidak lain ialah pemerintah. Sedangkan ‘umara adalah para ulama. Di sini perlu adanya pencerahan bahwa ulama bukanlah berarti agamawan. Itulah yang selama ini salah kaprah. Ulama secara literal berarti orang-orang yang berilmu, alias para ilmuan atau intelektual. Allah telah berkata dalam al-Qur’an bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Karena itu memang status orang berilmu itu lebih tinggi dari pada yang tidak berilmu. Ilmuan lebih tinggi statusnya daripada orang biasa, dan itulah keutamaan orang Islam. Sedangkan sistem demokrasi justru menyama-ratakan semuanya. Inilah ketidakadilan yang diperlihatkan oleh sitem demokrasi, sehingga suara seorang pelacur dan ulama akan dianggap setara dalam sistem demokrasi. Inilah kesesatan yang selama ini dipraktikkan, makanya kenapa pemimpin negara ini tidak pernah mampu memimpin dan membawa rakyat kepada kesejahteraan dan kemakmuran.

    Lagipula kalau dilihat dari akar budaya bangsa Indonesia yang dulunya menjadi bagian dari Nusantara, di mana manusia-manusia Nusantara sangat akrab dengan yang namanya Musyawarah dan Mufakat, bukannya pengambilan suara ala demokrasi. Seharusnya kita kembali pada sistem bermusyawarah dan bermufakat itu. Di dalam Islam, bermusyawarah dan bermufakat merupakan sebuah mekanisme konsensus yang prosesnya diselenggarakan oleh lembaga bernama Majlis Syura. Anggota majlis adalah para ulama; ilmuan dan intelektual yang kapabel di bidangnya. Selain itu juga para tokoh adat dan suku sebagaimana pernah dipraktikkan setelah meninggalnya Nabi Muhammad. Di sini terkadang sejarawan Barat suka mendramatisir seolah pemilihan Abu Bakar sebagai Khalifah, diwarnai ketegangan dan perselisihan antara suku-suku bangsa Arab. Bahkan dikatakan sampai Umar Ibn Khattab sampai menarik jenggot salah seorang pemuka kaum Anshar dan hendak memukulnya (kaum Anshar terdiri dari dua suku mayoritas, yakni ‘Auz dan Khazraj). Padahal yang sebenarnya, terlepas dari penyelewangan sejarah oleh Barat, karena yang terjadi pada waktu itu adalah musyawarah untuk mencari mufakat, sampai akhirnya seluruh orang yang terkumpul dalam majlis syura itu membai’at Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasul. Pastinya hasil pilihan daripada para ulama lebih berbobot dan kredibel ketimbang pilihan orang biasa.

    Hal yang sama yang seharusnya berlaku di Indonesia. Bukan pemilihan-pemilihan langsung ala sistem demokrasi seperti sekarang yang tidak membawa kemaslahatan apapun. Namun yang dipertontonkan saat ini adalah bahwa kita telah dengan sadar atau tidak, menjauhkan diri dari akar budaya bangsa (musyawarah dan mufakat), nilai-nilai kekeluargaan dan ketimuran, dan yang terpenting lagi adalah kita telah membuang pedoman yang dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Ingatlah bahwa para sahabat Nabi adalah orang-orang yang paling dekat kepada Nabi, orang-orang yang lebih baik ketakwaan dan kesempurnaan imannya. Kalau misalnya ada sesuatu yang baik menurut mereka, pasti telah dikerjakan oleh mereka terlebih dahulu. Dan yang mereka praktikkan bukanlah sistem demokrasi, tetapi sistem kekhalifahan, maka dari itu kita mengenal pada masa sahabat ada empat orang khalifah panutan, atau sering kita sebut Khulafa al-Rasyidun.

    Semestinya kita rindu dan berlomba-lomba untuk menegakkannya.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal